NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Single elit

Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.

Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?

Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.

Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 31

" Brengsek!! "

Martin meremas ponselnya kuat, ia benar-benar marah, otaknya seakan mendidih. Ia baru saja melihat kiriman pesan dari Bastian yang berisikan foto Raka yang tergeletak lemah di lantai dengan kondisi yang amat mengenaskan.

Martin sudah menduga jika Bastian lah dalang dari semuanya. Kenapa ******** itu sudah keluar dari penjara?

Segera Martin mencari kontak seseorang yang dapat mengurus masalah ini.

"Doni" panggilnya cepat begitu telepon itu tersambung.

Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?

"Ada pekerjaan buat kamu, kumpulkan semua anak buahmu di tempat biasa"

siap Tuan.

Martin langsung mematikan sambungan teleponnya dan beralih menghubungi Ray. Berkali-kali Martin mencoba menghubungi namun tidak ada jawaban dari Ray. Ia benar-benar kesal, tidak bisakah anak itu mengangkat teleponnya di saat penting seperti ini? "Dasar anak itu!"

Martin sedikit lega ketika Reno memberi kabar bahwa mobil Raka sudah di temukan, ia bisa melacak Bastian melalui cctv disana dan beberapa petunjuk yang mungkin bisa di temukan.

" Awas saja kau Bastian, akan ku cabut nyawamu dengan tangan ku sendiri " geramnya dengan menggebrak meja ruang kerjanya.

" Ada apa sayang? Kenapa marah marah"

Marissa menghampiri Martin dan memeluk punggung bidang suaminya itu dari belakang dan mengusapnya pelan.

" Bastian sudah bebas dan dia menyekap Raka"

Jelas Martin lalu berbalik menatap Marissa yang sedang memasang senyum termanisnya.

Marissa mentertawakan Martin di balik senyum manisnya yang palsu, ia sangat senang mendengar kabar hilangnya Raka. Ternyata tidak sia sia dirinya bersekutu dengan Bastian dengan menjamin kebebasan pria itu.

" Kok bisa? Bukannya dia masih di penjara? "

Marissa berpura-pura bodoh di depan Martin dengan memasang wajah polosnya. Padahal dialah dalangnya.

"Ada orang yang menjamin kebebasannya" Martin berfikir sejenak lalu menatap wajah Marissa lekat. "Mulai sekarang berhati hati, karena ******** itu sangat licik."

Marissa mengangguk lalu kembali memeluk tubuh Martin dengan tersenyum penuh kemenangan.

                   ****

Ray mengerjap pelan ketika cahaya matahari menyelinap masuk menerpa wajahnya. Kemudian Ray merenggangkan ototnya yang terasa pegal, namun tangannya membentur sesuatu, seperti tubuh seseorang.

Segera Ray menoleh kesamping, namun detik kemudian ia beringsut mundur. Ia terkejut melihat Kanaya berada di sampingnya. Kenapa ia berada di ranjang yang sama dengan Kanaya? Bukannya semalam ia tidur di sofa?

Tiba tiba ponselnya berdering mengalihkan perhatian Ray dari gadis yang tertidur lelap di sampingnya, Ray menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Sebelah alisnya terangkat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Reno? Ada perlu apa laki laki itu menghubungi dirinya?

Setelah berfikir beberapa detik segera Ray menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan Reno.

Ray

Panggil laki laki di sebrang line telepon dengan nada tergesa-gesa.

"Ya" jawab Ray cepat.

Raka di sekap sama bokap ya Nino.

Ucap Reno cepat tanpa basa basi.

"Brengsek!" Geramnya sembari meremas ponselnya keras.

Gue tunggu Lo di rumah om Martin.

Ray melemparkan ponselnya di atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Kemudian ia membangunkan Kanaya dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.

"Nay, bangun" panggilnya lirih.

"Heemm" Kanaya menggeliat pelan lalu membuka matanya yang terasa perih karena rasa kantuk yang masih menggelayutinya.

"Gue anter Lo ke apartemen Ayrin sekarang!" ujar Ray dengan wajah khawatirnya, ia tidak bisa meninggalkan Kanaya sendirian di rumah ini.

"Hah, emang ada apa? Kok mendadak?" Pertanyaan beruntun dari Kanaya dengan wajah bingung.

"Nanti gue ceritain, sekarang Lo ganti baju. Gue tunggu di luar" Titah Ray tegas dan berlalu meninggalkan Kanaya.

Kanaya bangkit dari tempat tidurnya setelah Ray keluar dari kamar ini, ia berjalan pelan ke kamar mandi karena kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Setelah berkutat beberapa menit akhirnya kanaya selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi.

Kanaya segera memakai pakaiannya dengan gerakan cepat sebelum Ray kembali ke kamar ini. Baru saja ia ingin mengikat rambutnya namun suara pintu kamar yang di buka, mengehentikan kegiatannya dan menoleh ke arah pintu.

"Udah selesai?" Tanya Ray seraya berjalan mendekat ke arahnya.

"Udah" ucap kanaya dengan kembali melanjutkan mengikat rambutnya yang sempat terhenti. Namun belum sempat ia melanjutkanya tangan Ray lebih dulu merebut tali rambut itu hingga tergerai kembali rambut panjang Kanaya.

"Jangan di iket!" Ucap Ray kemudian setalah merebut ikat rambut itu dan meletakkan di atas nakas.

"Kenapa?" Tanya Kanaya dengan wajah bingung.

"Gue gak suka! Ayok berangkat sekarang, Edo udah nunggu di bawah."

Kanaya menghela napas pelan mendapati perlakuan Ray yang semaunya. Dengan tertatih kanaya mengikuti langkah lebar Ray yang terburu buru, hingga Kanaya nyaris terjatuh di tangga jika saat itu Ray tidak menahan tubuhnya.

"Lo gak apa-apa?" Tanya Ray khawatir seraya menatap wajah pucat Kanaya.

"Kamu kenapa sih buru buru banget, tangan aku sakit tau!"

Kanaya mengusap tangannya yang sakit sembari memasang wajah kesalnya.

" Sorry, gue buru-buru karena Raka dalam bahaya" jelasnya pada Kanaya. Sebenarnya ia tidak ingin memberitahukan semua ini pada kanaya dan membuat gadis itu menjadi khawatir .

"Hah! Kamu serius?"

"Iya, ayo buruan" Ray menarik lembut tangan Kanaya agar tidak melukai gadis itu lagi, dengan berjalan sedikit pelan.

"Gue titip Kanaya Do" ucap Ray ketika Kanaya sudah masuk kedalam mobil Edo, dan di balas anggukan oleh Edo.

"Gue tinggal dulu sebentar, Jangan kemana-mana sampe gue balik" ucapnya seraya mengusap lembut pipi Kanaya.

"Kamu hati hati Ray"

Edo langsung melajukan mobilnya menjauh meninggalkan pelataran rumah Ray. Setelah mobil Edo pergi, Ray berbalik berjalan menuju garasi untuk mengambil motor sportnya.

 

 

"Bangun!! Lo gak boleh mati cepet, sebelum gue puas"

Bastian menarik kasar rambut Raka agar menatapnya. Dilihatnya wajah Raka yang penuh lebam dengan bekas noda merah yang mulai mengering.

"Segini doang?" Ucap Raka kemudian dengan nada mengejek.

Bastian merasa di remehkan dengan perkataan Raka lantas ia menghempaskan tubuh Raka ke lantai dengan keras. "Lo bakal nyusul Nino dengan cara yang lebih menyakitkan."

Bisiknya di telinga Raka yang tergeletak di lantai dengan nada lambat lambat hingga membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.

Di ambilnya senjata api dari tangan anak buahnya, lalu mengarahkan ke arah kaki Raka. Dorrr!!

"Arrkkhh" Raka mengeram tertahan, ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan musuh.

"Hahaha gak nyangka gue Martin punya anak setangguh ini." Lebih tepatnya Bastian mentertawakan dirinya sendiri, karena semua yang di miliki Martin ia tidak memilikinya.

Bastian berjalan mendekat ke arah Raka yang tersungkur di lantai lalu menginjak luka tembak di kaki Raka, dengan perlahan semakin menekannya kedalam hingga darah mengalir deras dari balik celana panjangnya.

Raka menggeliat kesakitan, sungguh kakinya terasa amat sakit hingga rasanya ia tidak sanggup lagi menahannya. Jika saja tangannya tidak di ikat ia akan menghajar pria tua itu tanpa ampun.

"Pengecut!!" Ucapnya lirih dengan masih menahan sakit di kakinya.

"Apa?!"

"Lo PENGECUT!!" Ulang Raka dengan nada penuh penekanan di bagian akhir.

"Brengsek!" Bastian mengeram kesal, mengepalkan kedua tangannya, lalu menarik kerah baju Raka hingga menyisakan jarak 1 jengkal saja.

"Kalo Lo bukan pengecut kita duel satu lawan satu dengan tangan kosong"

Raka tersenyum samar melihat kebodohan Bastian yang terpancing oleh ucapannya, terbukti ketika pria bertubuh besar itu mulai mengendurkan cengkeraman di kerah bajunya, lalu perlahan melepaskan ikatan di tangan dan kakinya sejak kemarin malam. Dasar bodoh!

🍁🍁🍁

Hmmm sampe sini dulu.

Semoga suka, dan makin penasaran sama kelanjutannya.😌

Thanks for all, buat yang udah baca,komen,like dan votenya.😍

Okeh, see you😉

1
Cicih Sophiana
Ray lagi pengen di manja ya... pengen di perhatiin jg 😁😆
yulie istanti
👍👍
MandaNya Boy Arbeto❤️
mulai lg de awal deh
Cicih Sophiana
hmmm dapat kecupan terasa melayang jg yah...😁
Cicih Sophiana
untuk apa aq pergi kamu ada di sini ko🤭
Cicih Sophiana
Yuni kamu ga tau aja... Rey memperlakukan nya dgn baik...
Cicih Sophiana
terserah Rey aja deh mau di apain 😁 yg terpenting jgn di sakiti...😀
Cicih Sophiana
di jalan aja ga nemu macam itu thor...di mana yah aq harus mencari apa harus ke ujung dunia?🤔😁
Cicih Sophiana
visual nya cantik dan ganteng👍🥰
Cicih Sophiana
mampir thor
Etik Widarwati Dtt Wtda
akhirnya nenikah semoga bahagia
Etik Widarwati Dtt Wtda
menikah dan berbahagia
Etik Widarwati Dtt Wtda
emang hukuman apa y
Etik Widarwati Dtt Wtda
nikahhh
Etik Widarwati Dtt Wtda
nikah sama ray
Etik Widarwati Dtt Wtda
lemah sekali.kanaya
Etik Widarwati Dtt Wtda
kok jahat banget y
Etik Widarwati Dtt Wtda
diperalat tantenya sendiri
Etik Widarwati Dtt Wtda
kasih pelajaran ..raka kamu hrs kuat
Etik Widarwati Dtt Wtda
jahat banget titha sama marisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!