Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu
"Duduk kamu!" Suara menggelegar Hutama menghentikan niat gadis cantik bernama Alana untuk bangkit dari duduknya. Niat untuk kabur harus tertahan. Kilat amarah di mata ayahnya sudah mampu mengubur keberanian untuk menentang rencana keluarganya, terlebih karena mereka tidak meminta persetujuan Alana terlebih dahulu.
"Kamu harus menurut. Lusa, keluarga Pak Harmoko akan datang melamar dan kamu harus menikah dengannya!"
Alana mengepal tangan. Dia marah dan benci pada semua orang yang ada di ruangan itu. Kenapa harus dia? Kalau ayahnya ingin sekali menjalin hubungan dengan bandot tua itu, nikahkan saja Adelia, kakaknya. Alana yakin gadis itu pasti setuju, sejak awal kedatangan pak Handoko, pak tua itu sudah banyak memberikan hadiah bagi Adelia, dan tidak tahu malunya lagi, Adelia menerima dengan senyum ramah mempesona.
"Setidaknya jadilah anak yang berguna. Kamu tahu betul kondisi perusahaan ayahmu!" Ibu tirinya ikut angkat bicara.
Alana ingin mendebat, tapi diurungkannya karena tahu pasti ayahnya membela istri mudanya itu.
"Kamu jangan membantah lagi. Kamu harus menikah dengan pak Handoko, titik!"
Terlihat senyum menyeringai di wajah Calya, sang ibu tiri. Sejak wanita itu masuk dalam keluarga mereka, ayahnya jadi berubah. Hal yang wajar, kalau Alana begitu benci pada Calya, juga dengan ayahnya.
Hari dimana ibunya dimakamkan, sang ayah membawa istri kedua beserta anaknya ke rumah mereka. Saat itu Alana terlalu muda untuk mengetahui kebenarannya, tapi kini dia sudah bisa merangkai di dalam hati, perselingkuhan ayahnya dengan Calya, mantan sekretaris nya itu sudah lama terjalin, bahkan saat ibundanya masih hidup.
"Kau tidak punya pilihan lain, ikutin apa kata ayahmu!"
Amarah Alana tidak bisa terbendung lagi. Kali ini dia akan melawan Calya.
"Kenapa harus aku? Nikahkan saja putrimu dengan tua bangka itu!"
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Alana. Keras, dan berhasil membuat kulit pipinya yang putih gading memerah.
"Sekarang, masuk ke kamarmu. Jangan keluar sampai ayah panggil!"
***
Ayahnya sungguh keterlaluan. Dia sudah menurut masuk kamar, tapi tidak menyangka kalau dia akan di kurung. Berulang kali Alana berteriak sembari menggedor pintu, tetap diabaikan.
"Nggak bisa, kalau gini aku bisa benar-benar dinikahkan dengan pria playboy itu," ujar Alana bermonolog.
Setengah jam mondar-mandir di tengah kamar, hingga Alana memutuskan untuk kabur saja. Bergegas dibuka jendela kamar. Tempatnya ada di lantai dua, kalau sampai jatuh, kalau tidak mati pasti cacat. Terlalu jauh untuk melompat.
"Apa yang harus ku lakukan?" Lanjutnya bermonolog lagi. Apa dia harus pasrah saja menerima nasibnya menjadi tumbal keluarga mereka? Sumpah demi apapun Alana tidak ridho.
Dihempaskan nya kembali bokongnya di tepi ranjang. Seandainya saat ini dia sudah berusia 23 tahun, tidak perlu se khawatir ini. Dia bisa mengambil perusahaan dan semua warisan ibunya yang dibuat atas namanya. Pasalnya, masih ada satu tahun lagi untuk masa itu datang. Kecuali, dia bisa menyanggupi syarat kedua, yaitu sudah menikah, maka meski belum genap usia yang dijanjikan, maka bisa mengambil alih hak nya.
Membayangkan kalau dirinya menjadi istri kesekian Handoko, tiba-tiba saja Alana bergidik ngeri.
"Lebih baik aku mati, dari pada menikah dengan maniak seks itu!" Cicitnya sambil kembali berpikir.
Pandangannya memindai seluruh ruangan hingga jatuh pada seprei yang tengah dia duduki. Ide brilian pun muncul. Satu senyum pengharapan melengkung indah di bibirnya.
Alana memastikan kalau sekarang adalah waktu yang tepat. Dia sudah menebak kalau semua penghuni rumah sudah terlelap di balik selimut.
Dari balkon kamarnya, Alana meninjau ke arah pos satpam, terlihat kosong. Kembali senyumnya muncul. Dia tebak kalau saat ini pak Karyo pasti ada di kamar Suti. Janda genit itu sudah lama terendus menggoda pak Karyo yang sudah punya istri.
Alana sempat menegur Suti, tapi pelayannya itu membantah, dan justru balik memusuhi dia. Tidak terlalu kaget, karena Suti adalah antek-antek Calya.
Nyatanya, malam ini, hubungan terlarang mereka juga memudahkan Alana untuk kabur dari rumah.
Setelah mengikat emat ujung seprei dan menjatuhkan ke bawah, Alana bersiap untuk kabur. Guna memudahkan pelariannya, Alana sama sekali tidak membawa satu lembar pun pakaian. Saat ini yang terpenting adalah kabur.
Meski jantung berdebar kencang, takut jatuh Alana mulai menurunkan kakinya melewati pembatas balkon, bersiap turun. Bibirnya komat-kamit memanjatkan permohonan, agar kain seprei yang dia gunakan cukup kuat menahan bobot tubuhnya.
Susah payah menuruni dinding rumah, akhirnya Alana berhasil menjejakkan kaki di tanah. Napasnya hampir saja berhenti. Gerimis yang turun tidak menjadi penghalangnya untuk kabur.
Kini tiba rintangan berikutnya. Bagaimana dia membuka gerbang. Berharap akan ada kunci serep di pos satpam, Alana mulai mencari dan untungnya ketemu.
Bergegas Alana membuka sedikit pintu gerbang, meloloskan tubuhnya yang ramping lalu menutup kembali.
Serasa dikejar setan, takut ketahuan oleh ayahnya, Alana berlari terbirit-birit. Tidak lagi mengkhawatirkan kakinya yang sudah mulai sakit, dalam benaknya hanya bergaung agar dia semakin cepat berlari menjauhi rumahnya.
Entah sudah berapa lama Alana berlari, dia pun sudah tidak sadar. Malam semakin dingin, sepi dan menyeramkan. Bukan hantu yang dia takutkan, tapi adanya begal yang bisa saja tiba-tiba saja lewat.
Alana terus berlari, melewati simpang empat lalu terus berlari hingga tanpa memperhatikan sekelilingnya. Sebuah mobil yang melaju kencang kearah datangnya Alana terpaksa banting stir ke arah kanan demi menghindari gadis itu. Pengemudi terkejut hingga memilih menabrak sudut pembatas jalan.
Kalau saja pria di balik kemudi itu tidak lihai menyetir dan sigap melihat situasi, pasti Alana sudah tertabrak dan terpental jauh. Akibat menyelamatkan Alana, kini mobil pria itu hancur dengan kap depan mobil terbuka, ringsek seiring terdengar jerit suara Alana yang melengking dan terduduk di jalan dengan posisi memeluk dirinya.
Penuh emosi, si pemilik mobil keluar dan mendatanginya.
"Dasar cewek gila! Kau mau mati?!"
Bentakan pria itu membuat Alana tersadar kalau dirinya belum mati. Perlahan dia membuka mata, lalu melepas pelukan di tubuhnya, dan mengangkat kepala.
Di depannya berdiri seorang pria berjas hitam. Pantulan lampu jalan cukup menjelaskan kalau pria itu sangat tampan. Tatapannya yang dingin menusuk ke relung hati Alana seketika itu juga.
"Jangan berlagak bodoh dan tidak tahu apa-apa. Lihat apa yang sudah kau perbuat?" Bentaknya lagi. Kepala Alana berputar ke arah mobil yang masih mencium pembatas jalan. Mobil itu hancur pada bagian depan. Beruntung pemiliknya tidak jadi korban dengan luka parah.
"Itu keningmu berdarah, sudut bibirmu juga," jawab Alana ikut panik, mengabaikan bentakan pria itu. Sontak dia bangkit dan mengulurkan tangannya ingin menyentuh luka di sudut bibir pria itu, tapi segera tangannya ditepis.
"Kau benar-benar gadis gila. Aku tidak peduli, kau hampir membahayakan nyawaku, dan kini mobilku rusak. Kau harus ganti rugi! 100 juta!"
"Ganti rugi? Tapi aku nggak punya uang," jawab Alana cepat. Nasibnya saja kedepan dia tidak tahu, konon lagi harus ganti rugi 100 juta. Sial banget sih, nasibnya.
"Itu bukan urusan ku, kalau kau tidak mau ganti rugi, aku akan memenjarakan mu!"
Alana diam sesat. Bingung harus bagaimana. Dia benar-benar tidak punya uang sepeserpun dan tidak ingin dipenjara.
"Aku benar-benar nggak punya uang. Aku hanya punya tenaga, kau boleh memintaku mengerjakan apapun, asal bisa mencicil utangku."
Kali ini pria itu yang tampak diam, berpikir sejenak.
"Baik, kalau begitu kau harus jadi pelayan di rumah ku!"
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭