"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_29
“Minta doanya aja, semoga dipercepat,” jawab Naren sambil tersenyum. Senyum itu tampak tulus, namun di baliknya tersimpan harap yang bahkan belum berani ia akui pada dirinya sendiri.
Farah dan Fani serempak mengucap amiin. dengan wajah penuh keyakinan. Di sisi lain, Bayu, Bagas, dan Ardi hanya saling pandang. Bukan karena tak percaya, melainkan karena mereka menangkap sesuatu yang janggal—sesuatu yang berubah perlahan pada diri Narendra, sahabat yang sudah mereka kenal bertahun-tahun.
Orang Jawa bilang, tresno jalaran soko kulino—cinta tumbuh karena terbiasa. Naren dulu menertawakan ungkapan itu. Baginya, cinta adalah pilihan sadar, komitmen yang dibangun waktu dan kesetiaan. Itulah yang ia rasakan bersama Ajeng selama hampir tiga tahun. Stabil. Aman. Terencana.
Namun kini, kebersamaannya dengan Rayna—yang bahkan belum genap sebulan—justru terasa jauh lebih hidup. Lebih mengusik. Lebih berisik di kepalanya. Rayna hadir tanpa rencana, tanpa perhitungan, tapi mengisi ruang-ruang kecil yang bahkan tak ia sadari kosong.
“Perjalanan ke Bandung kemarin aman, kan?” bisik Bagas pelan.
Bayu langsung menoleh tajam. “Aman gimana maksud nya?”
“enggak. cuma lo sadar nggak sih kelakuannya Naren, kayak aneh banget. ngomong minta doa supaya Rayna hamil enteng banget, padahal dia aja kagak pernah mau nyentuh bininya," bisik Bagas curiga jika mungkin selama di Bandung terjadi sesuatu sehingga menyebabkan isi kepala sahabatnya itu eror
Bayu mendekat, menurunkan suara. “Gue juga mikirnya gitu. tapi sebelum ini juga sebenarnya dia udah kelihatan aneh gak sih?”
Bagas mengernyit. “contohnya,”
“Cara dia liat Rayna. Cara dia khawatir pas Rayna kemarin gak ada di apart. Lo tau Naren, kan? Kalau udah peduli, dia lupa batas dan kelihatan banget bulolnya, "
Bagas terdiam. “maksud lo, dia udah mulai pindah hati ke Rayna gitu? se ekor Narendra? mana mungkin bisa goyah secepat itu, apa lagi kalau urusannya nyangkut tuh si nenek lampir,”
"pada bisik-bisik apaan sih? " senggak Naren yang mulai risih dengan Bayu dan Bagas yang asik sendiri ngobrol berdua
Bayu dengan cepat mengalihkan pembicaraan, agar Naren tidak uring uringan. ia mulai bercerita soal Sherin yang ngidam mangga Bangkok yang langsung di beli di Bangkok dan segala kerandomannya. Ruang tamu mendadak riuh oleh tawa. Naren juga ikut tertawa lepas, tawa yang sudah lama tak muncul. Entah kenapa, obrolan soal kehamilan dan calon anak membuat dadanya terasa hangat.
Dalam benaknya, tanpa permisi, sebuah bayangan muncul.
Rayna.
Rayna dengan wajah cemberut karena ngidam sesuatu yang mustahil. Rayna yang mungkin akan menatapnya sambil mengeluh manja. Bayangan itu terasa nyata—terlalu nyata.
Naren tersentak. Kenapa Rayna?
Harusnya Ajeng.
Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan pikiran itu. Namun semakin ia menolak, semakin kuat bayangan tersebut bertahan.
“Tolong liatin Istri saja di kamar ya Bik. siapa tau butuh sesuatu,” pinta Naren pada pelayan yang baru saja datang membawa pisang goreng hangat
Bayu, Bagas, dan Ardi kembali saling pandang. perhatian yang Naren berikan sangat terlihat natural. tidak seperti sedang berakting.
"istri banget nih sekarang," goda Bagas berbisik sambil sedikit menoel lengan Naren. tawa mengejek Bagas itu sungguh minta di timpuk ulekan
"enteng banget sekarang nyebut istri saya," bisik Bayu yang duduk di sisi lain ikut menambahi.
Naren terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi tak ada kata yang keluar. Ia sendiri tak tahu sejak kapan menyebut kata Istri terasa seringan dan sehangat ini
Beberapa menit kemudian, pelayan kembali dengan wajah cemas.
“Den… saya sudah ketuk pintu kamar Non Rayna, tapi tidak ada sahutan.”
Dada Naren langsung mengencang. “Kok bisa?”
“bahkan saya sudah menggedor dengan kuat Den, tapi tetap tidak ada sahutan,"
Tanpa menunggu penjelasan lain, Naren berlari menaiki tangga di ikuti oleh semua orang. Langkahnya terburu-buru, pikirannya kacau. Jantungnya berdetak keras, seolah memberi peringatan bahwa ada sesuatu yang tak beres.
Ia berdiri di depan pintu kamar Rayna. Jari-jarinya gemetar saat menekan kombinasi angka yang begitu ia hafal—kombinasi yang Rayna sendiri minta untuk disamakan dengan rumahnya.
Pintu terbuka. Kamar kosong.
“Rayna?” panggilnya, suara Naren serak. Tak ada jawaban.
Ia berlari ke kamar mandi. Dan di sanalah Rayna tergeletak.
“Astaghfirullah… Na!”
Tubuh Rayna terasa ringan saat ia bopong. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak berwarna, kulitnya dingin. Tanpa peduli siapa yang melihat, Naren mengangkat Rayna dan membaringkannya di ranjang.
Tangannya gemetar saat menepuk pipi Rayna pelan. “Bangun… tolong bangun.” panik Naren, sedangkan Farah sudah sibuk mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung sang menantu. sedangkan Fani langsung menelfon dokter keluarga.
Naren terus duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Rayna erat-erat. Seolah takut jika ia melepasnya, Rayna akan pergi lebih jauh. hingga perlahan genggamannya di balas. mata lentik itu, terlihat bergerak halus. perlahan namun pasti, mata Rayna terbuka.
"Sayang, " Farah dan Fani langsung menghujani Rayna dengan kecupan di pipi dan kening
“Kenapa bisa sampai pingsan di Kamar mandi, hmm? kenapa nggak bilang masih lemes?” suaranya pecah. “Kalau kamu bilang, aku nggak bakal ninggalin kamu sendirian.” cecar Naren tak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatirnya
Naren terdiam sesaat, menyadari maknanya sendiri. Ia menunduk, menempelkan keningnya ke tangan Rayna. Tak peduli Fani dan Farah ada di sana. Tak peduli batas yang seharusnya ada.
“Mas…” suara Rayna terdengar lirih dan serak
“Aku di sini,” jawabnya dengan cepat
Ada kehangatan yang mengalir di dadanya—hangat yang salah, tapi terlalu nyata untuk diabaikan.
“Yang kamu rasain apa sekarang, sayang?” tanya Fani lembut.
“Mual… pusing,” jawab Rayna nyaris tanpa suara.
Naren mengusap punggung tangan Rayna dengan ibu jarinya. Gerakan kecil, refleks, penuh perhatian. Terlalu intim untuk sekadar simpati.
Ketika dokter Nisa datang dan mulai memeriksa, Naren berdiri tak jauh dari ranjang. Matanya tak lepas dari wajah Rayna. Setiap tarikan napas Rayna terasa seperti tarikan napasnya sendiri.
“Apa istri saya hamil, Dok?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Rayna langsung membelalakkan mata. Fani dan Farah saling pandang lalu tersenyum kecil—bukan geli, melainkan penuh makna.
Dokter Nisa tersenyum tipis. “Kita periksa dulu.”
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
“Rayna hanya kecapekan dan telat makan. Asam lambungnya naik.”
“Jadi… nggak hamil?” Nada kecewa di suara Naren terlalu jelas untuk disembunyikan.
Dokter menggeleng.
Ada rasa lega. Tapi bersamaan dengan itu, ada kehampaan kecil yang menyelinap. Dan itu yang membuat Naren tersentak.
"Kenapa gue kecewa? Sejak kapan gue berharap sejauh ini?" pikiran Naren seketika sangat berisik
Ia menunduk, merasa bersalah. Pada Ajeng—yang masih menyandang status pacarnya. Pada Rayna—yang sudi membantu menyembunyikan pengkhianatannya. Dan pada dirinya sendiri—yang gagal menjaga batas.
Fani menepuk pundaknya lembut. “Nggak apa-apa, le. Insyaallah Gusti Allah pasti ngasih di waktu terbaik.”
Naren mengangguk, tapi hatinya tak setenang wajahnya.
Ia menatap Rayna yang kembali terlelap, wajahnya terlihat rapuh namun damai. Dan di sanalah Naren akhirnya jujur pada dirinya sendiri
Ajeng masih bagian dari hidupnya.
Tapi Rayna… tanpa izin, tanpa rencana, sudah menjadi bagian dari hatinya.
Dan itu membuat dadanya sesak. Karena cinta yang datang tanpa diminta sering kali paling sulit ditolak.
plisss dong kk author tambah 1 lagi