NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru di masa depan

 Suasana siang di rumah Adit...

  Mereka duduk santai di depan layar televisi, menikmati hari-hari akhir masa liburan sekolah.

  "Kakak Rama sekarang sudah terlihat besar ya, bu?" Adit bertanya pada Arumni, "lihat saja jerawat mulai muncul di pipi, tuh kan di dahi juga ada." Adit mengoda Rama sambil menunjuk jerawat Rama yang ada di pipi dan dahi.

 "Hmm, iya." Imbuh Arumni, "suaranya juga sudah mulai berubah menjadi lebih berat, namanya suara apa itu, yah?" Gurau Arumni.

 "Suara bariton." Jawab Adit sambil duduk di samping Rama, dengan satu kaki menopang kaki yang lainnya, tangannya melebar memeluk Rama dari samping. Adit masih menyayangi Rama dengan cara yang tak pernah berubah— dari pertama ia bertemu Rama di rumah bu Ninik hingga kini. "Apa cita-cita mu, Rama?" Tanya Adit santai.

 "Aku mau jadi Guru seperti mbah kakung," jawabnya.

 Arumni menoleh, "apa? Jadi guru? Kok berubah, Rama?"

 "Jadi guru?" Timpal mama Alin, "itu tugas yang mulia, oma suka. Tapi apa alasan mu, ingin menjadi guru?"

  Mama Alin sudah bisa menerima Rama, meskipun terkadang tidak suka jika melihat kedekatan Galih dan Arumni. Mama Alin berusaha memahami bahwa sampai kapanpun mereka pasti akan selalu berhubungan dekat, dan tidak bisa dihindari.

  "Aku ingin menjadi guru seperti mbah kakung, menjelaskan hal-hal baru pada murid-murid ku, aku ingin membuat murid-murid ku suka belajar dan menjadi lebih pintar, sepertinya sangat membahagiakan untuk aku, oma." Rama menjelaskan pada oma dan semua orang.

 "Hebat, sayang!" Ucap Adit merasa bangga.

 "Wah, hebat kaka Rama." Ucap Tya yang disertai acungan jempol.

 "Tapi, sebelumnya kamu bilang mau jadi polisi, Rama?" Arumni mengingatkan.

 Adit menoleh dengan posisi yang masih seperti tadi, "iya, Rama. Kenapa kamu berubah pikiran?"

 "Karena aku tidak ingin bekerja sift malam atau harus siap sedia 24 jam," kata Rama yang dijawab anggukan oleh Adit. "Aku tidak mau menghadapi situasi yang membahayakan untuk diriku, ayah! Apa lagi jika harus membuat keputusan yang sulit. Menjadi guru itu bisa lebih santai dan tidak terlalu beresiko." Penjelasan dari Rama.

 "Semua pekerjaan pasti punya resiko, Rama. Guru juga—" kata Arumni yang disela Adit.

 "Guru juga bisa menghadapi situasi yang sulit," Adit menyela sambil melirik sang istri. "Iya kan, sayang?" Pertanyaan itu untuk Arumni namun tatapannya tertuju pada Rama.

  Arumni diam mendengarkan, tidak tahu maksud dari ucapan suaminya itu.

 "Emm, kesulitannya mungkin... jika ada yang bolos sekolah, terus kita harus ambil tindakan tegas, atau para siswa akan tetap melakukan hal yang sama, gitu ya, ayah?" Jawab Rama.

 "Untung ibu bukan murid mu ya, Rama?" Ucap Adit disertai gelak tawa untuk menyindir Arumni.

 Baru saja Arumni akan membuka mulut untuk membela diri, Adit sudah lebih dulu memotongnya. "Tuh, benar kan, Rama? Ibu mau membela diri," Adit merasa sangat puas membuat Arumni terdiam.

  Arumni menyilangkan lengannya dengan kerutan tipis di dahi, bibirnya terkatup rapat, enggan memberi komentar.

 "Jadi ibu, suka bolos?" Saut Tya.

 "Nggak Tya...ayah mu berbohong, memangnya dari mana ayah tahu, kalau ibu bolos?" Ucap Arumni membela diri. "Ayah sama ibu itu bukan satu angkatan, lagi pula ayah sama ibu nggak pernah satu sekolah." Katanya.

  "Om Galih juga nggak pernah satu sekolah, tapi dia tahu kalau ibu sering bolos." Ucapan Adit yang menjebak.

 "Ya, jelas tahu. Orang mas Galih yang—" Arumni terdiam saat menyadari suaminya itu sedang menjebak.

 Rama tertawa bahagia, rasa ingin tahunnya jadi bertambah. "Oh, jadi ibu sama ayah suka bolos ya?"

 Mama Alin hanya tersenyum mendengar candaan hangat diantara mereka. Mama Alin jadi merasa, hubungan masa lalu tidak selalu harus dihilangkan, karena dibuat candaan pun justru semakin membuat suasana menjadi lebih hangat. Dan yang terpenting bagi mama Alin adalah kebahagiaan anak-anak nya.

 "Nggak Rama, ayah berbohong." Arumni membela diri.

 "Iya, ayah yang bohong." Adit seolah mengakui, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Bukan ibu dan ayah mu yang bolos, tapi ayah mu yang sering ngajak bolos, kira-kira begitulah, Rama."

 Arzetya menghampiri ayahnya, "ayah." Ucapnya sambil bermanja dengan sang ayah.

 Adit membelai rambut anaknya yang lurus dan panjang, "iya, sayang..." Kedua anak itu begitu dekat dengan Adit.

  "Aku suka heran sama hubungan orang-orang dewasa." Kata Tya.

 Adit meninggikan alisnya, "memangnya kenapa, sayang? Apa yang membuatmu heran?"

  "Om Galih sama ibu pernah menikah, punya anak kak Rama. Lalu ibu menikah lagi sama ayah, terus aku yang jadi anaknya." Tya menghembuskan napas, "sungguh hubungan yang rumit." Ucapnya sambil melipat tangan.

  "Tya... kakak Rama itu—" Ucap mama Alin yang langsung dipotong oleh Adit.

 "Ma." Adit memberi isyarat agar mamanya tidak perlu menjelaskan, lalu kembali kepada Tya. "Kamu akan paham setelah dewasa nanti, sayang." Ucapnya tenang.

"Aku setuju sama Tya," pendapat Rama. "Orang dewasa memang suka kerumitan, kadang aku suka iri—ibu selalu ada buat Tya, tapi belum tentu ada buat aku." Rama jadi bersedih saat mengingat di mana ada hal-hal penting, tanpa kehadiran ibunya.

Arumni terdiam menunduk, ia bingung harus bagaimana? Sedangkan Rama memang bukan anaknya, bagaimana ia akan menjelaskan pada Rama?

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!