Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Angkasa mendekati sang adik yang sedang tidur dengan keadaan yang membuatnya sangat marah. Ingin rasanya dia tahu adiknya sedih karena apa dan oleh siapa tapi rasanya dia tak bisa membicarakan itu sekarang.
Angkasa membenahi rambut adiknya yang menutupi wajahnya. Angkasa sungguh dibuat sakit ketika melihat keadaan adiknya dengan air mata yang masih membasahi wajahnya dan matanya yang bengkak.
"Apa yang terjadi sama kamu dek hingga kamu seperti ini," lirih Angkasa sambil membelai lembut wajah adiknya. Tapi Angkasa merasakan hangat tubuh sang adik.
"Adek kok hangat ya?"
"Adek kenapa Bang?" tanya Angga.
"Dek coba ambilin termometer badan adek kayaknya hangat."
Angga dengan sigap langsung membawa termometer yang diminta kakaknya. Angkasa langsung menggunakan termometer yang dibawa Angga.
"Yah adek demam," seru Angkasa.
"Kita bawa adek langsung ke rumah sakit aja. Ayah mau siapin mobilnya. Angga siapkan baju adek," seru ayahnya sambil memegang dahi Anggie untuk memastikan.
Angkasa langsung menggendong adiknya.
Tanpa membutuhkan waktu lama kini mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Anggie langsung ditangani oleh dokter. Anggoro dan ke dua anaknya menunggu dengan cemas di luar ruangan hingga dokter pun akhirnya keluar.
"Dok bagaimana keadaan anak saya?"
"Saya belum bisa memastikan tapi sepertinya anak anak mengalami trauma. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya dokter.
Anggoro hanya diam membisu mendengar pernyataan yang dikatakan dokter.
"Trauma dok?" tanya Angkasa.
"Trauma apa dok?" tanya Angga memastikan.
"Nanti akan saya sarankan untuk ke psikolog saja. Kalau begitu saya permisi dulu nanti akan segera di pindahkan ke ruang perawatan."
Di ruang perawatan Anggie sudah sadar dan di tunggu oleh Angga dan Angkasa sedangkan Anggoro ijin untuk pergi keluar sebentar.
"Adek ada apa?" tanya Angkasa.
"Siapa yang udah nyakitin lo dek? Bilang sama Abang biar Abang yang kasih pelajaran sama dia," Angga menggebu-gebu tapi dia mendapat tatapan tajam dari kakaknya.
"Dek jangan dulu," bisik Angkasa dan Angga pun langsung terdiam.
"Adek ada yang sakit?" Anggie hanya menggeleng.
"Adek mau makan?" tanya Angkasa penuh perhatian dan lagi-lagi Anggie menggeleng.
Kedua kakaknya menghibur adiknya dengan banyak cerita tapi Anggie hanya menyimak saja. Tak lama kemudian pintu terbuka dan ayahnya masuk seketika itu Anggie langsung kembali tidur dan di tutupi selimut.
"Adek gimana Bang?" tanya ayahnya sambil mendekati ranjang Anggie.
"Katanya nanti di suruh menemui psikiater karena adek mengalami trauma berat," jelas Angkasa.
"Me-memangnya adek trauma kenapa?" tanya Anggoro sedikit gugup.
"Gak tahu Yah. Abang belum bisa menanyakan hal itu sekarang sama adek karena keadaan adek masih belum bisa diajak bicara juga."
"Bunda udah dikasih tahu?"
"Udah tadi sama Angga katanya hari ini Bunda langsung terbang ke sini mungkin nanti malam baru sampai."
Anggoro sebenarnya merasa takut kalau misalkan anaknya sampai bicara sama ibunya atau kakak-kakaknya.
"Ayah dari mana?" tanya Angga.
"Tadi... Ada teman ayah yang kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini juga. Ayah gak enak kalau gak gak nemuin dulu apalagi dia atasan ayah."
Ayahnya bekerja disebuah perusahaan sebagai asisten dan dia sangat dipercaya oleh atasan sampai dia selalu ditunjuk untuk pergi ke luar kota mengurus pekerjaan pimpinannya.
Keluarga mereka pun sudah saling kenal makanya pimpinan perusahaannya sudah sangat percaya pada Anggoro.
***
Beberapa jam yang lalu
Anggie pulang dari cepat dari sekolah karena dia memang kebetulan sudah selesai ujian. Ibunya sedang pergi ke Solo karena neneknya sakit jadi gak ada yang datang menjemput.
Angkasa dan Angga pun tidak bisa menjemput karena memang sedang sekolah dan kuliah juga. Hingga akhirnya Anggie memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki.
Saat di rumah terlihat seperti karena memang di rumah Anggie tidak menggunakan asisten rumah tangga dan semua di urus ibunya.
Anggie masuk dan kondisi rumah tidak di kunci.
"Kok gak di kunci? Apa Abang lupa?" Anggie pun akhirnya masuk saja namun saat masuk Anggie mendengar orang yang sedang ngobrol di kamar ibunya. Anggie sebenarnya takut kalau itu adalah maling hingga Anggie pun membawa sapu dan memberikan diri untuk membuka pintu kamar.
Namun Anggie terkejut saat melihat kamar ternyata di sana ada ayah dan seorang wanita yang begitu dia kenal.
Rasti.
Dia Rasti sahabat ibunya yang sedang tidur di kamar ibunya dengan tanpa busana bersama ayahnya.
Anggie yang memang sudah besar dan mengerti apa yang dilakukan orang dewasa apalagi dengan kondisi tanpa busana walaupun gak tahu apa saja yang dilakukan mereka tapi Anggie begitu kecewa dengan apa yang dilakukan ayahnya.
Orang yang begitu Anggie sayang dan sebagai cinta pertamanya tapi berbuat seperti itu dan membuat hatinya kecewa dan marah.
"Ayah," lirih Anggie.
"Anggie," seru Anggoro pelan.
Anggie lari menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Anggoro dan Rasti pun seketika panik saat melihat anaknya memergoki dirinya yang sedang tidur dan tanpa busana.
"Bagaimana ini Mas?" Rasti panik.
"Sekarang kamu cepat pake baju dan pulang aku takut nanti anak-anak yang lain pada pulang dan melihat kita. Masalah Anggie biar aku yang atur."
"Kamu harus pastikan dia gak akan bicara kepada siapapun."
Rasti pun pergi setelah menggunakan bajunya lagi. Anggoro langsung pergi menuju kamar Anggie untuk membujuk anaknya supaya keluar dan gak bilang apapun kepada siapapun.
Anggoro akan memberikan apapun kepada Anggie agar tidak membocorkan apa yang dia lihat.
Tok
Tok
"Dek buka pintunya, ini Ayah."
Tidak ada sahutan dari dalam kamar hingga akhirnya Anggoro terus menggedor pintu kamar. Tak lama kemudian Angkasa datang dan di susul Angga juga.
"Ada apa Yah?" tanya Angkasa.
"Adek dari pulang sekolah gak mau keluar kamar."
"Memangnya kenapa yah?"
"Ayah juga gak tahu dari ayah pulang adek di dalam kamar ayah gedor-gedor juga gak keluar."
tok
Tok
"Dek ini Abang buka pintunya," seru Angkasa.
"Bang kita pake kunci cadangan aja," imbuh Angga.
"Cepat kamu ambil kuncinya Ga."
Angga dengan gesit langsung membawa kunci cadangan dan membukanya.
Mereka melihat Anggie yang tertidur dengan kepala di tutup bantal.
Angkasa langsung mengambil bantal yang di pake buat menutup wajahnya lalu membenahi rambutnya yang kena wajah.
Angkasa melihat wajah adiknya basah juga matanya sedikit bengkak Angkasa menebak pasti adiknya sudah menangis hingga dia tertidur.
"Adek kamu kenapa sih?"
Angga yang melihat kondisi adiknya seperti itu membuat hatinya merasa sakit dia juga merasa sudah gagal jadi kakak untuk melindungi adiknya.
Pesan yang ibunya bilang untuk menjaga adik perempuan satu-satunya kini mereka sudah lalai.