NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: SANGKAR YANG MENGERAS

Pagi itu, mansion Valerius terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti taman belakang, menutupi mawar-mawar merah yang baru saja mekar—mawar yang sama yang dulu sering dipandangi Elena dari balik jendela yang kini menjadi milik Arunika.

Arunika terbangun dengan perasaan waspada yang telah mendarah daging. Ia segera meraba bawah bantalnya. Kunci gerbang dari Bi Marta masih di sana. Ia lalu bangkit dan menuju bingkai foto ayahnya; sobekan kertas Elena juga masih aman di balik sana. Kedua benda itu adalah nyawanya saat ini.

Pintu kamar terbuka tepat pukul tujuh pagi. Adrian masuk dengan pakaian tenis putih yang kontras dengan aura gelapnya. Wajahnya tampak segar, seolah ancaman mematikan yang ia bisikkan semalam hanyalah dongeng pengantar tidur.

"Selamat pagi, Sayang. Kau tampak lebih baik hari ini," ucap Adrian sambil meletakkan segelas susu hangat di nakas.

Arunika mencoba tersenyum—senyuman kecil yang terlihat rapuh dan patuh. "Terima kasih, Adrian. Tidurku sangat nyenyak setelah sup semalam."

Adrian duduk di tepi ranjang, menyisir rambut Arunika dengan jemarinya. "Bagus. Karena hari ini akan menjadi hari yang panjang. Sandra akan datang pukul sepuluh untuk membantumu mempersiapkan acara makan malam amal minggu depan. Aku ingin kau tampil sebagai Nyonya Valerius yang paling mempesona."

Arunika mengangguk pelan. "Aku akan berusaha, Adrian."

"Aku tahu kau akan melakukannya," Adrian mengecup keningnya, lalu berdiri. "Oh, satu hal lagi. Karena kau sempat mengeluh lemas kemarin, aku sudah meminta tim TI-ku untuk memasang sistem bantuan suara di kamar ini. Jika kau butuh sesuatu dan aku tidak ada, kau cukup menyebut namaku. Sistem itu akan langsung menghubungkanku."

Arunika membeku. Sistem bantuan suara. Itu hanyalah bahasa halus untuk mikrofon penyadap yang akan merekam setiap embusan napasnya. Adrian sedang mengeraskan sangkarnya.

Pukul sepuluh tepat, ketukan sepatu hak tinggi yang tajam terdengar di koridor. Sandra masuk tanpa mengetuk, membawa beberapa tas belanja mewah dari desainer ternama. Senyumnya lebar, namun matanya yang dingin memindai kamar itu dengan rasa haus akan kekuasaan.

"Selamat pagi, Nyonya Valerius. Tuan Adrian meminta saya memastikan Anda terlihat... 'sempurna'," ucap Sandra dengan penekanan pada kata terakhir yang terdengar seperti ejekan.

"Terima kasih, Sandra. Kau selalu sangat berdedikasi pada suamiku," balas Arunika dengan nada yang sengaja dibuat sedikit naif.

Sandra mulai mengeluarkan gaun-gaun itu. Saat mereka berdiri di depan cermin besar, Sandra berdiri di belakang Arunika, menyesuaikan kerah gaun biru safir yang baru.

"Kau tahu, Arunika," bisik Sandra tepat di dekat telinga Arunika. "Gaun ini sebenarnya pernah dipesan oleh Elena. Tapi dia tidak pernah sempat memakainya. Dia... mendadak tidak sehat sebelum acara dimulai."

Arunika menatap pantulan Sandra di cermin. Ia bisa merasakan kebencian yang murni memancar dari wanita itu. Sandra bukan sekadar sekretaris; dia adalah wanita yang merasa lebih berhak atas posisi ini.

"Kasihan sekali dia," jawab Arunika tenang. "Tapi aku yakin Adrian memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik sebelum dia... pergi."

Sandra tertawa sinis. "Terbaik? Tentu saja. Adrian selalu memberikan apa yang layak didapatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Termasuk kau."

Arunika menyadari sesuatu. Jika ia ingin bertahan, ia harus membuat Sandra merasa terancam, namun di saat yang sama, ia harus memancing Sandra untuk membuka mulutnya.

"Sandra, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Arunika memutar tubuhnya menghadap Sandra. "Kenapa setiap hari Selasa, Adrian selalu sangat pemilih soal menu daging? Apakah itu bagian dari diet ketatnya?"

Wajah Sandra berubah seketika. Sedikit pucat, namun segera ia tutupi dengan senyum kaku. "Tuan Adrian hanya sangat peduli pada kesehatan. Jangan terlalu banyak berpikir, Arunika. Itu tidak baik untuk kecantikanmu."

Sandra segera membereskan tas-tasnya, tampak terburu-buru untuk pergi. Reaksi Sandra memperkuat kecurigaan Arunika. Sandra tahu sesuatu tentang Selasa dan daging itu. Sandra adalah bagian dari "pembersihan" yang disebut Bi Marta.

Setelah Sandra pergi, Arunika tidak langsung beristirahat. Ia mendekati sudut ruangan yang ia curigai sebagai tempat mikrofon tersembunyi. Ia mulai bersenandung pelan, lagu pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan ayahnya, untuk menutupi suara gesekan kain saat ia mengambil sobekan kertas Elena.

Ia membaca kembali tulisan itu: “Jangan makan daging di hari Selasa.”

Tiba-tiba, ia menyadari ada sesuatu yang tertulis di balik kertas itu, sangat tipis dan hampir tidak terbaca. Ia membawanya ke arah cahaya matahari.

"Loker 402 - Stasiun Pusat."

Itu adalah sebuah lokasi. Sesuatu yang Elena tinggalkan sebelum dia "menghilang".

"Adrian, apakah kau di sana?" Arunika tiba-tiba bersuara, menguji sistem bantuan suara yang disebut suaminya tadi.

"Ya, Sayang. Aku mendengarmu. Ada apa?" suara Adrian muncul dari speaker tersembunyi di plafon, membuat bulu kuduk Arunika merinding.

"Aku hanya ingin bilang... terima kasih untuk gaun birunya. Aku sangat menyukainya," ucap Arunika dengan nada manis yang memuakkan bagi dirinya sendiri.

"Aku senang mendengarnya. Istirahatlah. Aku akan pulang lebih awal sore ini."

Arunika terduduk di lantai setelah suara itu hilang. Ia merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata. Ia harus keluar ke stasiun pusat, tapi bagaimana? Adrian telah mengisolasinya secara total. Satu-satunya kesempatannya adalah saat acara makan malam amal minggu depan, atau... ia harus memanfaatkan Rendra.

Ia mengeluarkan kunci gerbang di bawah bantalnya. Ia harus mengirim pesan pada Rendra melalui Bi Marta. Ia harus tahu apakah Rendra benar-benar bisa membantunya atau apakah itu hanya jebakan lain.

Malam itu, saat makan malam kembali disajikan—kali ini sup sayuran yang aman—Arunika makan dengan lahap di bawah tatapan Adrian yang puas. Ia sengaja bersikap sangat manja, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian dan membiarkan pria itu menyuapinya.

"Kau sudah berubah, Arunika. Kau mulai mengerti posisimu," gumam Adrian sambil membelai pipinya.

"Aku hanya ingin bahagia, Adrian. Dan aku sadar, kebahagiaanku ada di tanganmu," bohong Arunika.

Di bawah meja, tangan Arunika mengepal kuat. Ia sedang membangun topeng kesetiaan yang paling sempurna. Fase pertama dari pelariannya bukan dengan mendobrak pintu, melainkan dengan membuat sang penjaga penjara jatuh tertidur karena rasa percaya yang palsu.

Sangkar emas itu memang mengeras, tapi di dalam kegelapan, Arunika mulai menemukan celah kecil untuk menghancurkannya.

Apakah Arunika akan berhasil mengirim pesan pada Rendra tanpa sepengetahuan sistem pengawas Adrian? Dan apa yang sebenarnya tersimpan di Loker 402?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!