Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketiga
Dengan suara yang hampir tak terdengar, Anya berbisik, "Ibu... tolong Anya. Anya tidak ingin dijodohkan." Ia mencengkeram lengan ibunya dengan putus asa.
Dewi Anggara, ibunya, hanya bisa mengusap kepalanya dengan lembut, matanya berkaca-kaca. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa," ucapnya lirih.
Di tengah suasana tegang, mereka duduk di sebuah restoran mewah, menantikan kedatangan pria yang akan menjadi suami Anya.
"Anya!" Suara Bram menggelegar, memecah keheningan. "Kau sudah berjanji. Jangan berani melanggar perkataan Ayah!"
Anya menunduk, air matanya kembali mengalir. Ia tidak berani menatap ayahnya. Ia tahu, membantah ayahnya sama saja dengan menantang maut.
Suasana hening seketika. Dewi hanya bisa menatap putrinya dengan tatapan iba. Ia tahu betapa beratnya beban yang harus ditanggung Anya.
Tiba-tiba, seorang pelayan datang dan memberitahukan bahwa tamu mereka telah tiba. Bram segera menyuruh Anya untuk menghapus air matanya dan bersikap sopan.
Anya menurut dengan patuh. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha tersenyum. Ia harus kuat. Ia harus bisa menghadapi semua ini.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya memasuki restoran dengan langkah mantap dan aura percaya diri yang kuat. Di belakangnya, seorang pemuda mengekor dengan ragu, bahkan menggenggam erat lengan pria paruh baya itu.
"Selamat malam, Bapak Bram," sapa pria paruh baya itu sambil menjabat tangan Bram dengan hangat. "Perkenalkan, saya Pramudya Angkasa, dan ini putra saya, Arga Angkasa."
Bram membalas jabatan tangan Pramudya dengan senyum lebar. "Selamat malam, Bapak Pramudya. Sungguh kehormatan bisa bertemu dengan Anda dan putra Anda."
Anya mengamati pria yang sedari tadi tak melepaskan cengkeramannya pada lengan ayahnya itu. Ia heran melihat pria itu terus menunduk, tampak gugup dan tidak nyaman. Pria itu sebenarnya tampan, namun kacamata bulat yang dikenakannya justru membuatnya terlihat aneh dan tidak percaya diri.
Bram mempersilakan Pramudya dan Arga untuk duduk. Suasana menjadi sedikit canggung. Anya bisa merasakan tatapan aneh dari Arga, meskipun pria itu terus menunduk.
"Anya, kenalkan dirimu pada Arga," perintah Bram dengan nada tegas.
Anya menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri menatap Arga. Pria itu memiliki wajah yang tampan, namun matanya terlihat kosong dan sayu. Ada aura kesedihan yang terpancar dari dirinya.
"Selamat malam, Mas Arga. Nama saya Anya Febiola Anggara," ucap Anya dengan sopan.
Arga hanya mengangguk pelan tanpa menatap Anya. Ia tetap menunduk dan menggenggam erat lengan ayahnya.
Pramudya tersenyum maklum. "Maafkan Arga, Anya. Dia memang sedikit pemalu," ucap Pramudya dengan nada yang dibuat-buat.
Anya hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tidak percaya bahwa Arga hanya pemalu. Ada sesuatu yang lebih dari itu.
Makan malam dimulai. Bram dan Pramudya terlibat dalam percakapan bisnis yang serius. Anya hanya bisa diam dan mendengarkan. Ia merasa seperti orang asing di antara mereka.
Sesekali, Anya mencoba mencuri pandang ke arah Arga. Namun, pria itu selalu menunduk dan tidak pernah berbicara. Ia hanya makan dengan gerakan yang kaku dan canggung.
Anya merasa semakin penasaran dengan sosok Arga. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa ia begitu takut dan tidak berdaya? Dan apa yang sebenarnya terjadi di antara Arga dan ayahnya?
"Maafkan kelancangan saya, Bapak Pramudya," ucap Anya hati-hati, memecah keheningan. "Namun, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, meski mungkin sedikit menyinggung."
Pramudya tersenyum tipis, mengangguk dengan anggun. "Silakan, Anya. Tanyakan apa pun yang ingin kau ketahui."
"Apakah Mas Arga memang selalu pemalu seperti ini?" Anya memberanikan diri bertanya. "Atau... apakah Mas Arga terpaksa dengan perjodohan ini?"
Bram menatap Anya dengan tatapan membunuh, kedua tangannya mengepal erat di bawah meja. Sementara itu, Pramudya hanya tersenyum misterius.
"Anya," Pramudya membuka suara, "apakah Ayahmu belum menceritakan apa pun tentang Arga kepadamu?"
Anya menggeleng polos.
"Anya!" Bram membentak, membuat Anya terlonjak kaget.
Tanpa sengaja, mata Anya bertemu dengan mata Arga. Pria itu tampak sangat ketakutan, semakin erat mencengkeram lengan ayahnya.
Anya menunduk, merasakan tatapan tajam ayahnya membakar punggungnya. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan besar dengan menanyakan hal itu.
"Maafkan saya, Bapak Pramudya," ucap Bram dengan nada yang dipaksakan. "Anya memang sedikit lancang. Ia belum mengerti banyak hal."
Pramudya tertawa kecil, namun tatapannya tetap tajam dan menusuk. "Tidak apa-apa, Bapak Bram. Saya mengerti. Anya hanya ingin tahu lebih banyak tentang calon suaminya."
"Justru bagus kalau Anya bertanya," sambung Pramudya. "Karena ada beberapa hal yang memang perlu Anya ketahui tentang Arga."
Bram tampak gelisah. Ia melirik ke arah Anya, lalu kembali menatap Pramudya dengan tatapan penuh tanya.
"Sebenarnya, Arga..." Pramudya berhenti sejenak, lalu menghela napas panjang. "Arga memiliki sedikit masalah kesehatan mental."
Anya terkejut mendengar pengakuan Pramudya. Ia menoleh ke arah Arga, yang masih menunduk dan mencengkeram lengan ayahnya dengan erat.
"Arga mengalami gangguan pada otaknya," lanjut Pramudya dengan nada datar. "Itulah sebabnya ia selalu tampak gugup, ketakutan, dan terkadang bertingkah seperti anak kecil."
Tubuh Anya lemas seketika, hatinya hancur mendengar pengakuan itu. Ia tidak habis pikir mengapa ayahnya menyembunyikan kebenaran ini. Apakah ayahnya sengaja menjebaknya agar ia menerima perjodohan ini?
"Tapi, jangan khawatir," Pramudya menambahkan, tersenyum meyakinkan. "Arga sedang dalam perawatan intensif dan menunjukkan perkembangan positif. Dengan cinta dan dukungan Anya, saya yakin ia akan sembuh total."
Anya memberanikan diri menatap Pramudya. "Maafkan saya, Bapak Pramudya. Seandainya saya tahu kondisi Mas Arga sejak awal... Seandainya ayah saya jujur pada saya... Apakah saya boleh membatalkan perjodohan ini?"
"Saya tidak siap," lanjutnya dengan suara bergetar, "Saya tidak punya pengetahuan atau pengalaman untuk merawat seseorang dengan kondisi seperti Mas Arga. Saya takut saya justru akan memperburuk keadaannya."
Bram tersentak mendengar ucapan Anya. Matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa. "Anya!" bentaknya dengan nada mengancam. "Jaga bicaramu!"
Pramudya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bram tenang. Ia tersenyum tipis ke arah Anya, namun senyum itu tidak mencapai matanya.
"Anya, saya mengerti perasaanmu," ucap Pramudya dengan nada yang tenang namun penuh tekanan. "Namun, pernikahan ini bukan hanya tentang kalian berdua. Ini tentang kelangsungan bisnis keluarga. Ini tentang masa depan banyak orang."
"Arga membutuhkanmu, Anya," lanjut Pramudya. "Dia membutuhkan seseorang yang bisa mencintainya dan menerimanya apa adanya. Saya yakin, kau adalah orang yang tepat untuk itu."
Anya terdiam. Ia merasa terjebak. Di satu sisi, ia tidak ingin menikahi pria yang memiliki masalah kesehatan mental. Ia merasa tidak siap untuk memikul tanggung jawab sebesar itu.
Namun, di sisi lain, ia tidak ingin menghancurkan bisnis keluarganya. Ia tidak ingin membuat ayahnya semakin menderita. Ia tidak ingin mengecewakan Pramudya, yang tampak begitu berharap padanya.
Dewi menggenggam lengan Anya, mencoba menenangkannya. "Sayang, sudahlah... turuti saja permintaan mereka," bisiknya lirih.
Pramudya mencondongkan tubuhnya ke arah Anya, memberikan tatapan yang intens. "Pikirkan baik-baik, Anya," ucapnya dengan nada rendah dan penuh perhitungan. "Ini simbiosis mutualisme. Saya membantu perusahaan Ayahmu, dan kau membantuku menyembuhkan putraku."
"Namun," Pramudya melanjutkan dengan senyum dingin, "jika kau memilih untuk membatalkan perjodohan ini, aku tidak bisa menjamin kelangsungan bisnis Ayahmu."