NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meeting Jeremy

Sena sedang membereskan beberapa berkas di klinik hewan tempatnya bekerja ketika suara notifikasi dari ponselnya menginterupsi keheningan. Dia mengeluarkan ponsel dari saku belakang celana, mengecek pesan masuk.

...Andy...

Hai, Lara

Aku tahu ini agak mendadak, tapi aku dan Jeremy akan pergi belanja hari ini

Apakah kau mau ikut?

^^^Ha?^^^

^^^Aku?^^^

Haha... ya

Aku ingin kau bertemu dengannya

^^^Oh wow...^^^

Kalau kau sedang sibuk atau memang tidak ingin bertemu dengannya, tidak apa-apa

Aku hanya bertanya, siapa tahu kau mau

^^^Tidak, aku mau bertemu dengannya^^^

^^^Tapi aku masih bekerja sekarang^^^

Di coffee shop?

^^^Di klinik^^^

Oh, oke

Jam berapa kau selesai?

^^^Mmm sekitar satu jam lagi^^^

Baiklah

Kami akan menjemputmu di sana. Bisa kirimkan lokasinya?

^^^Tentu^^^

^^^(Lokasi)^^^

Okee

Sampai ketemu nanti

^^^Iya^^^

Sena meninggalkan ponselnya, melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda. Tadi pagi sangat sibuk, dan kesibukannya baru selesai menjelang siang. Karena pemilik klinik tempatnya bekerja adalah sepasang suami istri yang sudah berumur, mereka lebih tidak update dengan yang namanya teknologi. Untuk itu, menjadi bagian Sena untuk mengurus segala hal yang berurusan dengan pekerjaan digital di sana.

Kini, Sena sudah bekerja selama beberapa tahun di klinik ini, dan dia semakin merasa nyaman. Tempat ini dipenuhi cinta, terutama dari para hewan kepada pemiliknya, begitu juga sebaliknya. Sena mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan banyak momen mengharukan di sini. Hewan-hewan yang dioperasi dengan pemiliknya menunggu penuh harap dan tidak berhenti melangitkan doa, keputusan besar yang diambil untuk membantu hewan kesayangan pergi lebih dulu karena tidak ingin melihat mereka semakin menderita, bahkan Sena beberapa kali menyaksikan hewan-hewan melahirkan. Selain semua momen tersebut, Sena juga diperlakukan begitu baik oleh Miran dan Yongsik. Kedua pasangan lanjut usia itu memperlakukannya seperti putri mereka sendiri.

Sena masih melanjutkan kegiatannya merapikan dokumen, ketika Miran masuk. Wanita itu menyapanya, tersenyum manis dan meletakkan teh hangat yang disiapkannya untuk Sena.

"Hai, Sayang. Aku buatkan teh untukmu."

Sudut bibir Sena terangkat. Dia meletakkan map yang sedang ia pegang untuk mengambil cangkir teh dari atas meja. "Terima kasih," katanya.

Miran mengangguk, duduk di seberang meja, memperhatikan dokumen-dokumen yang tadi sedang dikerjakan oleh Sena. Sedari pertama datang, Sena selalu bekerja dengan cekatan dan teliti. Gadis muda itu tidak pernah meninggalkan kekacauan lain, yang jelas akan sulit dihadapi oleh wanita lanjut usia sepertinya.

"Akhir-akhir ini kita selalu sibuk, aku jadi jarang punya waktu untuk mengobrol denganmu," katanya, senyumnya menyebar sampai ke mata. "Apa kabar?"

Sena menggenggam cangkir teh, menikmati kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. Uap teh mengepul ke udara, berputar di depan wajahnya. Sena mengirup permukaan cangkir sebentar, lalu mulai menyesap cairan pekat di dalamnya.

"Aku baik. Kuliahku juga lancar," jawabnya, menjauhkan cangkir teh dari mulut. "Oh, aku juga baru saja bertemu lagi dengan teman masa kecilku, dan itu menyenangkan."

"Senang sekali mendengarnya, Sayang." Miran mengusap lembut lengan Sena, sorot matanya teduh. "Sulit menemukan teman yang bisa bertahan di sisimu untuk waktu yang lama, jadi kalau kau punya, pertahankan dia."

Sena mengangguk, menerima nasihat dari Miran dengan hati terbuka. Ia pun berpikir hal serupa. Orang-orang bisa datang dan pergi, tapi sebuah pertemanan yang dijaga dengan baik sangat mungkin untuk bertahan seumur hidup.

"Kalau kita sudah tidak terlalu sibuk, datanglah ke rumah kapan-kapan. Aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu," kata Miran sambil menepuk pelan lengan Sena.

"Iya," balas Sena.

Miran bangkit dari kursinya. "Baiklah, aku harus kembali bekerja. Nanti kita mengobrol lagi."

Sena hanya mengangguk, membiarkan Miran pergi. Kemudian dia lanjut mengerjakan beberapa hal lagi; membalas email, mengirim faks, dan menerima beberapa panggilan telepon. Hampir tidak ada jeda untuk melamun, Sena mengerjakan semuanya dengan fokus penuh.

Pukul 2, Sena menghentikan pekerjaannya. Sudah waktunya dia pulang. Sebelum pergi, dia memastikan merapikan beberapa hal lagi, lalu berpamitan kepada Miran dan Yongsik yang sedang bersama dengan klien. Tak lupa dia mengabari Andi, yang dengan cepat dibalas bahwa temannya itu sudah dalam perjalanan.

Maka Sena memutuskan menunggu di depan klinik. Dia berdiri di sisi pintu, menikmati hangatnya musim panas sambil menyaksikan keramaian di jalanan depan. Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang sendiri, ada yang berpasangan, ada juga yang bergerombol saling berbagi tawa. Tanpa sadar, Sena tersenyum menyaksikan interaksi orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Setelah beberapa saat berdiam diri mengamati jalanan, sebuah van hitam yang familier berhenti di depannya. Pintunya terbuka, menampakkan Andy yang tersenyum lebar. Di belakangnya, seorang pria yang lebih tinggi duduk, ia adalah Jeremy.

"Ayo," Andy mengisyaratkan pada Sena untuk segera masuk. Sena pun langsung menurut, naik ke van dan duduk berhadapan dengan Andy dan Jeremy.

"Kau pasti Elara yang sangat terkenal itu," cetus Jeremy dengan aksen Amerika yang kentara. Ia mengulurkan tangan, dan Sena menyambutnya sambil mengangguk.

"Benar. Senang bertemu denganmu, Jeremy."

"Aku juga." Jeremy melirik Andy dengan tatapan jenaka. "Aku senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, setelah selama ini hanya mendengar tentangmu dari orang ini. Kau harus tahu, dia tidak pernah bisa berhenti kalau sudah membahas soal kau."

"Hei, itu tidak benar," protes Andy, merasa seperti sedang difitnah.

Sena terkekeh pelan lalu menepuk kaki Andy. "Tidak apa-apa, Andy, tidak usah malu. Aku tahu aku memang sekeren itu, wajar kalau kau begitu bersemangat membicarakan soal aku."

Digoda begitu, Andy hanya bisa menghela napas dan memberitahu Jungho untuk melajukan mobilnya. Tampaknya dia sudah tahu mau ke mana, karena roda-roda mobil mulai berputar menyusuri jalanan kota. Selama perjalanan itu, Jeremy lebih banyak mengobrol dengan Sena, mencoba mengenalnya lebih jauh.

"Aku masih tidak menyangka bisa bertemu dengan seseorang yang telah mengenal Andy lebih lama daripada aku," celetuk Jeremy.

Sena mengedik. "Kalau dihitung-hitung, sebenarnya kita mengenal Andy dalam kurun waktu yang hampir sama," balasnya, menatap Andy sebentar. "Kau tahu, kan, kami sudah berpisah selama lebih dari satu dekade? Selama itu pun kami hilang kontak."

"Benar juga, ya," balas Jeremy sambil terkekeh. Dia melirik Andy dan melanjutkan, "Aku jadi penasaran, seperti apa kalian waktu kecil dulu."

Andy menggeleng, seolah isyarat agar topik itu tidak dilanjutkan. Tapi Jeremy malah tertawa pelan. "Ayolah, kenapa tidak boleh?"

Melihat Jeremy yang makin gencar menggoda Andy, Sena tidak kuasa menahan tawa. Kisah masa kecil mereka menyenangkan, tapi tentu ada beberapa momen memalukan yang sebaiknya tidak dibagikan kepada siapa pun, kecuali yang terlibat langsung di dalamnya. Sena paham. Dia bisa mengerti kenapa Andy panik sekali sekarang.

"Sudah sampai," kata Jungho, memutus serangan godaan yang masih dilancarkan Jeremy kepada Andy.

"Hah, syukurlah." Andy menghela napas lega, dan langsung membuka pintu van sebelum Jeremy melancarkan aksi selanjutnya.

Sena dan Jeremy saling tatap, kemudian kompak menertawakan Andy yang terlihat jelas ingin kabur. Setelah tawa keduanya reda, mereka bergegas menyusul Andy bersama Jungho dan satu manajer mereka yang laing. Semuanya memakai masker, tidak terkecuali Sena. Walaupun bukan artis, Sena tidak mau tiba-tiba wajahnya terpampang di ponsel netizen yang matanya terlalu jeli. Tidak lucu kalau besok tiba-tiba ada gosip yang mengatakan bahwa dirinya terlibat skandal dengan para idola yang sedang naik daun.

Begitu melihat sekeliling dan menyadari di mana mereka berada sekarang, Sena langsung menoleh ke arah Andy dan Jeremy dengan kedua tangan bertolak pinggang. Keduanya menangkap sikapnya itu dan balik menatapnya dengan ekspresi heran.

"Kalian serius sekarang?"

"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Andy, kebingungan. Jeremy mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Sena.

"Kita akan belanja di sini? Menurut kalian, anak kuliahan seperti aku mampu beli apa pun di toko-toko ini?" Sena bertanya sambil terkekeh geli, matanya menyapu deretan butik merek-merek mewah yang berjajar di sepanjang jalan, salah satu kawasan paling mahal di Seoul. Ia pernah ke sini sebelumnya, tapi hanya sekadar lewat, karena sudah melongo duluan melihat harga barang-barang yang dijual.

"Oh, santai aja. Kalau ada yang ingin kau beli, bilang saja, aku yang bayar," kata Andy menenangkan, dengan nada yang tulus.

"Kau pikir kau ini apa? Sugar daddy-ku?" Sena menimpali.

"Bro..." Andy terkekeh canggung sambil membenarkan maskernya dan mengalihkan pandangan. "Bukan begitu. Anggap saja aku mentraktirmu sesekali."

Sena mendesah pelan, lalu tidak menanggapi lagi. Dia mengikuti Andy dan Jeremy masuk ke toko pertama, sementara para manajer berjalan di belakang mereka menciptakan pengamanan. Mereka bertiga berkeliling toko, sesekali berhenti untuk melihat-lihat sebelum meletakkannya kembali karena tidak merasa cocok.

Bahkan tanpa melihat label harga sekalipun, Sena tahu harga barang-barang di toko itu mahal, dan jelas jauh di luar kemampuannya. Toko itu benar-benar mewah, dengan interior minimalis dan pencahayaan yang terang. Meski begitu, Sena tetap lanjut melihat-lihat, menikmati waktu berkeliling sambil terkagum-kagum pada pakaian dan perhiasan bermerek yang tampak cantik di sana.

Mereka berpindah dari toko satu ke toko yang lain. Tidak hanya melihat-lihat, Jeremy dan Sena juga mulai menemukan kegiatan lain yang lebih seru—menggoda Andy. Andy hanya pasrah saja menerima nasibnya, tidak mampu memberontak karena posisinya dua lawan satu. Meski sesekali berpura-pura merajuk, sebenarnya Andy senang. Dia lega karena Sena bisa berteman baik dengan Jeremy. Ditambah fakta bahwa Jeremy besar di Los Angeles, obrolan mereka juga jadi lebih nyambung dan santai.

"Lara," panggil Jeremy dari tempatnya berdiri, menarik perhatian Sena ketika ia sedang melihat-lihat kemeja. "Bisakah kau kemari sebentar? Aku butuh pendapatmu."

Sena mendekat tanpa ragu, bergabung dengan Jeremy yang tengah menunduk menatap etalase perhiasan di depan mereka yang dipenuhi anting-anting berkilauan.

"Yang mana?"

"Untuk siapa?" tanya Sena.

"Untuk pacarku," bisik Jeremy, teramat pelan agar tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya.

Jujur, Sena sedikit terkejut. "Oh, kau punya pacar? Manis sekali," bisiknya.

Jeremy tersenyum, tidak bisa menyembunyikan perasaan sayangnya pada sang kekasih. "Sebentar lagi anniversary kami, jadi aku ingin memberinya hadiah."

Dari sisi toko yang lain, Andy menyadari dua temannya sedang sibuk berdua. Maka dia bergabung. Pandangannya mengikuti ke mana mata Sena mengarah. Gadis itu tampak serius memindai setiap pasang anting yang dilihatnya.

"Boleh aku lihat fotonya?" tanya Sena, berhenti memindai.

Jeremy mengeluarkan ponselnya, membuka layar kunci, dan menunjukkan foto kekasihnya pada Sena.

"Wah, cantik sekali," pujinya tulus. "Berhati-hatilah, jangan sampai aku merebutnya," sambungnya sambil mengerlingkan mata.

Jeremy tersipu. Daripada candaan Sena, dia lebih fokus pada kalimat gadis itu sebelumnya. Bahwa kekasihnya cantik.

Sementara Sena, dia lanjut memilih. Opsi yang ada jadi bisa dipersempit setelah dia melihat foto kekasih Jeremy dan memperhatikan fitur-fitur di wajahnya. Pandangannya lalu berhenti pada sepasang anting berbentuk lingkaran, tebal, dan berwarna emas.

"Yang itu sepertinya cocok," katanya seraya menunjuk ke arah pilihannya.

Jeremy mengikuti arah jarinya dan memperhatikan anting tersebut, lalu mengangguk pelan setuju. "Kau benar. Aku ambil yang itu. Terima kasih!" katanya pada Sena.

"Senang bisa membantu, Tuan Han." Sena membalas dengan menyebutkan nama marga Jeremy.

Saat Jeremy pergi membayar anting-anting pilihannya, mata Sena tertuju pada sebuah tas. Ia mengambilnya dengan hati-hati dan memutarnya perlahan di tangannya, mengagumi kualitas bahan dan tampilan mewah tas tersebut. Ia sering melihatnya di internet, dan sesekali membayangkan untuk memilikinya.

"Cantik," kata Andy, begitu menyusul berdiri di sampingnya.

"Iya, kan?" sahut Sena pelan, seketika sadar bahwa tabungannya masih belum cukup untuk membawa tas itu pulang. Dia sudah menyiapkan tabungan khusus untuk meminangnya, hanya saja masih butuh beberapa bulan sampai targetnya tercapai.

"Kau mau?" tanya Andy.

"Mau," katanya sambil menghela napas sebelum meletakkan tas itu kembali dengan hati-hati. "Tapi aku belum mampu membelinya, dan aku juga tidak mau kau yang membelikannya."

Andy terkekeh dan mengangkat bahu, lalu kembali ke luar saat Jeremy sudah selesai berbelanja. Mereka menghabiskan sisa sore dengan berbelanja lagi, sebelum akhirnya masuk ke sebuah kafe kecil untuk minum dan menenangkan diri dari cuaca yang panas. Suasana di antara mereka terasa santai, membuat obrolan mengalir dengan mudah dari satu topik ke topik lainnya.

"Kalian tahu," kata Jeremy setelah meneguk birnya lalu meletakkannya kembali, "aku rasa aku sudah siap mendengar cerita-cerita masa kecil Andy yang memalukan, Elara."

"Bro—aku kan sudah bilang, kita tidak—"

"Ide bagus, Jeremy," potong Sena sambil tersenyum jahil,  seketika menghentikan Andy. "Biar aku ceritakan satu momen ketika Andy tersangkut di perosotan..."

Andy membenamkan wajahnya di telapak tangan, mendesah keras menahan malu ketika Sena dengan antusias menceritakan momen memalukan yang terjadi padanya dulu. Gadis itu sangat bersemangat, sampai tidak membiarkan satu detail pun terlewat.

Bersambung...

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!