"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Mata yang Tersegel
Angin di Puncak Liu-Shu tidak pernah memiliki belas kasih. Ia bertiup tajam, membawa aroma getah pinus dan dingin yang menusuk tulang, seolah ingin mengikis satu-satunya penghuni tebing itu hingga menjadi debu.
Guiren duduk bersila di atas batu pipih yang menghadap jurang.
Dunia baginya adalah kegelapan yang absolut. Tidak ada gradasi, tidak ada bayangan, hanya kehampaan yang membentang tanpa batas sejak ia menarik napas pertamanya. Namun, kegelapan itu tidak sunyi. Telinganya menangkap suara gesekan dahan pohon yang berjarak sepuluh langkah di belakangnya, suara serangga yang merayap di sela bebatuan, dan deru angin yang membelah lembah di bawah sana.
Di tangannya, sebuah kuas tua dengan bulu yang mulai rontok menari di atas kanvas.
Gerakannya lambat, namun tanpa keraguan. Jari-jarinya yang panjang dan pucat menggenggam batang bambu itu dengan kelembutan yang kontras dengan kekakuan postur tubuhnya. Ia tidak butuh mata untuk tahu di mana ujung kuas menyentuh kertas. Ia bisa merasakan tekstur serat kertas itu, seolah ujung kuas adalah perpanjangan dari sarafnya sendiri.
Tinta hitam yang terbuat dari campuran arang dan sedikit air mulai meresap ke dalam kertas, membentuk garis-garis yang bagi orang awam tampak kacau, namun memiliki ritme yang meresahkan.
Ia sedang tidak melukis pemandangan. Ia tidak pernah melihat gunung, sungai, atau wajah manusia. Ia melukis apa yang dibisikkan oleh intuisinya.
"Kakak."
Suara itu datang dari arah jalan setapak di belakangnya, disertai bunyi napas yang sedikit terengah. Guiren tidak menoleh. Kuasnya berhenti sesaat di udara, tintanya menetes, sebelum ia meletakkannya dengan hati-hati di atas batu tinta yang kering.
"Kau terlambat dua puluh tarikan napas dari biasanya, Lian’er," kata Guiren. Suaranya datar, rendah, serak karena jarang digunakan.
Langkah kaki kecil mendekat. Aroma tepung gandum hangat kini menggantikan bau getah pinus.
"Jalanan licin setelah hujan semalam," jawab gadis itu. Suaranya cerah, memecah kesunyian tebing yang menindas. "Dan Ibu memaksaku membawa payung, padahal langit sudah terang."
Guiren menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya perlahan. Meski matanya tertutup kain kusam berwarna abu-abu, wajahnya terarah tepat ke posisi adiknya berdiri.
"Sudah kubilang jangan datang setiap hari. Tebing ini curam. Satu langkah salah, kau akan jatuh ke danau di dasar lembah. Tidak ada yang akan menemukanmu sampai musim semi mencairkan es."
"Dan membiarkan Kakak makan angin?" Xiaolian tertawa kecil, mengabaikan peringatan suram itu.
Ia meletakkan keranjang anyaman di samping Guiren dan duduk di tanah tanpa alas. Suara gemerisik kain terdengar saat ia membuka bungkusan kain. Aroma manis ubi kukus dan mantou hangat seketika menguar, melawan dinginnya udara gunung.
"Makanlah. Ayah menukar sedikit kayu bakar dengan tepung baru di pasar pagi ini. Ini masih hangat."
Guiren meraba udara sebentar sebelum tangannya menyentuh permukaan mantou yang halus. Hangat. Kehangatan yang terasa asing di tangannya yang selalu dingin.
Ia tahu apa yang terjadi di bawah sana, di Desa Liu-Shu. Penduduk desa tidak menjual tepung berkualitas baik kepada ayahnya dengan harga wajar. Mereka takut. Mereka berbisik bahwa putra keluarga itu dikutuk. Bahwa lukisan anak buta itu bisa mencuri keberuntungan, atau lebih buruk lagi, memperlihatkan kematian yang belum terjadi. Pengasingan Guiren ke tebing ini bukan sekadar hukuman, itu adalah kesepakatan diam-diam agar keluarganya tidak diusir sepenuhnya.
Ayah dan Ibunya bekerja dua kali lebih keras hanya untuk memberinya makan di tempat terbuang ini.
"Bagaimana keadaan di bawah?" tanya Guiren sambil mematahkan mantou itu perlahan.
"Biasa saja," jawab Xiaolian, mulutnya penuh makanan. "Paman Zhang kehilangan seekor kambing lagi. Bibi Liu sibuk memarahi suaminya di depan sumur. Oh, dan pohon persik di dekat gerbang desa mulai berbunga. Warnanya merah muda, sangat cantik."
Guiren mengunyah pelan. Ia tidak tahu apa itu "merah muda". Baginya, warna hanyalah konsep abstrak yang dijelaskan lewat suhu atau tekstur. Merah adalah panas api. Biru adalah dinginnya air.
"Apa mereka masih membicarakanku?"
Kunyahan Xiaolian terhenti sejenak. Keheningan yang canggung menggantung di antara mereka.
"Hanya beberapa orang tua bodoh," jawabnya, berubah sedikit defensif. "Mereka bilang hujan badai minggu lalu karena Kakak melukis awan hitam. Konyol sekali. Itu cuma cuaca."
Guiren tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya yang tertutup. Ia ingat lukisan itu. Ia memang melukis pusaran gelap tiga hari sebelum badai datang. Ia tidak bermaksud memanggil hujan, ia hanya melukis apa yang ia rasakan akan datang.
"Mereka benar untuk takut, Lian’er," gumam Guiren. "Tempat ini... apa yang kulakukan ini, tidaklah wajar."
"Tidak ada yang salah dengan lukisan Kakak!" Xiaolian menyela dengan nada keras yang jarang ia tunjukkan. "Lukisan Kakak itu jujur. Orang-orang saja yang tidak suka kenyataan."
Gadis itu bergeser mendekat, meraih tangan Guiren yang bebas. Tangan Xiaolian kecil, kasar karena pekerjaan rumah tangga, tapi hangat.
"Suatu hari nanti, kita akan pergi dari sini," bisik Xiaolian. "Ayah, Ibu, Kakak, dan aku. Kita akan pergi ke kota besar di mana orang-orang menghargai seni. Kakak bisa jadi pelukis istana, dan aku akan jadi... asisten pelukis istana yang hebat!"
Guiren merasakan getaran harapan dalam genggaman adiknya. Itu adalah mimpi kanak-kanak yang manis, namun rapuh seperti kertas basah. Guiren tidak memiliki masa depan. Ia hanya memiliki tebing ini, angin ini, dan kegelapan yang membisikkan takdir orang lain.
Namun, ia tidak tega meremukkan harapan itu.
"Mungkin," kata Guiren. "Tapi untuk sekarang, berjanjilah satu hal."
"Apa saja."
"Jika besok hujan, atau jika jalanan licin, jangan datang. Makanlah jatahku. Aku bisa bertahan beberapa hari tanpa makan. Aku sudah terbiasa dengan ini."
Xiaolian mendengus, melepaskan tangan kakaknya dan mulai membereskan keranjang. "Kakak bicara seperti orang tua berumur seratus tahun. Aku akan tetap datang. Siapa yang akan menceritakan tentang bunga persik kalau bukan aku?"
Gadis itu berdiri, menepuk-nepuk debu dari roknya.
"Aku harus kembali sebelum matahari terbenam. Ibu butuh bantuan menenun."
Guiren mengangguk. Ia mendengarkan langkah kaki adiknya menjauh, lalu berhenti.
"Kakak?"
"Hm?"
"Lukisan di atas batu itu... ," Xiaolian ragu-ragu. "Kenapa ada noda merah di tengahnya? Kakak tidak punya tinta merah."
Jantung Guiren berdetak satu ketukan lebih lambat. Ia meraba kertas di sampingnya. Ia ingat saat melukisnya tadi pagi. Ia tidak menggunakan tinta merah. Ia hanya menggunakan sisa tinta hitam kemarin.
Namun, indra penciumannya yang tajam kini menangkap sesuatu yang sebelumnya tersamarkan oleh aroma makanan.
Bau amis karat. Darah.
Jarinya mungkin tergores tanpa sadar saat menggerus batu tinta. Atau mungkin, darah itu datang dari tempat lain.
"Sepertinya aku tidak sengaja mencampur tanah liat," dusta Guiren. Suaranya tetap tenang, menyembunyikan getaran di dadanya.
"Oh. Baiklah. Sampai jumpa besok, Kakak!"
Langkah kaki itu menjauh, menuruni jalan setapak berbatu, semakin lama semakin pelan hingga akhirnya hilang ditelan suara angin.
Guiren duduk sendirian lagi dalam kegelapan.
Ia mengangkat tangannya, meraba lukisan yang baru saja ditanyakan adiknya. Jemarinya menelusuri garis-garis basah itu. Bentuknya bukan abstrak. Itu adalah pola yang sangat spesifik.
Gambar gerbang desa yang jebol.
Dan noda "merah" yang disebutkan Xiaolian... Guiren mendekatkan jarinya ke hidung. Bau amis itu nyata.
Ini bukan tanah liat.
Kuas di tangannya terasa berat, seolah terbuat dari timah. Firasat buruk yang selama ini hanya berupa bisikan samar di belakang kepalanya, kini berteriak lantang. Kemampuannya bukan hadiah. Itu adalah peringatan.
Angin sore bertiup lebih kencang, membawa dingin yang tidak wajar. Guiren menarik jubah tipisnya lebih rapat, namun dingin itu tidak berasal dari udara.
Ia menghadap ke arah desa, ke arah di mana adiknya baru saja pergi. Matanya yang tertutup kain menatap lurus ke dalam kegelapan, seolah mencoba menembus takdir yang baru saja ia goreskan di atas kertas.
"Hati-hati, Lian’er," bisiknya pada angin yang kosong.