Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
8. TGD.8
Ujian Tengah Semester (UTS) memang memberikan Shelly suntikan kepercayaan diri, namun **Ujian Akhir Semester (UAS)** adalah medan perang yang sesungguhnya. Jika UTS adalah ujian teori, maka UAS di semester pertama ini adalah akumulasi dari semua kelelahan, tumpukan tugas praktikum, dan tekanan mental sebagai perantau yang mulai merindukan rumah secara akut.
Memasuki bulan Desember, kota besar tempat Shelly menimba ilmu mulai sering diguyur hujan lebat. Suasana asrama yang biasanya riuh dengan tawa mahasiswa, kini berubah menjadi hening dan suram. Shelly duduk di meja belajarnya, dikelilingi oleh tumpukan buku teks anatomi, fisiologi, dan laporan praktikum yang setebal kamus. Lampu belajarnya menjadi satu-satunya saksi bisu betapa seringnya ia terjaga hingga pukul tiga pagi, hanya untuk memastikan ia memahami setiap detail mekanisme sel tubuh manusia.
---
Tantangan UAS kali ini bukan hanya soal materi pelajaran, melainkan juga kondisi fisiknya yang mulai menurun. Pola makan yang terlalu hemat—seringkali hanya nasi dengan kerupuk atau mie instan demi menyisihkan uang sakunya untuk biaya fotokopi—mulai berdampak pada kesehatannya. Dua hari menjelang ujian pertama, Shelly terserang demam tinggi.
Kepalanya berdenyut hebat setiap kali ia mencoba membaca barisan kalimat di bukunya. Tubuhnya menggigil di balik selimut tipis asrama. Dalam kegelapan kamar, Shelly sempat merasa sangat putus asa. Ia ingin menangis dan menelepon Ibu, mengeluh betapa beratnya berjuang sendirian di kota orang. Namun, ia menahan jemarinya di atas layar ponsel.
*“Kalau aku mengeluh sakit, Ibu pasti tidak bisa tidur karena kepikiran. Bapak mungkin nekat mencari pinjaman uang untuk menjengukku ke sini. Tidak, aku harus kuat,”* batinnya sambil mengompres dahinya sendiri dengan handuk basah.
Keajaiban kecil datang melalui persahabatan. Hana dan Bayu, yang khawatir karena Shelly tidak muncul di perpustakaan, datang membawakan bubur hangat dan obat.
"Shel, kamu itu manusia, bukan mesin. Jangan terlalu memaksakan diri sampai lupa makan," ujar Hana sambil menyuapi Shelly.
"Kami butuh kamu buat belajar bareng, Shel. Kalau kamu tumbang, siapa yang bakal jelasin konsep biokimia ke kami?" tambah Bayu dengan candaan khasnya yang berusaha menghibur.
Dukungan dari teman-temannya memberikan Shelly kekuatan tambahan. Ia sadar bahwa meski jauh dari keluarga, ia telah membangun "keluarga baru" di tanah rantau. Setelah istirahat total selama satu hari, demamnya turun. Dengan sisa-sisa tenaga, ia bangkit dan kembali merapikan catatannya.
---
Hari pertama UAS tiba. Mata kuliahnya adalah Biologi Sel, salah satu yang paling sulit. Shelly masuk ke ruang ujian dengan wajah yang masih agak pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa. Ia mengenakan kemeja putih keberuntungannya. Begitu lembar soal dibagikan, ia menarik napas panjang, membayangkan wajah Bapak yang sedang bekerja di sawah. Ia membayangkan setiap tetes keringat Bapak berubah menjadi energi yang mengalir ke jemarinya.
Satu per satu soal ia lahap. Analisisnya tajam, tulisannya rapi, dan setiap jawabannya terstruktur dengan baik. Minggu ujian itu terasa seperti maraton yang tak ada habisnya. Shelly harus berpindah dari satu ruang ujian ke ruang ujian lainnya, menghadapi tumpukan soal esai yang menuntut logika berpikir kritis.
Puncaknya adalah ujian praktikum di laboratorium. Shelly harus mengidentifikasi berbagai macam spesimen di bawah mikroskop dengan waktu yang sangat terbatas. Tangannya sempat gemetar saat menyetel fokus lensa, namun ia segera menenangkan diri. Ia teringat bagaimana telitinya ia saat memilah benih padi di desa bersama Bapak. Ketelitian itu ia bawa ke meja laboratorium.
---
UAS berakhir di hari Jumat sore. Saat melangkah keluar dari gedung fakultas, Shelly merasa seolah-olah beban berton-ton yang menindih bahunya selama satu semester ini mendadak hilang. Langit sore yang berwarna jingga tampak begitu indah, jauh lebih indah dari hari-hari biasanya.
Dua minggu setelahnya, pengumuman nilai akhir semester keluar secara daring. Shelly duduk di ruang komputer kampus dengan tangan yang gemetar hebat saat memasukkan nomor induk mahasiswanya di situs resmi universitas. Layar memuat perlahan karena koneksi internet yang sibuk.
Saat angka-angka itu muncul, Shelly menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Indeks Prestasi Semester (IPS): 3.92
Ia meraih nilai A di hampir semua mata kuliah. Hanya satu mata kuliah yang mendapat nilai A-, yaitu statistika yang memang menjadi tantangan terberatnya. Nilai ini jauh melampaui syarat minimal untuk mempertahankan beasiswanya. Ia bukan hanya berhasil bertahan, ia berhasil mendominasi.
Shelly segera berlari menuju telepon umum terdekat untuk menelepon ke desa. Suara "Halo" dari seberang sana langsung membuatnya terisak.
"Bapak... Shelly juara lagi, Pak. Nilai Shelly hampir sempurna. Shelly bisa lanjut semester depan tanpa biaya," ucapnya dengan suara serak karena haru.
"Alhamdulillah, Gusti... Alhamdulillah," suara Bapak terdengar bergetar hebat. Di latar belakang, Shelly bisa mendengar suara Ibu yang menangis sujud syukur dan suara Abangnya yang berteriak-teriak kegirangan memberi tahu tetangga sebelah bahwa adiknya adalah mahasiswi paling pintar di kota.
"Nduk, pulanglah sebentar. Bapak sudah siapkan ayam jago yang paling besar buat kita makan bareng-bareng kalau kamu pulang liburan ini," ujar Bapak dengan nada bangga yang tak terkira.
Malam itu, Shelly mulai mengemas kembali koper tuanya. Bukan untuk pergi selamanya, melainkan untuk pulang sebagai pemenang. Ia melipat pakaiannya dengan senyum lebar. Ia membayangkan betapa bahagianya ia bisa memeluk Ibu, membantu Bapak di sawah sejenak, dan membelikan adiknya sepatu baru dari sedikit sisa uang sakunya yang ia hemat mati-matian.
Ujian Akhir Semester ini telah menempa Shelly menjadi pribadi yang baru. Ia kini tahu bahwa kecerdasan memang penting, namun ketahanan mental, kejujuran, dan dukungan tulus dari orang-orang sekitar adalah kunci untuk menaklukkan kerasnya dunia. Shelly siap pulang, untuk mengisi kembali "energi" cintanya di desa, sebelum kembali lagi ke kota untuk pertarungan-pertarungan di semester berikutnya.