NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Darah Pertama

Debu meledak dari arah barat. Tanah tandus terbelah oleh derap langkah yang tidak teratur. Bayangan-bayangan gelap menerobos batas cahaya tanpa ragu.

Xu Tian bergerak lebih dulu. Ia mendorong Chen Yu ke belakang dengan satu tangan. Tubuhnya bergeser ke depan, menghalangi jalur masuk.

Makhluk pertama menghantam tanah di depannya. Rahangnya terbuka lebar. Bau busuk menyambar hidung.

Xu Tian menendang tanah. Batu dan pasir terlempar ke wajah makhluk itu. Serangan itu tidak menghentikan laju, hanya memperlambat sesaat.

Makhluk kedua datang dari samping. Tubuhnya rendah, cepat, hampir menyentuh tanah. Xu Tian memutar tubuh, siku menghantam kepala makhluk itu.

Benturan tumpul terdengar. Makhluk itu terpelanting, tetapi masih bergerak. Cakarnya mencakar tanah, meninggalkan garis panjang.

“Jangan maju,” kata Xu Tian tanpa menoleh.

Chen Yu mengangguk cepat. Langkahnya goyah saat mundur. Tangannya mencengkeram tongkat dengan keras.

Dari depan, dua bayangan lain melompat bersamaan. Jarak mereka terlalu dekat. Xu Tian tidak punya ruang untuk menghindar penuh.

Satu makhluk menghantam bahunya. Tubuh Xu Tian terdorong ke samping. Rasa panas menjalar dari titik benturan.

Ia tidak jatuh. Kakinya menghantam tanah, menahan tubuhnya tetap tegak. Retakan di bawah kakinya melebar.

Makhluk itu berusaha menggigit. Xu Tian menghantam rahangnya dengan kepalan tangan. Darah memercik ke tanah.

Teriakan pendek terdengar dari belakang. Chen Yu terpeleset saat mundur. Satu makhluk kecil melesat ke arahnya.

Xu Tian berbalik. Jarak terlalu jauh untuk pukulan biasa. Ia mengambil batu tajam dari tanah dan melempar tanpa ragu.

Batu itu menancap di leher makhluk kecil. Tubuhnya terguling, berhenti bergerak beberapa langkah dari kaki Chen Yu.

Chen Yu tersentak. Ia segera bangkit, wajahnya pucat. Tongkat di tangannya terangkat, tetapi ujungnya bergetar.

Makhluk-makhluk lain tidak berhenti. Mereka menyebar, mencoba mengepung. Debu makin tebal, cahaya aula berdenyut tidak stabil.

Xu Tian melangkah ke tengah. Ia memutar tubuh perlahan, menjaga jarak dari setiap arah. Napasnya berat, tetapi teratur.

Satu makhluk meloncat tinggi. Xu Tian mengangkat lengan untuk menahan. Cakar menghantam lengannya, robekan terbuka.

Darah mengalir. Menetes ke tanah yang retak. Tanah di bawahnya berdenyut pelan.

Xu Tian menggenggam pergelangan makhluk itu. Ia menarik keras, lalu menghantamkan tubuhnya ke tanah. Benturan membuat debu naik tinggi.

Makhluk itu meronta. Xu Tian menghantam tengkuknya dua kali. Gerakan itu berhenti.

Suara geraman berat terdengar dari kejauhan. Bayangan besar muncul di balik debu. Langkahnya lambat, tetapi setiap pijakan membuat tanah bergetar.

Chen Yu menatap makhluk itu. Bahunya menegang. Kakinya bergerak mundur tanpa sadar.

Xu Tian berdiri di depan muridnya. Ia tidak menoleh. Posisi tubuhnya rendah, siap menahan benturan.

Makhluk besar itu mendekat. Kepalanya sejajar dada Xu Tian. Napasnya panas, berbau darah.

Makhluk itu menerjang lurus. Tidak ada tipu daya. Hanya kekuatan mentah.

Xu Tian menyingkir setengah langkah. Bahunya tetap terkena hantaman. Tubuhnya terlempar, berguling di tanah.

Rasa panas menyebar dari bahu ke punggung. Xu Tian memaksa diri bangkit sebelum makhluk itu berbalik.

Chen Yu berteriak pendek. Makhluk lain bergerak ke arahnya dari sisi kiri.

“Diam di situ!” teriak Xu Tian.

Ia melompat ke jalur serangan. Kakinya menghantam tanah keras. Getaran menyebar, membuat makhluk itu tersandung.

Xu Tian menghantam rahang makhluk tersebut dengan batu di tangannya. Batu itu pecah. Darah menyembur.

Makhluk itu masih hidup. Ia menggigit lengan Xu Tian. Giginya menembus kain dan kulit.

Xu Tian tidak menarik diri. Ia menghantam mata makhluk itu dengan ibu jari. Geraman berubah menjadi jeritan kasar.

Cengkeraman terlepas. Xu Tian mundur satu langkah. Darah menetes dari lengannya, membasahi tanah.

Makhluk besar kembali mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa langkah. Cahaya aula berdenyut kuat, lalu meredup.

Xu Tian berdiri di antara dua ancaman. Napasnya berat. Kakinya meninggalkan bekas dalam di tanah lunak.

Ia melirik Chen Yu sekilas. Muridnya masih berdiri. Tongkatnya terangkat, meski tangannya gemetar.

Xu Tian berbalik ke makhluk besar. Ia melangkah maju, bukan mundur. Tanah di bawah kakinya bergetar lebih kuat.

Makhluk itu mengangkat kaki depan. Xu Tian menerobos ke dalam jangkauan. Pukulan menghantam rusuk makhluk itu.

Benturan membuat tangan Xu Tian mati rasa. Makhluk itu terpukul mundur setengah langkah.

Makhluk lain menyerang dari belakang. Xu Tian tidak sempat berbalik. Serangan menghantam punggungnya.

Ia terjatuh ke satu lutut. Debu menutup pandangan. Rasa logam memenuhi mulutnya.

Chen Yu bergerak tanpa perintah. Tongkatnya menghantam kepala makhluk yang menyerang Xu Tian. Pukulan itu tidak mematikan, tetapi cukup mengalihkan perhatian.

Makhluk itu berbalik ke arah Chen Yu. Xu Tian bangkit paksa. Ia menerjang, menghantam sisi leher makhluk itu dengan siku.

Suara tulang retak terdengar. Makhluk itu roboh, tidak bangkit lagi.

Xu Tian berdiri terengah. Tubuhnya penuh luka. Darah menetes di beberapa titik.

Makhluk besar kembali bersiap. Ia menggeram rendah. Tanah di sekitarnya bergetar lebih kuat.

Xu Tian menghapus darah di sudut mulutnya dengan punggung tangan. Ia mengambil posisi di depan Chen Yu.

“Dengar,” katanya singkat. “Jika aku jatuh, lari ke dalam cahaya.”

Chen Yu membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia mengangguk keras.

Makhluk besar itu menerjang sekali lagi. Xu Tian melangkah maju untuk menyambutnya. Benturan berikutnya mengguncang seluruh wilayah.

...

Benturan itu membuat Xu Tian terpental ke samping. Tubuhnya menghantam tanah keras, berguling dua kali sebelum berhenti. Debu menutup wajahnya.

Makhluk besar itu tidak memberi jeda. Langkahnya menyusul cepat. Tanah bergetar di bawah berat tubuhnya.

Xu Tian bangkit setengah lutut. Ia menggeser kaki, menarik tubuh ke samping tepat saat rahang besar menghantam tempat ia jatuh. Tanah meledak, batu beterbangan.

Xu Tian memanfaatkan celah. Ia melompat mendekat, menghantam sisi leher makhluk itu dengan siku. Benturan itu membuat lengannya mati rasa.

Makhluk itu mengamuk. Kepalanya berputar, tubuhnya menyapu area sekitar. Xu Tian terhantam, terlempar beberapa langkah.

Ia mendarat dengan punggung lebih dulu. Napasnya tersendat. Darah keluar dari mulutnya, jatuh ke tanah.

Chen Yu bergerak tanpa suara. Ia berdiri di belakang Xu Tian, tongkat terangkat. Ujung tongkat itu menghantam kaki belakang makhluk besar.

Pukulan itu tidak kuat. Namun cukup membuat makhluk itu goyah sesaat. Kepala besarnya menoleh ke arah Chen Yu.

Xu Tian melihat gerakan itu. Ia mendorong tubuhnya bangkit, lalu menerjang tanpa ragu. Bahunya menghantam dada makhluk besar itu.

Benturan keras terdengar. Xu Tian terdorong mundur, tetapi makhluk itu ikut terseret satu langkah. Kakinya meninggalkan jejak dalam di tanah.

Makhluk itu mengangkat cakar. Xu Tian tidak mundur. Ia menangkap pergelangan cakar itu dengan kedua tangan.

Otot di lengannya menegang. Luka terbuka di bahunya kembali robek. Darah mengalir lebih deras.

Xu Tian memutar tubuh, menarik cakar itu ke bawah. Makhluk itu kehilangan keseimbangan. Kepalanya menunduk sesaat.

Xu Tian menghantam tengkuknya dengan lutut. Benturan pertama membuat makhluk itu tersentak. Hantaman kedua membuat tubuh besar itu jatuh berlutut.

Tanah bergetar. Debu naik tinggi. Cahaya dari arah aula berdenyut kuat, lalu menyebar tipis ke sekitar.

Makhluk itu mencoba bangkit. Xu Tian melompat ke punggungnya. Tangannya mencari celah di antara sisik kasar.

Ia menghantam bagian belakang kepala makhluk itu berulang kali. Setiap pukulan disertai suara tulang dan daging bertemu.

Gerakan makhluk itu melambat. Raungannya berubah parau. Tubuh besarnya akhirnya roboh ke tanah.

Xu Tian terlempar ke samping saat tubuh itu jatuh. Ia berguling, lalu berhenti telentang. Dadanya naik turun cepat.

Makhluk itu tidak bergerak lagi. Debu perlahan turun. Suara lain menghilang satu per satu.

Makhluk-makhluk kecil yang tersisa mundur. Bayangan mereka menghilang di balik batu dan retakan tanah.

Keheningan turun mendadak. Hanya tersisa napas berat dan suara darah menetes ke tanah.

Xu Tian bangkit perlahan. Kakinya goyah, tetapi ia tetap berdiri. Darah membasahi kedua lengannya.

Chen Yu mendekat dengan langkah ragu. Tongkat di tangannya retak di beberapa bagian. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.

Xu Tian mengangkat tangan. Chen Yu berhenti tepat di depannya.

“Periksa sekeliling,” kata Xu Tian singkat.

Chen Yu mengangguk. Ia berbalik, memeriksa area dengan langkah hati-hati. Matanya terus melirik ke arah bangkai makhluk besar.

Xu Tian menunduk. Darah menetes dari lengannya, meresap ke tanah yang retak. Retakan itu berdenyut pelan, lalu tenang.

Cahaya tipis muncul di pinggir pandangannya. Tidak menyilaukan. Diam, stabil.

Xu Tian tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempatnya, tubuh penuh luka, pandangan lurus ke depan.

Cahaya itu berubah. Beberapa garis muncul, tersusun rapi. Tidak ada suara keras. Tidak ada getaran.

Chen Yu kembali mendekat. Ia berhenti di samping Xu Tian, menatap cahaya itu sekilas, lalu segera menunduk.

Xu Tian menarik napas panjang. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur.

Di hadapannya, panel itu menampilkan satu baris notifikasi. Singkat. Tegas.

Hadiah misi pertama terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!