Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Peter meminta pada dokter untuk pemeriksaan ulang pada istrinya dengan harapan Meta hanya kelelahan saja. Walaupun pemeriksaan itu telah dilakukan sebanyak 2 kali, namun hasilnya tetap sama. Dokter mengatakan pada Peter pemeriksaan kesehatan Meta telah teruji dengan sangat baik dan hasilnya tidak akan meleset yaitu Meta menderita leukimia stadiun 3. Betapa hancur hati Peter mendengarkan pernyataan dokter, Peter tidak pernah menyangka jika Meta akan mengalami semua ini. Sore itu, Hana datang ke rumah sakit setelah Peter menelponnya. Hana masuk ke ruangan Meta, Meta telah dipindahkan ke ruangan khusus pasien dan Meta juga telah sadarkan diri.
Hana: "Hai, Meta." sapanya sambil tersenyum kecil. "Apa yang kamu rasakan?" tanyanya dengan lembut.
Meta: "Tubuhku terasa sangat sakit dan tak bertenaga, Hana." ucapnya dengan pelan. "Kepalaku juga terasa pusing." ucapnya lagi sambil memegang kepalanya. Peter menundukkan kepalanya, kedua matanya berkaca-kaca saat melihat kondisi Meta yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien.
Peter: "Aku membeli minum dulu sebentar, ya ,sayang." ucapnya sambil menatap wajah istrinya yang pucat. Meta hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis kepada Peter. Peter sengaja ke luar dari ruangan istrinya karena ia tidak sanggup melihat kondisi Meta yang lemah dan tak berdaya.
Hana: "Kamu harus kuat, Meta. Aku akan selalu mendoakanmu." ucapnya dengan perasaan tulus. Meta menatap wajah Hana dalam-dalam, ia tersenyum penuh arti kepada Hana.
Meta: "Aku sedih dengan keadaanku, Hana. Perasaanku mengatakan bahwa aku sedang sakit parah." ucapnya pelan dengan ekspresi wajah sedih.
Hana: "Jangan berkata seperti itu, Meta. Kamu akan sembuh dan sehat kembali." hiburnya.
Meta: "Benarkah?" tanyanya dengan rasa tidak percaya. "Kamu hanya menghiburku saja, Hana." ucapnya pelan. "Aku bisa merasakan jika kesehatanku mengalami masalah yang serius." ucapnya dengan penuh keyakinan. Meta menghela nafas berat, ia tahu kesehatannya sedang menurun drastis.
Hana: "Apapun yang kamu rasakan, percayalah bahwa aku akan selalu berada di sampingmu." ucapnya dengan penuh keyakinan. "Jangan putus asa dengan hidupmu, Meta." ucapnya lagi. "Kamu harus bersyukur, Meta. Peter sangat mencintaimu dan selalu berada di dekatmu." ucapnya sambil menatap wajah Meta.
Meta: "Terima kasih, Hana. Aku akan mengingat nasehatmu." ucapnya. Meta bahagia dan merasa terhibur karena Hana selalu memberinya semangat hidup dan selalu setia menemaninya. Peter membuka pintu ruangan kamar Meta dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Peter: "Aku habis bicara dengan dokter, sayang. Dokter mengatakan kamu akan menjalani perawatan dulu di rumah sakit ini." ucapnya sambil menatap wajah istrinya dengan lembut.
Meta: "Artinya, aku akan tinggal lebih lama di rumah sakit ini." ucapnya dengan pelan.
Hana: "Semua demi kebaikanmu, Meta. Kondisimu masih lemah." ucapnya dengan lembut. Meta tertegun, ia menatap wajah Peter dengan tatapan tajam. Meta ingin menanyakan sesuatu yang belum ia ketahui, yaitu penyakitnya.
Meta: "Apa kata dokter tentang penyakitku, Peter? Kamu belum mengatakannya padaku, kan?" tanyanya dengan rasa penasaran. Peter menghela nafas berat, ia menatap wajah Meta lalu menoleh pada Hana.
Peter: "Kamu hanya perlu istirahat yang cukup saja, sayang." ucapnya dengan berbohong.
Meta: "Jujurlah padaku, Peter. Aku berhak tahu tentang penyakitku." ucapnya dengan tegas sambil menatap wajah Peter dengan tatapan tajam. Peter menjadi serba salah, ia tidak ingin membuat Meta menjadi tambah sedih setelah tahu tentang penyakitnya.
Peter: "Kamu akan pulih, sayang. Fokus saja pada kesehatanmu, ya. Jangan pikirkan lagi tentang penyakitmu." ucapnya.
Meta: "Aku memintamu untuk berkata jujur, Peter. Aku akan marah padamu jika kamu membohongiku." ucapnya dengan penuh kekesalan. Hana menatap wajah Peter yang sedikit pucat, Hana merasa tidak nyaman di tengah perbincangan Meta dan Peter.
Hana: "Aku pamit pulang, ya. Aku harus mengurus Kenzo di rumah." ucapnya dengan pelan. "Istirahatlah, Meta." ucapnya sambil tersenyum kecil pada Meta.
Meta: "Hati-hati, ya, Hana." ucapnya pelan. "Kamu akan datang lagi, kan?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Hana: "Iya, Meta. Aku akan sering mengunjungimu." ucapnya lagi dengan yakin.
Peter: "Terima kasih, Hana." ucapnya pelan. Hana membalikkan badannya dan melangkah pelan keluar dari ruangan itu. Setelah Hana pergi, Meta kembali menanyakan pada Peter tentang penyakitnya. Peter menatap wajah Meta dalam-dalam dan berkata: "Dokter mengatakan kamu menderita leukimia stadium 3." ucapnya dengan berat hati dan suara yang terbata-bata. Meta terkejut, ia tidak menyangka penyakitnya akan separah itu. Suasana ruangan kamar Meta seketika menjadi hening, Meta dan Peter sama-sama terdiam.
Meta: "Aku adalah istri yang penyakitan, ya. Dulu aku mengidap kista dan sekarang leukimia." ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
Peter: "Jangan bicara seperti itu, sayang. Apapun kondisimu aku akan selalu berada di sampingmu." ucapnya dengan lembut.
Meta: "Ucapanmu mirip dengan ucapan Hana. Kalian hanya menghiburku saja." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Meta menata wajah Peter dalam-dalam, ia merasa bersalah pada suaminya itu karena belum bisa memberinya seorang anak. "Maafkan aku, Peter. Aku gagal menjadi seorang istri." ucapnya dengan perasaan tertekan.
Peter: "Mengapa kamu berkata seperti itu, sayang?" tanyanya pelan. "Kamu sangat sempurna sebagai seorang wanita dan istri bagiku." ucapnya dengan lembut.
Meta: "Berhentilah menghiburku, Peter. Aku tahu jika aku adalah wanita yang gagal." ucapnya dengan suara yang agak keras. "Kamu hanya ingin menghiburku dengan perkataan manis." bentaknya. Peter terdiam mendengar teriakan Meta, ia memahami perjuangan Meta untuk menjadi seorang ibu selama ini sangat panjang dan belum menunjukkan hasilnya, sekarang Meta harus berjuang dengan penyakitnya.
Peter: "Jangan putus asa, Meta. Penyakitmu bisa sembuh dengan cara di kemo." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Meta: "Aku lebih menyukai sebuah kejujuran, walaupun kejujuran itu menyakitkan." ucapnya. "Harapan palsu hanya akan membodohi pikiran." ucapnya lagi dengan bijaksana. "Aku tahu penyakitku ini berbahaya, Peter." ucapnya dengan pelan. "Aku akan belajar ikhlas untuk menerima semuanya." ucapnya dengan wajah tenang. Peter menghela nafas berat, kedua matanya mulai berkaca-kaca. Peter duduk di tepi ranjang istrinya, ia memegang tangan istrinya dan mencium kening Meta dengan lembut.
Peter: "Kita akan menghadapi berdua, sayang. Aku akan tetap berada di sampingmu." ucapnya dengan penuh perasaan. "Lupakan saja tentang anak dan kandunganmu, ya. Fokus saja pada kesehatanmu." ucapnya dengan lembut. "Banyak pasangan yang menikah hanya hidup berdua dengan pasangannya." ucapnya dengan bijaksana.
Meta: "Apakah kamu tidak akan memikirkannya lagi?" tanyanya pelan.
Peter: "Tentu saja tidak, sayang. Kita akan fokus pada kesehatanmu saja, ya." ucapnya dengan penuh keyakinan. Meta menatap wajah suaminya sambil tersenyum tipis, ia terharu campur bahagia mendengar pernyataan Peter.
************************************