NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: ALIANSI BERDARAH

Keheningan di dalam paviliun tua itu terasa begitu menyesakkan. Alana masih berdiri mematung, menatap lembaran kertas usang yang baru saja menghancurkan seluruh fondasi hidupnya. Kebenaran bahwa Komisaris Hendra—pria yang ia anggap sebagai pahlawan dan pengganti ayahnya—adalah otak di balik kematian orang tuanya, terasa lebih menyakitkan daripada peluru yang menembus daging.

Arkano masih berdiri di belakangnya, membiarkan Alana memproses kehancuran dunianya. Ia tidak memaksa, tidak pula mendesak. Pria itu tahu bahwa untuk menjinakkan seekor serigala, ia tidak bisa menggunakan rantai, melainkan harus menunjukkan siapa musuh yang sebenarnya.

"Kenapa kau menyimpan semua ini, Arkano?" suara Alana terdengar parau, nyaris habis karena tangis yang ia tahan.

Arkano melangkah maju, berdiri tepat di sisi Alana hingga bahu mereka bersentuhan. "Karena aku tidak pernah menyerang tanpa alasan. Klan Dirgantara mungkin bergerak di bawah bayangan, tapi kami punya kode kehormatan. Hendra melanggar kode itu sepuluh tahun lalu saat dia mengorbankan warga sipil demi menutupi boroknya sendiri."

Alana menoleh, menatap wajah tegas Arkano. "Dan kau ingin aku melakukan apa? Menjadi pembunuh sepertimu?"

Arkano menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat tampan namun mematikan. "Bukan pembunuh, Alana. Jadilah perencana. Gunakan otak intelijenmu yang brilian itu untuk membedah jaringan Hendra. Kau tahu protokol mereka, kau tahu kode-kode rahasia mereka, dan kau tahu di mana mereka menyimpan brankas dosa mereka."

Alana terdiam. Tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit itu kini bermutasi menjadi amarah yang dingin. Selama ini ia menjadi pion yang digerakkan oleh tangan-tangan kotor. Kini, ia ingin menjadi pemain yang menghancurkan papan catur itu sendiri.

"Baiklah," ucap Alana dengan nada suara yang berubah drastis—dingin dan tajam. "Aku akan membantumu. Tapi aku punya syarat."

"Sebutkan," jawab Arkano singkat.

"Rian harus tetap aman. Jangan pernah sentuh dia lagi atau melibatkan dia dalam urusan klanmu. Dan setelah ini selesai... aku ingin kebebasanku kembali."

Arkano tertegun sejenak mendengar syarat kedua. Kebebasan. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan—ada secercah obsesi yang tidak ingin dilepaskan. "Mengenai Rian, aku setuju. Tapi mengenai kebebasanmu..." Arkano mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata itu tepat di bibir Alana. "Kita bicarakan itu setelah Hendra berlutut di bawah kakimu."

Mereka kembali ke gedung utama mansion. Namun kali ini, Alana tidak berjalan di belakang Arkano. Ia berjalan di sampingnya. Para pengawal yang berpapasan dengan mereka tampak bingung melihat perubahan aura pada sang Nyonya. Alana tidak lagi menunduk; ia menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat.

Arkano membawa Alana ke ruang komando rahasia—sebuah ruangan yang lebih canggih dari ruang kerja yang pernah Alana retas. Di sana, Marco sudah menunggu dengan beberapa tablet digital di tangannya.

"Marco, mulai hari ini, Alana memiliki akses level dua ke sistem informasi kita," perintah Arkano.

Marco tampak terkejut, namun ia segera membungkuk patuh. "Baik, Tuan. Apa langkah pertama kita?"

Alana melangkah menuju meja hologram besar yang menampilkan peta kota dan titik-titik distribusi ilegal. "Langkah pertama bukan menyerang pelabuhan," potong Alana sebelum Marco sempat berbicara. "Hendra terlalu pintar untuk menyimpan bukti di tempat yang mudah digerebek."

Arkano bersedekap, menatap Alana dengan ketertarikan yang besar. "Lalu?"

"Dia punya satu kelemahan: Kesombongan. Setiap minggu, dia melakukan pertemuan rahasia di sebuah klub golf eksklusif yang menyamar sebagai pertemuan yayasan yatim piatu. Di sana, dia menyimpan catatan fisik dalam sebuah ledger (buku besar) karena dia tidak percaya pada sistem digital yang bisa diretas," jelas Alana.

"Kau bisa masuk ke sana?" tanya Arkano.

Alana tersenyum miring—sebuah senyum yang sangat mirip dengan senyum Arkano. "Sebagai agen polisi, aku tidak punya akses ke sana. Tapi sebagai istri dari Arkano Dirgantara, salah satu donatur terbesar yayasan itu? Pintu akan terbuka lebar untukku."

Arkano tertawa rendah. Ia merasa telah menciptakan monster yang sangat cantik. "Rencana yang brilian. Marco, siapkan undangan untuk gala yayasan lusa malam. Dan siapkan gaun terbaik untuk istriku."

Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah luar. Pikirannya melayang pada Rian, pada orang tuanya, dan pada jalan gelap yang baru saja ia pilih.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah pelukan hangat dari belakang. Arkano melingkarkan lengannya di pinggang Alana, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.

"Kau menyesal?" bisik Arkano.

Alana tidak memberontak. Kehangatan tubuh Arkano entah bagaimana mulai terasa seperti tempat bernaung, meski ia tahu pria ini adalah api yang bisa membakarnya kapan saja. "Aku hanya berpikir... apakah ada jalan kembali setelah semua ini?"

Arkano memutar tubuh Alana hingga mereka saling berhadapan. Di bawah sinar rembulan, mata Arkano tampak berkilat dengan emosi yang dalam. "Tidak ada jalan kembali ke masa lalu, Alana. Tapi kita bisa membangun masa depan yang baru. Di sisiku."

Tangan Arkano merayap ke belakang leher Alana, menariknya perlahan hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Kau tahu, semalam di kasino, saat kau membisikkan tentang penyadap itu... aku menyadari sesuatu."

"Apa?" tanya Alana dengan napas tertahan.

"Bahwa aku tidak hanya menginginkan informasimu. Aku menginginkanmu. Seluruhnya," ucap Arkano sebelum akhirnya mencium Alana.

Ciuman itu tidak seperti sebelumnya yang penuh paksaan. Kali ini, ada rasa haus yang mendalam, sebuah pengakuan tanpa kata-kata bahwa mereka berdua kini terikat dalam nasib yang sama. Alana awalnya ragu, namun perlahan tangannya naik meremas kemeja Arkano, membalas ciuman itu dengan gairah yang lahir dari rasa putus asa dan kemarahan.

Dalam ciuman itu, Alana seolah melepaskan identitas lamanya. Ia bukan lagi 'Silent Cat'. Ia bukan lagi agen kebanggaan kepolisian.

Arkano melepaskan ciumannya perlahan, dahi mereka masih bersentuhan. Napas mereka memburu di udara malam yang dingin. "Besok, latihanmu dimulai. Aku ingin kau bisa menggunakan senjata klan Dirgantara. Jika Hendra mencoba mengirim orang untuk menjemputmu, aku ingin kau yang mengirim mereka kembali dalam peti mati."

Alana menatap mata Arkano dengan tekad yang baru. "Aku akan siap."

Keesokan harinya, Alana dibawa ke ruang latihan menembak bawah tanah. Marco menyerahkan sebuah pistol semi-otomatis berwarna hitam matte dengan ukiran naga kecil di gagangnya—lambang klan Dirgantara.

"Pistol ini dirancang khusus untuk Anda, Nyonya. Ringan, namun daya hancurnya luar biasa," ucap Marco.

Alana mengambil posisi menembak. Bang! Bang! Bang!

Tiga peluru bersarang tepat di titik tengah sasaran. Arkano yang memperhatikan dari balik kaca pelindung hanya bisa tersenyum puas. Alana adalah senjata paling mematikan yang pernah ia miliki. Bukan hanya karena kemampuannya menembak, tapi karena dendam yang membara di balik matanya.

Namun, di tengah latihan itu, ponsel rahasia Marco bergetar. Marco membacanya sejenak sebelum mendekati Arkano dengan wajah pucat.

"Ada apa?" tanya Arkano tajam.

"Hendra, Tuan. Dia baru saja mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Alana dengan tuduhan pengkhianatan negara dan keterlibatan dalam pembunuhan tim SWAT semalam. Dia juga mengirim unit pengejar khusus untuk menyisir seluruh area pinggiran kota."

Arkano menatap Alana yang masih fokus menembak di dalam ruangan. "Dia ingin bermain kasar? Baiklah."

Arkano masuk ke ruang latihan, menghentikan aktivitas Alana. "Hendra sudah bergerak. Dia menyatakanmu sebagai buronan nomor satu."

Alana menurunkan senjatanya. Bukannya takut, ia justru tertawa hambar. "Dia melakukan apa yang sudah kuprediksi. Dia ingin melenyapkanku sebelum aku sempat bicara."

"Kita berangkat ke klub golf itu malam ini. Kita tidak bisa menunggu sampai lusa," ujar Arkano. "Kita ambil buku besar itu sekarang, atau kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi."

Alana mengangguk. "Siapkan mobilnya. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi bukti kejahatannya."

Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, dua predator bersiap untuk menyerang sang penguasa kota. Aliansi antara sang raja mafia dan sang mantan agen intelijen telah resmi dimulai, dan kota ini tidak akan pernah sama lagi setelah badai yang mereka bawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!