"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Lea tidak bisa tidur. Ia duduk di sofa dengan selimut melilit tubuhnya, sementara matanya terus terpaku pada pintu.
Tiba-tiba, terdengar pintu terbuka, memperlihatkan sosok Jimmy yang berantakan. Jaket hitamnya robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan adalah darah segar merembes melalui kemeja di lengan kirinya.
"Jimmy!" Lea melompat turun dari sofa, berlari menghampiri pria itu.
Jimmy mendengus, mencoba menahan tubuhnya agar tetap tegak. "Sudah kubilang tidur. Kenapa kau masih di sini?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kau pulang dengan lubang di lenganmu?!" seru Lea dengan marah sekaligus takut.
Lantas, ia segera menarik Jimmy dan menuntunnya paksa ke sofa. "Duduk dan jangan membantah!"
"Ini hanya goresan kecil, Lea. Tidak perlu berlebihan. Aku pernah tertembak di perut dan masih bisa menyetir sejauh sepuluh kilometer."
"Goresan katamu? Darahnya bahkan menetes sampai ke lantai!"
Leana berlari mengambil kotak P3K dengan tangan gemetar. Ia kembali dan mulai merobek lengan kemeja Jimmy yang sudah basah oleh darah. Melihat luka sayatan yang cukup dalam di sana, air mata Lea tumpah begitu saja.
"Ini sakit, kan? Pasti sakit sekali," ucapnya sambil mulai membersihkan luka itu.
"Pelan-pelan, kau mau mengobati atau mau menyiksaku?" keluh Jimmy dengan wajah tetap datar seperti tembok.
"Makanya jangan sok jagoan! Kau pikir kau itu superhero? Kenapa kau tidak pakai rompi anti peluru yang menutupi lengan juga?!" cerocos Leana sambil terisak. Ia mulai membalut luka itu dengan perban.
"Tidak ada rompi anti peluru yang menutupi seluruh lengan, bodoh. Itu akan membuatku terlihat seperti astronot," balas Jimmy sinis. Ia memperhatikan Lea yang begitu telaten, rambut gadis itu pun sampai berantakan saking paniknya.
Setelah selesai membalut luka, Leana memukul bahu kanan Jimmy yang tidak terluka. "Jangan pergi lagi kalau hanya untuk terluka seperti ini. Aku benci melihatmu begini."
Jimmy menatap gadis itu lama. Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang, tapi melihat wajah Lea yang sembab karena menangisinya membuat pertahanan dinginnya runtuh seketika.
"Kemari," pinta Jimmy.
"Apa?"
"Menurut saja apa susahnya!" Jimmy menarik pinggang Lea dan memaksa gadis itu duduk di atas pangkuannya.
"Jim, lenganmu..."
"Diamlah sebentar," bisik Jimmy. Ia membenamkan wajahnya di pundak Lea menghirup aroma vanila dan sabun bayi yang menenangkan dari tubuh gadis itu.
Lea terdiam. Amarahnya menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Perlahan, ia mengangkat tangan lalu mengusap kepala Jimmy.
"Kau lelah ya?" tanya Lea penasaran.
"Sangat," jawab Jimmy. "Alex terus berteriak, musuh tidak mau menyerah, dan aku terus memikirkan seorang gadis nakal yang menungguku di rumah."
Leana tersenyum kecil, jarinya terus memainkan rambut di tengkuk Jimmy. "Itu salahmu sendiri. Siapa suruh punya profesi yang membuat orang ingin menembak mu setiap hari."
"Setidaknya aku punya seseorang yang akan menangisiku kalau aku mati," celetuk Jimmy sambil mendongak sedikit, menatap mata Lea dari posisi itu.
"Jangan bicara soal mati! Kalau kau mati, aku akan menyuruh papa membangkitkan mu lagi hanya untuk aku pukul!" ancamnya.
Jimmy menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyum tipis. Ia mengencangkan pelukannya di pinggang Lea, menarik gadis itu lebih rapat seolah tidak ingin
melepaskannya.
"Kau berisik sekali. Tapi entah kenapa, aku lebih suka mendengar ocehan mu daripada suara tembakan tadi."
"Tentu saja. Ocehanku itu musik bagi telingamu yang sudah tua itu," ledek Lea.
"Pria tua ini masih punya cukup tenaga untuk membuatmu tidak bisa berjalan, jangan lupa," balas Jimmy seolah lupa ia pernah mendorong Lea untuk menjauhinya dengan alasan impoten.
Wajah Leana memerah seketika. "Sadar diri, Jim! Kau sedang terluka! Jangan pikirkan hal kotor!"
"Kau yang membuat pikiranku selalu kotor," ucap Jimmy sembari menidurkan Lea di sofa dengan posisi saling berpelukan.
"Jim."
"Hum."
"Apa kau tidak pernah berpikir untuk menikah?"
Mata yang tadinya terpejam kini perlahan terbuka. Jimmy tidak langsung menjawab. Ia justru mengubah posisinya, membuat Lea semakin tenggelam dalam pelukannya.
"Menikah itu pekerjaan orang yang kurang kerjaan."
Lea mendongak, matanya memicing tajam. "Kurang kerjaan? Menikah itu komitmen antara dua orang yang saling mencintai dan memutuskan untuk bersama selamanya!"
"Selamanya itu lama sekali, Lea. Aku bahkan tidak tahu apakah besok kepalaku masih menempel di leherku atau tidak. Menikah hanya akan membuatku harus membuat surat wasiat. Sangat merepotkan."
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!" Lea memukul dada Jimmy kesal. "Maksudku, apa kau tidak ingin punya ikatan sah dengan seseorang yang bisa kau peluk setiap malam tanpa perlu merasa bersalah?"
"Aku bisa memelukmu sekarang tanpa perlu surat dari catatan sipil, bukan?" sahut Jimmy santai. "Lagipula, menikah itu mengerikan. Kau akan punya hak legal untuk mengatur berapa kali aku boleh minum wine dan jam berapa aku harus pulang. Pekerjaanku berbahaya. Aku bukan pegawai bank yang harus lapor pada istri setiap sore."
"Kau benar-benar menyebalkan!" Lea mencoba meronta turun dari sofa, tapi tangan Jimmy justru mengunci pinggangnya lebih erat.
"Pergi saja sana hidup dengan wine dan pelurumu itu!"
"Kau sedang mengobati orang terluka, jangan banyak bergerak," perintah Jimmy.
"Buat apa aku mengobati mu kalau kau bahkan tidak berniat memberiku kepastian?! Kau hanya menjadikanku pelampiasan rasa bosanmu, bukan?" mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
"Dengar, Lea. Menikah itu butuh kecocokan. Dan jujur saja, kriteria istri idamanku itu sangat berat."
"Oh ya? Seperti apa? Cantik? Pintar masak?"
"Bukan," Jimmy menggeleng pelan sembari berpikir serius. "Setidaknya dia tidak boleh cengeng, tidak boleh takut pada darah, dan yang paling penting dia tidak boleh hobi makan snack di atas tempat tidur karena remahannya sangat mengganggu."
"Kau menyindirku?!"
"Aku hanya bicara fakta. Bayangkan kalau kita menikah, setiap pagi aku harus bangun dengan remah di punggungku dan suara rengekan mu karena kehabisan cokelat. Itu bukan pernikahan, Lea," celetuk Jimmy.
"Jimmy! Kau benar-benar!" Lea berteriak seraya mencubit lengan Jimmy yang sehat sekuat tenaga. "Aku membencimu! Aku benar-benar berharap tadi peluru itu mengenai mulutmu supaya kau tidak bisa bicara menyebalkan lagi!"
"Kau bilang benci, tapi tanganmu masih memegang rambutku. Labil sekali."
"Aku memegangnya supaya bisa kutarik sampai kau botak!"
"Silakan. Tapi meski aku botak, kau tetap tidak akan kubiarkan menikah dengan pria lain. Itu kesepakatannya," bisik Jimmy tiba-tiba, membuat gadis itu membeku seketika.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak ingin menikah, tapi aku juga tidak mengizinkanmu menikah dengan siapa pun. Adil, kan?" Jimmy kembali menarik Lea ke dalam pelukannya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁