Sebuah tembok besar menghalangi kehidupan dua insan yang saling jatuh cinta satu sama lain.
Mereka dihadapkan oleh keadaan yang hampir tidak mungkin bisa dilewati.
Mereka hanya memiliki dua pilihan, terus melangkah maju tapi menghancurkan semua orang, atau bergerak mundur namun mereka sendiri yang akan hancur.
Akankah kebahagiaan dan cinta akan berpihak pada mereka yang berjuang, ataukah perpisahan yang akan mereka dapatkan?
Dan mungkinkan ruang dan waktu dapan mempersatukan mereka?
Terus ikuti kisahnya di novel "Ruang dan Waktu" sebuah novel terusan dari novel "Keluarga Yang Tak Dirindukan" karya author Weka Hatake~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WK Rowling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Luka
"Aaaaaaa!!!!" Seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMA berteriak lantang di atas rooftop sebuah gedung.
"Aaaaaaaaaa!!!" Dia mengulangi teriakannya lagi dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Saat dia hendak berteriak untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba ada sesuatu yang melayang hingga mengenai kepalanya, dilihatnya sesuatu itu dan ternyata adalah sebuah botol air mineral yang sudah kosong.
"Apa-apaan?!" Ucapnya sambil memungut botol air mineral tersebut.
"Woy bocil! Kalo lo teriak sekali lagi, gue bakal lempar kepala lo dengan batu!" Suara yang berat dan serak khas bangun tidur itu mengejutkan Adel hingga membuat gadis itu ketakutan.
Adel memegangi dadanya karena jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya akibat terkejut, "S-siapa disana?" Tanya Adel sambil melihat ke arah sumber suara karena orang yang menegurnya tak terlihat dengan jelas akibat tertutup oleh beberapa barang yang ada di rooftop tersebut.
"Ngapain si lo?! Gangguin orang tidur siang aja!" Jawab Kaisar yang kini sudah duduk mengumpulkan tenaga akibat terbangun karena suara teriakan Adel.
Sebelumnya Kaisar memang sudah lebih dulu berada di rooftop tersebut, entah apa yang ia lakukan sampai ia tertidur di atas bangku panjang dengan dikelilingi kardus-kardus tak terpakai.
"Huwaaaa!!! Masa iya siang bolong gini ada setan?!" Adel semakin ketakutan karena dia sama sekali tidak melihat sosok Kaisar dan hanya mendengar suaranya saja.
Kaisar masih memijat kepalanya sendiri karena pusing, akhirnya dengan langkah sempoyongan dia menampakkan diri yang membuat Adel dapat melihatnya dengan jelas.
"P-pak Kaisar?" Adel membelalakkan matanya tak percaya harus bertemu dengannya lagi.
Kaisar mengorek telinganya menggunakan jari telunjuk kiri, "Kuping gue masih sakit gara-gara teriakan lo tadi, dan sekarang harus tambah sakit karena lo manggil gue pak!" Ucapnya yang kini sudah berada tepat di depan Adel.
Adel mau menjawab sesuatu, namun jari telunjuk Kaisar yang sebelumnya ia gunakan untuk mengorek telinganya sudah lebih dulu pemuda itu daratkan ke bibir gadis tersebut untuk membungkamnya.
"Sssttt! Jangan bicara apa-apa lagi!" Ucap Kaisar, saat ia menarik jari telunjuknya, tanpa sengaja Kaisar melihat luka di tepi bibir Adel.
"Ikut gue!" Kaisar berkata sambil membalikkan badannya lalu berjalan lebih dulu.
Adel masih diam di tempatnya tidak menuruti perkataan Kaisar, yang membuat pemuda itu menolehkan kepalanya kemudian berkata, "Buruan!" Titahnya.
Adel bergegas mengikuti dari belakang Kaisar, Adel sesekali memperhatikan Kaisar dari belakang.
"M-maaf pak, tapi kita mau kemana ya?" Adel membuka suara di tengah perjalanan 1 re mereka.
"Udah ngikut aja nggak usah kebanyakan bawel."
Setelah berhasil keluar dari gedung itu, rupanya Kaisar membawa Adel ke sebuah kafe yang tak jauh dari gedung itu. Mereka bahkan hanya perlu berjalan kaki untuk sampai ke kafe tersebut.
"Lo tunggu sini." Selepas berkata demikian Kaisar langsung pergi meninggalkan kebingungan dibenak Adel.
"Aneh banget si itu orang, memerintah gue seenak jidat." Meskipun kesal dan bingung, Adel tetap menuruti perkataan Kaisar, gadis itu lebih memilih cari aman daripada harus berurusan dengan orang seperti Kaisar.
Kaisar hanya pergi sebentar sebelum akhirnya kembali dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Kok lo belum pesen apa-apa sih?!" Kaisar bertanya dengan nada sewot.
"Anu pak maaf, saya nggak terlalu lapar." Jawab Adel.
"Bukan buat lo, tapi buat gue!" Ucap Kaisar tanpa beban.
"Ya mana gue tahu lo mau pesen apa orang lo dari awal nggak bilang apa-apa, cuma nyuruh gue nunggu!" Ingin sekali Adel mengatakan itu, namun dia hanya berani protes dari dalam hati.
"Ah sudahlah, percuma juga ngomong sama lo!" Ucap Kaisar kemudian dia menarik kursi lalu duduk di dekat Adel.
Sebelumnya Kaisar membawa plastik berukuran kecil berwarna putih, dikeluarkannya isi dari plastik itu yang ternyata adalah obat-obatan. Kaisar sengaja membeli obat itu karena beberapa saat yang lalu ia melihat luka di tepi bibir Adel. Dengan cekatan Kaisar menyiapkan obat itu dan mengoleskannya ke luka di bibir Adel.
"Eh bapak mau ngapain?" Adel menahan tangan Kaisar yang menggantung di udara hendak mengoleskan obat ke arahnya.
"Mau cium lo." Jawab Kaisar sekenanya yang membuat Adel terkejut.
"Maksud bapak apa ya? Jangan mesum ya pak!" Ucap Adel dengan masih menahan tangan Kaisar.
Kaisar berdecak pelan, "Hais lo nggak lihat ditangan gue ini apa? Ya kali gue cium lo pake obat. Udah awas minggir tangannya."
Dengan perlahan Adel melepaskan tangan Kaisar dan membiarkan Kaisar mengobati lukanya.
"Aw!" Adel meringis kesakitan seiring Kaisar mengobatinya.
"Eh perih ya?" Tanya Kaisar, kali ini dia mengoleskan obat ke luka Adel dengan lebih hati-hati agar tak terlalu menyakiti gadis itu.
"Nah udah, kalo luka itu dibiarkan, akan terlalu lama sembuhnya. Kalo gue perhatiin lukanya masih baru ya?"
"Kok bapak bisa tahu?" Bukannya menjawab Adel justru balik bertanya.
"Semua orang juga bakalan tahu hanya dengan sekali lihat."
Apa yang dilakukan Kaisar tak lebih karena merasa Kasihan dengan Adel, apalagi secara garis besar dia sudah mengetahui masalah yang dihadapi oleh gadis itu.
"Hehe, seharusnya bapak nggak perlu sampai melakukan ini, saya bisa mengobati sendiri." Ucap Adel yang merasa tidak enak hati.
Kaisar menyilangkan tangan di depan dada, "Jangankan luka seperti itu, lo kemarin keserempet gue aja nggak mau diobati!" Kaisar berkata dengan kesal.
"Ya udah gue mau pesen minum dulu, lo mau apa biar gue pesenin sekalian?" Tanya Kaisar yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
"Nggak usah pak, saya nggak lapar."
Kaisar tidak menanggapi jawab Adel dan langsung pergi begitu saja.
lanjut thor..
thank ya thor 😁 😁
perang dunia anak dan emak
dasar Rani, waktu sehat nyakitin perasaan Anika dan nipu Rendra... sekarang sakit pun nyusahin Satya dan Adel... 😡