Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Atas Awan
Langkah ke-500.
Bagi sebagian besar peserta, ini adalah garis finish. Titik di mana gravitasi terasa lima kali lipat lebih berat dari normal, menekan paru-paru hingga sulit bernapas.
Di platform istirahat langkah ke-500, Han Gemuk ambruk terlentang, dadanya naik-turun dengan cepat. Keringat membasahi seluruh jubahnya seolah dia baru saja kehujanan.
"A-aku... berhasil..." Han tertawa di sela napasnya yang putus-putus. "Aku lulus... Ibu, anakmu jadi Murid Dalam!"
Li Tian berdiri di sampingnya, tidak terlihat lelah sedikit pun. Napasnya masih teratur, seolah dia baru saja berjalan-jalan di taman.
"Kau tidak mau lanjut, Han?" tanya Li Tian. "Hadiah di langkah ke-800 lumayan, lho."
Han melambaikan tangannya lemah. "Jangan gila, Tian. Tulangku rasanya mau remuk. Batasku ada di sini. Pergilah. Tunjukkan pada para bangsawan sombong itu bagaimana cara orang miskin memanjat."
Li Tian tersenyum, menepuk bahu sahabatnya, lalu berbalik menatap sisa tangga yang menjulang menembus lapisan awan.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
Li Tian kembali melangkah. Kali ini, dia tidak berjalan santai.
Dia mulai berlari.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kakinya yang ringan bergema di tangga batu, menarik perhatian peserta lain yang sedang merangkak susah payah di langkah ke-600.
"Hei, lihat itu!" "Siapa orang gila itu? Dia berlari?!" "Itu Li Tian! Juara Kompetisi Luar!"
Li Tian melesat melewati mereka seperti angin. Tekanan gravitasi yang meremukkan tulang bagi orang lain, baginya hanyalah beban latihan ringan. Tulang Emas-nya bersinar samar di balik kulit, meniadakan tekanan tersebut.
Langkah ke-700. Langkah ke-800.
Di sini, jumlah peserta mulai menipis drastis. Hanya tersisa sekitar lima puluh orang jenius dari berbagai kota dan klan.
Li Tian tidak berhenti. Dia terus naik.
Di langkah ke-850, dia melihat punggung seseorang yang familier.
Zhao Feng.
Jenius dari Kota Awan Putih itu sedang berjalan dengan langkah berat namun stabil. Keringat bercucuran di wajah tampannya, tapi harga dirinya menahannya untuk tidak berhenti.
Tiba-tiba, Zhao Feng merasakan hembusan angin dari belakang. Dia menoleh dan matanya membelalak.
Seseorang baru saja melewatinya. Bukan dengan merangkak, tapi dengan melompat dua anak tangga sekaligus!
"Kau..." Zhao Feng mengenali wajah itu. "Murid Luar itu?"
Li Tian menoleh sekilas, tersenyum tipis. "Permisi, Tuan Muda. Jalannya agak sempit."
Tanpa menunggu balasan, Li Tian terus melesat naik.
Wajah Zhao Feng memerah padam. Dipermalukan oleh sampah desa di ujian ketahanan fisik? Tidak bisa dimaafkan!
"Jangan sombong!" teriak Zhao Feng. Dia memaksakan Qi-nya, mencoba mengejar. Namun tekanan di sini bukan hanya fisik. Mulai langkah ke-900, Tekanan Jiwa yang sesungguhnya dimulai.
Li Tian menginjak langkah ke-900.
DUMMM!
Sebuah palu tak kasat mata menghantam kepalanya. Pemandangan di sekitarnya berubah. Tangga batu itu menghilang, digantikan oleh ilusi lautan api neraka.
Ilusi Mental. Ujian bagi keteguhan hati.
"Ilusi murahan," cemooh Zu-Long di dalam jiwanya. "Aumkan saja."
Li Tian tidak perlu membuka mulutnya. Dia membiarkan sedikit aura Naga dari sarung tangannya bocor keluar.
ROAAAR! (Dalam Jiwa)
Lautan api ilusi itu seketika padam, hancur berkeping-keping seperti kaca pecah. Pemandangan kembali normal menjadi tangga batu yang dingin.
Li Tian tidak berhenti sedetik pun. Dia terus naik.
Langkah ke-950. Langkah ke-980.
Di depan sana, hanya ada satu sosok yang tersisa.
Su Yan.
Gadis itu berdiri di langkah ke-990, hanya sepuluh langkah dari puncak. Tubuhnya gemetar hebat. Wajah cantiknya pucat pasi, bibirnya membiru. Gaun putihnya basah oleh keringat dingin.
Dia telah mencapai batasnya. Tekanan di sepuluh langkah terakhir setara dengan gunung yang menimpa jiwa.
"Aku... tidak boleh... gagal..." desis Su Yan, memaksakan kakinya untuk melangkah. Namun kakinya terasa seperti timah cair. Dia terhuyung, hampir jatuh ke belakang.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menahan punggungnya.
Su Yan tersentak kaget. Dia menoleh dan melihat sepasang mata jernih yang menatapnya dengan tenang.
"Hati-hati," kata Li Tian. "Jatuh dari sini sakit."
Su Yan tertegun. Pemuda ini... dia berdiri di langkah ke-990 bersamanya, tapi napasnya bahkan tidak terengah-engah? Siapa dia? Monster dari mana?
Su Yan menepis tangan Li Tian pelan, harga dirinya sebagai putri Tetua Agung terusik. "Aku tidak butuh bantuan."
"Tentu saja tidak," Li Tian mengangkat bahu, menarik tangannya kembali. "Aku hanya tidak ingin ada yang menghalangi jalan turun nanti."
Li Tian melangkah maju, melewati Su Yan.
Mata Su Yan melebar. Dia... masih bisa jalan?!
Li Tian menginjak langkah ke-999. Tekanannya luar biasa berat sekarang. Tulang emasnya berderit pelan.
"Satu lagi," batin Li Tian.
Dia mengangkat kakinya, melawan kehendak langit yang mencoba menekannya ke bawah, dan menghentakkannya ke lantai panggung di puncak tebing.
Langkah 1.000.
WUUUNG!
Seluruh tekanan seketika lenyap. Udara segar yang sangat murni menyambutnya.
Li Tian berdiri tegak di puncak Gerbang Naga Tersembunyi, menatap lautan awan yang kini berada di bawah kakinya. Dia adalah orang pertama yang mencapai puncak.
"Luar biasa."
Suara tepuk tangan pelan terdengar. Tetua Guntur, yang melayang di udara, menatap Li Tian dengan senyum lebar.
"Seorang Murid Luar, menaklukkan Tangga Seribu Langkah dalam waktu kurang dari setengah batang dupa. Rekor baru."
Beberapa detik kemudian, Su Yan akhirnya menginjakkan kakinya di puncak. Dia jatuh berlutut, terengah-engah, menatap punggung Li Tian dengan tatapan rumit. Ada rasa kesal, malu, tapi juga pengakuan di matanya.
Zhao Feng menyusul lima menit kemudian, wajahnya gelap seperti awan mendung.
Li Tian berbalik, menatap kedua jenius itu. Dia tidak menyombongkan diri, hanya tersenyum tipis.
"Pemandangan di atas sini bagus," kata Li Tian santai.
Su Yan berdiri perlahan, mengatur napasnya kembali menjadi dingin dan elegan. Dia berjalan mendekati Li Tian.
"Siapa namamu?" tanya Su Yan. Ini pertama kalinya dia bertanya nama seorang laki-laki seumur hidupnya.
"Li Tian."
"Li Tian," ulang Su Yan, seolah mencatat nama itu dalam-dalam di ingatannya. "Aku akan mengingatnya. Tapi jangan pikir kau sudah menang. Ini baru ujian fisik. Ujian berikutnya adalah Potensi Bakat. Di sana, Tulang Emas-mu tidak akan membantumu."
Li Tian terkekeh. "Kita lihat saja nanti, Nona Su."
Tetua Guntur mendarat di hadapan mereka.
"Selamat, kalian bertiga adalah yang tercepat. Terutama kau, Li Tian. Sesuai janji, kau berhak mengajukan satu permintaan wajar kepada Sekte."
Mata semua orang tertuju pada Li Tian. Apa yang akan dia minta? Senjata pusaka? Teknik tingkat tinggi? Atau menjadi murid langsung Tetua?
Li Tian berpikir sejenak. Dia teringat Cakar Naganya. Zu-Long pernah bilang dia butuh material logam langka untuk memperbaiki struktur sarung tangan itu agar bisa menahan Gandakan level lebih tinggi.
"Saya ingin akses bebas ke Gudang Rongsokan Kuno Sekte Dalam selama satu hari," kata Li Tian.
Hening.
Tetua Guntur mengerutkan kening. "Gudang Rongsokan? Tempat pembuangan artefak rusak? Kau yakin? Kau bisa meminta Pedang Kelas Roh, nak."
"Saya yakin, Tetua. Saya suka... barang antik," jawab Li Tian dengan senyum misterius.
Di dalam jiwanya, Zu-Long tertawa terbahak-bahak.
"Pilihan cerdas, Bocah! Di mata manusia, itu sampah. Di mata Naga, itu adalah prasmanan logam langka!"
Tetua Guntur menggelengkan kepala, tidak habis pikir, tapi dia mengangguk. "Baiklah. Permintaan dikabulkan. Sekarang, istirahatlah. Ujian Tahap Kedua akan dimulai besok pagi."
Li Tian menatap langit. Langkah pertama di dunia para jenius telah dia ambil. Dan dia baru saja membuat pernyataan perang kepada seluruh Sekte Dalam.