Ini kelanjutan kisah aku istri Gus Zidan ya, semoga kalau. suka🥰🥰🥰
****
"Mas, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil tercengang, matanya membesar sempurna, ia ingin sekali beranjak dari tempatnya tapi kakinya untuk saat itu belum mampu ia gerakkan,
"Apa?" Ia duduk lebih tegap, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, kemudian menatap Gus Syakil dengan wajah serius. "Saya bilang, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil menelan ludah, merasa percakapan ini terlalu mendadak. "Tunggu... tunggu sebentar. mbak ini... siapa? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda, dan... apa yang membuat Anda berpikir saya akan setuju?"
Gadis itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tetap serius. "Nama saya Sifa. Saya bukan orang sembarangan, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Anda adalah Syakil, bukan? Anak dari Bu Chusna? Saya tahu siapa Anda."
Gus Syakil mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami situasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bunda Marah?
"Kenapa bunda pulang wajahnya di tekuk?" tanya Syakil saat melihat bundanya yang tidak seperti biasa setelah kembali dari jalan-jalan bersama Sifa_ sang istri.
Sifa mengangkat kedua bahunya, ia sendiri tidak tahu kenapa bunda mertuanya tiba-tiba diam tidak seperti saat mereka berangkat tadi, "Nggak tahu, tadi tiba-tiba diam."
Syakil mengerutkan keningnya, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda, mungkin ada yang salah yang ia tidak tahu, "Tadi ketemu siapa?" tanya Syakil kemudian.
Sifa mencoba mengingat perjalanan mereka tadi kemudian ia teringat dengan pertemuannya dengan Farah di toko kosmetik, "Cuma ketemu Farah, sih. Memang ada apa?" tanya Sifa dengan santainya.
Tapi tidak dengan Syakil, ia tampak terkejut, "Farah?" tanyanya dengan suara sedikit lebih tinggi membuat Sifa terkejut dibuatnya.
"Iya, kenapa?" tapi segera Sifa merasa penasaran.
"Bukan apa-apa." kembali suara Syakil merendah, ia merasa tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Sifa, "Ya sudah bersih-bersih lah dulu, biar aku yang tanya sama bunda." ucapnya lagi untuk meredam rasa penasaran Sifa.
Walaupun sebenarnya masih penasaran, tapi Sifa mencoba untuk mengabaikannya, lagi pula bulan urusannya juga, pikirnya. "Hmmm, baiklah."
Sifa pun kembali meraih tas kecil miliknya dan beranjak pergi ke kamar meninggalkan Syakil sendirian di ruang tamu. Dan setelah memastikan Sifa benar-benar masuk ke kamar, Syakil pun melakukan kursi rodanya menuju ke kamar tamu.
Syakil mendekati pintu kamar bunda Chusna dan perlahan mengetuk daun pintunya.
"Bund, Syakil boleh masuk?" tanya Syakil dan seluruh kemudian terdengar sahutan dari dalam.
"Bunda akan keluar." ucap bunda Chusna dan segera kembali memakai jilbabnya, bagaimanapun hubungan mereka saat ini, Syakil dan bunda Chusna tetaplah tidak memiliki hubungan darah, rasanya tidak pantas jika berada dalam satu kamar.
Syakil pun menunggu di luar pintu. dan bunda chusna keluar .
"Bunda kenapa?" tanya Syakil dengan cepat.
Bunda Chusna melipat kedua tangannya di depan dada, menatap putranya itu dengan serius, "Syakil. Sifa tahu hubungan kamu sama Farah?"
Syakil menggelengkan kepalanya tapi tampak tidak yakin,
"Kenapa kamu tidak cerita?" tanya bunda Chusna lagi.
"Syakil rasa itu tidak penting, yang terpenting sekarang bagaimana Syakil dan Sifa, bund." ucap Syakil dengan penuh keyakinan.
Bunda Chusna menghela nafas, mencemaskan banyak hal tentang yang ada di pikirannya saat ini, "Bunda hanya takut jika_,"
"Jangan khawatir bund, apapun itu antara aku dan Farah, semuanya hanya bagian dari masa lalu dan selebihnya adalah aku dan Sifa." ucap Syakil dengan cepat bahkan sebelum bunda Chusna menyelesaikan ucapannya.
Bunda Chusna tersenyum tipis, "Semoga seperti itu. semoga apa yang bunda khawatirkan tidak akan terjadi."
Setelah selesai berbicara dengan bunda Chusna, Syakil pun memasuki kamar, Sifa baru saja selesai mandi dan hendak memakai jilbabnya, tapi ia urungkan karena begitu penasaran dengan kembalinya sang suami,
"Gimana mas, bunda marah ya sama Sifa?" tanya Sifa dengan cepat sembari menghampiri Syakil dan membantunya mendorong kursi rodanya menuju ke dekat Sifa dan Sifa pun segera duduk di sofa berhadapan dengan syakil, "Atau Sifa tadi kebanyakan ambil barangnya?"
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Syakil
Sifa pun memasang wajah memelas, "Kan tadi bunda ternyata yang bayarin semuanya, Sifa jadi nggak enak." keluhnya sembari memilih ujung bajunya mulai merasa cemas.
syakil tersenyum, ia mengusap lembut pipi Sifa, "Nggak pa pa, bunda cuma lagi banyak pikiran aja."
Setelah mendapat jawaban dari Syakil, Sifa kembali mengangkat wajahnya, "Soal perceraiannya?" tanyanya bersemangat.
Syakil tersenyum, "Mungkin." jawabnya singkat.
Sifa menghela nafas, ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana sakitnya saat ia bercerai dengan Syakil saat Syakil tahu semuanya,
Ahhh, kenapa harus memikirkan hal itu? Lagipula jika mas Syakil sembuh kakinya, memang seharusnya kita bercerai, batin Sifa merasa tidak enak dengan perasaannya sendiri. Bayangan tentang perceraian seolah-olah terus membayanginya dan itu terasa menakutkan.
"Kamu cantik kalau pakek hijab." ucap Syakil tiba-tiba berhasil membuyarkan lamunan Sifa, ia menatap Syakil dengan tatapan tidak percaya.
"Kemarin pas pertama lihat Sifa pakek hijab, kenapa nggak muji Sifa di depan bunda?" tanya Sifa sedikit kesal, padahal ia berharap Syakil yang memujinya terlebih dulu.
"Memang harus ya, memuji di depan orang lain?" syakil malah balik bertanya membuat Sifa begitu kesal karena syakil sangat tidak peka.
"Ya ..., rasanya akan beda." ucap Sifa dengan tatapan mengambang, "Jadi Mas Syakil suka kalau Sifa pakek hijab terus?" tanyanya menyelidik.
"Suka ..., Tapi ...,"
"Tapi apa?" tanya Sifa penasaran.
"Tapi aku harap kamu pakek hijab bukan karena aku." ucap Syakil begitu percaya diri.
Sifa mencebirkan bibirnya, "Memang siapa kamu." ucapnya menggoda.
"Suamimu." ucap Syakil dengan tenang dan malah berhasil membuat hati Sifa meleleh, ia sampai terpaku dibuatnya.
Suamiku ...., batin Sifa sembari tersenyum membayangkan dan kembali menginta perkataan Syakil. meskipun sederhana tapi terasa begitu manis.
"Manis sekali suamiku." ucap Sifa tanpa sadar dan tanpa Sifa sadar Syakil dari kursi rodanya tapi belum sampai Sifa merasa terkejut, tiba-tiba tubuh Syakil terhuyung dan menimpat tubuhnya hingga kini posisi Sifa berada di bawah tubuh syakil dan yang lebih mengejutkan bagi Sifa, bibir Syakil menempel tepat di atas bibirnya.
Sejenak mereka hanya saling diam, seolah waktu pun berhenti berdetak beberapa detik. Dan Syakil dengan cepat beralih dari tubuh Sifa dan duduk di sampingnya. Suasana menjadi begitu canggung, mereka saling diam beberapa detik hingga Sifa kembali membuka suara,
"Mas Syakil sudah bisa berdiri sendiri?" tanyanya kemudian.
Syakil tersenyum tipis, "Sedikit. Baru mencoba beberapa kali tapi selalu jatuh. Soal yang tadi, aku minta maaf karena telah menimpamu."
Lalu soal ciuman? Batin Sifa.
"Dan soal yang lain, memang seharusnya kita sudah berada di jenjang itu." ucap Syakil kemudian memilih memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum di bibirnya yang tidak bisa lagi ia tahan.
Dan kata itu berhasil membuat Sifa terpaku, jantungnya dibuat disko lagi oleh kata-kata Syakil yang menurutnya selalu berhasil membuat hatinya porak-poranda.
Bersambung
malu 2 tapi mau🤭
saranku ya sif jujur saja kalau kamu yg nabrak syakil biar gak terlalu kecewa syakil nya