Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana perlahan mencair.
Kai duduk di pangkuan Aru, sibuk mengaduk bubur dengan sendok kecilnya. Sesekali ia menyuapkan satu sendok ke mulutnya sendiri, lalu berhenti hanya untuk tersenyum puas.
Aru memperhatikannya dengan senyum lembut. Tangannya reflek menyeka sudut bibir Kai yang terkena kuah.
“Pelan-pelan makannya sayang, nanti tumpah,” ujarnya pelan.
“Iya, Bunda,” jawab Kai patuh.
Kenan memperhatikan pemandangan itu tanpa berkedip.
Bukan karena buburnya.
Bukan karena taman.
Tapi karena cara Aru memperlakukan Kai. Alami, hangat, seolah itu sudah menjadi kebiasaan lama.
Dadanya menghangat tanpa izin.
Kenan menunduk sebentar, menghela napas pelan.
"Berbahaya", batinnya lagi.
Alvian memperhatikan semuanya dari seberang. Rahangnya mengeras, namun kali ini bukan karena marah melainkan karena perasaan asing yang tak ia sukai.
Ia melihat bagaimana Aru tertawa kecil saat Kai bersendawa.
Melihat bagaimana Aru tidak sadar bahwa senyumnya berbeda.
Lebih lepas.
Lebih… hidup.
“Aru,” panggil Alvian akhirnya.
“Iya, kak?” Aru menoleh.
“Kamu nggak capek?” tanyanya singkat.
Aru menggeleng. “Nggak. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Alvian mengalihkan pandangan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Karena sebenarnya yang ingin ia tanyakan bukan soal capek,melainkan sejak kapan kamu bisa setenang itu sama orang lain?
Bisma menyadari perubahan suasana itu. Ia menyesap tehnya pelan, lalu melirik Kenan.
“Kai sering manggil orang lain bunda juga?” tanyanya santai.
Kenan menggeleng. “Nggak. Cuma ke Aru aja.”jawabnya santai.
Alvian langsung menoleh tajam.
“Kenapa?” tanya Bisma, datar.
Kenan terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Karena Aru nggak pernah maksa. Kai nyaman saat bersama Aru. ”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Aru terdiam sesaat.
Ia menunduk, menatap Kai di pangkuannya.
Nyaman…
Kata itu terasa hangat.
Tak lama kemudian, Kai mulai mengucek mata.
“Kai ngantuk, sayang?” tanya Aru lembut.
Kai mengangguk kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke dada Aru.
“Iya Bunda… Kai ngantuk.”jawab nya pelan karena matanya sudah mulai meredup.
Aru tersenyum, refleks mengusap punggung kecil itu dengan gerakan pelan.
“Tidur sebentar juga nggak apa-apa,” katanya lirih.
Kenan bangkit sedikit.
“Maaf ya, Aru. Dia memang gampang ngantuk kalau habis makan.”ucap Kenan.
“Nggak apa-apa,” jawab Aru cepat. “Lucu malah.”
Kenan terkekeh kecil.
“Lucu, tapi bandel,” sahutnya.
“Bandelnya mirip papanya,” balas Aru tanpa sadar.
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Sunyi sesaat.
Bisma menaikkan alis.
Alvaro berhenti mengunyah.
Alvian menegang.
Kenan menatap Aru… lalu tersenyum.
“Berarti kamu perhatian,” katanya ringan.
Aru tersadar, pipinya memanas.
“Eh—maksud aku… Kai maksudnya,” elaknya cepat.
Kenan tidak menanggapi. Tapi senyumnya bertahan lebih lama dari seharusnya.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai beranjak.
“Ayo kita balik dek,” ujar Bisma. “Nanti keburu panas.”
“Iya, Phi.”
Aru berdiri perlahan sambil menggendong Kai. Ia menyerahkannya kembali ke Kenan dengan hati-hati.
“Makannya sudah cukup?” tanyanya.
Kai mengangguk, masih setengah mengantuk.
“Iya, Bunda.”
Kenan menerima Kai. Jari-jarinya tak sengaja menyentuh tangan Aru.
Singkat.
Tapi cukup membuat jantung Aru berdegup satu ketukan lebih cepat. Sentuhan itu seperti sengatan listrik bagi keduanya.
“Terima kasih ya,” ucap Kenan pelan. “Untuk bubur… dan pagi ini.”
Aru tersenyum kecil.
“Sama-sama.”
Alvian memperhatikan dari samping, dadanya terasa sesak.
"Bunda balik dulu ya, " ucap Aru. "Saya permisi dulu mas Kenan, Joe, Amar. "
"Hati-hati dijalan Aru. " ucap Kenan membuat Aru mengangguk kecil.
Mereka berpisah arah.
Namun langkah Aru terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Sementara Kenan menoleh sekali ke belakang, melihat Aru yang berjalan bersama kakak-kakaknya.
Ia tersenyum kecil.
Pagi ini…rasanya tidak biasa. Dan tanpa disadari siapa pun sesuatu telah mulai tumbuh.
Pelan.
Tenang.
Nyata.
...****************...
Setelah kejadian perdebatan di taman kota tadi, mood Alvian benar-benar hancur. Dadanya masih sesak oleh rasa kesal yang belum juga mereda. Ia tidak terima melihat Kenan mendekati Aru dengan memanfaatkan anaknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Alvian hanya diam. Rahangnya mengeras, tatapannya kosong menembus kaca mobil.
Di dalam mobil itu, Bisma, Alvaro, dan Aru ikut terdiam. Tak satu pun berani membuka suara,takut memperburuk suasana yang sudah lebih dulu runtuh.
Lima belas menit berlalu.
Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.
Tanpa menunggu mesin benar-benar mati, Alvian langsung turun dan—
BRRAKK!
Pintu mobil dibanting keras.
Bisma yang baru saja mematikan mesin tersentak. Alvaro dan Aru ikut terlonjak kaget.
“Astaghfirullah…” ucap mereka hampir bersamaan.
Alvian melangkah masuk ke rumah tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Keheningan kembali menyelimuti mobil.
“Kak Alvian kenapa sih, Phi… Bang?” tanya Aru pelan, keningnya berkerut. “Dari taman tadi wajahnya kusut terus. Padahal pas berangkat kan biasa aja.”
Aru sama sekali tidak menyadari bahwa kakak ketiganya sedang dilanda cemburu hebat.
Ia memang tipikal orang yang agak lambat soal perasaan. Kadang peka, kadang… tidak sama sekali.
Dan hari ini, penyakit lemot-nya sedang kumat parah.
“Mungkin lagi banyak kerjaan,” jawab Bisma santai, mencoba menormalkan suasana.
Namun belum sempat Aru menimpali—
BRRAKK!
Kali ini giliran Alvaro yang membanting pintu mobil dengan keras.
“Astaghfirullah!” Aru dan Bisma kembali kaget. Tubuh mereka refleks terlonjak.
“Lama-lama adek bisa kena serangan jantung, Phi,” keluh Aru. “Kenapa sih Kak Alvian sama bang Alvaro hobi banget banting pintu mobil? Kalau ada masalah ya diomongin baik-baik. Kita cari jalan keluarnya bareng-bareng.”
Alvaro tak menjawab. Ia melangkah masuk dengan wajah dingin.
Bisma terkekeh kecil.
“Biarin aja dulu, Dek. Mungkin buat mereka, banting pintu itu terapi,” ujarnya santai.
“Lagipula kalau pintu mobil rusak, tinggal minta mobil baru ke ayah. Gampang, kan?”
Aru mendengus.
“Phi mah enak,duitnya banyak.”
“Udah,” Bisma menepuk bahu Aru. “Kita masuk dulu. Bersih-bersih. Nanti baru ajak mereka ngomong pelan-pelan.”
Aru mengangguk.
“Ya udah… ayo.”
Begitu masuk, Aru dan Bisma mendapati Ayah Dika dan Mama Yasmine sedang duduk di ruang keluarga.
“Assalamu’alaikum,” ucap Aru dan Bisma bersamaan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.
Mama Yasmin menatap Aru lekat-lekat.
“Wajah kamu kenapa, Dek? Kok masam begitu?”
“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Aru. “Cuma kesel aja. Bang Alvaro sama Kak Alvian banting pintu mobil, adek hampir jantungan.”
Ayah Dika menghela napas pelan.
“Pantesan. Dari tadi ayah juga lihat mereka berdua mukanya kusut. Kayak orang banyak pikiran.”
“Mungkin lagi sensi aja, Yah,” sahut Bisma sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aru.
Ayah Dika terkekeh. “Bisa jadi. Dua bocah itu mood-nya kadang sama persis kayak orang PMS. Bedanya, ini versi berotot.”
Mama Yasmin menggeleng geli.
“Sudah, sudah. Kalian mandi sana. Bau asem. Habis jogging kok langsung duduk.”
“Iya, Ma,” jawab Aru dan Bisma kompak.
Mereka pun naik ke lantai dua menuju kamar masing-masing.
Bersambung.................