NovelToon NovelToon
Bad Girl Vs Ice Boy

Bad Girl Vs Ice Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: blue rose

Ig: @nabilakim28

"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-

Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.

Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?

"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-

Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!

Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?

Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ketigapuluh

Aku takut kamu terluka karena aku

-Hera-

SE L A M A T  M E M B A C A

Sudah berselang seminggu Sean dirawat di rumah sakit, dan selama itu juga Hera jadi jarang pulang ke rumah dan terus menjaga Sean. Keluarga Sean terus berkunjung, dan terkadang 5 prince bolos sekolah untuk mengunjungi Sean. Hera mengambil cuti selama Sean di rawat, baginya hal itu bukan masalah besar ... karena dia sudah pernah mempelajari semua pelajaran itu dengan baik. Yang penting sekarang ada kesehatan Sean.

Dokter baru saja melakukan pemeriksaan, "ma, katanya Sean baik-baik aja ... ini udah seminggu tapi dia belum sadar." Hera menatap Sean yang terbaring dengan khawatir. Mama Hera selaku dokter yang menangani Sean berkata, "seharusnya dia bentar lagi akan sadar."

Mama Hera menepuk bahu anaknya, dia tau anaknya sangat khawatir dengan Sean. "Kamu gak pulang lagi kan hari ini?" tanya mama Hera. Hera mengangguk mengiyakan hal tersebut. Dia memang sudah beberapa hari ini tidak pulang, dan terus menjaga Sean dua puluh empat jam non-stop. Katanya dia ingin jadi yang pertama dilihat oleh Sean ketika pacarnya itu sadar.

"Mama gak tau, anak mama ternyata sebucin ini."

"Mama tau kata bucin darimana?"

"Dari dokter koas," jawab mama Hera asal. Padahal beliau mendengar kata itu dari anaknya sendiri-----Henry.

"Pasti Henry yang bilang," balas Hera.

"Kamu juga harus jaga kesehatan, kamu lagi jagain orang sakit ... jangan sampe malah kamu yang sakit." Hera mengangguk tanda mengerti akan perintah ibunya.

                             😓😓😓

Tok

Tok

Tok

Hera yang sedang mengupas apel langsung pergi dan membuka pintu kamar rawat inap tersebut, pasti ada yang mau menjenguk Sean. Setelah membuka pintu Hera di kaget oleh penampakan buket bunga yang besar dan sebuah keranjang buah. Setelah itu baru terlihat batang hidung orang di baliknya. Kak Juna tertawa melihat ekspresi kaget Hera. "Kakak ih! Bikin jantungan tau gak?" seru Hera. "Kalau jantungan mah gampang, ini kan di rumah sakit." Setelah mengatakan itu Juna langsung nyelonong seenak jidat ke dalam.

Juna sepertinya mencuri waktu di jam kerjanya untuk menjenguk Sean. Buktinya saja sekarang dia masih memakai jas dokternya. "Kak jujur! Lo bolos kerja kan?" tanya Hera dengan pandangan selidik. "Bentar doang, lagian departemen kejiwaan ada di bawah lantai ruangan ini kok ... dan kalau penyakit lu kambuh gampang tinggal lari ke sana!" jelas Juna, dia sekarang sedang memasukkan bunga yang di bawanya ke dalam vas bunga.

"Penyakit gue gak kambuh lagi," ujar Hera santai. Juna yang mendengarnya hampir memecahkan vas bunga saking kagetnya.

"Kok bisa?! Lu yakin kan? Kapan kejadiannya?" tanya Juna serius, sekarang tatapannya adalah tatapan diberikannya saat sedang berhadapan dengan pasien.

"Pas kejadian Sean jadi begini, gue nangis tapi penyakit gue gak kambuh. Gue gak yakin penyakit gue udah sembuh total atau nggak."  Hera menatap sendu ke bawah, jujur saja dia merasa aneh sendiri ... seharusnya dia akan senang karena penyakit yang sudah lama dideritanya sekarang sudah hampir sembuh, tapi sekarang bukan waktunya untuk merayakan hal itu---Sean masih terbaring lemah.

"Gue gak bisa langsung bilang kalau lo udah sembuh total, tapi gue yakin ini tanda kalau lo bakal sembuh," jelas Juna. Hera mengangguk mengerti, dia tau kok kalau penyakit yang sudah lama dideritanya itu gak bakal sembuh secepat itu ... dia tau itu lebih baik dari siapapun.

"Nanti kalau Sean udah baikan, lo harus lakuin pemeriksaan ulang. Jangan lupa!"

"Iya iya, lu kok makin bawel ... lama-lama jadi kayak kak Rendy sih."

"Ini semua berkat persahabatan dari lahir," ujar kak Juna.

"Dan sama-sama ngejomblo pula," balas Hera. Juna langsung jitak kepala Hera geram.

"Gue heran, kenapa sih pada suka jitak kepala gue?!" Hera mulai ngegas.

"Gemesin ... pengen di jitak! Udah gue balik kerja dulu," seru Juna lalu melambaikan tangannya dan pergi keluar dari ruangan itu.

                            😶😶😶

02:30 a.m

Hera mengistirahatkan kepalanya di atas kasur yang sedang di gunakan oleh Sean. Hanya kepalanya saja, sedangkan badannya terduduk di atas kursi yang terletak di samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tangan Sean erat, tak ingin dilepasnya tangan itu barang satu detik pun. Hera menatap Sean yang masih tidak sadar kan diri. Dia mengecup singkat pipi kekasihnya itu.

"Kamu cepet bangunnya! Banyak yang goda-goda aku tuh, dokter pula yang godain. Makanya kamu cepet bangun biar jadi tamengku ...," ujar Hera sok bercanda padahal matanya sudah berkaca-kaca. Dan tanpa dia sadari, dia menangis lagi ... membayangkan Sean menjadi seperti ini karena dirinya sudah cukup untuk membuatnya merasa sangat bersalah.

"To-tolong sadar lah! Brengsek! Kamu sengaja kan kayak jadi gini? Biar aku merasa bersalah?" Hera menangis sejadi-jadinya dia mengeratkan genggaman tangannya. "Sean jahat! Aku gak mau kamu jadi sweet, jadi romantis kalau ujung-ujungnya kamu malah jadi kayak gini!" serunya lagi di tengah tangisannya.

Hera memang akhir-akhirnya sering berbicara sendiri seperti ini. Dia selalu mengajak Sean yang sedang tidak sadarkan diri berbicara seperti ini, dia juga tahu kalau sekarang pacarnya tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan Hera setiap malamnya.

Ingin rasanya Hera membunuh Reza setiap melihat kondisi Sean saar ini yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Tapi apalah daya, Reza lebih cepat melarikan diri. Sampai saat ini Tristan dan yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan Reza. Tapi cowok itu lebih licik dari rubah dan lebih licin dari belut di sawah. Jadi susah menangkapnya.

"Liat aja si kaparat Reza, kalau ketemu bakal gue kasih pelajaran."

Hera yang lelah karena menangis akhirnya perlahan menutup matanya, yang terdengar selanjutnya adalah suara napas halusnya yang beraturan ... tandanya dia sudah tidur pulas.

Berselang dua jam kemudian Hera perlahan membuka matanya, tidurnya terganggu dengan suara aliran air dari kamar mandi. Hera meraba sekitar tempat tidur, namun dia tidak dapat menemukan siapapun di sana---semuanya kosong. Hera langsung terduduk. Dia mencoba memperjelas penglihatannya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari Sean yang seharusnya masih terbaring di kasur.

"Sean?" panggil Hera. Namun tidak ada sahutan apapun. Hera sangat panik sampai dia tidak sadar kalau sedari tadi dia tertidur di atas ranjang, bukan di atas kursi. Padahal dia tadi tidur di kursi, bagaimana mungkin dia bangun di atas ranjang.

Hera langsung mencari Sean dengan panik, dia terus memanggil nama Sean seperti orang gila. Untunglah kamar itu kedap suara ... jadi Hera tidak bakal dilaporkan oleh pasien lain karena mengganggu waktu istirahat mereka.

"Sean?" panggil  Hera kembali. Dan masih sama, tidak ada sahutan. Hera langsung mengambil handphonenya, dia ingin menelepon penjaga di sini. Siapa tau mereka melihat Sean. Tapi belum selesai dengan niatnya, sekarang Hera malah dibuat makin terkejut.

"Kamu ngapain teriak malam-malam?"  tanya Sean yang sedang menutup pintu kamar mandi. Hera terkejut melihat pacarnya yang seharusnya tadi masih berbaring tidak sadarkan diri, sekarang malah dengan santainya berjalan menghampiri dia.

"Ka-kamu beneran Sean? Kamu masih hidup?" tanya Hera ragu. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Jadi kamu harap aku mati?" tanya Sean balik. Dia sekarang sedang duduk di samping tempat tidurnya, yang dimana di sana juga ada Hera dengan ekspresi tercengangnya.

"Eh? Kamu kenapa malah nangis?" tanya Sean kaget dengan Hera yang tiba-tiba menjatuhkan air mata. Hera memeluk tubuh Sean erat, dan tanpa sengaja mengenai luka di bahu Sean. Sean meringis pelan. "Sakit Her," ujar Sean. "Biarin, ini balasan karena kamu buat aku khawatir," seru Hera pelan. Suaranya hampir tidak terdengar jelas karena dia berkata seperti itu sambil menangis. Mukanya di tenggelamkan di dada Sean. Dia memeluk Sean erat seakan-akan Sean akan menghilang begitu dia melepas pelukannya.

"Hera," panggil Sean, namun tidak ada sahutan.

"Sayang," panggil Sean lagi dan hanya dibalas oleh deheman singkat.

"Lepasin dulu ya, aku mau liat muka kamu ...." Sean lalu melepas pelukan Hera secara perlahan. Dia sekarang dapat melihat dengan jelas wajah pacarnya. Muka Hera sekarang sangat berantakan, hidung dan matanya memerah karena habis menangis, napasnya masih tidak beraturan. Tapi menurut Sean, Hera-nya malah terlihat lucu seperti itu.

"Jangan gini lagi!" ujar Hera. Sean menaikkan alisnya, dia bingung dengan maksud Hera. "Jangan bahayain diri kamu lagi kayak gini! Kamu mau liat aku mati jantungan apa?!" bentak Hera. Sean hanya terkekeh, ternyata tidak ada yang berubah dari pacarnya ... semua masih sama, walau dia lama tidak sadarkan diri tapi Hera tetap berada di sampingnya seperti biasanya.

"Her,"

"Ya, kenap---" kalimat Hera terputus

begitu saja. Bibirnya terbungkam, ya terbungkam dalam artian yang sebenarnya. Hera membolakan matanya terkejut dengan Sean yang tiba-tiba menciumnya tanpa permisi. Awalnya dia menolak ciuman sepihak itu, tapi lama kelaman dia mulai menerimanya. Tidak ada pemaksaan, hanya ciuman yang dibalut kerinduan. Sean mencium Hera pelan dan hati-hati,  seakan-akan Hera adalah benda yang sangat rapuh yang harus di jaga.

Hera menepuk lengan Sean pelan tanda bahwa dia kehabisan oksigen. Sean mengerti dan melepaskan ciumannya, Hera menunduk dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Sial! Sean benar-benar bisa membuat dia seperti orang gila.

Sean menatap netra coklat Hera dalam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Hanya menatap dalam diam, tapi berhasil membuat Hera bersemu malu karena nya. Salahkan Hera yang punya pacar seganteng ini, jantungnya tidak bisa di ajak kompromi.

"Btw, ka-kapan kamu sadar?" tanya Hera gugup.

"Tadi sore," jawab Sean santai lalu mengistirahatkan kepalanya di ceruk leher Hera, dengan tangan yang memeluk Hera.

"Hah? Tadi sore?! Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu udah sadar? Jadi dari tadi sore kamu pura-pura tidur doang?!" tanya Hera kaget. Jadi maksudnya Sean dari tadi sore udah sadar dan dia mendengar semua yang dikatakan Hera, namun pura-pura tidak mendengar apapun dan dia tidak menjawab apapun.

"Brengsek!" gerutu Hera.

"Language! Lagian dari tadi sore aku gak punya tenaga untuk gerak ... dan kamu ribut banget sih," balas Sean  santai, ingin rasanya Hera ninju muka Sean.

"Oh ya! Kamu harusnya di periksa dulu kan," ujar Hera. Dia sebenarnya baru inget. Kan seharusnya pasien yang baru sadar itu harus diperiksa dulu sama dokter, bukan malah kasmaran sama pacarnya kek gini.

Hera melepas pelukan Sean, "aku panggil dokter dulu." Bukannya melepas, Sean malah menarik Hera lagi kepelukannya. "Tadi sore mama kamu udah periksa kok." Hera tersenyum kecut mendengar penuturan Sean barusan, jadi dari tadi sorenya mamanya udah tau kalau Sean udah sadar tapi tidak memberitahu Hera kan? Mamanya senang banget buat Hera khawatir.

"Oh ya, aku kan tadi tidur di kursi ... kok bisa bangun di kasur?" tanya Hera baru tersadar. Dia awalnya mengira Sean yang mengangkatnya ... tapi itukan nggak mungkin mengingat Sean baru saja sadar dan bahunya juga terluka.

"Tadi Henry datang, aku suruh dia angkat kamu ke atas ..., kan nggak nyaman tidur di kursi." Sean makin menyembunyikan mukanya di ceruk leher Hera.

"Jadi Henry juga udah taukan kalau kamu udah sadar?" tanya Hera selidik. Sean mengangguk mengiyakan. Hera geram, dia seperti baru saja di prank ... masa iya dia yang jaga Sean 24 jam tapi malah dia yang tidak tau kalau pacarnya itu udah sadar dari sore?!

Sean melepas pelukannya dan melihat wajah Hera, "kamu marah?" tanya Sean untuk memastikan. "Iya!" jawab Hera. Sean tersenyum melihat tingkah Hera.

Cup

Sean mengecup dahi Hera, setelah itu dia berkata, "masih marah?" Hera menutup mukanya dengan kedua tangannya ... dia ... sedang malu guys. "Kalo aku bilang masih marah kamu pasti nanti cium aku lagi kan?" Sean terkekeh mendengar penuturan blak-blakan Hera, tapi emang gak ada yang salah sih ....

"Imut banget sih pacar aku," seru Sean gemas.

-TBC-

ps: aku baper nulis chapter ini, mudah-mudahan kalian suka hehe

janjiku mau kasih liat visual kan... tapi sayangnya gak bisa ngeupload foto, padahal kemaren-kemaren bisa pas aku mau pm cerita... di review nya lama kalau aku

tambahkan foto dan akibatnya dua hari ini aku gak update tepat waktu. aku bukannya mau ingkar janji huhu T^T

Yeji Itzy As Hera

(seharusnya di sini ada foto😭)

1
...
sama andrew aja sis..
...
knp ya aku ngerasa kalau si X ini ada berada di sekitar mereka..
Queen Sha
ahhhciyeeee.... aauthorrr keseringan lihat drakor kayak aq juga
Jennifer Jatam
Luar biasa
Jennifer Jatam
Biasa
☠🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣBinℛᵉˣ
ntahlah, agak lain memang.

tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.
Novia Ayu Apriani
🥰🥰🥰
Qaisaa Nazarudin
Oh si cntik Gina menyamar jadi cewek cupu ternyata...ckck..😅😅
Alvinda68
Luar biasa
Qaisaa Nazarudin
Yang anehnya, Kenapa Gina harus baca buku ditempat itu? malam2 lagi..🤫🤫
Qaisaa Nazarudin
Kamu akan di jodohkan dgn Sean deh Hera 😂😜
Qaisaa Nazarudin
Cowok ini Sean kan temennya Henry??
Qaisaa Nazarudin
Whaat Hera baru kelas X? ku pikir kelas X1.. Tapi cerdas nih anak bisa masuk kelas IPA ..
Qaisaa Nazarudin
Asem🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Sekolah lama kak Rendy kan itu 🤣🤣
Yuki azura
kk boleh masukin aku ke grup chat
Riska Auliaa
Y
f1q.x3a
aaa gemes😭
f1q.x3a
adik ipar😂✨
Uma Hidayah
cocok...sesuai imajinasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!