NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu

Jakarta dengan segala kebisingan dan hiruk pikuk dunia malamnya, pantulan lampu kota yang bergetar kedinginan di tiup angin malam bercampur derai hujan, sembabnya mata alia dengan tubuh gemetaran berjalan tertatih menuju sebuah rumah bercat biru yang terlihat mulai mengelupas, air mata yang berlinang dari mata sembab itu tertutupi dengan air hujan yang semakin deras, langkah kakinya kian terseok menanggung pedih dan beban yang memaksanya untuk tetap berjalan, tubuhnya luruh di dingin dan sunyi malam yang menyelimuti rumah usang itu,

Alia merintih perih, menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi, pakaian yang menutupi tubuh ia tanggalkan dengan kasar, Alia menatap tubuhnya dari pantulan cermin di kamar mandi, tatapan jijik alia melihat beberapa tanda merah menghiasi tubuh polosnya, dengan kasar alia menyabuni tubuhnya, ia masih meringis sakit menahan perih yang mendera tubuh bagian bawahnya. Buih-buih sabun luruh bersama guyuran air membawa harapan menghapus semua bekas dan jejak yang tertinggal, alia menggigil kedinginan dan kesakitan, air mata kemarahan masih terus mengalir, walau ia telah membalut tubuh polosnya dengan handuk, namun hembusan angin malam yang berhembus bercampur angin derai hujan tetap membuat tubuh mungil alia menggigil, angin yang membuat tubuhnya menggigil sama sekali tak bisa mendinginkan hatinya yang benar-benar terbakar, alia berjalan terseok-seok menyeret langkahnya menuju ke kamar tidur yang telah ia huni selama 18 tahun.

Alia melemparkan handuk basahnya ke keranjang kain kotor yang terletak di samping meja rias, dengan kasar ia meraih pakaian kering dari dalam lemarinya, tubuhnya mulai terasa hangat, namun tidak dengan hatinya, saat ini alia benar-benar terbakar rasa benci dan amarah, ia membenci dirinya yang lemah, ia membenci dirinya yang miskin, ia membenci semua hal di rumah ini, kecuali papanya, alia membenci ibu dan saudari tirinya yang tega menjualnya kepada seorang lelaki jahanam yang telah sukses menghancurkan masa depannya malam ini. Rasa marah bercampur jijik merasuki hatinya tanpa ampun, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri yang bodoh dan lemah ini, namun keberadaan papanya yang tergeletak sakit tak berdaya membuat alia tak tega meninggalkan pria tua itu sendirian, air mata yang jatuh tanpa ia inginkan terus berlinang di pipinya, alia ingin menyerapahi hidupnya yang malang, kebahagiaan yang alia rasa hanya sebuah dongeng pengantar tidur serasa enggan menghampiri hidupnya yang malang, alia menarik selimut lusuhnya menutupi seluruh tubuh mungilnya, menggigit bantal guling yang ia peluk erat, alia menangis sesenggukan, ia berusaha menahan suara agar tidak terdengar, seluruh tubuhnya kesakitan, dengan pilu ia memeluk tubuh malangnya hangat, air mata itu masih berlinang dipipi mulusnya. Alia melirik jam bekker yang terletak di atas meja, sudah pukul 4 dini hari, namun matanya enggan terpejam, alia masih menangis, ia masih merutuki dirinya yang bodoh, hatinya sibuk menyerapahi hidupnya yang malang. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar, alia terkejut dan terduduk melihat ibu tirinya berdiri di ambang pintu, tangan ibunya meraba dinding kamar mencari saklar lampu dan menyalakan, alia memejamkan matanya yang silau,

"Kau sudah di rumah rupanya?" Ucap nurmala sang ibu tiri singkat, kemudian berbalik badan ingin meninggalkan alia yang masih duduk terdiam,

"Jangan lupa siapkan sarapan untuk sahira, dan papamu" perintahnya sebelum meninggalkan alia yang meringis kesakitan sesaat sebelum turun dari tempat tidur. Tertatih ia menuju ke dapur, azan subuh yang mulai berkumandang tak membuatnya urung melangkah, alia memutuskan untuk tidak salat, ia malu, ia marah ia merasa kotor untuk menyentuh mukenah dan sajadahnya, ada rasa marah di hatinya terhadap takdir yang begitu kejam padanya, sampai malam tadi alia tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslimah, namun pagi ini dirinya marah pada takdir buruknya, azan subuh yang berkumandang itu alia abaikan dengan berat hati.

Alia menata sarapan pagi itu di meja makan dengan rapi, tak lupa ia menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya  dan segelas air putih pada sebuah nampan, sebelum melangkah ke kamar ayahnya, ia menutup makanan dengan tudung saji, setelah memastikan semuanya rapi, ia menuju ke kamar ayahnya, matanya menatap pilu ayahnya yang terbaring tak berdaya di atas dipan dengan tilam kapuk tipis, tubuhnya yang kurus berbalut kulit, tidak mampu berbuat apapun tanpa bantuan, alia membantu ayahnya duduk di atas kursi roda, 2 tahun sudah ayahnya terkapar tak berdaya, dengan tubuh yang lumpuh, tanpa penanganan dan perawatan yang baik kondisi pak gani semakin memburuk.

"Papa makan dulu yah!" Ajak alia masih dengan nafas terengah-engah kelelahan, walau tubuh ayahnya kelihatan kurus, namun bagi alia memindahkan ayahnya dari tempat tidur ke kursi roda sangat membutuhkan tenaga ekstra bagi tubuh mungilnya, sang ayah menatap putri semata wayangnya itu dengan haru, 2 tahun ia terbaring di rumah walau tak mampu keluar dari kamarnya tanpa bantuan, tapi dia bukanlah tuli, dia tahu kehidupan apa yang dijalani putrinya itu, penderitaan demi penderitaan yang di terima tubuh mungil alia, perlakuan kasar dari nurmala dan sahira, pak gani mengetahuinya namun ia hanya mampu menangis dalam diam, setiap malam ia berdoa semoga keesokan harinya penderitaan itu rela pergi dari hidup putri mungilnya itu.

"Papa bisa makan sendiri dek" tolak pak gani ketika alia menyuapkan nasi kemulutnya, ia meraih piring yang ada di tangan gadis itu, "tangan papakan tidak lumpuh" alia tersenyum miris melihat papanya makan dengan lahap hatinya sedikit menghangat, ia melupakan sakit dan derita yang dialaminya walau hanya sekejap, senyuman papanya lah yang masih membuat alia bertahan hidup sampai detik ini,

"Aliaaaaaa.....dimana kau?" Sebuah teriakan dari sahira terdengar lantang di pagi yang masih dingin, tidak ada keterkejutan di wajah alia ataupun ayahnya, teriakan rutin dari sahira seperti sarapan wajib bagi alia,

"Dimana kau letakkan baju yang harus aku pakai hari ini? Kamu sudah setrika atau belum?" Kepala sahira menyembul di pintu kamar itu, sebelah tangannya memencet hidung, "kamar ini bau sekali, jangan lupa nanti kamu bersihkan kamar ini setelah memandikan papa" alia menatap malas ke arah sahira yang telah berlalu,

"Papa tunggu di sini dulu yah, adek keluar sebentar" pamitnya setelah membereskan bekas makan pak gani yang mengangguk haru dengan mata berkaca, hati pria tua itu selalu pedih melihat perlakuan yang diterima putri kecilnya yang malang itu, ingin rasanya ia melakukan sesuatu, apa saja, yang kira-kira bisa mengurangi kekejaman yang diterima tubuh lemah alia, tapi ia tak bisa berbuat apapun, tubuhnya terlalu lemah, ia hanya bisa diam, menyaksikan semuanya dengan perih yang terpaksa ditelan diam-diam.

"Aku kan sudah bilang,letakkan pakaian di kamarku setelah kamu setrika, dasar bodoh..berapa kali harus kukatakan sampai kepala bodohmu ini paham" maki sahira kasar, tangannya menyambar cepat kemeja yang berada di tangan alia,

"Kerjamu hanya mengurus rumah dan papa lumpuhmu itu, apakah hal semudah itupun tak bisa kau kerjakan dengan baik?, tanpa aku dan mama, kau dan papamu itu akan kelaparan tahu?" Alia hanya diam tanpa menjawab, beban dan luka yang alia dapat dari sahira dan ibu tirinya telah membuat alia menjadi pribadi yang kuat. Jika beruntung, bersyukur ia hanya mendapat makian seperti pagi ini, terkadang tak jarang selain makian, alia sering mendapat siksaan fisik, cubitan atau lemparan piring dari sahira ataupun dari ibu tirinya.

Omelan dari sahira belum juga usai, mulutnya masih meracau memerintahkan alia untuk mempersiapkan semua kebutuhannya sebelum berangkat kerja, alia hanya diam tanpa bersuara sedikitpun, semua perintah kakak tirinya itu dikerjakan dengan baik, ia masih menyemir sepatu sahira saat obrolan yang tidak seharusnya alia dengar menyelinap  ke telinganya, matanya memanas, tangannya gemetaran hebat, nafas alia tercekat.

"Mama sudah terima transferan dari langit?" Air mata alia luruh tanpa sadar, senyum ibu tirinya terlihat bagai seringaian harimau lapar yang sedang mendapat daging segar, alia menggigit bibirnya sekuat tenaga agar suara tangisnya tidak sampai terdengar keluar, rasa asin dalam mulutnya ternyata darah yang keluar dari bibir yang ia gigit kuat-kuat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!