NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Genta

Ruang rapat BEM sore itu terasa sangat gerah, meski pendingin ruangan sudah diatur pada suhu terendah. Di kepala meja, Genta duduk dengan posisi tegak yang kaku, posisi yang selama tiga tahun ini ia asah untuk menunjukkan otoritas. Namun, pikirannya berada ribuan kilometer jauhnya, tersesat dalam labirin rasa bersalah yang tak berujung. Di depannya, Kania sedang memaparkan progres persiapan penutupan Festival Kampus dengan semangat yang berapi-api, menunjuk grafik dan jadwal di layar proyektor. Suara Kania terdengar seperti dengungan lebah yang jauh dan tak berarti bagi Genta.

Di bawah meja, jari Genta yang terus-menerus bergetar, sebuah tremor yang kini tak bisa lagi ia sembunyikan sepenuhnya, terus menggulir layar ponselnya. Ia sedang membaca esai yang baru saja diterbitkan oleh Persma dan menjadi viral dalam hitungan jam. Judulnya terpampang besar, seolah berteriak padanya: "Tragedi Kesempurnaan: Mengapa Kita Membunuh Manusia Demi Menciptakan Idola."

Setiap paragraf yang ditulis Rara terasa seperti sayatan pisau bedah yang sangat presisi, tepat mengenai bagian paling rapuh dan paling bernanah dari jiwa Genta. Rara tidak menyebutkan namanya, namun Genta bisa merasakan napas Rara di setiap kalimatnya.

"Kita merayakan zirah perak yang mengilat di bawah lampu sorot, namun kita secara kolektif meludahi orang yang mencoba memegang tangan ksatria itu saat ia gemetar di balik zirahnya..."

Genta memejamkan mata sesaat, merasakan denyut nyeri di pelipisnya. Kalimat itu bukan sekadar kritik sosial bagi audiens kampus, itu adalah surat terbuka untuknya. Rara sedang membicarakan momen di lobi rektorat, saat Genta berjalan melewatinya dengan tatapan kosong, menganggap Rara tak lebih dari debu yang mengganggu pemandangan. Genta merasa dadanya sesak, seolah-olah udara di ruang rapat itu telah habis. Ia adalah sang Ksatria pengecut dalam tulisan itu, yang bukannya berterima kasih pada sang Healer yang telah menyelamatkan kewarasannya, ia justru ikut meludahinya demi menjaga zirahnya tetap mengilat di mata sang ayah.

"Genta? Bagaimana menurutmu soal vendor panggung ini? Mereka minta DP lima puluh persen sore ini," tanya Kania, memecah lamunan Genta dengan nada mendesak.

Genta mendongak perlahan. Ia menatap wajah Kania yang penuh ambisi, lalu menatap wajah para fungsionaris BEM lainnya yang menanti instruksinya seolah ia adalah nabi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinannya, Genta merasa tidak layak berada di sana. Ia merasa seperti seorang aktor penipu yang mengenakan jubah kebesaran yang terlalu berat.

"Terserah kamu saja, Kania. Lakukan apa yang menurutmu benar," jawab Genta pendek. Suaranya terdengar datar dan kosong, kehilangan resonansi bariton yang biasanya penuh keyakinan.

Seluruh ruangan rapat mendadak sunyi senyap. Genta yang mereka kenal tidak pernah mengatakan "terserah". Genta yang mereka kenal akan membedah kontrak vendor itu hingga ke koma terakhir, mempertanyakan efisiensi biaya, dan memastikan standar kualitas tertinggi. Kania menatapnya dengan dahi berkerut, seolah-olah Genta baru saja bicara dalam bahasa asing.

***

Rapat berakhir dengan suasana canggung yang kental. Genta segera melangkah keluar tanpa menunggu Kania, menuju toilet lantai tiga yang biasanya sepi di jam-jam pergantian shift satpam. Begitu sampai di dalam, ia mengunci pintu utama, menyandarkan tubuhnya ke pintu kayu yang dingin, dan menarik napas dalam-dalam.

Ia melangkah menuju wastafel. Ia memutar keran, membiarkan air dingin yang hampir membeku mengalir membasahi telapak tangannya yang kini tremor hebat, sebuah guncangan yang terasa seperti gempa bumi di nadinya. Genta menyapukan air itu ke wajahnya berulang kali, mencoba membasuh rasa mual dan rasa jijik yang merayap naik dari lambungnya. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia menegakkan tubuh dan menatap cermin besar di depannya.

Genta menatap pria di dalam cermin itu dengan rasa benci yang meluap-luap. Di sana berdiri Genta Erlangga, sang Presiden Mahasiswa yang diagungkan. Rambutnya tidak berantakan, kemeja putihnya licin tanpa kerutan, dan matanya nampak tajam di balik kacamata.

Tapi siapa pria ini?

Pria di cermin ini adalah sosok yang tega memfitnah gadis yang telah memegang tangannya di tengah badai. Pria ini adalah sosok yang berlutut pada ancaman ayahnya tanpa satu pun perlawanan berarti. Pria ini adalah Ksatria palsu yang diciptakan untuk memuaskan ego orang lain, bukan untuk hidup sebagai dirinya sendiri.

"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Genta pada pantulannya sendiri, suaranya pecah di ruang yang sunyi itu.

Ia meraba wajahnya, lalu meremas pinggiran wastafel porselen itu hingga buku jarinya memutih dan tangannya benar-benar kaku. Ia merindukan Genta yang duduk di halte bus dalam keadaan basah kuyup bersama Rara. Ia merindukan Genta yang tersedak bakso di kantin karena digoda. Ia merindukan versi dirinya yang hanya berani menampakkan wajah saat berada di samping sang Healer.

Sekarang, tanpa Rara di sampingnya, ia merasa menjadi orang asing bagi dirinya sendiri. Ia hanyalah sebuah cangkang kosong yang sedang berjalan mengikuti skenario yang ditulis oleh ayahnya dan disutradarai oleh Kania.

***

Keesokan harinya, persiapan acara penutupan festival memasuki tahap paling sibuk. Genta seharusnya mengoordinasikan pengamanan, alur tamu VIP, dan pengecekan akhir panggung. Namun, konsentrasinya benar-benar hancur lebur. Setiap kali ia melihat mahasiswi berambut panjang dari kejauhan, jantungnya berdenyut nyeri. Bayangan Rara yang berjalan melewatinya di lobi rektorat terus menghantuinya.

"Genta, kenapa izin dari rektorat untuk panggung luar belum turun? Orang vendor sudah mau pasang truss!" Kania menghampiri Genta di tengah lapangan dengan wajah merah padam dan napas memburu. "Waktunya tinggal dua hari lagi!"

Genta menatap dokumen di tangannya dengan bingung, seolah-olah ia baru pertama kali melihat kertas itu. "Bukannya... bukannya sudah aku tandatangani kemarin?"

"Kamu memberikannya ke departemen logistik, bukan ke sekretariat rektorat, Genta! Kamu salah taruh!" Kania merebut dokumen itu dengan kasar, suaranya mulai meninggi. "Ada apa denganmu? Kamu melakukan kesalahan amatir seperti ini berkali-kali minggu ini. Kita bisa malu di depan tamu internasional kalau koordinasinya berantakan begini! Reputasimu dipertaruhkan!"

Genta hanya menatap Kania dengan tatapan datar yang kosong. Ia tidak merasa ingin membela diri. Ia tidak merasa takut akan kegagalan acara ini. Ia tidak lagi peduli pada kesempurnaan yang selalu ia kejar dengan napas tersengal-sengal selama ini.

"Kalau berantakan, ya biarkan saja berantakan," ucap Genta pelan, hampir acuh tak acuh.

Kania terbelalak, langkahnya mundur selangkah seolah Genta baru saja menamparnya. "Apa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Ini acara besar, Genta! Ini reputasimu! Ini tiketmu ke Harvard! Beasiswamu bisa dicabut kalau kamu terlihat nggak kompeten!"

Genta berbalik tanpa kata, meninggalkan Kania yang masih berteriak histeris di tengah lapangan. Kata-kata Kania tentang beasiswa, Harvard, dan reputasi kini terdengar seperti suara latar yang bising dan tak penting. Genta merasa seolah-olah ia baru saja terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan dan menyadari bahwa ia telah mengejar fatamorgana.

Malam itu, Genta berdiri sendirian di balkon rektorat, tempat yang sama di mana mereka pernah berdansa tanpa musik, tempat di mana ia merasa paling jujur seumur hidupnya. Udara malam terasa dingin menusuk tulang, namun kali ini tidak ada Healer yang menyandarkan kepalanya di bahunya. Tidak ada aroma parfum sabun cuci baju yang mampu menenangkan kegelisahannya.

Genta menatap taman kampus yang gelap di bawah sana. Ia menyadari sebuah kebenaran yang sangat pahit. Selama ini, ia berjuang mati-matian menjaga zirah perak-nya agar tetap mengilat dan tak bernoda. Ia mengorbankan kejujurannya, mengorbankan perasaannya, dan akhirnya mengorbankan Rara hanya untuk menjaga ilusi kesempurnaan itu.

Dan sekarang, setelah ia memiliki segalanya kembali, reputasi yang pulih di mata publik, beasiswa yang aman, dan jabatan yang tetap kokoh di puncaknya, ia menyadari bahwa ia sebenarnya tidak memiliki apa-apa.

"Kesempurnaan ini..." gumam Genta, suaranya hilang ditelan angin malam yang dingin. "Ternyata cuma penjara megah yang kosong melompong."

Tanpa Rara, menara gading yang ia bangun dengan susah payah ini terasa seperti kuburan yang indah. Ia menyadari bahwa ia lebih suka menjadi Paladin level satu yang dikejar-kejar satpam sambil tertawa bersama Rara, daripada menjadi Presiden Mahasiswa yang diagungkan namun jiwanya telah mati di dalam.

Genta merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya, dan menatap tulisan Rara sekali lagi. Ia baru menyadari satu hal. Rara tidak sedang mencoba menghancurkannya lewat tulisan itu. Rara justru sedang memberinya jalan keluar yang paling mulia. Rara sedang menunjukkan padanya bahwa ia tidak harus terus-menerus menjadi idola atau robot. Ia hanya perlu menjadi manusia.

Penyesalan itu datang terlambat dan terasa sangat sesak, namun kali ini Genta tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak ingin lagi menjadi pangeran di balik dinding es yang membeku. Ia ingin menjadi Genta yang berani, bahkan jika itu berarti ia harus menghancurkan dunianya sendiri untuk mendapatkan kembali sang Healer yang telah ia khianati.

1
Hana Agustina
sabar ya genta.. menyakiti itu memang mudah banget.. tp utk pulih dr rasa sakit itu butuh waktu utk berdamai.. n rara butuh waktu itu
Hana Agustina
kamu hebat gentaa.... as a man.. real man...
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!