AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 3: petunia: the way to not lose hope [2]
DIA telah berdiri di hadapanku, tidak melepas pandangan setelah mata kami bertemu. Tidak ada suara di aula istana. Semua orang masih menyimak realita yang terasa sulit untuk diterima, termasuk diriku.
“Yang Mulia, apakah Anda dapat menjelaskan fenomena ini?” Marquess of Matheo memecah keheningan. “Jika negara lain mengetahui, martabat Kekaisaran Adenium bisa runtuh sewaktu-waktu! Ini tentang masa depan Adenium!”
“Marquess of Matheo!” Duke of Astello melirik tajam. “Tolong jaga perkataan Anda.”
Dia berdecak kesal sebelum menarik paksa anak perempuan itu. “Hei, anak kecil! Tunjukkan siapa Ayahmu agar orang dewasa yang ada di sini mengetahui kebenaran,” katanya sembari melirik sini ke arah Duke of Astello.
Mulutnya terbuka, tanppa sadar merintih pelan sebelum mengeratkan gigi menahan sakit. Tubuhnya bergetar karena dicengkram kuat. Dia meringis sembari mencoba melepaskan diri tetapi tangan Marquess of Matheo yang berada di lengan atas anak itu semakin dia beri kekuatan. Tanpa sempat menenangkan diri, tangannya terangkat pelan menunjuk ke arahku.
“Papa.”
Aku tercengang, tetapi Perdana Menteri Leocadio dan Duke of Astello nampak lebih terkejut dari semua orang yang berada di sini. Sampai beberapa detik semua terdiam, mencoba mencerna kejadian tidak masuk akal barusan. Perdana Menteri Leocadio adalah orang pertama yang membuka suara. Dia berjalan mendekat, mencoba meraih tangan kurus anak itu.
“Nona Kecil, mari bicara di ruang yang lebih nyaman.”
Namun, Marquess of Matheo sertamerta menepis tangan Perdana Menteri Leocadio sebelum beralih menatapku. “Yang Mulia, Anda telah melihat dan mendengar langsung. Sebaiknya kita mengadakan rapat untuk membahas masalah ini.”
Aku mencengkram kuat lengan kursi. Seandainya tidak ada kemiripan denganku, orang-orang pasti mendengar pengakuan anak itu sebagai angin lalu meski dia ribuan kali mengaku sebagai putriku. Sialnya, bukti fisik yang ada di tubuhnya membuatnya rumit. Terlebih lagi, dia telah tertangkap basah dan mengakui bahwa aku adalah Ayahnya! Meski aku bersikeras dia bukan putriku, tanggapan orang-orang di sini akan membuatnya rumit. Namun, sejak kapan sebenarnya aku mulai memedulikan hal sepele seperti itu?!
Aku bisa saja langsung menyelesaikannya dengan cara yang biasa. Itu adalah jalan keluar tercepat dan termudah untuk dilakukan, membunuh anak itu. Namun, situasiku saat ini tidak begitu baik. Pertemuan pertama kami di hutan seminggu lalu ternyata membawa dampak bagi tubuhku. Sakit kepala yang mulai menyerang sejak bertemu dengan anak itu adalah salah satu alasan kuat uang membuatku tidak bisa melepaskan dia begitu saja.
Maka menarik napas dalam, aku berkata pelan, “Selain orang-orang terdekatku, semuanya keluar.”
“YANG MULIA!”
“AKU BILANG KELUAR!” Aku melempar tatapan nyalang kepada Marquess of Matheo. “Jangan membuatku mengulang perintah yang sama.”
Dia menggigit bibir tidak terima lantas menunduk hormat dengan terpaksa. Pria gendut itu melangkah dengan hati congkak yang tidak puas. Sementara itu, aku beralih pada si Nona Kecil yang berdiri kaku. Dia masih belum melepaskan pandangan, tetapi ketika aku menatapnya lebih lama, dia menunduk sembari memainkan jari-jemarinya.
“Aku akan menemuimu nanti.” Aku kemudian beralih melirik Hamon. “Pisahkan penduduk Petunia yang sakit parah dan yang tidak. Orang-orang yang telah ditahap krisis dan peluang hidupnya sedikit, termasuk lansia. Kumpulkan orang-orang yang seperti itu dalam satu ruangan dan jangan biarkan siapapun masuk.”
Hamon menatapku khawatir. “Yang Mulia–”
“Nanti saja.” Sembari memegang pelipis, aku melanjutkan, “Sakit kepala sialan ini harus aku singkirkan terlebih dulu.”
***
Bangunan bercat putih gading dengan beberapa noda lumpur dan tanah berdiri kokoh tidak jauh dari camp pengungsi. Di sekitarnya terdapat pepohonan dan dua orang penjaga yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Bangunan itu adalah salah satu bangunan yang selamat dari bencana banjir Petunia. Dari kejauhan, beberapa orang yang berpakaian putih keluar-masuk sembari membawa sesuatu di tangan. Ada juga sekelompok ksatria yang memindahkan pasien dengan cara ditandu.
Aku memelankan kuda ketika tiba di depan pintu masuk. Dua orang ksatria sertamerta bersiap dan memberi hormat. Turun dari kuda, aku mengedarkan pandangan ke sekitar bangunan tersebut sebelum beralih ke si penjaga.
“Saya akan segera memberitahukan kedatangan Yang Mulia Kaisar.”
Tidak lama, Hamon diikuti beberapa orang yang berbaris teratur di belakangnya keluar. Dia menunduk hormat sebelum berkata, “Persiapan telah selesai, Yang Mulia.”
“Kosongkan area ini sampai aku selesai.”
“Baik, Yang Mulia.”
Orang-orang segera undur diri meninggalkan bangunan tersebut begitu Hamon memberi perintah. Perlahan, aku melangkah memasuki bangunan yang dijadikan sebagai ruangan sementara pasien kritis dan lansia. Rintihan samar-samar terdengar ketika daun pintu kudorong. Bersamaan dengan langkah kaki yang semakin mendekat, aku memanggil Pedang Naga yang muncul dari telapak tangan.
Tempat tidur yang pertama diisi oleh seorang kakek tua renta yang bahkan untuk bernapas pun sulit. Tidak ada luka luar yang nampak tetapi sepertinya dia memiliki penyakit dalam. Banjir mungkin membuatnya kambuh dan mengundang penyakit lain. Jelas sekali dia tidak akan bertahan lama mengingat umur kakek itu sekalipun keadaannya sudah membaik. Lantas aku menarik sudut bibir ke atas. Pedang yang telah bersiap di tangan kanan kuangkat dan melayang di udara, tepat di atas dada kirinya.
Dia sempat melirikku sekilas sebelum ujung pedangku bersarang di jantungnya. Erangan yang tertahan terdengar memilukan, cukup keras karena membuat beberapa orang yang terbaring di tempat tidur lainnya melirik. Ketika mereka telah menyadari apa yang tengah terjadi, kakek itu sudah tidak bernyawa.
“Tidak! Aku tidak mau mati!”
“Tolong saya!”
Suara memohon itu tidak terdengar jelas karena tertutupi dengan suara lain. Semakin aku melangkah, mata mereka bergerak gelisah. Beberapa mencoba bangkit sedangkan lainnya memohon untu dibiarkan hidup. Sayangnya, mereka tidak punya pilihan selain mati hari ini.
Darah kakek itu terus menetes dari pedangku dan membuat garis tidak beraturan di ubin. Semenjak kegelapan telah menghirup saripati darah orang yang pertama kubunuh, sakit kepala ini terus menggila dan seolah membisikkan kalimat, “Lagi, … beri aku banyak darah ….”
Bagian bawah dinding bercat putih gading itu sudah terhias dengan lukisan abstrak berwarna merah dan berorama anyir yang hampir menutupi seluruh ruangan. Beberapa tempat tidur pasien sudah tidak berbentuk: penyot, salah satu kakinya patah, dan bahkan terbelah dua. Sementara itu, keadaanku sendiri tidak jauh berbeda dengan keadaan dinding ruangan ini yang bersimbah darah.
“TIDAK!”
Pria tersebut jatuh ke depan setelah darah keluar dari mulutnya. Lantas aku menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan yang berumur sekitar tiga puluhan berdiri gemetar di sudut ruangan sembari menutup mata dan telinga. Hanya tinggal perempuan itu saja karena semuanya telah berada di neraka. Mengangkat tangan mengelap darah yang menempel di pipi kiri, aku mendekat. Kepala seorang pria yang menghalangi jalanku sertamerta kutendang dan tak sengaja mengarah pada perempuan itu.
Dia memegang dada dan terlihat mengatur napas. Tubuhnya merosot turun ke bawah bersamaan dengan deru napasnya yang kian memendek. Di detik selanjutnya, kepalanya telah menyentuh ubin. Dia terus berusaha bernapas sementara aku tersenyum melihatnya bersusah payah. Tak ada lagi yang dia ucap selain satu kata itu sebelumnya. Setelah kegelapan mengisap saripati darah yang terakhir, sakit kepalaku akhirnya perlahan menghilang. Setidaknya untuk saat ini.
Di tengah ruangan yang berdarah, beraroma anyir, serta banyak mayat yang tergeletak, aku baru bisa bernapas lega. Tangan kanan yang memegang Pedang Naga menengadah. Aura biru pekat lantas keluar dan mengelilingi pedang tersebut membuatnya melayang di udara. Di detik selanjutnya, pedang tersebut lenyap. Sekarang yang tersisa hanya tinggal anak mungil itu, si penyebab sakit kepala sialan ini.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak