Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Lorong rumah sakit yang tenang menjadi saksi bisu kesetiaan Relia.
Di depan ruang operasi, ia duduk di kursi tunggu yang sama dengan tempat Ariel menunggunya beberapa hari lalu. Ironisnya, kini keadaan berbalik; sang pelindung kini menjadi yang dilindungi.
Relia mengeluarkan iPad-nya yang layarnya masih retak seribu—sebuah pengingat fisik akan kekejaman Markus yang hampir merenggut nyawanya.
Jemarinya yang masih gemetar mulai menyentuh layar kaca yang terasa tajam itu.
Ia ingin menuangkan segala rasa yang membuncah di dadanya, bukan lagi tentang kepedihan, melainkan tentang cinta yang rela berkorban.
Ia membuka draf novelnya dan mulai mengetik bab baru.
Bab: Perisai Bernama Cinta
Aku selalu berpikir bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku sebagai tameng bagi diriku sendiri. Aku terbiasa menangkis setiap cambukan dan kata-kata kasar sendirian, sampai aku lupa bagaimana rasanya dilindungi.
Hari ini, di ruang sidang yang dingin itu, aku melihat cinta dalam bentuk yang paling nyata.
Bukan dalam bentuk kata-kata manis atau janji-janji kosong, melainkan dalam bentuk sebilah pisau yang menembus telapak tangan pria yang paling aku cintai.
Darah yang menetes dari tangan Mas Ariel bukan sekadar luka.
Itu adalah tinta merah yang menuliskan akhir dari ketakutanku. Dia tidak hanya memberiku nama Arkatama, dia tidak hanya memberiku suara melalui iPad ini, tapi dia memberikan dirinya sendiri untuk memastikan aku tetap bernapas.
Markus mungkin telah mencoba mengambil jantungku dengan peluru, dan mencoba menusuk dadaku dengan pisau. Namun, dia gagal. Karena di depanku, selalu ada dinding kokoh yang takkan membiarkan satu pun duri menyentuh kulitku lagi.
Relia berhenti sejenak, ia menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Air mata menetes mengenai layar iPad-nya.
Mas, jika tanganku adalah yang menuliskan cerita ini, maka tanganmu adalah yang menjaga agar tangan ini tetap bisa menulis. Cepatlah keluar, pelindungku. Bali sedang menunggu kita, dan aku tidak ingin melihat matahari terbit di sana tanpa tanganmu yang menggenggamku.
Tak lama kemudian, lampu ruang operasi padam. Relia segera menutup iPad-nya dan berdiri dengan waspada.
Dokter bedah keluar dengan pakaian hijau yang masih bercak darah, namun ia tersenyum tipis saat melihat Relia.
"Operasi penyambungan tendon dan saraf pada tangan Dokter Ariel berjalan lancar, Nyonya Relia. Dia adalah pasien yang kuat. Sekarang dia sedang dalam masa
pemulihan dari bius."
Relia mengembuskan napas lega yang luar biasa. Ia mendekap iPad-nya di dada, merasakan kedamaian yang sesungguhnya mulai menyelimuti hatinya.
Badai itu benar-benar telah berlalu, dan meskipun meninggalkan bekas luka, mereka akan menghadapinya bersama.
Ariel dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang sama
dengan ruangan tempat Relia dirawat beberapa hari lalu.
Seolah roda nasib sedang berputar, kini gantian Relia yang duduk di kursi samping tempat tidur, menatap wajah suaminya yang masih terlelap dalam pengaruh obat bius.
Tangan kanan Ariel terbalut perban tebal hingga ke pergelangan, disangga oleh bantal kecil untuk mengurangi pembengkakan.
Relia menyentuh ujung jemari Ariel yang tidak tertutup perban, mengusapnya pelan dengan penuh rasa bersalah sekaligus haru.
"Terima kasih, Mas. Maafkan aku karena harus membuatmu terluka sesakit ini," bisik Relia lirih.
Pintu kamar terbuka dengan suara gesekan yang halus. Mama Wahyuni masuk dengan wajah yang mencoba tetap tegar, meski matanya menunjukkan kekhawatiran seorang ibu.
Di tangannya, ia membawa tas bekal berisi aroma yang sangat akrab di penciuman Relia.
"Relia, Sayang. Makanlah dulu. Kamu belum makan apa pun sejak kejadian mengerikan di pengadilan tadi," ucap Mama Wahyuni lembut.
Ia meletakkan makanan itu di meja sofa. "Mama bawakan sup iga hangat dan nasi putih. Kamu butuh tenaga untuk menjaga Ariel saat dia bangun nanti."
Relia menoleh, matanya masih berkaca-kaca. "Ma, tangan Mas Ariel, apakah akan berfungsi normal lagi? Dia seorang dokter bedah, tangannya adalah segalanya."
Mama Wahyuni duduk di samping Relia, merangkul bahu menantunya itu.
"Tim bedah tadi melakukan pekerjaan yang sangat teliti. Tendonnya berhasil disambung. Memang butuh waktu fisioterapi yang lama, tapi Ariel adalah orang yang gigih. Dia akan pulih demi kamu."
Wahyuni membuka kotak makanan itu dan menyodorkan sendok ke arah Relia.
"Sekarang, makanlah. Jangan sampai Ariel bangun dan melihat istrinya jatuh sakit karena mengkhawatirkannya. Itu akan membuatnya merasa gagal melindungimu."
Mendengar kata-kata itu, Relia akhirnya mengalah. Ia mulai menyuap nasi dan sup iga itu, meski rasanya hambar karena hatinya masih tertuju pada pria yang terbaring di depannya.
Sesaat setelah Relia menghabiskan makanannya, terdengar lenguhan kecil dari tempat tidur.
Jemari Ariel yang berada di genggaman Relia bergerak pelan.
"M-mas?" Relia langsung berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Ariel.
Mata Ariel terbuka sedikit demi sedikit, ia mengernyit menahan nyeri yang mulai terasa di tangannya saat pengaruh bius memudar. Hal pertama yang ia cari adalah sosok di sampingnya.
"Relia..." suara Ariel parau.
Ia mencoba menggerakkan tangannya yang dibalut perban, namun langsung meringis.
"Jangan digerakkan dulu, Mas. Tangannya habis dioperasi," cegah Relia cepat, air matanya jatuh mengenai tangan Ariel.
Ariel memaksakan sebuah senyum tipis, meski wajahnya pucat.
"Kenapa menangis? Aku tidak mati, sayang. Aku hanya memberikan sedikit tanda mata untuk Markus agar dia ingat siapa suamimu."
Relia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba terlihat kuat di depan suaminya yang baru saja siuman. Namun, isak tangisnya masih tersisa di ujung napasnya.
"Aku takut, Mas kenapa-napa," bisik Relia dengan suara bergetar.
"Saat pisau itu mengenai tangan Mas, aku merasa duniaku berhenti. Aku tidak ingin Mas mengorbankan diri seperti itu untukku."
Ariel menggerakkan tangan kirinya yang bebas, meraih tengkuk Relia dan menariknya lembut agar wajah istrinya mendekat.
Ia mengusap pipi Relia dengan ibu jarinya, menghapus sisa air mata yang masih mengalir.
"Dengarkan aku, Relia," ucap Ariel dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Tangan ini, semua luka ini... tidak ada artinya dibanding senyummu. Aku seorang dokter, aku tahu cara mengobati lukaku sendiri. Tapi aku tidak akan tahu cara mengobati jiwaku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu di depan mataku."
Ariel meringis sedikit saat mencoba mengubah posisi duduknya, membuat Relia sigap membantu menata bantal di punggung suaminya.
"Jangan menyalahkan dirimu," lanjut Ariel. "Markus mencoba mengambil segalanya darimu, tapi dia gagal.
Dia pikir dia bisa menusuk hatiku dengan menyakitimu, jadi aku menunjukkan padanya bahwa aku adalah perisaimu. Sekarang, dia membusuk di sel dengan kaki yang pincang, sementara aku di sini, bersama bidadariku."
Mama Wahyuni, yang memperhatikan dari sofa, tersenyum haru.
Ia tahu putranya telah menemukan alasan terbesarnya untuk menjadi pria yang lebih kuat.
"Sudah, sudah," sela Mama Wahyuni untuk mencairkan suasana.
"Ariel, jangan terlalu banyak merayu dulu, napasmu masih bau obat bius. Relia, biarkan dia minum sedikit air."
Relia tertawa kecil di tengah tangisnya—sebuah tawa yang terdengar sangat melegakan bagi Ariel. Ia membantu Ariel minum menggunakan sedotan dengan sangat telaten.
"Mas harus janji," ucap Relia setelah Ariel selesai minum.
"Setelah ini, tidak boleh ada darah lagi. Kita harus pergi ke Bali dan hanya melihat warna biru laut, bukan merah darah."
Ariel mengangguk mantap. "Janji. Segera setelah jahitan ini kering, kita berangkat. Aku ingin melihatmu menulis bab terakhir novelmu sambil melihat matahari terbenam di Jimbaran
mudah"an relia selamat