Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 21_Singa di Tengah Malam
Chen Wei tertawa kecil. "Adrian Arkadia, sang Elang yang legendaris akhirnya turun dari sarangnya demi seorang gadis kampung. Benar-benar sebuah tontonan yang mengharukan."
Adrian tidak duduk, ia berdiri di depan meja Chen Wei, kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket.
"Kau melewati batas, Chen. Urusan bisnis kita adalah satu hal, tapi membawa istriku ke dalam permainanmu adalah kesalahan terakhir yang akan kau lakukan."
"Kesalahan?" Chen Wei mengangkat alisnya.
"Aku hanya ingin memberikan sedikit 'kejutan' pada presentasinya besok. Bayangkan wajahnya saat aku memutar video suaminya yang kuli panggul ini sebenarnya adalah pemilik dari gedung tempat dia berpidato. Dia akan merasa seperti dibohongi seumur hidupnya, Adrian. Dia akan membencimu."
Adrian menatap Chen Wei dengan pandangan yang membuat pria Singapura itu perlahan meletakkan gelasnya.
Ada sesuatu yang sangat berbahaya dalam ketenangan Adrian.
"Kau pikir aku datang ke sini untuk memohon?" tanya Adrian dingin.
"Aku ke sini untuk memberimu pilihan. Besok pagi, kau menarik semua tuntutanmu atas lahan di Marina Bay dan pergi dari Singapura dalam waktu satu jam setelah matahari terbit." lanjutnya.
"Atau apa?" tantang Chen Wei, memberi kode pada pengawalnya untuk mendekat.
Adrian mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya yaitu sebuah pemancar sinyal enkripsi.
"Atau, dalam sepuluh detik ke depan, tim IT-ku akan merilis dokumen transaksi gelap kasinomu di Macau kepada otoritas pajak internasional. Aku juga sudah membeli seluruh hutang perusahaan konstruksimu yang gagal di Johor. Kau akan bangkrut, dipenjara, dan dilupakan oleh sejarah sebelum istrimu bangun untuk sarapan pagi ini."
Wajah Chen Wei memucat seketika. "Kau... kau tidak mungkin melakukan itu dalam waktu sesingkat ini."
"Satu... dua... tiga..." Adrian mulai menghitung dengan suara datar.
Pada hitungan ketujuh, ponsel Chen Wei bergetar hebat, ia melihat layar ponselnya dan matanya membelalak.
Laporan kerugian saham perusahaannya terjun bebas secara tidak wajar.
"Berhenti! Berhenti, Adrian!" teriak Chen Wei. Ia tahu dia telah kalah telak.
Melawan Adrian Arkadia dalam kondisi normal saja sulit, apalagi melawan Adrian yang sedang melindungi cintanya.
"Pilihannya, Chen," tekan Adrian.
"Baik! Aku pergi! Aku tidak akan mengganggunya! Sialan kau, Adrian!" Chen Wei membanting gelasnya ke lantai, lalu segera berdiri dan pergi meninggalkan bar dengan langkah gemetar, diikuti oleh pengawalnya yang tampak bingung.
Adrian menghela napas panjang, ia memberi isyarat pada Hendra untuk membereskan sisa-sisanya.
Namun, saat ia melangkah keluar dari lift menuju lantainya, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat menghadapi Chen Wei tadi.
Di tengah koridor, pintu kamarnya terbuka, Arumi berdiri di sana, mengenakan jubah hotel putih yang kebesaran, wajahnya tampak sangat cemas.
"Mas Ian?" panggil Arumi.
Adrian membeku, di belakangnya Hendra dan dua pengawal masih berdiri dalam posisi siaga, satu pengawal bahkan masih memegang walkie-talkie yang menyala.
Arumi menatap pria-pria di belakang suaminya. "Mas... apa yang terjadi? Siapa mereka? Kenapa Mas keluar tengah malam?"
Pikiran Adrian bekerja secepat kilat, ia segera memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan, bahunya kembali merosot. "Arumi! Astaga, aku membangunkanmu?"
"Mas, siapa mereka?" Arumi menunjuk ke arah Hendra yang tampak sangat kaku dalam setelan jasnya.
Adrian menoleh ke arah Hendra, lalu kembali ke Arumi. "Ini... ini petugas keamanan hotel, Sayang. Tadi aku terbangun karena haus dan ingin membeli minuman ke lobi, tapi aku tersesat di lorong. Lalu petugas ini menemukanku dan mengantarku kembali. Aku pikir aku salah lantai."
Hendra, yang sudah sangat terlatih menghadapi situasi darurat sang tuan muda, segera berakting, ia menunduk sopan ke arah Arumi.
"Mohon maaf, Nyonya. Suami Anda tadi tampak bingung di dekat lift lantai bawah. Kami hanya memastikan tamu kami kembali ke kamar dengan selamat."
Arumi menatap mereka dengan curiga. "Tapi kenapa kalian terlihat sangat... formal? Dan kenapa Mas Ian tadi terlihat sangat serius?"
"Aku hanya takut didenda karena berkeliaran malam-malam, Arumi," bohong Adrian sambil mendekati istrinya dan merangkul bahunya.
"Kau tahu sendiri betapa ketatnya peraturan di Singapura. Aku tidak mau kita dideportasi hanya karena aku ingin sebotol air dingin."
Arumi menghela napas, kecurigaannya sedikit mereda meski belum hilang sepenuhnya.
"Lain kali bangunkan aku, Mas. Aku takut terjadi sesuatu padamu di negeri orang."
"Iya, Sayang. Maafkan aku," bisik Adrian. Ia melirik tajam ke arah Hendra dengan sebuah isyarat agar mereka segera menghilang.
Setelah kembali ke dalam kamar, Arumi duduk di tepi tempat tidur, masih menatap Adrian yang sedang menaruh botol air mineral (yang ia ambil dari meja lobi tadi sebagai bukti).
"Mas Ian," panggil Arumi.
"Ya?"
"Tadi saat Mas berdiri di lorong bersama orang-orang itu... entah kenapa, Mas terlihat sangat berbeda. Mas terlihat seperti seseorang yang... sangat berkuasa. Bukan seperti Ian yang biasanya aku kenal."
Adrian terdiam sejenak. Ia duduk di samping Arumi, menggenggam tangannya.
"Mungkin itu hanya efek lampu lorong yang terlalu terang Arumi, di sini aku hanya suamimu, kuli panggul yang beruntung bisa membawamu ke Singapura. Jangan terlalu banyak berpikir, besok adalah hari besarmu."
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Aku hanya takut, Mas. Aku takut kemewahan ini hanya sementara, dan suatu hari aku akan kehilangan segalanya... termasuk Mas."
Adrian mengecup kening Arumi. "Kau tidak akan kehilanganku. Aku akan selalu ada di bayang-bayangmu, menjagamu agar tidak ada satu pun batu yang membuatmu tersandung."
Di luar, fajar mulai menyingsing di ufuk timur Singapura. Adrian tahu bahwa ancaman Chen Wei telah berakhir, namun ia sadar bahwa rahasianya semakin sulit untuk disembunyikan.
Arumi mulai merasakan "aura" aslinya, dan itu hanya masalah waktu sebelum insting wanita itu mengungkap segalanya.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, Siska baru saja selesai mencuci tumpukan piring yang tingginya hampir menyamai bahunya.
Ia duduk di lantai dapur yang basah, menangis meratapi nasibnya.
"Aku benci Arumi... Aku benci Ian..." gumamnya dengan suara parau.
Tiba-tiba, seorang pria masuk ke dapur. Itu adalah asisten Pak Surya. "Siska, ada telepon untukmu."
Siska berharap itu ibunya atau bantuan, namun saat ia mengangkat telepon, suara dingin Hendra terdengar di seberang sana.
"Nona Siska, ini adalah peringatan terakhir. Jika Anda mencoba menghubungi media untuk menyebarkan fitnah tentang kakak Anda lagi, denda Anda akan naik menjadi lima ratus juta rupiah. Nikmatilah pekerjaan Anda."
Telepon ditutup, Siska menjerit histeris namun suaranya tenggelam dalam kebisingan mesin cuci piring.
Di sana, di kegelapan dapur hotel melati, ia menyadari bahwa ada kekuatan tak terlihat yang sedang menghancurkannya, dan kekuatan itu jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa ia bayangkan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡