Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 15: Ujian Pertama
Lima hari.
Lima hari Bapak di rumah sakit. Lima hari aku nggak ketemu Arkan. Lima hari aku cuma bales pesannya seadanya—"Zahra baik", "Bapak udah lebih baik", "Zahra sibuk"—tanpa ngasih penjelasan lebih.
Dan lima hari itu... aku ngerasa kayak ada bagian dari diri ku yang hilang.
Tapi aku harus kuat. Demi Bapak. Demi janji ku sama Allah.
"Zahra, kamu yakin nggak mau ketemu Mas Arkan? Dia dari kemarin nanya terus ke Ibu."
Bu Ria lagi. Dateng bawa makanan kayak biasa. Dia duduk di kursi sebelah aku.
"Zahra... Zahra belum siap, Bu."
"Belum siap kenapa? Dia kan khawatir sama kamu."
"Bu... Zahra... Zahra harus ngomong sesuatu sama dia. Tapi... tapi Zahra takut. Takut... takut dia nggak siap dengerin."
"Ngomong apa?"
Aku diem. Natap Bapak yang lagi tidur. Napasnya teratur. Wajahnya lebih tenang dari kemarin.
"...Zahra harus bilang ke dia... kalau hubungan ini... hubungan ini cuma bisa jalan kalau dia masuk Islam. Kalau nggak... kita... kita harus putus."
Bu Ria diem lama. "...dan kamu takut dia nggak mau?"
"Bukan takut dia nggak mau. Tapi... tapi takut dia masuk Islam cuma buat Zahra. Bukan karena dia yakin. Dan nanti... nanti dia nyesel. Dia... dia benci Zahra."
"Zahra, kamu terlalu banyak mikir. Coba kamu ngomong dulu sama dia. Jelasin semuanya. Biar dia yang putuskan."
"Tapi Bu—"
"Zahra." Bu Ria pegang tangan ku. "Kamu nggak bisa terus ngindarin dia. Dia... dia berhak tau. Berhak tau kenapa kamu tiba-tiba menjauh."
Aku tau Bu Ria bener. Tapi... tapi aku takut.
Takut pas aku ngomong... dia bakal pergi.
Takut... takut dia nggak siap.
---
Besok sore, Bapak boleh pulang. Kondisinya udah stabil—meskipun dokter tetep ngingetin harus istirahat total dan hindari stress.
"Bapak harus kontrol rutin. Minum obat teratur. Dan jangan terlalu banyak mikir. Oke?"
"Iya, Dok. Makasih banyak."
Aku dorong kursi roda Bapak keluar rumah sakit. Taksi daring udah nunggu di depan. Aku bantuin Bapak naik. Masuk sendiri. Duduk di samping Bapak.
Sepanjang perjalanan pulang, Bapak diem aja. Natap jendela. Liat gedung-gedung tinggi, jalan raya yang rame, orang-orang yang sibuk sendiri.
"Bapak lagi mikirin apa?"
"...Bapak mikir... mikir Bapak udah jadi beban buat kamu."
"Bapak jangan bilang gitu. Bapak bukan beban."
"Tapi kenyataannya... kamu ngurusin Bapak sendirian. Kamu kerja buat Bapak. Kamu korbanin... korbanin banyak hal buat Bapak. Termasuk... termasuk dia."
Aku diem.
"Zahra... Bapak nggak mau kamu sengsara gara-gara Bapak. Kalau kamu... kalau kamu beneran cinta sama dia... dan dia... dia masuk Islam dengan hati yang tulus... Bapak... Bapak bakal restuin."
Jantung ku berdebar. "Bapak... Bapak serius?"
"Serius. Asalkan... asalkan dia masuk Islam bukan karena dipaksa. Bukan karena... karena cinta. Tapi karena dia percaya. Percaya sama Allah. Percaya sama Nabi Muhammad. Kalau dia percaya... Bapak percaya dia bakal jadi suami yang baik buat kamu."
Air mata keluar. "Makasih, Pak... makasih..."
"Tapi kalau dia nggak masuk Islam... kamu harus rela, Zahra. Kamu harus... harus ngelepas dia. Demi agama kamu. Demi... demi masa depan kamu."
"...Zahra ngerti, Pak."
Tapi di hati... aku nggak tau aku bisa rela atau nggak.
---
Malem itu, setelah Bapak tidur, aku duduk di emperan kontrakan. Langit gelap. Bintang nggak keliatan—mungkin tertutup mendung.
Tangan ku megang telepon genggam. Layar retak nunjukin nama kontak: **Arkan**
Aku harus nelpon dia. Aku harus ngomong.
Tapi... tapi jempol ku nggak bisa gerak.
"Ya Allah... kuatkan hamba..."
Akhirnya aku tekan tombol panggil.
Nada dering. Satu kali. Dua kali.
"Halo? Zahra?"
Suaranya... Ya Allah, suaranya bikin dada ku sesak.
"Mas... maaf... maaf baru hubungin..."
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu sehat. Bapak kamu gimana?"
"Bapak udah pulang. Kondisinya... kondisinya lebih baik."
"Syukurlah. Aku... aku seneng denger itu."
Hening sebentar. Aku denger suara hembusan napas dia di seberang.
"Zahra... kamu... kamu kenapa? Dari kemarin kamu menjauh. Kamu... kamu ada masalah sama aku?"
"Bukan gitu, Mas. Cuma... cuma Zahra... Zahra harus ngomong sesuatu."
"Ngomong apa? Aku dengerin."
Aku ambil napas dalam. Dalam banget.
"Mas... Zahra... Zahra udah mikir panjang. Dan... dan Zahra sampai di satu kesimpulan."
"Kesimpulan apa?"
"...hubungan kita... hubungan kita cuma bisa jalan kalau... kalau Mas masuk Islam."
Hening. Lama. Terlalu lama.
"...Zahra—"
"Zahra tau ini berat, Mas. Zahra tau... Zahra tau Mas masih cinta sama agama Mas. Masih percaya sama Yesus. Tapi... tapi kalau Mas nggak masuk Islam... kita... kita nggak bisa bersama. Karena... karena Islam nggak ngizinin muslimah nikah sama laki-laki yang bukan muslim. Dan Zahra... Zahra udah janji sama Bapak... sama Allah... kalau Zahra nggak bakal ninggalin Islam. Apapun yang terjadi."
"Zahra, aku... aku ngerti. Tapi... tapi aku butuh waktu. Aku... aku masih belajar. Aku masih... masih cari kebenaran. Aku nggak bisa langsung masuk Islam kalau... kalau hati aku belum yakin."
"Zahra tau, Mas. Makanya... makanya Zahra nggak maksa Mas. Zahra cuma... cuma mau Mas tau. Kalau Mas nggak yakin... kalau Mas nggak bisa masuk Islam... kita... kita harus putus."
"ZAHRA—"
"Maaf, Mas. Ini... ini keputusan yang berat buat Zahra juga. Tapi... tapi Zahra nggak punya pilihan. Zahra... Zahra nggak mau kehilangan Bapak. Dan Zahra nggak mau... nggak mau kehilangan iman Zahra."
Hening lagi. Aku denger suara gemerisik di seberang—kayak dia lagi jalan atau apa.
"...Zahra, aku... aku cinta sama kamu. Aku beneran cinta. Tapi... tapi aku nggak bisa bohong. Aku... aku masih percaya sama Yesus. Aku masih... masih merasa Dia Juru Selamat ku. Dan aku... aku nggak bisa masuk Islam kalau hati ku belum yakin. Karena... karena itu bohong. Itu... itu dosa."
Air mata keluar. "Zahra ngerti, Mas. Zahra... Zahra juga nggak mau Mas masuk Islam kalau Mas belum yakin. Makanya... makanya kita... kita harus jaga jarak dulu. Sampai... sampai Mas beneran yakin. Atau... atau sampai kita... kita ikhlas ngelepas satu sama lain."
"Zahra, please... please jangan kayak gini..."
"Maaf, Mas. Ini... ini satu-satunya jalan. Zahra... Zahra harus tutup telepon. Selamat malam, Mas."
"ZAHRA TUNGGU—"
Aku tutup telepon.
Langsung matiin telepon genggam.
Dan aku nangis.
Nangis sejadi-jadinya di emperan kontrakan yang gelap.
"Ya Allah... kenapa... kenapa sakit banget?"
---
Seminggu kemudian.
Aku nggak nyalain telepon genggam. Cuma fokus ke Bapak sama kerjaan—nyuci baju langganan yang udah numpuk. Tiap hari aku bangun pagi, sholat subuh, nyuci baju, jemur, angkat, setrika, antar ke langganan, balik, urus Bapak, tidur.
Rutinitas yang melelahkan. Tapi... tapi setidaknya otak ku nggak sempet mikirin Arkan.
Atau setidaknya... aku coba nggak mikirin dia.
Tapi malam-malam... malam-malam aku nangis diam-diam. Sambil peluk payung hitam—payung yang dia kasih pertama kali ketemu.
"Mas... Zahra kangen... Zahra kangen banget..."
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu. Aku langsung lap air mata. Buka pintu.
Siti. Sahabat ku. Berdiri sambil bawa plastik gorengan.
"Zahra, dari kemarin aku cari kamu. Telepon genggam kamu mati terus. Ada apa?"
"Siti... masuk dulu..."
Siti masuk. Duduk di lantai semen—karena nggak ada kursi. Aku duduk di sebelahnya.
"Zahra, cerita dong. Kamu kenapa?"
Dan aku cerita. Semuanya. Dari Bapak sakit, janji ku ke Bapak, sampai telepon terakhir sama Arkan.
Siti dengerin tanpa interupsi. Mukanya... sedih.
"...Zahra, kamu... kamu bener-bener cinta sama dia ya?"
"Iya. Zahra... Zahra cinta banget. Tapi... tapi Zahra juga cinta sama agama Zahra. Dan... dan Zahra nggak mau kehilangan keduanya."
"Terus sekarang gimana? Kamu tunggu dia sampe dia masuk Islam?"
"Zahra nggak tau, Sit. Zahra... Zahra cuma bisa berdoa. Berdoa... berdoa Allah bukakan hati dia. Atau... atau Allah kuatkan hati Zahra buat ngelepas dia."
Siti peluk aku. "Zahra... kamu kuat. Kamu... kamu bakal bisa lewatin ini."
"Zahra nggak tau, Sit... Zahra nggak tau..."
---
Dua hari kemudian, sore hari. Aku selesai sholat ashar di masjid kecil deket rumah. Masjid yang lantainya dari keramik dingin, dindingnya cat hijab pudar, tapi tenang.
Aku sujud lama setelah sholat. Doa panjang.
"Ya Allah... hamba rindu dia... hamba... hamba pengen ketemu dia... tapi hamba takut... takut hati hamba goyah... tolong... tolong kuatkan hati hamba..."
Pas aku angkat kepala dari sujud...
Aku liat dia.
Arkan.
Arkan berdiri di pintu masjid. Pake kaos putih polos, celana hitam, sandal jepit. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya... capek. Mata merah—kayak abis nangis atau nggak tidur berhari-hari.
Dan dia... dia natap aku.
Jantung ku berhenti.
"Mas... kenapa... kenapa Mas disini?"
"Aku... aku nyari kamu. Bu Ria bilang kamu sering ke masjid ini. Jadi... jadi aku tunggu." Dia jalan deket. Pelan. "Zahra... kita harus ngobrol."
"Zahra... Zahra nggak bisa ngobrol sekarang..." Aku berdiri. Ambil mukena. Mau keluar.
"Zahra, please. Dengerin aku dulu."
"Mas, nanti orang-orang liat—"
"Aku nggak peduli!" Suaranya keras. Nyaring. Sampe beberapa ibu-ibu yang lagi di teras masjid ngeliatin kita. "Zahra, aku... aku nggak bisa kayak gini terus. Aku... aku butuh ngomong sama kamu."
Aku nunduk. Nggak berani natap mata dia.
"...baiklah. Tapi... tapi nggak disini. Di luar."
Kami keluar masjid. Jalan ke taman kecil di sebelah masjid—taman dengan bangku kayu lusuh sama pohon rindang.
Kami duduk. Jarak... mungkin satu meter.
"Zahra... aku... aku udah mikir. Mikir panjang. Dan... dan aku sampai di satu kesimpulan."
Jantung ku deg-degan.
"...kesimpulan apa, Mas?"
Arkan natap aku. Dalam. "Aku... aku belum siap masuk Islam."
DEG.
Rasanya kayak ditusuk.
"Bukan karena aku nggak mau. Tapi... tapi karena aku masih bingung. Aku masih... masih percaya sama Yesus. Aku masih ngerasa... ngerasa Dia bagian dari hidup ku. Dan aku... aku takut kalau aku masuk Islam sekarang... aku cuma... cuma bohong. Bohong sama kamu. Bohong sama Allah. Bohong sama... sama diri ku sendiri."
Air mata keluar. Aku lap cepet.
"...Zahra ngerti, Mas."
"Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu!" Dia pegang tangan ku—aku langsung tarik. "Zahra, aku cinta sama kamu. Aku... aku bersedia belajar lebih banyak. Aku bersedia... bersedia nunda semua keputusan sampai aku yakin. Tapi... tapi jangan tinggalin aku. Please."
"Mas... Zahra... Zahra juga cinta sama Mas. Tapi... tapi Zahra udah janji. Janji kalau... kalau Mas belum siap... kita... kita nggak bisa lanjut."
"Kenapa?! Kenapa cinta kita nggak cukup?!"
"KARENA CINTA NGGAK CUKUP!" Aku teriak. "Mas, dengerin Zahra! Zahra cinta sama Mas! Tapi Zahra juga cinta sama Allah! Dan kalau Zahra harus pilih... Zahra... Zahra pilih Allah! Karena... karena dunia ini cuma sementara! Tapi akhirat... akhirat itu kekal! Dan Zahra... Zahra nggak mau kehilangan akhirat Zahra gara-gara cinta yang... yang mungkin nggak berkah!"
Arkan diam. Napasnya ngos-ngosan. Mata nya berkaca-kaca.
"...jadi... jadi kamu mau putus sama aku?"
Aku nunduk. Nangis.
"...Zahra nggak mau putus. Tapi... tapi Zahra harus jaga jarak. Sampai... sampai Mas beneran yakin. Atau sampai... sampai kita berdua ikhlas."
"Aku nggak bakal ikhlas kehilangan kamu..."
"Mas harus coba."
Arkan berdiri. Jalan mundur. Natap aku terakhir kali.
"...oke. Kalau itu maumu. Aku... aku bakal pergi. Tapi Zahra... aku mau kamu tau satu hal."
"Apa?"
"Aku nggak bakal berhenti cinta sama kamu. Meskipun kita berpisah. Meskipun... meskipun kamu nikah sama orang lain suatu hari nanti. Aku... aku bakal tetep cinta sama kamu. Selamanya."
Dan dia jalan pergi.
Meninggalkan aku sendirian di taman itu.
Nangis.
Sendirian.
"Ya Allah... kenapa... kenapa sakit banget ngelepas dia?"
Tapi aku tau...
Ini ujian.
Ujian pertama dari sekian banyak ujian yang... yang mungkin bakal dateng.
Dan aku harus kuat.
Demi agama ku.
Demi Bapak.
Demi... demi akhirat ku.
Meskipun hati ku... hati ku hancur berkeping-keping.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 16...**