Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Selamanya bersamamu. Itulah janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Bhima terlihat tergesa memasuki ruang keluarga.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mama Bhima.
"Nggak ada apa-apa Ma. Cuma ada hal yang penting," jelas Bhima.
"Makan dulu."
"Bentar Maa."
Bhima menaiki tangga dan memasuki kamar. Tak lupa pintu kamar ia kunci agar mama tidak bisa masuk. Ia ingin konsentrasi pada masalah bullying yang dialami kekasihnya, Xeline.
Bhima mengirim pesan pada Gama
Cepatlah minta maaf pada ibu Xeline agar masalah ini tidak semakin besar. Selebihnya biar aku yang akan mengatasi
Balas Gama
Aku nggak tahu bila ternyata Xeline adalah korban bullying Bhim. Aku minta maaf.
Bhima
Besok lagi jangan diulangi lagi. Aku yang jadi tanda jaminan di sini. Bila kamu mengulangi, aku taruhannya
Gama membalas
Okeyy Bhim. Aku nggak akan mengulangi lagi.
Bhima membalas
Kurangi kata kasarmu, baik pada temanmu pada orang yang lebih tua. Lebih sopan santun lagi. Berubah lebih baik. Jangan seperti itu lagi. Kita sudah kelas dua belas. Jaga sikap baik hingga lulus.
Gama membalas
Okeyy Bhim. Aku nggak akan mengulanginya lagi.
Berselang sepuluh menit, Bhima mengirim pesan pada Mara.
Bhima : Bu, aku minta maaf. Tadi aku ikut campur masalah ibu sama Gama. Tapi tadi dia sudah saya tegur. Makanya ia langsung minta maaf ke Ibu
"Oh ternyata Gama mau minta maaf karena suruhan Bhima. Bukan karena keinginan Gama sendiri dan merasa bersalah. Aku sudah merasa ada yang tidak beres di sini," batin Mara.
Mara membalas
Kamu nggak usah bohong lagi. Tadi dia juga sudah mengaku ke saya kalau dia tidak mengirimkan pesan Wa. Semua yang WA itu kamu
Bhima : Bu, bukannya aku membela Gama. Tapi dia kan sudah minta maaf sama Ibu
Aku juga minta maaf karena sudah nggak jujur sama ibu. Aku takut ibu akan memarahi Xeline juga. Xeline sudah kelihatan bahagia di sekolah karena memiliki teman. Bila masalah ini nenjadi semakin besar, aku takut dia nggak punya teman di sekolah. Ibu mengerti ketakutanku bukan?
Mara : Xeline nggak punya temen juga nggak apa-apa kok. Buat apa punya temen kalau suka bully? Benerin proses pasca bullying juga nggak mudah
Bhima : Jangan bilang begitu Bu. Tolong sudah gitu aja. Gama suruh ngapain biar ibu mau maafin dia. Nanti biar saya yang bilang ke dia. Anak-anak di kelas semua nurut sama aku.
Mara : Kamu nggak usah ikut campur dalam masalah ini. Temanmu juga nantangin Ibu Kok. Katanya Xeline itu drama
Bhima : Ibu mintanya gimana saat ini? Aku nggak ikut campur lagi masalah ini. Tapi aku minta, masalah ini jangan diperbesar. Ibu tahu kan akibatnya bila masalah ini semakin besar? Xeline akan jadi bahan omongan di sekolah dan dia akan semakin tertekan lebih dari ini. Aku minta itu saja Bu
Mara : Biasa saja. Gunjingan atau omongan orang itu selalu ada. Tapi setidaknya aku sebagai Ibunya sudah membela saat Xeline harga dirinya diinjak seperti ini? Siapa lagi yang akan membela Xeline kalau bukan aku. Ibunya sendiri.
Bhima : Aku saja yang diinjak nggak apa-apa bu. Aku rela. Aku sudah berusaha agar semua tetap baik-baik saja. Tapi bila Ibu tidak menganggap semua usaha yang telah kulakukan, ya sudah. Nggak apa-apa. Tapi, aku berani bertanggungjawab Gama nggak bakal mengulangi kesalahannya lagi. Bila ia masih Mengulangi kesalahan ini lagi, tandain aku Bu. Aku rela ibu melakukan apapun sama aku. Silahkan tampar, pukul atau menginjak tubuhku juga boleh. It's okeyy
Bhima : Ibu
Bhima : Ibu
Bhima : Ibu
Bhima : Ibu
Bhima : Ibu
Bhima : Ibu belum yakin padaku soal melindungi Xeline? Okeyy deh nggak apa-apa. Soalnya aku tadi juga nggak tahu kalau Gamma berkata seperti itu karena aku pas nggak bawa HP. Andai aku tahu dari sebelum berangkat kerja kelompok, aku sudah memarahi Gama
Mara : Kamu melindungi Xeline? Wong kamu saja saat Xeline ada masalah dengan Queen, kamu membela Queen. Bukan Xeline. Sekarang saat Xeline ada masalah dengan Gama, kamu juga membela temanmu itu. Setelah melihat ini semua, apa saya bisa percaya lagi sama kamu setelah dua kali kejadian seperti ini?
Bhima : Pesan dihapus
Bhima : pesan dihapus
Bhima : Pesan dihapus
Bhima : Pesan dihapus
Bhima : Pesan dihapus
Bhima mengirimkan pesan tentang penjelasan saat ia lebih membela Queen daripada Xeline dan membela Gama. Tapi pesan itu segera dihapus agar tidak membuat Mara semakin tidak nyaman.
Bhima mengirim pesan
Ibu percaya atau tidak percaya sama aku, nggak apa-apa. Terserah Ibu.
Aku sudah lepas tangan untuk masalah Gama ini.
Mara membalas wa dari Bhima
Aku juga nggak minta kamu ikut dalam masalahku dengan Gama kok
Bhima kembali menghapus lima pesan yang telah ia kirim ke Mara.
Bhima mengirim pesan kembali
Kutunggu ibu dalam keadaan kepala dingin dulu. Bila sudah dingin, Ibu wa saja ke aku
Bhima: Bu, apa aku salah telah menjawab WA dari ibu dan meminta maaf atas nama Gama?
Bhima : Bila aku salah, tolong Ibu jawab
Bhima : Bila Ibu online, bales wa ku please
Bhima melihat status WA Ibu Xeline dan mengomentari postingan tersebut
Bhima : Bu, aku pengen tahu bagaimana cara menghilangkan trauma pada Xeline
Bhima : Bu, aku minta maaf tidak bisa menjadi pacar Xeline yang patuh pada ibu
Mara terlihat mengetik dan mengirim pesan pada Bhima
Saya juga nggak minta kamu patuh sama saya. Toh kalian masih pacaran. Bukan kewajiban kamu untuk patuh padaku, Ibunya Xeline. Maaf bila selama ini saya telah merepotkan kamu
Bhima : Bukannya begitu Bu. Aku minta maaf bila aku kurang patuh pada Ibu dan sering ikut campur pada masalah Ibu karena dalam masalah ini aku juga salah karena sudah mengirim wa atas nama Gama.
Bhima : Aku juga masih ingin bersama Xeline. Boleh nggak Bu?
Bhima : Untuk masalah ini aku lepas tangan
Marah menatap chat beruntun dari Bhima. Mara fokus pada kata lepas tangan dan mengira Bhima meminta putus dari Xeline.
Mara mengirim pesan
Maksudmu apa ini? Apa kamu ingin putus sama Xeline? Nggak apa-apa kok. Saya santai sekali. Biar Xeline selesai dulu dengan dirinya sendiri, trauma bullying dan trauma yang ia dapat selama ini
Disisi lain Bhima begitu kaget saat melihat pesan dari Mara dan segera membalas pesan
Aku nggak ingin putus sama Xeline. Ibu masih merestui hubungan kami kan? Aku minta Ibu jangan salah paham sama aku.
Mara mengirim pesan
Nanti saja kamu bertemu dengan Xeline, jika ia sudah selesai dan berdamai dengan dirinya sendiri dan semua traumanya. Tapi maaf. Saya nggak bisa janji berapa lama semua trauma itu akan selesai.
Bhima : Aku nggak ingin putus
Bhima : Nggak
Mara : Alangkah lebih baik mas Bhima mencari perempuan normal saja. Perempuan yang tidak memiliki trauma seperti Xeline
Bhima : Nggak
Bhima : Nggak
Bhima : Nggak
Mara : Anak saya nggak bisa buat tempat cerita. Nggak bisa buat tempat ngobrol
Bhima : Nggak
Marah : Xeline nggak bisa diajak main di luar rumah. Dia tidak nyaman bila di luar rumah.
Bhima : Nggak
Mara : Xeline nggak bisa diajak ngobrol kayak cewek normal lainnya sudah
Bhima : Cukup Bu. Aku sudah merasa cukup bersama Xeline
Mara : Maafkan anak saya bila ada kesalahan selama tiga bulan kalian menjalin pacaran ini.
Ibu Xeline memberi emoticon tangan telungkup tanda minta maaf.
Bhima : Bu
Bhima : Please
Bhima : Aku nggak ingin putus
Bhima : Please
Bhima : Maksudku aku lepas tangan itu masalah Gama. Bukan Xeline
Bhima : Bu, please
Bhima : Aku pengen bantu sebisaku
Bhima : Bu
Bhima melakukan panggilan berulang kali, tapi tidak dijawab oleh Mara.
Bhima mengirim pesan pada Mara.
Oh my God. Bu. Please. Jawab teleponku
Bhima : Aku masih ingin bersama Xeline
Bhima : Bu
Bhima : Bu
Bhima : Bu
Bhima : Please aku masih ingin bertahan dengan hubungan ini
Ponsel Bhima terjatuh di kasur begitu saja, sementara ia terduduk di sisi bawah peraduan. Air mata menetes perlahan di pipi.
Ia mengambil ponsel dan menyentuh aplikasi berwarna hitam yang full berisi video. Ia mencari akun milik Xeline dan mengetik sesuatu di sana
Cinta, kumohon bertahanlah. Aku tak ingin hubungan kita runtuh. Kumohon tetaplah bersamaku please
Aku cinta kamu, My luv
Bhima mengirim pesan itu. Entah kapan Xeline akan membalas pesannya, tak tahu. Hatinya begitu bingung.