Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
Pulang
Di sepanjang jalan setapak menuju rumahnya, Anjeli terus memperhatikan cincin itu, warnanya kehitaman, seperti besi yang terlalu lama terkubur di dalam tanah. Tidak ada permata, dan tidak ada ukiran indah di cincin itu. Hanya sebuah lingkaran logam kasar yang bahkan terlihat tidak melingkar sempurna gih.
“Kenapa nenek itu memberikan aku ini?” Batinnya bertanya-tanya. “Dan tadi katanya dapat membantu aku mencari kebahagiaan untuk Ayah dan Aris, aduhhh…makin dipikirin malah benar-benar kepikiran aku. Sudahlah njel, Terimah saja. Sebagai cenderamata dari nenek tadi…hehehe. Semoga besok kita ketemu lagi sama nenek yang tadi!”
Langkah Anjeli terhenti di depan pintu rumah papan yang sudah terlihat miring itu.(tapi jangan salah ya, walaupun rumahnya papan tapi lantainya ubin kok dengan berbagai corak yang berbeda. Hehehe…)
Dari dalam terdengar suara batuk kecil dari ayahnya. Anjeli menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kusam agar terlihat lebih segar. Ia tidak ingin Aris ataupu. Ayahnya melihat betapa hancurnya ia hari ini.
“Anjeli pulang!” Serunya sambil melangkah masuk ke dalam eumah. Aris bocah laku” berusia 10 tahun dengan seragam sekolah ya g sudah menguning, berlari menyambut.
“Kakak! Tadi Aris belajar perkalian di sekolah. Kata ibuk guru, Aris paling cepat menjawab!” Anjeli tersenyum tulus, satu-satunya senyum yang tersisa di wajahnya hari ini. Ia mengacak rambut adiknya. “Pintar sekali adik tersayangnya kakak. Nanti kita belajar lagi ya. Sekarang Aris ganti dulu sekalian bersih-bersih dan sholat magrib ya. Ini kakak ada bawah tempe bacem dari pasar”.
Disudut ruang tamu yang merangkap ruang makan, pak Burhan duduk di kursi roda pemberian tetangga itu. Roda kayunya sering kali mengeluarkan suara kriet-kriket yang memilukan hari. Pak Burhan menatap putrinya dengan tatapan sendu. Ia melihat guratan kelelahan yang luar biasa di bawah mata putrinya meski putrinya itu berusaha menutupi ga dengan keceriaan palsu.
“Makanlah dulu, nak!! Kamu pasti belum makankan dari pagi tadi?” Tanya pak Burhan pelan
“Anjeli sudah makan yah, tadi di pasar di traktir sama mang jaja, mandor pasar induk,” bohong Anjeli lagi. Dia sudah terlalu ahli salam berbohong demi ketenangan sang Ayah.
__________
Malam merayap pelan di Desa tempat tinggal Anjeli . Suara jangkrik di balik dinding bambu terdengar seperti nyanyian duka yang menemani kesunyian keluarga Pak Burhan. Di dalam kamar yang sempit, Anjeli duduk bersila di atas tikar pandan. Cahaya lampu teplok yang bergoyang ditiup angin dari celah dinding membuat bayangan tubuhnya tampak raksasa di dinding kayu.
Anjeli menatap telapak tangannya. Di sana, sebuah cincin logam berwarna hitam kusam melingkar di jari manisnya. Benda itu tampak sangat biasa, bahkan lebih mirip potongan pipa besi berkarat daripada sebuah perhiasan. Namun, ada sesuatu yang mengusik nuraninya. Sejak nenek misterius itu memberikan cincin ini di pasar tadi pagi, ada sensasi hangat yang terus-menerus mengalir ke pembuluh darahnya.
"Kenapa aku tidak bisa melepaskan cincin ini?" gumam Anjeli pelan.
Tadi, saat ia mencuci piring di pancuran belakang, ia mencoba melumuri jarinya dengan sabun batangan untuk melepas cincin itu. Namun, benda itu seolah-olah menyatu dengan kulitnya. Tidak sakit, namun terasa pas, seolah-olah jari manisnya adalah rumah yang telah lama dicari oleh cincin tersebut.
Anjeli menghela napas panjang. Pikirannya beralih ke ayahnya, Pak Burhan, yang sudah terlelap di kamar sebelah. Suara napas ayahnya yang berat dan sesekali dibarengi rintihan kecil karena nyeri di kakinya selalu membuat hati Anjeli teriris. Lalu ada Aris, adiknya yang baru berusia sepuluh tahun, yang tidur dengan perut hanya terisi separuh malam ini.
"Ibu... kenapa kau tega?" bisik Anjeli pada kegelapan.
Ingatan tentang ibunya yang pergi dengan laki-laki bermobil merah setahun lalu masih menjadi duri dalam dadanya. Ibunya pergi saat kondisi keuangan keluarga mencapai titik nadir, tepat setelah kecelakaan kerja yang membuat ayahnya lumpuh. Alasan ibunya singkat. “Aku tidak mau menjadi perawat gratis bagi orang cacat seumur hidupku, Anjeli. Kamu sudah besar, uruslah ayahmu.”
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Anjeli, mendarat tepat di atas cincin hitam itu.
Seketika, sebuah keajaiban terjadi. Cincin itu menyerap air matanya dan mengeluarkan pendar cahaya keunguan yang sangat tipis. Jantung Anjeli berdegup kencang. Ia merasa kepalanya mendadak ringan, dan dunia di sekelilingnya mulai berputar seperti pusaran air.
“Wuhhsssss”
Anjeli refleks memejamkan mata karena silau yang luar biasa. Saat ia memberanikan diri membuka mata, ia tidak lagi berada di kamarnya yang pengap. Ia tidak lagi mencium bau asap lampu minyak atau bau kayu lapuk. “Aku dimana ini.” gumamnya.
Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah hamparan kabut putih yang tenang. Namun, tepat di bawah kakinya, terdapat sebidang tanah berwarna hitam pekat yang sangat subur. Luasnya tidak lebih dari sepuluh meter persegi. Di tengah-tengah lahan kecil itu, berdiri sebuah gubuk bambu tanpa dinding dan sebuah sumur batu yang airnya memancarkan cahaya kebiruan.
Anjeli gemetar. Ia berdiri dengan kaki telanjang di atas tanah yang terasa sejuk dan empuk itu. "Aku...apakah aku bermimpi?"
Ia mencubit lengannya sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.
Ia berjalan perlahan menuju sumur batu itu. Air di dalamnya begitu jernih, seolah-olah terbuat dari kristal cair. Di samping sumur, terdapat sebuah prasasti batu kecil dengan tulisan kuno yang entah bagaimana bisa dimengerti oleh Anjeli:
...Lahan Kejujuran - Tingkat 1. Apa yang ditanam dengan peluh dan ketulusan, akan tumbuh melampaui batas kodratnya....
Anjeli tertegun. Ia teringat kata-kata nenek tua di pasar. Apakah ini yang dimaksud dengan hadiah atas kebaikannya? Apakah ini ruang di dalam cincin itu?
Ia mencoba berjalan keluar dari batas tanah hitam itu, namun langkahnya tertahan oleh dinding transparan yang dingin. Di balik dinding itu hanya ada kabut putih abadi. Artinya, untuk saat ini, dunianya di sini hanyalah sebidang tanah kecil ini.
Rasa haus yang hebat tiba-tiba menyerang kerongkongannya mungkin efek samping dari perpindahan dimensi ini. Anjeli berlutut di tepi sumur, meraup air itu dengan kedua tangannya, lalu meminumnya.
Sensasi luar biasa meledak di dalam tubuhnya. Rasa haus itu hilang seketika, digantikan oleh aliran energi yang membuat otot-ototnya yang pegal karena bekerja sebagai kuli panggul mendadak segar kembali. Punggungnya yang biasanya terasa nyeri setiap malam kini terasa kokoh.
"Air ini..." mata Anjeli berbinar. "Kalau aku bisa membawanya keluar, mungkin kaki Bapak..."
Namun, pikirannya terputus ketika sebuah suara lembut namun tegas menggema di ruang hampa itu. Suara itu berasal dari gubuk bambu. Anjeli menoleh dan melihat sebuah gulungan kain sutra tergeletak di atas meja kayu di dalam gubuk.
Anjeli mendekat dan membuka gulungan itu. Di dalamnya terdapat tulisan yang bercahaya:
Rahasia adalah pelindungmu. Ruang ini tumbuh seiring dengan usahamu di dunia luar. Kau adalah petani di dua dunia. Tanamlah di sini untuk mengawali, tanamlah di sana untuk menghidupi. Jika rahasia ini bocor sebelum waktunya, semua akan sirna.
Anjeli mendekap kain itu di dadanya. Ia mengerti sekarang. Ini bukan sekadar sihir untuk menjadi kaya secara instan. Ini adalah tanggung jawab. Jika ia ingin mengubah nasib ayah dan adiknya, ia harus memulai dari nol, menjadi seorang petani yang menggunakan keajaiban ini dengan bijaksana dan sangat rahasia.
"Aku akan melakukannya, dan menyimpan rapat rahasia ini. Terimah kasih nek," janji Anjeli pada dirinya sendiri. "Demi Ayah demi Aris. Aku akan membuat mereka bahagia lagi."
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, kesadaran Anjeli kembali tersedot. Dalam sekejap, ia sudah duduk kembali di atas tikar pandannya. Kamar itu masih gelap, lampu teplok masih bergoyang pelan. Namun, tubuh Anjeli terasa sangat segar, dan di jarinya, cincin hitam itu kini memiliki satu garis emas tipis yang melingkar, menandakan bahwa ikatan antara Anjeli dan Ruang Ajaib itu telah resmi dimulai.
Besok, perjuangan yang sesungguhnya akan dimulai. Bukan lagi sebagai kuli panggul yang pasrah, melainkan sebagai gadis petani yang menyimpan rahasia besar di tangannya.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄