NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Koin Perak Kedua

Terowongan kereta bawah tanah itu berbau oli mesin tua dan tanah basah yang terperangkap dalam beton selama puluhan tahun. Arlan duduk menyandar pada dinding yang kasar, membiarkan dinginnya ubin meresap ke dalam jaket kurirnya. Di atas sana, Kota Lentera Hitam mungkin sedang sibuk menghapus jejak-jejak keberadaan Sektor Tujuh, namun di bawah sini, hanya ada sunyi yang sesekali pecah oleh suara tetesan air dari pipa yang bocor.

Arlan membuka telapak tangannya. Dua koin perak itu tampak kontras dengan kulitnya yang kotor dan lecet. Koin pertama, yang diambilnya dari rumahnya sendiri, terasa dingin seperti es yang tenang. Koin kedua, yang baru saja ia peroleh dari Pak Suryono sebelum satpam itu menyatu dengan gedung yang menghilang, justru bergetar pelan dan terasa hangat—seolah-olah duka di dalamnya masih mendidih.

"Kau masih hidup, Kurir?" sebuah suara statik pecah dari radio analog kecil di sampingnya.

Arlan menghela napas, uap tipis keluar dari mulutnya meski suhu di bawah tanah seharusnya tidak sebeku ini. "Aku masih bernapas, Dante. Tapi aku tidak yakin apakah jiwaku masih utuh."

"Duka adalah harga yang harus dibayar untuk tetap menjadi manusia di dunia salinan ini," sahut Dante dari balik frekuensi radio. "Apa kau sudah siap? Koin yang kau pegang itu bukan sekadar benda. Itu adalah fragmen memori yang dipaksa keluar sebelum pemiliknya dihapus. Jika kau tidak segera mensinkronkannya, energi itu akan menguap atau justru melubangi kewarasanmu."

Arlan menatap koin milik Pak Suryono. Bayangan wajah satpam tua itu saat kulitnya berubah menjadi semen kelabu kembali melintas. "Bagaimana caranya? Aku tidak pernah melakukan ini secara sengaja."

"Tempelkan keduanya di pelipis. Satu koin sebagai penyeimbang identitasmu, satu lagi sebagai data yang akan kau baca. Gunakan napas manualmu. Jangan biarkan jantungmu berdetak mengikuti irama koin itu. Kau yang harus memimpin frekuensinya."

Arlan ragu. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat kedua koin tersebut. "Jika aku gagal? Jika memori satpam itu terlalu kuat dan aku lupa siapa diriku?"

"Itulah gunanya Kunci Tua yang kau bawa," suara Dante melunak namun tetap tegas. "Genggam kunci itu di tangan kirimu. Dia adalah jangkar realitasmu. Jika kau mulai tenggelam dalam ingatan orang lain, bayangkan pintu rumahmu yang asli. Gunakan kunci itu untuk tetap berpijak."

Arlan memejamkan mata. Ia menggenggam kunci rumah tuanya erat-eratus hingga logamnya terasa menusuk telapak tangan. Kemudian, dengan gerakan perlahan, ia menempelkan koin miliknya di pelipis kanan dan koin Pak Suryono di pelipis kiri.

Seketika, dunia di sekitar Arlan meledak.

Rasa perih yang luar biasa menghantam kepalanya, seolah-olah ribuan jarum perak ditusukkan langsung ke pusat sarafnya. Hampa akustik di terowongan itu berubah menjadi gemuruh suara teriakan dan desis api yang membara. Arlan terengah-engah, mencoba menjaga ritme napasnya agar tidak kacau.

"Tahan, Arlan! Fokus pada kuncinya!" suara Dante terdengar sangat jauh, tenggelam dalam badai memori.

Memori yang Tercuri

Tiba-tiba, Arlan tidak lagi berada di terowongan. Ia berdiri di tengah lobi apartemen yang megah, namun semuanya tampak memiliki saturasi warna yang aneh—hijau kebiruan yang tajam. Ia melihat dirinya sendiri, bukan sebagai Arlan, melainkan dalam sudut pandang seorang pria bertubuh tegap dengan seragam satpam yang rapi.

"Pak Suryono! Tolong, pintunya tidak bisa dibuka!" teriak seorang wanita sambil menggendong anaknya.

Arlan merasakan dadanya sesak oleh asap. Bau ozon dan plastik terbakar menyengat penciumannya. Ini adalah tahun 2012, malam di mana Sektor Tujuh seharusnya musnah dalam api, namun kenyataannya justru sedang 'dibersihkan' oleh sistem penyalinan yang pertama kali diuji coba.

"Lari ke arah tangga darurat! Jangan gunakan lift!" teriak Arlan—atau lebih tepatnya, Pak Suryono.

Ia merasakan kehangatan yang luar biasa di saku bajunya. Sebuah foto kecil anak perempuannya yang sedang merayakan ulang tahun. Rasa cinta itu begitu nyata, begitu mendalam, hingga Arlan merasa air mata mulai mengalir di pipinya sendiri di terowongan bawah tanah. Itu adalah jangkar emosi Pak Suryono, alasan mengapa ia bertahan di tengah kobaran api perak yang tidak panas namun menghapus segala yang disentuhnya.

"Arlan, jangan tenggelam! Kau mulai kehilangan sinkronisasi!" Dante berteriak melalui radio, namun suaranya hanya terdengar seperti desis air.

Arlan merasa identitasnya mulai terkikis. Ia mulai lupa bahwa ia adalah seorang kurir. Ia merasa bahwa dialah satpam yang harus mati malam itu. Ia merasakan kaki kirinya mulai terasa berat, berubah menjadi kaku seperti semen, persis seperti yang ia lihat pada Pak Suryono di saat-saat terakhirnya.

"Aku... aku Suryono... aku harus menjaga pintu..." gumam Arlan di dunia nyata, matanya berputar ke atas.

"Bukan! Kau Arlan!" Dante mencoba masuk ke frekuensi batinnya. "Gunakan kuncinya!"

Dalam keputusasaan yang memuncak, Arlan meremas Kunci Tua di tangan kirinya. Rasa sakit dari logam yang menusuk kulitnya memberikan kejutan realitas. Ia membayangkan pintu kayu jati di rumahnya, bau kopi buatan ibunya yang asli sebelum tahi lalatnya berpindah posisi, dan tekstur jam pegas ayahnya.

Grounding Realitas

Arlan memaksakan sebuah pikiran baru. Ia tidak menolak memori Pak Suryono, tapi ia mengalirkannya. Ia membayangkan rasa sakit dan duka itu sebagai arus listrik yang panas. Alih-alih membiarkannya menetap di otaknya, ia membayangkan kunci di tangannya sebagai penghantar panas.

"Pergilah ke sana... simpan duka ini di dalam besi, bukan di dalam kepalaku," bisik Arlan dengan gigi gemeletuk.

Perlahan, tekanan di kepalanya berkurang. Visi api tahun 2012 tidak lagi menelan kesadarannya, melainkan berubah menjadi seperti gulungan film yang diputar di depan matanya. Ia melihat semuanya sekarang: bagaimana para Peniru pertama kali muncul dari balik bayangan api, bagaimana mereka mencatat setiap gerakan warga yang ketakutan, dan bagaimana mereka menukar identitas manusia asli dengan salinan perak yang dingin.

"Aku melihatnya, Dante... mereka tidak membakar gedung itu," ucap Arlan, suaranya kembali stabil meski sangat lemah. "Mereka memanennya."

"Apa yang kau lihat, Arlan? Berikan aku detailnya!"

"Ada sebuah kode... di seragam para Peniru awal. Mereka menyebutnya Proyek Mirroring. Pak Suryono melihat unit pertama yang keluar dari ruang bawah tanah... gudang logistik."

Arlan menarik napas panjang, napas manual yang berat. Ia merasakan koin di pelipis kirinya perlahan mendingin. Sinkronisasi hampir selesai. Namun, residu emosional dari kehilangan anak Pak Suryono masih tertinggal, mengendap di sudut hatinya sebagai luka baru yang tidak akan pernah sembuh.

"Sudah cukup. Lepaskan koinnya sekarang," perintah Dante.

Arlan menjauhkan kedua koin itu dari wajahnya. Ia jatuh terduduk, punggungnya merosot di dinding terowongan. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia menatap Kunci Tua di tangan kirinya; ujung kunci itu kini tampak sedikit menghitam, seolah-olah benar-benar baru saja menyerap panas dari memori yang membakar.

Luka yang Nyata

"Kau berhasil," suara Dante terdengar lega di radio. "Kau adalah wadah pertama yang mampu melakukan grounding memori kolektif tanpa hancur. Bagaimana perasaanmu?"

Arlan menatap tangannya yang gemetar. "Aku merasa seperti membawa mayat di pundakku. Aku tahu bagaimana rasa takutnya, Dante. Aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang akan segera dihapus dari sejarah. Ini bukan sekadar data... ini adalah hidupnya."

"Itu adalah beban manusia sejati, Arlan. Para Peniru tidak akan pernah bisa merasakan ini. Bagi mereka, duka hanyalah anomali dalam sistem. Bagimu, itu adalah bukti bahwa kau masih hidup."

Arlan memasukkan kedua koin itu kembali ke saku jaketnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah benda itu bisa pecah jika disentuh kasar. Ia kini memiliki informasi baru tentang gudang bawah tanah, tempat di mana semuanya bermula. Tempat yang mungkin menjadi kunci untuk menemukan di mana orang-orang asli—termasuk ibunya—disembunyikan.

"Dante, aku tahu ke mana harus pergi selanjutnya. Gudang logistik itu... Pak Suryono melihat sesuatu di sana sebelum dia terjebak."

"Tunggu, Arlan. Kau baru saja menghabiskan banyak energi mental. Kau harus beristirahat. Eraser mungkin sudah melacak lonjakan frekuensi yang kau timbulkan saat sinkronisasi tadi."

"Aku tidak bisa menunggu," balas Arlan, ia berdiri dengan tumpuan tangan pada dinding. "Setiap detik aku beristirahat, ada orang lain yang tahi lalatnya berpindah posisi. Ada orang lain yang bayangannya tertinggal. Aku harus bergerak."

Ia mulai berjalan menyusuri rel kereta yang gelap, langkahnya kini terasa lebih mantap meski hatinya terasa lebih berat. Di kegelapan terowongan itu, Arlan menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak lagi merasa kesepian, karena kini ada ribuan suara yang mulai berbisik di dalam kepalanya, menuntut untuk diingat.

Cahaya lampu darurat di terowongan berkedip dengan ritme yang tidak stabil, menciptakan efek lag visual yang membuat bayangan Arlan tampak seolah-olah berusaha melepaskan diri dari kakinya. Arlan mengatur napas manualnya, merasakan oksigen yang lembap memenuhi paru-parunya. Rasa perih di pelipisnya perlahan memudar, meninggalkan denyut tumpul yang mengingatkannya pada beban yang baru saja ia asimilasi.

"Dante, kau masih di sana?" Arlan bertanya, suaranya menggema rendah di dinding terowongan.

"Aku memantau sinyalmu, Arlan. Frekuensimu mulai stabil, tapi detak jantungmu masih terlalu tinggi. Kau harus melakukan pendinginan seluler," jawab Dante dari radio analog.

Arlan menyeka keringat dingin di dahinya. "Pendinginan tidak akan membantu rasa sesak ini. Aku baru saja melihat Pak Suryono mencoba menyelamatkan seorang anak yang wajahnya bahkan tidak bisa diingat oleh sistem. Dia mati sebagai pahlawan, tapi dunia mengenalnya sebagai gedung yang terbakar."

"Itu adalah distorsi sejarah yang mereka ciptakan," suara Dante terdengar berat. "Para Peniru menghapus narasi pengorbanan karena pengorbanan adalah variabel yang tidak logis bagi mereka. Mereka hanya mengerti pertukaran data, bukan pemberian nyawa."

"Lalu apa gunanya semua ini?" Arlan menatap Kunci Tua yang masih ia genggam. "Jika aku mengumpulkan seribu koin, apakah aku akan menjadi pemakam massal bagi kota ini? Apakah martabat mereka hanya akan berakhir di dalam saku jaket seorang kurir?"

Dante terdiam sejenak. Statik radio mengisi kekosongan itu sebelum ia menjawab, "Kau bukan pemakam mereka, Arlan. Kau adalah saksi hidup. Selama kau mengingat mereka, keberadaan mereka tetap bersifat absolut, bukan sekadar salinan. Sekarang, fokuslah. Apa yang kau temukan di gudang logistik dalam memori itu?"

Arlan memejamkan mata, memanggil kembali fragmen memori yang sudah terdistilasi di kepalanya. "Ada sebuah pintu besar dengan simbol cermin retak. Pak Suryono melihat unit-unit Eraser membawa tabung-tabung berisi cairan perak ke sana. Mereka tidak membunuh warga, Dante. Mereka menyerap residu emosional warga ke dalam tabung itu."

"Residu emosional?" tanya Dante dengan nada tajam.

"Ya. Seperti uap napas yang tertinggal di udara dingin. Mereka menyebutnya 'bahan bakar autentik'. Tanpa itu, para Peniru akan menjadi robot yang kaku. Mereka butuh emosi kita untuk membuat salinan mereka tampak nyata di depan orang-orang terdekat."

"Jadi itu alasan mereka mencuri kehidupan," gumam Dante. "Mereka tidak hanya mencuri wajah, mereka mencuri rasa sakit untuk menyempurnakan kepalsuan mereka."

Arlan berdiri, kakinya masih sedikit lemas namun tekadnya telah mengeras. Ia berjalan menyusuri rel kereta, mengikuti arah timur sesuai instruksi Dante sebelumnya. Bau karat dan oli kini terasa seperti teman lama yang menemaninya di tengah kesunyian bawah tanah yang mencekam.

Kehadiran yang Tak Terlihat

Tiba-tiba, Arlan berhenti. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Suhu di sekitarnya turun beberapa derajat secara mendadak—gejala endotermik yang sudah sangat ia kenali. Ia mematikan radionya agar suaranya tidak memancing perhatian.

Di depannya, sekitar dua puluh meter, uap putih tipis melayang di udara. Arlan menahan napasnya. Itu bukan uap napasnya sendiri. Uap itu membentuk pola napas manusia yang sedang ketakutan, namun tidak ada tubuh yang terlihat di sana.

"Siapa di sana?" bisik Arlan, tangannya meraba pisau kurir di pinggangnya.

Tidak ada jawaban, hanya suara tetesan air yang jatuh ke genangan minyak. Arlan menggunakan penglihatan Tingkat 2 miliknya, mencoba mencari pantulan di genangan air di lantai terowongan. Melalui refleksi air yang keruh, ia melihat bayangan seorang gadis kecil yang duduk meringkuk di sudut rel. Namun, saat ia melihat langsung ke sudut itu, tempat tersebut kosong melompong.

"Echo..." gumam Arlan. "Kau adalah sisa yang tertinggal."

Bayangan gadis itu di dalam air tampak menoleh ke arah Arlan. Matanya besar dan penuh ketakutan. Arlan merasakan koin perak di sakunya bergetar, merespons kehadiran residu manusia tersebut. Ia menyadari bahwa memori Pak Suryono yang baru saja ia serap memberinya sensitivitas baru terhadap mereka yang telah dihapus secara fisik namun masih tertinggal secara frekuensi.

"Jangan takut," ucap Arlan pelan, ia berlutut agar posisinya sejajar dengan bayangan di air. "Aku bukan bagian dari mereka. Aku memiliki darah yang sama denganmu."

Bayangan gadis itu mengulurkan tangan ke arah permukaan air, seolah ingin menyentuh dunia nyata. Arlan merasakan dilema martabat yang baru; ia ingin menolong, tapi bagaimana cara menyelamatkan seseorang yang sudah tidak memiliki massa fisik?

"Arlan, apa yang terjadi? Sinyalmu diam di tempat," suara Dante kembali muncul dari radio yang dinyalakan Arlan dengan volume sangat rendah.

"Ada Echo di sini, Dante. Seorang gadis kecil. Dia hanya tersisa di pantulan air."

"Jangan berhenti, Arlan! Itu adalah umpan frekuensi! Eraser sering menggunakan residu yang belum bersih untuk menarik perhatian manusia asli yang tersisa. Kau harus segera bergerak ke titik evakuasi!"

Arlan menatap bayangan gadis itu sekali lagi. Gadis itu menunjuk ke arah kegelapan di ujung terowongan, ke sebuah pintu besi berkarat yang tertutup rapat. Arlan menyadari bahwa gadis ini bukan sekadar residu acak; dia adalah petunjuk jalan.

"Dia menunjukkan gudangnya, Dante," ucap Arlan tegas.

"Arlan, dengarkan aku! Kapasitas mentalmu baru saja mencapai batas setelah sinkronisasi koin kedua. Jika kau memaksakan diri masuk ke zona manifes sekarang, kau akan mengalami erosi identitas permanen!"

"Aku sudah kehilangan ibuku, rumahku, dan duniaku, Dante. Jika aku membiarkan gadis ini menghilang tanpa melakukan apa pun, maka aku benar-benar sudah menjadi salinan."

Arlan berdiri dan berjalan menuju pintu besi yang ditunjuk oleh bayangan tersebut. Ia tidak lagi peduli pada peringatan Dante. Ia menggenggam koin kedua di saku kanannya, merasakan panas pengorbanan Pak Suryono yang memberinya keberanian.

Pintu Menuju Kebenaran

Ia sampai di depan pintu besi itu. Ada bau ozon yang sangat kuat di sini, disertai suara dengungan listrik bertegangan tinggi yang teredam—hampa akustik yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki sensitivitas tingkat tinggi. Arlan menempelkan telinganya ke pintu.

Di balik sana, ia mendengar suara langkah kaki yang teratur. Langkah kaki yang tidak alami. Langkah kaki yang memiliki jeda satu detik di setiap hentakannya.

"Mereka ada di dalam," bisik Arlan.

"Arlan, jika kau masuk ke sana, kau sendirian. Tim Remnants belum bisa menjangkaumu di koordinat itu," suara Dante terdengar penuh kecemasan.

"Aku selalu sendirian sejak tahi lalat ibuku berpindah posisi, Dante. Tapi sekarang, aku punya ribuan saksi di dalam sakuku. Mereka yang akan menuntunku."

Arlan merogoh Kunci Tua miliknya. Ia tidak tahu apakah kunci ini akan cocok, namun ia merasakan getaran yang sinkron antara logam kunci dan engsel pintu besi tersebut. Dengan satu tarikan napas manual yang dalam, Arlan memasukkan kunci itu ke lubang pintu yang berkarat.

Klik.

Pintu terbuka. Udara dingin yang luar biasa menyembur keluar, membawa aroma kimia dan besi yang menyengat. Arlan melangkah masuk ke dalam kegelapan, meninggalkan terowongan kereta bawah tanah. Ia tahu, mulai detik ini, tidak ada jalan kembali. Ia bukan lagi sekadar kurir yang mencari barang hilang; ia adalah wadah yang akan mengembalikan semua yang telah dicuri.

"Aku masuk, Dante. Doakan aku masih mengingat namaku saat aku keluar nanti."

Arlan menutup pintu di belakangnya, membiarkan kegelapan menelan tubuhnya. Di dalam sakunya, kedua koin perak itu bersinar redup, seolah-olah memberikan cahaya kecil di tengah dunia yang telah kehilangan mataharinya.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!