NovelToon NovelToon
Pewaris Dewa Pedang 2

Pewaris Dewa Pedang 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Action / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Lanjutan pewaris dewa pedang

Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.

Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.

Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Darah yang Tak Mengenali Sumbernya

​Keheningan di puncak Pegunungan Kristal terasa lebih mencekam daripada badai manapun. Jian Wuyou mendarat dengan perlahan, jubahnya yang koyak berkibar pelan. Di pelukannya, ia mendekap erat Jian An, sang putra kandung yang ia jemput dari kesunyian Alam Fana. Bayi itu terlelap, wajahnya begitu tenang, seolah tidak tahu bahwa ia baru saja dipindahkan dari dunia manusia ke singgasana para dewa.

​Di ambang pintu paviliun, Li Hua berdiri menanti. Ia mengenakan jubah sutra putih pemberian Mei Lian yang membuatnya tampak seperti dewi, namun tatapannya tetap sama: tatapan penuh kebingungan yang membunuh jiwa Jian Wuyou setiap detiknya.

​"Kau kembali," ucap Li Hua lirih. Matanya kemudian tertuju pada bungkusan kain di pelukan Jian Wuyou. "Siapa... anak itu?"

​Jian Wuyou melangkah mendekat dengan kaki yang terasa seperti diseret melalui ribuan ton beban. Ia berdiri tepat di hadapan Li Hua. Untuk sekejap, ia ingin berteriak, 'Ini anakmu! Ini adalah darah daging yang kau lahirkan dalam duka dan cinta!'

​Namun, lidahnya kelu. Ia hanya bisa memberikan jawaban yang paling menyakitkan.

​"Namanya Jian An. Dia adalah... anak yang baru saja kehilangan rumahnya." ucap Jian Wuyou, suaranya bergetar hebat.

​Jian Wuyou mengulurkan Jian An kepada Li Hua. Ia berharap, meskipun ingatan istrinya telah dihapus oleh hukum waktu, ikatan batin antara ibu dan anak akan memicu sebuah keajaiban.

​Li Hua menerima bayi itu dengan ragu. Saat tangan Li Hua menyentuh kulit Jian An, Jian Wuyou menahan napas. Ia mencari kilatan di mata istrinya, sebuah air mata kerinduan, atau sekadar getaran di dadanya.

​Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

​Li Hua menggendong Jian An seperti orang asing yang sedang memegang barang pecah belah. Ia menatap wajah bayi itu—mata yang sama, garis bibir yang sama—namun hatinya tetap hampa. Jian An terbangun, matanya yang besar menatap Li Hua. Bayi itu merengek, tangannya yang mungil mencoba menggapai wajah ibunya, mencari kehangatan yang selama setahun ini ia rindukan.

​Li Hua justru sedikit menjauhkan wajahnya. "Dia... dia sangat tampan. Tapi kenapa dia menangis saat menatapku? Apakah aku terlihat menakutkan?"

​DEG.

​Jian Wuyou memalingkan wajah. Air matanya jatuh membasahi lantai giok. Melihat seorang ibu yang tidak mengenali anaknya sendiri adalah puncak dari segala kesedihan yang bisa ditanggung manusia.

​"Dia tidak takut padamu," bisik Jian Wuyou sambil menyeka air matanya dengan kasar. "Dia hanya merasa... asing dengan tempat ini."

​"Begitu rupanya," sahut Li Hua datar. Ia menyerahkan kembali Jian An kepada Mei Lian yang berdiri di belakang mereka. "Maafkan aku, Tuan Wuyou. Aku merasa tidak pantas menggendongnya. Ada perasaan sesak yang aneh di dadaku setiap kali aku melihat matanya, seolah-olah aku telah melakukan kesalahan besar padanya."

​Malam itu, mereka makan bersama dalam diam. Di satu sisi meja, Jiwu dan Mei Lian mencoba mencairkan suasana dengan candaan ringan, namun Jian Wuyou hanya duduk menatap piringnya tanpa menyentuh makanan sedikit pun.

​Li Hua duduk di seberangnya, tampak anggun namun jauh. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Jian Wuyou, merasa kasihan melihat pria itu yang selalu tampak seperti membawa seluruh kesedihan dunia di punggungnya.

​"Tuan Wuyou," panggil Li Hua lembut. "Kenapa kau selalu menatapku seolah-olah aku adalah seseorang yang sudah mati?"

​Pertanyaan itu menghantam Jian Wuyou lebih keras daripada tinju Mo Tian. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Li Hua yang jernih.

​"Karena bagiku, wanita yang kucintai memang sudah tiada," jawab Jian Wuyou dengan jujur yang menyakitkan. "Dan yang tersisa hanyalah bayangannya yang cantik, yang menatapku tanpa mengenali siapa aku."

​Li Hua tertegun. Ia meletakkan sumpitnya, dadanya terasa nyeri tanpa alasan yang jelas. "Apakah aku... sangat mirip dengannya?"

​"Sangat mirip," bisik Jian Wuyou. Ia berdiri dari kursinya, tak sanggup lagi berada di ruangan yang sama. "Istirahatlah, Li Hua. Besok, aku akan mulai membangun kembali formasi pelindung di gunung ini. Kau dan Jian An akan aman di sini, meskipun aku harus menjadi orang asing selamanya bagi kalian berdua."

​Jian Wuyou berdiri di balkon tertinggi, menatap langit malam. Di tangannya, ia memegang sebuah tusuk konde kayu sederhana—satu-satunya benda yang ia bawa dari masa lalu di Desa Bambu.

​Jiwu mendekat, berdiri di samping saudaranya. "Kakak, ini lebih berat daripada kematian, bukan? Memiliki mereka di sisimu, tapi merasa lebih kesepian daripada saat kau sendirian di alam fana."

​Jian Wuyou meremas tusuk konde itu hingga telapak tangannya berdarah. "Aku akan melakukan apa saja, Jiwu. Jika aku harus mendaki langit tertinggi lagi untuk mencuri kembali ingatannya dari tangan takdir, aku akan melakukannya. Jika aku harus menumpahkan darah seluruh dewa agar Jian An bisa mendengar ibunya memanggil namanya sekali lagi... maka langit akan banjir darah."

​Di dalam paviliun, Li Hua menatap ke arah balkon, melihat punggung kesepian pria itu. Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh di pipinya. Ia tidak tahu mengapa ia menangis, namun di dalam jiwanya yang terkunci, ada sebuah bagian yang meronta, mencoba meneriakkan nama pria itu.

1
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Benar memperbaiki Pintu yang didobrak Ibunya
Nanik S
Kaisar Keabadian untuk Negri para orang Buangan
Nanik S
Siapapun akan memilih Anak Istri itu salah satu kelemahanya
Nanik S
Joooooost Woyou
Nanik S
Undangan berdarah
Nanik S
Woyou... melatih Anak anaknya dengan keras agar bisa melindungi diri sendriri
Nanik S
kenapa Jian An mesti jadi Target mereka...
Nanik S
Lanjut
Nanik S
Jian An.. Jian Han jadilah kuat seperti Ayahmu
Nanik S
Jian Woyou benar benar keras terhadap anaknya agar manjadi pendekar hebat
Nanik S
Cerita keluarga yang Bagus
Nanik S
Cuuuuuuss
Nanik S
Lanjutkan 👍👍👍
Nanik S
Dewa banyak yang jahat juha
Nanik S
Anak anak yang marah krn melihat Ayahnya teraniaya
Nanik S
Kedua Anak Jian Woyou benar2 Hebat
Agen One: /Hug/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka menginginkan Jian An.... ada apa dg Anak kecil
love
semangat thor👍👍👍👍👍
Nanik S
Li Hua... bawa Kedua Jian pergi dari dimensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!