Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sepulangnya dari rumah sakit Pak Adnan masih menemai Dahlia. Tujuan langkah kaki mereka menemui Ryan yang diketahui Dahlia tidak ada di rumah dan di kantor. Mereka langsung menuju apartemen Liana.
Dahlia dan Pak Adnan sudah masuk ke dalam apartemen dengan melupakan etika bertamu karena pintu apartemen terbuka. Mereka sudah mengetuk pintu tapi tidak ada respon, ternyata sedang ada keributan di dalam apartemen tersebut.
"Aku nggak masalah kamu datang ke sini hanya karena ingin tubuhku. Tapi aku minta kamu peduli pada bayimu yang ada di perutku. Luangkan waktumu untuk kita, bayi kita."
"Tapi Dahlia juga sedang hamil, aku harus bersamanya."
Kemudian Liana tertawa kencang.
"Kamu udah gila, Ryan!. Dahlia itu nggak hamil, aku yang membuatnya bertahan di sisimu karena keterangan palsu dari dokter. Kalau bukan karena aku pasti Dahlia udah jatuh dalam pelukan Andan. Aku yang benar-benar hamil yang seharusnya mendapat perhatianmu."
Ryan duduk terdiam.
"Jadi kalian yang memanipulasi semuanya?."
"Sayang..."
Ryan yang tadi duduk diam kini bangkit menghampiri Dahlia.
"Kamu bener hamil, sayang, di perutmu ada buah cinta kita. Kita akan jadi orang tua yang bahagia untuk anak kita, sayang."
"Aku nggak tuli, Ryan, jelas-jelas aku dengar Liana yang sedang hamil anakku. Perempuan itu mengemis cinta dan perhatian darimu untuk kalian."
Dahlia menatap kasihan pada Liana.
"Seharusnya kamu bersyukur Liana nggak menghilangkan nyawa bayimu. Liana mau menerimamu yang hanya memaafkannya, Liana sangat mencintaimu, seharusnya kamu belajar mencintai dan menerimanya."
"Aku sangat mencintaimu, sayang, enggak ada perempuan lain."
"Lupakan aku, Ryan, aku juga udah melupakannya kamu. Aku hidup untuk masa depan dan aku harap kamu juga."
"Nggak, sayang."
"Aku hanya minta cerai, aku harap kamu pikirkan baik-baik sebelum sesuatu yang nggak kamu inginkan terjadi."
Dahlia mengancamnya halus, Ryan pun sangat paham. Dia bisa bermasalah dengan hukum jika tidak mengabulkan cerai Dahlia.
Ryan tertunduk lesu tanpa mengatakan apa-apa, dia menghela napas panjang setelah Dahlia dan Pak Adnan keluar dari apartemen.
Pak Adnan mengantar Dahlia pulang ke rumah mamanya. Ini pertemuan pertama mereka, mama sudah tahu dari cara putrinya menatap laki-laki itu namun ada yang membuatnya khawatir.
"Kamu lagi hamil, masih istri Ryan, kenapa bawa Pak Adnan ke rumah?. Bagaimana kalau Ryan atau mertuamu mengetahuinya?. Ini akan menjadi masalah besar untukmu."
Mama membawa Dahlia menjauh dari Pak Adnan yang duduk di ruang tamu ditemani Bayu.
"Mama tenang aja, aku pastikan Ryan mau menceraikan aku. Karena tahu kenapa, ma?." Mama coba tebak."
"Nggak main tebak-tebakan, Dahlia. Jantung mama udah mau copot ini."
Mama menarik tangan Dahlia lalu meletakkannya di dadanya yang berdebar hebat.
"Baik, mamaku sayang. Aku nggak hamil, sekarang aku sedang haid dan secepatnya aku akan bebas."
Mama menatap intens wajah Dahlia, lalu turun ke perut lalu ke bawah lagi.
"Kamu yang bener, Lia?. Apa karena kamu suka sama Pak Adnan jadi ngarang cerita begini sama mama?."
Dahlia tersenyum lebar.
"Nggaklah, ma, aku tahu diri dan Pak Adnan pun laki-laki baik."
"Kamu boleh sama Pak Adnan kalau kamu udah selesai dengan Ryan."
"Siap, mama."
Mama dan Dahlia menghampiri Pak Adnan, laki-laki itu bisa diajak ngobrol dan main sama Bayu. Mereka merestui tapi harus menunggu Dahlia mendapatkan gelar jandanya.
Pak Adnan pamit setelah cukup lama berada di sana, sedikit mengobrol dengan mamanya Dahlia. Ada beberapa topik pembicaraan yang memperlihatkan mereka langsung akrab.
Dahlia tersenyum lebar, dia begitu senang nyatanya dia mendapatkan restu dari mamanya.
Tidak ada lagi yang dia takutkan dari Ryan, dia percaya Ryan bisa bersikap dewasa dan tidak lagi mempersulit hidupnya.
Dahlia menutup pintu kamar namun tidak benar-benar rapat saat samar-samar terdengar dari kamar kakaknya ada suara tangisan.
Apa yang terjadi dengan kakaknya?. Kakaknya di kamar seorang diri karena Bayu tidur bersama mamanya.
"Ngapain nguping?."
Mama datang mengagetkannya.
"Kakak menangis."
"Udah dari kemarin-Kemarin kakakmu menangis."
"Menangis kenapa?."
"Apa lagi kalau bukan keluarga mantan suaminya?."
Lalu mama membawa Dahlia ke ruang keluarga.
"Memangnya mereka kenapa?. Kenapa tiba-tiba menggangu kakak?."
"Mereka menginginkan Bayu, karena pernikahan Putra yang sama selingkuhannya nggak punya-punya anak."
"Karma itu memang nyata, ya, ma. Ih, kok aku merinding sih."
Sambil mengusap-usap lengannya.
"Mereka udah menyiapkan pengacara untuk ngambil Bayu."
"Bayunya tahu nggak kalau mau diambil papanya?."
"Belum, kakakmu nggak mau mengatakannya."
Dahlia melamun, mengingat kembali saat mereka membuang kakak dan bayi yang ada di dalam rahimnya. Kakaknya sangat hancur sehancurnya. Begitu berat menghidupi anak tanpa punya pekerjaan, apa pun dikerjakan kakaknya ungu untuk demi menghidupkan putranya hingga bisa terurus dengan baik seperti sekarang ini.
Sekarang seenak udelnya saja mau mengambil Bayu.
Karena saking asyiknya ngobrol sampai tidak terasa sudah larut malam. Mereka pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
*
Senyum Dahlia memancarkan kebahagiaan tiada tara, kebebasan itu akhirnya didapatkannya tanpa harus adu kekuatan, tanpa debat dan tanpa drama lagi. Dia menatap dokumen yang sudah mengesankannya menjadi seorang janda.
Hal yang dulu sangat ditakutinya tapi tidak sekarang.
"Kamu seneng?."
"Sangat, akhirnya aku bebas dan menjadi janda itu tidak semenakutkan itu. Atau mungkin..."
Dahlia menatap Pak Adnan setelah menggantung ucapannya.
"Mungkin apa?."
Pak Adnan terpancing juga untuk bertanya.
"Karena ada Pak Adnan di sisiku, mengisi hatiku dan menemani hari-hariku."
Pak Adnan tersenyum simpul.
"Udah pinter gombal sekarang."
Dahlia pun tersenyum.
"Tapi seneng nggak aku gombal-in?."
Seketika Pak Adnan menarik pinggang Dahlia hingga tanpa jarak di antara mereka.
"Pak, ini di kantor."
Dahlia berusaha melepaskan diri tanpa tangan laki-laki itu seperti mengandung lem, begitu lengket pada pinggangnya.
"Kata siapa ini di kamar?."
Pak Adnan menempelkan keningnya pada kening Dahlia.
"Aku seneng banget dan aku mau setiap hari dengar gombalan, pujian dari kamu."
Hidung mereka mulai bersentuhan, napas mereka beradu, bibir mereka hampir menyentuh namun masih dihindari.
"Kamu mau kan nikah sama aku, Ia?."
Dahlia menatap lembut wajah tampan dengan mata sayu. Bibirnya bergerak antara mau menghindar atau memang dia mau menyentuhnya.
"Pak Adnan melamarku?."
Dahlia menarik keningnya namun hidup dan napas mereka saling menyentuh.
"Kalau bisa kita nikah sekarang, Ia."
Dahlia tersenyum sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Pak Adnan namun masih ada sedikit jarak.
Karena tak sabar, Pak Adnan terpancing dengan keintiman mereka akhirnya dia menabrakkan bibirnya pada bibir Dahlia.
Tidak ada penolakan walau pada awalnya hanya diam. Namun setelah beberapa menit Dahlia membalasnya. Mereka berciuman di ruangan Pak Adnan yang sebenarnya sangat rentan dimasuki orang-orang penting.
Karena gejolak rasa yang kian menggebu dari keduanya, mereka melupakan itu dan sangat menikmati ciuman bibir yang sekarang lebih menuntut.
Suara khas dari ciuman bibir itu sampai terdengar oleh seseorang yang baru memasuki ruangan.