NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Terluka di Balik Sebuah Topeng

Pagi itu, langit di atas SMA Garuda tampak begitu cerah, seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk memberikan hari yang indah bagi Ella. Ia melangkah melewati gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari biasanya. Angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya, memberikan kesegaran yang jarang ia rasakan di tengah himpitan tugas sekolah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai siswi teladan, Ella tidak merasa terbebani oleh tumpukan buku di tasnya.

Ada sesuatu yang lebih berharga di dalam ranselnya pagi ini. Terselip di antara buku biologi dan sejarah, terdapat sebuah cokelat kecil yang ia bungkus dengan rapi menggunakan kertas kado motif bunga-bunga. Ia berniat memberikan cokelat itu kepada Nani. Selama ini, Nani adalah satu-satunya siswi dari kalangan "populer" yang bersikap manis padanya. Nani bukan hanya sekadar teman bicara; dia adalah sosok yang mau duduk berjam-jam di perpustakaan bersama Ella, menawarkan telinga dan bahu saat Ella mencurahkan kegalauannya tentang Rizki—ketua kelas yang sempurna namun begitu sulit dijangkau.

Bagi Ella, Nani adalah pelabuhan aman di sekolah yang penuh dengan penghakiman ini. Kemarin sore, di sudut perpustakaan yang remang dan sunyi, Ella bahkan memberanikan diri membisikkan sebuah rahasia besar: bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada Rizki. Nani hanya tersenyum manis saat itu, menggenggam tangan Ella dan meyakinkannya bahwa perasaan itu wajar.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sampai langkah Ella mencapai ambang pintu kelas.

Keheningan yang mencekam menyambutnya seketika. Atmosfer ruangan kelas XI-IPA 1 yang biasanya bising dengan suara obrolan, kini berubah menjadi berat dan penuh tekanan yang tidak mengenakkan. Teman-teman sekelasnya tidak lagi berbisik-bisik seperti biasa. Kali ini, mereka secara terang-terangan berhenti melakukan aktivitas apa pun dan menatap ke arah Ella dengan pandangan yang aneh—campuran antara kasihan, jijik, dan kepuasan jahat.

Jantung Ella serasa berhenti berdetak saat matanya mengikuti arah telunjuk Lia, siswi yang paling berpengaruh di sekolah. Tatapan Ella mendarat pada papan tulis hitam di depan kelas. Di sana, tertulis dengan huruf kapital yang besar, kasar, dan menyakitkan menggunakan kapur putih yang seolah berteriak:

"SI BURUK RUPA YANG MIMPI JADI ISTRI KETUA KELAS. NGACA DULU SEBELUM NAKSIR RIZKI, ELLA!"

Dunia seolah berputar dengan sangat cepat di bawah kaki Ella. Ia merasa bumi yang ia pijak tiba-tiba menjadi rapuh. Rahasia itu... rahasia yang ia anggap paling suci, yang hanya ia bagi dengan satu orang kemarin sore. Ella merasakan dadanya sesak, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menoleh ke arah bangku Nani dengan tatapan nanar, berharap teman baiknya itu akan segera berdiri, mengambil penghapus, dan menyangkal semua tulisan kejam itu. Ella berharap Nani akan memeluknya dan berkata bahwa ini semua hanya lelucon kasar dari orang lain. Namun, apa yang dilihatnya justru membuat sisa-sisa pertahanan harga diri Ella runtuh tak bersisa.

Nani berdiri dengan anggun di samping Lia. Tidak ada lagi senyum manis atau tatapan teduh. Gadis itu justru tertawa kecil di balik punggung tangannya yang lentur, matanya berkilat penuh kemenangan yang tidak pernah Ella bayangkan sebelumnya. Pengkhianatan itu datang begitu tiba-tiba, lebih menyakitkan daripada tulisan di papan tulis.

"Eh, orangnya datang," ujar Nani. Nada suaranya masih terdengar lembut, namun kini kata-katanya terasa seperti racun yang merayap di kulit Ella, memberikan rasa panas yang menyakitkan. "Maaf ya, Ella. Aku cuma nggak tahan menyimpan rahasia sekonyol itu sendirian. Aku pikir kalau aku ceritakan ke Lia, kami semua bisa bantu kamu... agar lebih sadar diri. Kita ini teman, kan? Dan teman harus saling mengingatkan kalau temannya sudah mulai berhalusinasi."

"Nani... kamu..." suara Ella bergetar hebat, nyaris tak terdengar karena tenggorokannya mendadak sangat kering.

"Kenapa? Kamu benar-benar berpikir aku mau berteman denganmu?" Nani melangkah mendekat, topeng keramahannya tanggal sepenuhnya, menyisakan wajah penuh penghinaan yang dingin. Ia menunduk sedikit, membisikkan sesuatu tepat di telinga Ella dengan nada yang cukup keras untuk didengar oleh siswa di tiga baris depan. "Aku cuma kasihan melihatmu belajar terus seperti mesin tanpa tahu cara bersosialisasi. Aku butuh hiburan, Ella. Dan mengakrabimu, lalu mendengar curhatan memalukanmu soal Rizki itu... adalah hiburan paling lucu yang pernah kudapat di sekolah ini."

Tawa Lia dan gengnya pecah, menggema di seluruh ruangan seperti suara riuh pemenang di arena gladiator. Ella merasa harga dirinya sedang diinjak-injak di tengah pasar. Tepat saat air mata pertama mulai menggenang di pelupuk matanya, Rizki melangkah masuk ke dalam kelas.

Kantin, lapangan, koridor—semua orang tahu bahwa Rizki adalah otoritas tertinggi di kelas ini. Ella menatap Rizki dengan tatapan memohon, sebuah doa bisu agar pria yang ia cintai itu memiliki sedikit saja empati untuk menyelamatkannya dari penghinaan ini. Namun, pemandangan berikutnya justru memberikan luka baru yang lebih dalam. Rizki tidak menghampirinya untuk bertanya apa yang terjadi; ia justru dengan santai melingkarkan tangannya di bahu Lia, menunjukkan kemesraan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Ada apa ini? Berisik sekali sampai ke koridor luar," ucap Rizki dengan suara dingin dan datar, seolah keributan ini hanyalah gangguan kecil bagi kedamaian paginya.

"Ketua, lihat deh. Si jenius kelas kita ini ternyata diam-diam punya obsesi mengerikan padamu. Dia pikir dia selevel denganmu, Ki. Lucu banget, kan?" Lia tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di dada Rizki yang bidang.

Rizki melirik sekilas ke arah papan tulis, lalu mengalihkan pandangannya pada Ella. Tidak ada kehangatan, tidak ada rahasia manis seperti saat mereka berada di perpustakaan kemarin. Yang ada hanyalah tatapan asing yang seolah berkata bahwa Ella hanyalah sebuah debu di sepatunya.

"Jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting, Lia. Ayo duduk, pelajaran akan segera dimulai," ucap Rizki dingin. Ia kemudian menatap Ella kembali dengan nada mengadili. "Dan kamu, Ella... sebaiknya fokus saja pada pelajaranmu dan tumpukan buku-buku itu. Jangan bermimpi terlalu tinggi sampai lupa daratan. Ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak ditakdirkan untukmu."

Kalimat Rizki adalah pukulan terakhir yang menghancurkan jiwa Ella. Ia merasa telanjang di tengah kerumunan, terluka oleh cinta yang ia anggap berharga namun ternyata hanya menjadi bahan tertawaan. Namun, tepat sebelum setetes air mata jatuh membasahi pipinya, sebuah tangan besar menarik penghapus papan tulis.

SREK! SREK! SREK!

Suara kasar penghapus yang beradu dengan papan tulis menciptakan bunyi berisik yang memutus tawa para siswa. Dalam satu tarikan kasar yang penuh emosi, tulisan hinaan itu terhapus sepenuhnya, meninggalkan debu kapur yang beterbangan di udara.

Wawan.

Cowok itu berdiri di sana dengan wajah yang mengeras. Ia melempar penghapus itu ke meja guru dengan denting yang keras. "Hebat ya kalian semua. Satu kelas isinya cuma pengecut yang jago menindas orang lemah hanya untuk merasa hebat," suara Wawan menggelegar, bergetar karena amarah yang tertahan.

Wawan menoleh ke arah Nani, sorot matanya begitu tajam hingga membuat gadis itu tersentak mundur dan kehilangan kata-kata. "Dan kamu, Nani. Topengmu itu murah banget. Jangan sok ramah kalau aslinya sampah. Lo pikir dengan mengkhianati rahasia teman, lo bakal terlihat keren di depan Lia? Lo justru kelihatan sangat menjijikkan."

Wawan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rizki yang masih merangkul Lia. Senyum sinis terukir di wajah Wawan. "Dan buat kamu, Pak Ketua Kelas yang terhormat... selamat atas pacar barunya. Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Yang satu pengecut yang cuma peduli reputasi, yang satu lagi wanita nggak punya hati."

Seluruh kelas mendadak sunyi sesunyi kuburan. Tidak ada yang berani membalas ucapan Wawan. Dengan gerakan yang tegas namun lembut, Wawan menggenggam tangan Ella. Jemarinya yang kasar namun hangat seolah menyalurkan kekuatan yang sangat dibutuhkan Ella saat itu.

"Ayo, La. Keluar dari sini. Kelas ini baunya busuk karena dihuni orang-orang munafik. Kamu nggak pantas ada di tempat sampah seperti ini," bisik Wawan, namun cukup tegas untuk didengar seisi kelas.

Wawan menarik tangan Ella, membimbingnya keluar menyusuri koridor yang kini terasa begitu panjang. Sebelum benar-benar menghilang di balik tikungan, Ella sempat melirik ke belakang untuk terakhir kalinya. Di ambang pintu, ia melihat Rizki yang diam membisu dengan wajah yang mulai memucat. Tangan Rizki mengepal kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih, dan matanya terus mengikuti arah tangan Wawan yang menggenggam erat jemari Ella.

Ada badai kemarahan dan penyesalan yang tertahan di mata Rizki, namun ia tetap berdiri mematung di sana. Ia tetap memilih untuk tidak melepaskan rangkulannya pada Lia, terlalu pengecut untuk mengorbankan status populernya demi menyelamatkan gadis yang baru saja ia hancurkan hatinya.

Ella terus berjalan mengikuti tarikan tangan Wawan. Ia menyadari satu hal pahit hari ini: Terkadang, orang yang kita pikir adalah pangeran justru adalah orang yang memberikan luka terdalam, dan orang yang kita anggap berandalan adalah satu-satunya yang mau mengulurkan tangan di saat dunia menertawakan kita.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!