NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan baru yang dibuat

CAPTER 31

KESEPAKATAN BARU YANG DIBUAT

 

Malam ini, Angga memenuhi perintah tugas yang dilimpahkan Naura padanya kemarin. Walaupun ia hanya datang seorang diri, tidak mendapati orang yang diminta Naura. Teman Iwan yang diharapkan ternyata tegas menolak. Maklumlah sesuai cerita Iwan laki-laki itu sangat mencintai jenggotnya, bahkan butuh bertahun-tahun agar bisa memiliki jenggot sesuai keinginan. Sehingga, mustahil aqli jika ia rela membabat jenggot itu hanya demi sebuah praktek mencukur saja.

Sebelum melangkah ke teras rumah, lebih dulu Angga memeriksa kembali perlengkapan mencukur yang ia beli, mulai dari alat cukur hingga kain kep pelindung badan.

“Aneh-aneh benar keinginan Nona itu,” guman Angga sebelum menekan bel pintu.

Di dalam sana, mereka baru turun dari tempat sholat dan hendak santap malam kala bunyi bel pintu nyaring terdengar. Hanis lah yang keluar lebih dulu dibandingkan kamar sebelah, langkahnya cepat kala mencapai ruang tamu dan membuka pintu.

Senyum Angga langsung didapat, mereka yang saling mengenal meski seingat keduanya tidak pernah saling menyapa, untuk pertama kalinya bertutur sapa.

“Oh, silahkah masuk Kak!” seru Hanis mempersilahkan Angga.

“Nona ada?” tanyanya sekedar membalas sambutan Hanis.

“Ada, masih di lantai dua ... tunggu saya panggilkan!” balas Hanis sebelum ke belakang meninggalkan Angga yang sudah duduk di kursi tamu.

Baru sampai di ruang keluarga langkah kaki Hanis terhenti, Ilyas mencegatnya. Laki-laki itu berhambur ke arahnya yang hendak berjalan menuju tangga.

“Siapa?” tanyanya rendah.

“Itu ... kak Angga!” jawab Hanis, menunjuk ruang tamu.

“Oh....” seru Ilyas. Melangkah pergi ia untuk menemui sekaligus menemani Angga yang seorang diri di sana.

Lanjut Hanis melangkah, namun lagi-lagi terhenti di tangga nomor dua. Sontak ia menoleh, Andik berdiri tak jauh dari pintu kamar. Sama dengan Ilyas ia bertanya siapa yang bertamu malam itu. Dengan jawaban yang sama Hanis bersuara, menunjuk ke ruang tamu juga.

“Oh....” seru Andik seperti halnya Ilyas.

Kemudian, Andik melangkah menuju ruang tamu. Menyusul Ilyas di sana untuk bergabung bersama.

 

‘Tok tok’

 

Suara ketukan pintu membuat Naura cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Tanpa mengenakan kerudung ia berjalan menuju pintu kamar, membuka separuh pintu saja dan mengintip ke luar.

“Oh Kamu, Nis!” seru Naura, kemudian menarik lebih lebar daun pintu.

“Kak, itu ada kak Angga di bawah!” kata Hanis memberitahu.

“Ok, suruh tunggu bentar ya!” sahut Naura.

Setelah Hanis turun lagi, cepat Naura berlari ke rak gantung baju. Ia menyambar kerudung instan, memakainya kemudian berlari keluar kamar.

Di ruang tamu terdengar suara Angga, juga Andik dan Ilyas yang menemani. Naura datang bergabung, berhubung mereka semua belum makan malam Naura pun mengajak Angga untuk makan malam bersama.

“Tidak ada penolakan!” kata Naura.

Kemudian, ia mendahului mereka berjalan ke ruang makan. Andik dan Ilyas menyeret paksa Angga yang masih menempel di kursi. Mereka berempat sudah duduk saling berhadapan ketika Naura sadar ada satu langi anggota yang belum bergabung.

“Loh Hanis mana? Andik, coba jemput dia geh!” kata Naura menyuruh.

Segera Andik bangkit dari duduknya, berjalan cepat untuk menjemput Hanis. Ia mengetuk sekali pintu kamar itu kemudian tanpa ragu tangan kanannya meraih gagang pintu. Gagang pintu itu sudah putar manakala dari dalam Hanis juga memutarnya dan menarik pintu.

“Kakak!.”

Hanis terkejut, sontak ia tertunduk karena mendapati tatapan mata Andik dari jarak dekat. Sikap Hanis yang demikian tak pelak memancing senyum Andik, laki-laki itu mundur teratur. Memberi ruang bagi Hanis untuk berjalan, seakan mengerti isyarat yang diberikan Hanis melangkah melewati Andik yang masih berdiri di sana.

Senyum Andik masih belum luntur, ditatapnya punggung Hanis dari belakang sebelum ia sendiri datang menyusul.

“Nah ini baru lengkap!” seru Naura menyambut kedatangan Hanis.

Mengambil kesempatan dalam kesempitan, itu yang dilakukan Andik. Tanpa bersuara dan bersikap senormal mungkin ia mengikuti langkah Hanis, termasuk menarik kursi yang bersebelahan dengan wanita itu.

Mereka yang lain tidak menangkap siasat Andik, bagi mereka itu adalah hal lumrah dan normal saja. Naura menyuruh Ilyas memimpin do’a sebelum masakan yang tadi ia masak bersama dengan Hanis dinikmati dengan lahap.

Seusai bersantap malam Naura mengajak semuanya duduk santai di ruang tamu, hanya Hanis yang pamit masuk kamar. Andik dan Ilyas tentu mereka bergabung, sekaligus menemani Angga.

“Kok Kamu datang seorang diri?!” tanya Naura mulai ke inti.

“Itu Nona ... saya nggak dapat! Nggak ada yang bersedia!” jawab Angga.

“Oh....” seru Naura agak kecewa juga.

Sebelum memulai kursus mencukur, Angga lebih dulu mengambil peralatan yang ia tinggalkan di ruang tamu tadi. Andik dan Ilyas yang tidak tahu menahu saling melempar tatapan penuh tanya, akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang berniat bertanya langsung pada Naura.

Angga yang muncul lagi dengan membawa kantong tas di tangan menambah rasa ingin tahu mereka berdua. Tak kuat bungkam, Andik pun bertanya.

“Apa itu Mas?” tanyanya.

“Iya Mas!” sambung Ilyas.

“Oh ini peralatan mencukur!” kata Angga.

“Peralatan mencukur? Kenapa bawa barang-barang kayak gitu ke sini?” tanya Ilyas lagi.

Sebelum Angga menjawab, Naura lebih dulu membungkam mereka berdua. Ia angkat bicara, “Bisakah Kalian ini bersabar?!” hardiknya.

Angga mengambil posisi duduk di dekat Naura namun masih satu kursi dengan dua kunyuk. Kantong tas ia letakkan di meja kemudian satu persatu isi di dalamnya ia keluarkan.

“Sebenarnya ini tidak perlu Nona, tapi khawatir nanti dibutuhkan jadinya saya beli juga!” ucapnya manakala mengeluarkan kain kep.

Naura hanya manggut-manggut saja, tidak banyak bertanya. Lanjut Angga buka suara, Andik dan Ilyas patuh menutup mulut.

“Nona, ini saya beli dua alat cukur ... ini alat cukur biasa!” ucapnya sambil menunjukkan.

“Nah kalo yang ini cukur elektrik!” imbuh Angga.

Andik menimpali penjelasan Angga dengan santainya, “Bisa dipinjam ini!” ucapnya yang langsung mendapat sorotan tajam dari Naura.

“Jangan harap Dik! Tuh baru aja ngomong sudah dipelototin sama Mba!” sambung Ilyas, menyenggol lengan Andik.

“Nggak ada yang boleh pinjam! Suamiku harus menjadi orang pertama!” ujar Naura menanggapi.

Kepala Andik dan Ilyas berputar seketika, jelas mereka terkejut mendengar perkataan Naura barusan. Dari tampang keduanya Naura bisa menangkap jika mereka tak puas dengan apa yang mereka dengar. Lanjut Naura bersuara, memberi pengumuman pada dua kunyuk dan juga pada Angga yang sama-sama tidak mengerti.

“Akhir bulan depan ... inshaallah dia balik!” kata Naura dengan senyum bahagia terlihat menghiasi wajah cantiknya.

Senang Andik dan Ilyas mendengar kabar itu, hampir sama dengan Naura wajah mereka berdua terlihat dihiasi senyuman.

“Terus apa hubungannya sama ini semua Mba?” tanya Ilyas tiba-tiba.

Naura tidak langsung menjawab, ia mengganti posisi duduknya senyaman mungkin. Setelah dirasa cukup nyaman dan santai ia pun berucap.

“Itu karena sekarang tampangnya nggak keurus, so nanti pas dia balik langsung aku permak biar ganteng lagi!” kata Naura menjelaskan rencananya.

“Oh jadi ini malam kursus mencukur gitu? Kenapa malah ngerepotin mas Angga? Kan ada kita?” sambung Andik menghardik.

“Sudahlah ... ayo buruan Angga!” ujar Naura mengalihkan.

Angga pindah kursi, mulanya ia mengajarkan cara memasang silet terlebih dulu pada alat cukur manual. Berikutnya bagaimana posisi alat cukur itu agar aman serta meminimalisir goresan atau kesalahan yang dibuat, Andik dan Ilyas turut membantu menerangkan; mencontohkan juga bila perlu.

“Kalo alat cukur yang elektrik ini, gimana cara pakainya? Apa sama? Tinggal nyalakan gitu?” tanya Naura.

Ketiganya saling memandang satu sama lain, baru sadar Angga jika dirinya tidak pernah menggunakan alat cukur yang elektrik. Kedua alisnya terangkat bersamaan, lewat isyarat itu ia mempertanyakan bagaimana dengan Andik dan Ilyas. Kompak, pundak keduanya runtuh seketika, kemudian berangsur menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Bola mata Naura mengikuti gerak tubuh Ilyas dan Andik, mulai tegang pandangannya. Detik berikutnya pandangan itu ia alihkan pada Angga, jelas Naura menuntut laki-laki itu angkat bicara.

Senyum singkat sempat disunggingkan oleh Angga kala membuka mulut, “Saya nggak pakai yang elektrik di rumah Nona,” ucapnya penuh penyesalan.

Naura menghela nafas, melirik pada dua kunyuk yang mulutnya mati suri kemudian beralih lagi pada Angga. Tidak ada komentar yang keluar dari bibir Naura dalam sepersekian detik lamanya, hingga pandangannya turun sebentar.

“Ya sudah ajari aku yang biasa aja ... kayaknya suamiku juga pakai yang biasa!” ujarnya menyudahi keheningan.

Kembali ketiganya membuka mulut meski di awal masih agak takut-takut. Naura mendengarkan sekaligus mengarahkan pandangan hanya pada ketiganya.

Tibalah di saat praktek, mereka bertiga kebingungan lantaran tidak ada media yang bisa dipakai. Sesuatu muncul di otak kirinya, selanjutnya memberi instruksi pada wanita itu. Tiba-tiba Naura memerintah tiga cowok itu mengangkat kaki mereka, menunjukkan betis mereka pada Naura.

Jelas ketiganya menolak, “Hah nggak!” ujar Andik dengan beraninya menolak.

“Cepat angkat!” sentak Naura, memasang muka galak yang sudah lama tersimpan.

“Mba! Langsung praktek ke mukanya mas aja nanti!” timpal Ilyas.

“Mana boleh? Kalo nanti mukanya suamiku lecet kegores gimana?!” sahut Naura.

“Ya sama Mba! Kita juga nggak mau lecet!” timpal Andik dengan lantang.

“Pilih muka atau betis?!” kata Naura tajam, memberikan somasi.

Angga mengawalinya, ia nampak cukup tenang saat menunjukkan betisnya yang ternyata tidak terlalu berbulu.

“Huh! Pantesan ngawali ... lawong betisnya agak mulus!” kata batin Andik kesal.

Sama dengan sang sahabat, batin Ilyas juga menggumam kesal, “Emang disengaja ini mah!.”

Mereka berdua kekeh tidak mau mengangkat kaki, memperlihatkan betis mereka pada Naura yang sudah bergeser ke kursi yang sama dimana mereka duduk. Sorotan matanya tajam menatap Andik dan Ilyas yang tetap tak bergeming.

“Ayo tunjukkan ke aku!” ucap Naura dengan menekan nada suaranya.

Apa mau dikata, akhirnya keduanya dengan sangat berat hati mengangkat kaki sebelah; menunjukkan betis mereka yang tadi tertutup oleh sarung. Seketika Naura menyeringai, bola matanya dengan ketat memperhatikan betis mana yang menjadi pemenangnya.

“Andik,” ucap Naura menyentak dada laki-laki itu.

“Iya Mba,” sahutnya kaku.

“Cepat ambil kursi di meja makan!” perintah Naura.

Lega dada Andik, tadinya ia mengira dirinya akan dipilih. Cepat ia bangun, setengah berlari mengambil kursi di ruang makan. Jantung Ilyas semakin kencang detaknya, firasat hati mengatakan dia lah yang Naura tunjuk pada akhirnya.

Ya, benar juga. Setelah Andik kembali dengan membawa kursi, Naura meminta Ilyas datang. Ilyas berusaha merayu, memelas memohon agar Naura mengurungkan niatnya.

Tapi begitulah Naura, jika sudah berkeinginan mustahil akan berubah. Sambil menyeringai Andik menarik Ilyas, membawa paksa laki-laki itu agar duduk di kursi yang ia bawa.

“Mba....” ucap Ilyas melas.

Dengan ragu-ragu Angga menyerahkan alat cukur. Datanglah mereka berdua pada Ilyas yang sudah dibuat duduk dengan paksa oleh Andik barusan.

Mula-mula Angga menempelkan alat cukur ke betis bagian samping, ia meminta Naura memperhatikan dengan seksama. Kemudian mulailah ia menggerakkan alat cukur itu dengan gerakan ke atas, Ilyas memejamkan mata.

“Mas Angga....” ucapnya memelas.

Angga tidak benar-benar menempelkan alat cukur itu, sedikit ia mengangkatnya saat membuat gerakan agar tidak mengusik bulu-bulu kaki yang berbaris rapi.

“Angga, kenapa nggak menempel?” protes Naura.

“Nggak apa-apa Nona, yang penting gerakannya sudah benar!” kata Angga yang tidak tega dengan Ilyas.

“Ok....” seru Naura mengalah.

Di dalam kamar, Hanis akhirnya menemukan cara yang menurutnya bisa membuatnya keluar dari jeratan Boy. Dari tadi ia berpikir dan setelah mendapat sebuah petunjuk, turunlah ia dari tempat tidur. Laptop yang berada di meja kerja ia nyalakan segera.

Jari-jemarinya mulai sibuk mengetik, mengikuti petunjuk yang tertancap di kepala. Apa yang ia ketik? Jawabannya yaitu sebuah perjanjian tertulis dimana isinya bahwa ia akan memberikan sejumlah uang yang diminta namun dengan syarat Boy akan menghentikan pemerasannya dan menghapus foto serta video yang ia simpan, tentu di hadapan Hanis.

Selesai membuat surat perjanjian tersebut, Hanis membuka pintu kamar dengan pelan. Terkejut ia manakala melihat semua orang berkumpul, maklum sedari tadi raga dan jiwanya tidak benar-benar menyatu, sehingga kebisingan di luar kamar sama sekali tidak terdengar di telinga.

“Kakak!” panggil Hanis mengagetkan mereka semua.

Terhenti sejenak kegiatan kursus mencukur tersebut, Naura ikutan menoleh. Andik yang dimaksud langsung membuka mulut.

“Manggil aku?!” ucapnya, menunjuk dirinya sendiri.

Hanis mengangguk, kedua alis Andik merapat kala memandang Hanis. Berjalan ia menghampiri wanita itu yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

“Ada apa?” tanyanya saat sudah saling berhadapan.

“Boleh numpang ngeprint nggak?” tanya Hanis ragu.

“Aku pikir ada apa?! Pakai aja!” seru Andik dan kembali bergabung dengan mereka.

Setelah mendapat izin, Hanis masuk lagi untuk mengambil laptop yang dibiarkan menyala. Berjalan ia dengan langkah pelan ke kamar sebelah, mereka berempat kembali sibuk dengan urusan mencukur. Kali ini tidak hanya praktek abal-abal, bulu kaki Ilyas beneran menjadi sasaran. Ilyas juga menegaskan sekali dipangkas maka harus rapi dan mulus hasilnya.

Di kamar sebelah, Hanis lekas menyambungkan kabel printer pada laptop. Khawatir tiba-tiba Andik muncul dan mengetahui segalanya. Begitu printer menyala, Hanis menekan tombol kontrol dan tombol huruf p bersamaan. Ia mencetak surat perjanjian itu selembar saja. Tangannya tidak sabar menunggu kertas keluar dari mesin printer. Dengan sengaja tangan kanan itu menunggu di dekat lubang keluarnya kertas. Saat kertas sudah keluar sempurna, ia menarik kertas itu dan menutup file yang ia ketik.

Dalam diam ia kembali ke kamar, menyimpan selembar kertas tersebut di dalam tas setelah tadi dimasukkan ke dalam map warna kuning. Lega dadanya kini, setidaknya ia sudah mengambil tindakan.

Hanis memutuskan keluar dari kamar, bergabung dengan kebisingan yang dibuat mereka berempat. Ia yang tidak tahu perihal aktivitas empat orang itu tanpa bersuara datang, tiba-tiba duduk di samping Andik dan mengintip mereka bertiga yang pada duduk bersila di atas lantai.

“Kenapa sama kak Ilyas?” tanyanya rendah di telinga Andik.

Terkejut, seketika Andik memalingkan muka. Tambah terkejut ia saat wajah Hanis terpajang beberapa inci jaraknya dari wajahnya sendiri. Jantung Andik seketika berdegup kencang, mukanya juga memerah seiring meningkatnya suhu tubuh kini.

“Dipermak biar tambah ganteng,” sahutnya kemudian.

Tidak ada pertanyaan lagi keluar dari mulut Hanis, ia memusatkan penglihatannya menyaksikan adegan penganiayaan yang dilakukan Naura.

“Apa teksturnya muka sama kayak betis?” tanya Naura.

Bukan hanya Andik yang meledak tawanya, Ilyas yang teraniaya juga terkekeh. Naura memarahi tiga cowok itu lantaran malu ditertawakan.

“Mba, nanti nyukurnya pakai hati biar hasilnya bagus terus nggak grogi,” kata Ilyas memberi masukan.

“Kayaknya aku harus praktek ke mukanya Andik ini!” sahut Naura menggoda Andik tapi serius juga.

Jelas Andik menolak, ia sontak berdiri dari duduk lesehannya. Naura mendongak, tangannya sigap menyambar tangan Andik khawatir laki-laki itu kabur.

“Ayolah Dik, Kamu mending muka yang kena ... aku?!” Ilyas berujar, semakin memanas-manasi Naura.

“Iya, masak mukaku?!” sambung Angga, menahan tawa.

Dengan berat hati akhirnya Andik menarik Ilyas dari kursi, berganti dirinya yang duduk di sana. Sebelum Naura memulainya, Andik mengajukan syarat.

“Hett ... tunggu!” ucapnya menghentikan Naura dari pergerakan.

“Apa?” kata Naura tidak sabar.

“Ada dua syarat, pertama jangan dibikin rata ... terus yang kedua....” ujar Andik terhenti.

Naura mengerutkan kedua alisnya, tidak suka dibuat penasaran. Ia menuntut Andik menyebutkan syarat yang kedua. Laki-laki itu tidak langsung bersuara, ia melirik ke Hanis super singkat. Kemudian, terbukalah itu mulut, “Hanis, bantu Mba ... aku nggak percaya sama dia!” kata Andik cukup membuat kaget Naura.

“Tanpa dibantu Hanis ... jangan macam-macam menyentuh pipiku!” ancamnya dengan suara mantap.

“Ok, sesuai dengan keinginanmu,” kata Naura menyetujui.

Detik berikutnya Naura menarik Hanis ke depan agar Andik bersedia dicukur kumis beserta jenggotnya. Namun baru saja Naura mengangkat tangan, Andik kembali berucap.

“Tunggu! Aku cari dulu model jenggot yang kece!” ucapnya dan meminta ponsel.

Angga menyerahkan ponsel miliknya, lekas Andik mulai browsing; mencari model jenggot yang diinginkan. Setelah menemukan yang sesuai di hati, Andik memperlihatkan gambar di layar ponsel pada Naura dan Hanis. Ia menyerahkan ponsel itu pada Hanis, bukan pada pemiliknya.

“Pantau Nis, kalo nggak sama dengan di gambar harus bayar kompensasi!” ucapnya bertambah saja persyaratan yang diminta.

“Pintar juga dirimu berbisnis, Dik!” sindir Ilyas.

Andik tidak menanggapi, hanya menyeringai dan mengedipkan mata pada Ilyas dan juga pada Angga.

“Ok, aku bakal bayar kompensasi seperti yang diminta sang pemilik!” ucap Naura.

Dalam pengawasan Hanis, Naura memulai aksinya. Dengan cermat ia memperhatikan gambar sebelum tangannya menggerakkan alat cukur yang sudah mendarat di pipi bawah Andik.

Mengambil kesempatan dalam kesempitan, tangan Andik dengan ringannya mendarat di pundak Hanis. Sontak Hanis memalingkan wajah, menatap sejenak Andik yang melempar senyum padanya.

Dua orang laki-laki yang bertindak sebagai tutor tidak menyadari adegan itu, mereka sibuk memberi instruksi pada Naura.

“Aww! hati-hati Mba!” sentak Andik, reflek ia mencengkram pundak Hanis kala kulit dagunya tergores.

“Maaf-maaf, sumpah nggak sengaja!” ujar Naura. Merasa bersalah, Naura mengusap pipi Andik dengan tulus. 

Sebagai lelaki normal tentu Andik cukup terpengaruh, untuk kesekian kalinya ia mencuri pandang Hanis. Sekedar menggoda wanita yang kini hanya duduk pasif memperhatikan pergerakan Naura, Andik tidak kehilangan akal. Dengan tenang ia berucap, memancing protes yang lain.

“Wih Mba! Harap jangan asal pegang, diriku ini sudah ada yang memiliki!” ucap Andik terdengar bercanda, namun kata yang terakhir mengandung keseriusan baginya.

“Halah sok kepedean Kamu!” sahut Naura. Ia yang geram dengan pernyataan itu mencubit pipi Andik meski tidak begitu kuat.

Sama halnya dengan Naura, satu orang lagi yang sama tidak terimanya tentu Ilyas. Ia menimpali omongan Naura, mencemooh Andik terang-terangan.

“Siapa yang minat sama orang slengean kayak Kamu, Dik?!” ujar Ilyas.

Andik yang tidak terima malah melempar tanya pada Hanis, sekedar ingin tahu saja kata apa yang akan keluar dari mulut wanita itu.

“Ya Allah … Nis, aku ada yang punya kan?!” seru Andik.

Bingung mau menjawab bagaimana, jadinya Hanis hanya mengangkat kedua pundaknya bersamaan. Sontak tiga orang itu terkekeh, terutama Ilyas. Ia merasa puas serta terwakilkan dengan respon yang diberikan Hanis tadi.

“Stop ketawanya! Mau lanjut cukur apa nggak ini?!” sentak Andik. Ia bahkan menendang betis Ilyas untuk membungkam mulut laki-laki itu. Bukan hanya Ilyas seorang, Angga juga tidak luput menjadi target. 

“Mas!” sentak Andik. 

 

Akhirnya tibalah hari yang ditentukan oleh Boy, sudah sedari tadi ia datang di tempat yang ia pilih. Kali ini bukan di dekat kampus Hanis, melainkan di sebuah kafe di kawasan plaza.

Nampak Hanis tergesa-gesa meninggalkan kampus, tadi ia sudah memesan ojek agar tidak lama menunggu di luar gerbang. Rupanya, ojek datang lebih cepat dari dirinya. Melihat seorang perempuan mengenakan jaket hijau yang menjadi ciri khas ojol, Hanis berhambur mendatanginya.

“Mba mari,” ucap Hanis.

Setelah memasang helm lekas ia naik ke boncengan, motor segera melaju; berbaur dengan kendaraan lain di ruas jalan. Selang beberapa belas menit lamanya tibalah Hanis di sebuah kafe. Setelah menyerahkan helm, ia berjalan cepat memasuki kafe tersebut. Bola matanya mengitari ruangan dalam kafe, mencari keberadaan Boy.

Rupanya laki-laki itu memilih meja di dekat dinding, agak di belakang juga. Seringainya penuh percaya diri menyambut kedatangan Hanis. Apalagi datang dengan membawa uang yang diminta. Lakil-laki itu bahkan melambaikan tangan, memberi isyarat agar Hanis segera bergabung.

“Aku pikir Kamu nggak bakal datang!” celotehnya yang tidak ditanggapi oleh Hanis.

Mulut wanita itu terkunci rapat, bahkan saat Boy menawarkan minuman ia sama sekali tidak tertarik untuk menjawabnya. Terpaksa Boy, memesan untuknya sendiri.

Tidak ingin berlama-lama, Hanis mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas. Namun ia tidak langsung menyerahkan amplop tersebut, saatnya bagi hanis bersuara.

“Mari kita selesaikan urusan kita ini,” kata Hanis berniat membuat kesepakatan.

“Seru nih kedengarannya!” sahut Boy setengah acuh.

“Stop ganggu aku, dan juga hapus semua foto sama rekaman yang kamu simpan!” kata Hanis memaparkan keinginannya.

“Lantas apa yang aku dapat?!” kata Boy membuat penawaran.

“Aku serahkan uang sepuluh juta ini, tapi serahkan hpmu ke aku!” kata Hanis berani.

Boy menyeringai, itu merupakan penawaran serta trik yang dangkal buatnya. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya, berbicara dengan nada rendah di depan muka Hanis.

“Kau pikir aku ini bodoh?!.” Kembali ia menarik diri setelah berucap demikian.

Boy mengganti posisi duduk, melipat kedua tangannya dan menjentik-jentikkan jari telunjuk ke lengan kiri. Nampak ia sedar berpikir, Hanis mengamatinya dengan waspada.

Setelah melalui pemikiran singkat, Boy membuka mulut; ia menatap Hanis sebentar. “Ok, aku hapus semuanya termasuk menyerahkan hpku ke kamu asal Kamu beri aku uang sebesar lima puluh juta ... tidak termasuk uang yang sekarang!” ungkapnya dengan tenang, menikmati alur permainan yang berada dalam kendalinya.

Mulut Hanis ternganga, bola matanya nyaris saja loncat mendengar penawaran yang dilontarkan Boy. Buatnya, itu bukanlah jumlah yang sedikit, apalagi saat ini ia masih menempuh pendidikan, belum menghasilkan uang. Darimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu?

Muka Hanis pucat pasi, mulutnya terkunci rapat; hanya menatap ke depan namun tidak menatap Boy. Senyum seringai Boy mengembang sepuluh kali dari ukuran normal, kesadaran Hanis tersentak seketika. Debar dadanya belumlah mereda kala ia berucap.

“Pegang omonganmu itu,” kata Hanis seolah menyetujui penawaran yang dibuat.

“Ok, berikan aku uang itu dalam minggu ini!” ujar Boy.

“Apa? Gila Kamu! Mana mungkin aku bisa ngumpulin uang sebanyak itu dalam waktu singkat!” sentak Hanis menolak.

“Lantas, berapa lama waktu yang diperlukan?” Boy balik bertanya.

Hanis terdiam, nampak pikirannya tengah terfokus merenungkan sesuatu. Tak seberapa lama, ia bersuara juga. “Akan aku kumpulkan uangnya dalam waktu paling lambat dua bulan.”

“Ok, terus mana yang sekarang?!” sahut Boy menyetujui, tapi jangan terlalu percaya padanya. Bisa jadi itu hanyalah taktiknya belaka.

Surat perjanjian yang dibuat Hanis semalam masih tersimpan di dalam tas, sisa-sia ia membuat surat perjanjian itu. Tangan Hanis menyodorkan amplop yang sedari tadi tergeletak di meja. Kemudian, bangkitlah ia tanpa menyuruh lak-laki itu menghitung kembali jumlahnya.

“Loh mau kemana? Aku belum hitung uangnya!” kata Boy berusaha menghentikan.

“Bukannya uang sudah di dapat?! Aku pastikan tidak akan kurang meski selembar!” sahut Hanis kemudian berlalu dari sana.

 

 

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!