Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ILMU BARU V KEHANGATAN KELUARGA.
Aroma bumbu rempah yang harum menyeruak dari dapur rumah megah keluarga Adam. Aurel, yang kini mulai terbiasa bangun sebelum matahari terbit. Melangkah keluar kamar dengan gamis rumahannya yang sederhana namun elegan. Sedangkan Adam sudah berangkat ke kantor A-Games sejak pukul tujuh pagi karena ada rapat darurat dengan tim pengembang.
Di dapur, Aurel melihat Arumi sedang sibuk mengulek sambal sementara sebuah wajan besar berisi bumbu tumisan sudah mulai meletup-letup.
"Pagi, Mbak Arumi. Ada yang bisa Adel bantu?" tanya Aurel ragu-ragu.
Arumi menoleh dan tersenyum cerah. "Pagi, Adel! Wah, pengantin baru sudah bangun. Sini, kalau mau bantu, tolong potongkan sayur mayur ini. Kita mau bikin rawon kesukaan Adam."
Aurel mendekat, mengambil pisau dengan kikuk. Sebagai seorang CEO, tangannya lebih terbiasa memegang pena mahal daripada pisau dapur. "Jujur saja Mbak, di Jakarta saya hampir tidak pernah masuk dapur. Paling hanya menyeduh kopi."
Arumi tertawa kecil sambil terus mengulek. "Nggak apa-apa, Adel. Masak itu bukan soal bakat, tapi soal rasa cinta. Kalau kita masak buat orang yang kita sayang, bumbunya bakal terasa lebih pas. Coba potong dadu ya, pelan-pelan saja."
Sambil memotong sayuran, Aurel mulai membuka percakapan yang lebih dalam. Ia merasa Arumi adalah sosok kakak yang selama ini tidak pernah ia miliki.
"Mbak, apa Adam memang seserius itu kalau bekerja? Tadi malam dia baru tidur jam satu pagi," tanya Aurel.
"Begitulah Adam," Arumi menghentikan ulekannya sejenak. "Sejak Ayah meninggal, dia merasa punya tanggung jawab besar untuk menjaga martabat keluarga. Dia tidak ingin dipandang rendah. Tapi di balik sifat seriusnya itu, dia sangat lembut. Dulu waktu kecil, dia selalu bilang ingin punya istri yang hebat seperti kamu, Del."
Aurel tersipu, pipinya bersemu merah. "Tapi Mbak, apa Mbak tidak merasa aku terlalu tua untuknya? Kadang aku merasa minder kalau melihat teman-temannya yang masih sebaya dengannya."
Arumi meletakkan ulekannya, lalu memegang tangan Aurel yang masih memegang pisau. "Adel, dengar ya. Laki-laki seperti Adam itu mencari ketenangan, bukan sekadar teman main. Dia menemukan ketenangan itu di kamu. Usia itu hanya angka di KTP, tapi kedewasaan jiwa itu yang membuat pernikahan bertahan. Jangan biarkan pikiran negatif itu merusak kebahagiaanmu."
"Terima kasih, Mbak. Kata-kata Mbak selalu membuatku tenang," bisik Aurel tulus.
"Alhamdulillah kalau kamu merasa tenang, sekarang kamu menumis sini" ujar Arumi yang sudah berdiri didepan kompor. "Nah, Adel, kuncinya adalah menumis bumbunya sampai benar-benar matang dan 'tanak' supaya tidak langu," katanya lagi sambil mengaduk bumbu di wajan dengan lihai.
Aurel memperhatikan dengan saksama, sesekali mencatat di ponselnya. "Ternyata memasak itu butuh kesabaran ekstra ya, Mbak? Sama seperti mengelola perusahaan, salah sedikit saja 'resepnya', hasilnya bisa kacau."
Arumi tertawa renyah mendengar perumpamaan itu. "Betul sekali! Tapi bedanya, kalau masakanmu gagal, yang protes cuma perut. Kalau perusahaan gagal, banyak orang yang kena imbasnya. Sini, coba kamu yang aduk, rasakan aromanya."
Aurel mengambil alih sodet, mengaduk perlahan dengan wajah serius. "Mbak, terima kasih ya sudah sabar mengajariku. Aku merasa sangat beruntung punya kakak ipar sepertimu. Selama sepuluh tahun ini, duniaku cuma angka dan rapat."
"Sama-sama, Sayang. Bagiku, melihat Adam bahagia bersamamu adalah segalanya. Dia itu sangat memujamu, tahu!" goda Arumi yang membuat pipi Aurel merona merah.
Setelah selesai dengan urusan dapur, Aurel menghabiskan waktu di taman belakang bersama Raffa. Anak kecil itu membawa sekotak mainan blok bangunan dan menarik tangan Aurel agar duduk di karpet rumput.
"Tante Adel! Ayo bantu Affa bikin istana buat robot," seru Raffa dengan semangat.
Aurel duduk bersimpuh, membantu menyusun blok-blok plastik itu. "Wah, istananya harus kuat ya, Raffa? Biar robotnya tidak jatuh kalau ada naga datang."
Raffa menatap Aurel dengan tatapan polosnya yang bijak. "Naga itu nggak jahat, Tante. Dia cuma kesepian karena nggak punya teman main. Kayak Om Adam dulu sebelum ada Tante Adel."
Aurel tertegun, tangannya berhenti menyusun blok. "Kenapa Raffa bilang begitu?"
"Iya, dulu Om Adam suka duduk sendiri di taman ini kalau pulang kerja. Wajahnya capek terus. Tapi sekarang, Om Adam sering senyum kalau liat HP. Pasti liat foto Tante Adel, ya?" tebak Raffa sambil tertawa kencang.
Aurel tersenyum haru, mencubit gemas pipi Raffa. "Raffa ini pintar sekali bicara ya. Tante jadi malu."
"Nggak usah malu, Tante cantik. Raffa sayang Tante!" teriak anak itu sambil memeluk leher Aurel dengan erat.
Tepat tengah hari, saat Aurel sedang mencuci tangannya setelah bermain tanah dengan Raffa, ponselnya berdering. Nama 'Adam' muncul di layar, membuat senyum Aurel mengembang seketika.
"Halo, Assalamualaikum, Adam. Ada apa? Kamu sudah makan siang?" tanya Aurel langsung.
"Waalaikumsalam, Istriku. Sudah, ini baru selesai makan dengan Rian," suara bariton Adam terdengar tenang di seberang sana. "Begini, Adel. Tiba-tiba salah satu teman SMA-ku menghubungiku. Mereka mengadakan reuni kecil-kecilan di sebuah kafe sore nanti. Mereka tahu aku di Surabaya dan memaksaku datang."
Aurel terdiam sejenak. "Oh, benarkah? Ya sudah, kamu pergi saja. Aku akan di rumah bersama Mbak Arumi dan Raffa."
"Tidak, Adel. Aku ingin mengajakmu. Aku ingin mengenalkan istriku pada teman-teman lamaku. Apakah kamu bersedia?" tanya Adam dengan nada penuh harap.
Aurel menggigit bibir bawahnya, rasa ragu kembali muncul. "Teman SMA mu? Adam, mereka pasti masih sangat muda. Apa kamu tidak takut mereka akan berpikir... kamu membawa kakakmu?"
Adam tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu tulus. "Adel, berhenti berpikir begitu. Kamu sangat cantik dan elegan. Aku justru ingin pamer bahwa aku memiliki istri yang luar biasa. Jadi, bagaiman? Kamu mau, kan?"
"Baiklah... kalau kamu memaksa. Jam berapa kamu menjemputku?" akhirnya Aurel setuju.
"Jam empat sore. Berdandanlah yang cantik, tapi jangan terlalu cantik, aku tidak ingin mereka jatuh cinta padamu," canda Adam sebelum menutup telepon.
Setelah menutup telepon, Aurel segera menemui Arumi di ruang tengah dan menceritakan tentang undangan reuni tersebut. Arumi menyambutnya dengan sorak kegembiraan.
"Ini kesempatan bagus, Del! Ayo, kita siapkan penampilan terbaikmu. Kita pakai gaya hijab yang berbeda untuk sore ini," seru Arumi antusias.
Mereka masuk ke kamar. Arumi mengeluarkan koleksi hijab pashmina berbahan ceruti yang mewah. Ia mulai melilitkan kain itu ke kepala Aurel dengan teknik yang baru.
"Lihat ke cermin, Adel. Tarik bagian ini ke belakang, lalu biarkan sisinya menjuntai di bahu. Ini akan membuat wajahmu terlihat lebih tirus dan segar," instruksi Arumi sambil jemarinya bergerak lincah.
Aurel memperhatikan pantulannya di cermin. "Mbak, kenapa cara Mbak melilitnya terasa sangat pas? Aku kalau pakai sendiri selalu miring ke sana-sini."
Arumi tertawa sambil menyematkan jarum pentul dengan hati-hati. "Ini butuh jam terbang, Sayang! Nah, lihat sekarang. Gaya hijab ini cocok dengan gaun yang kamu pakai. Kamu terlihat seperti wanita bangsawan muda, bukan wanita tiga puluh tahunan."
Aurel menyentuh hijabnya dengan kagum. "Mbak Arumi, terima kasih banyak. Aku merasa... aku merasa sangat percaya diri sekarang. Ternyata banyak sekali ilmu yang aku dapatkan darimu hari ini, mulai dari bumbu rawon sampai cara pakai hijab."
Arumi memeluk bahu Aurel dari belakang. "Itulah gunanya saudara, Del. Aku senang bisa membantumu. Sekarang, tinggal poleskan sedikit make-up natural. Biarkan teman-teman Adam terpesona melihat bidadari yang dibawa adikkku itu."
Aurel menatap dirinya di cermin, hatinya bergetar. Ia merasa siap. Ia bukan lagi CEO dingin yang ditakuti, melainkan seorang istri yang bangga mendampingi suaminya. Namun, sebuah tanya masih tersisa di benaknya: Bagaimana reaksi teman-teman Adam yang sepuluh tahun lebih muda darinya nanti?