Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Setelah konfrontasi tajam di lobi kantor, Arga mengira badai akan sedikit mereda. Namun, ia lupa bahwa Siska Roy bukanlah tipe wanita yang mundur setelah dipukul. Baginya, perlawanan Nabila di lobi adalah sebuah tantangan terbuka yang harus dibalas dengan serangan yang lebih mematikan, serangan yang menggunakan Pak Roy sebagai tamengnya.
Sore itu, sebuah undangan fisik berwarna krem dengan cetakan tinta emas tiba di meja kerja Arga dan juga dikirimkan melalui kurir khusus ke kantor hukum Nabila.
"Makan malam privat di kediaman keluarga Roy. Pak Roy ingin merayakan keberhasilan fase pertama proyek Sudirman bersama manajer terbaiknya dan istrinya."
Arga menatap undangan itu dengan tangan bergetar. Ini bukan sekadar makan malam, ini adalah jebakan di mana ia dan Nabila akan dipaksa masuk ke kandang macan. Ia mencoba menelepon Pak Roy untuk membatalkan dengan alasan kesehatan, namun Pak Roy menjawab dengan nada sangat ceria yang tidak bisa ditolak.
"Arga, jangan sungkan. Siska sendiri yang bersikeras ingin mengenal istrimu lebih jauh setelah pertemuan singkat kalian di lobi kemarin. Dia bilang istrimu wanita yang sangat berkarakter. Kami tunggu jam tujuh malam ini."
~~
Malam itu, Jakarta diguyur hujan gerimis, menambah suasana dingin yang menyelimuti perasaan Arga dan Nabila. Arga mengenakan setelan jas hitam formal, sementara Nabila tampil memukau dengan gaun midi berwarna biru tua yang memberikan kesan tegas namun anggun. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan leher jenjang dan tatapan matanya yang waspada.
"Kau siap, Mas?" tanya Nabila saat mereka berdiri di depan gerbang raksasa kediaman Pak Roy.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, Nabila. Kita bisa berbalik sekarang jika kau tidak sanggup," jawab Arga cemas.
Nabila menggenggam tangan Arga, meremasnya kuat. "Kita sudah sepakat. Jangan biarkan dia melihat kita gemetar."
Pintu kayu ek raksasa itu terbuka. Mereka disambut oleh pelayan berseragam dan diarahkan menuju ruang makan utama yang didominasi oleh perabotan antik dan lukisan-lukisan mahal. Di ujung meja panjang, Pak Roy duduk dengan wajah berseri-seri, dan di sampingnya, Siska tampak seperti ratu dalam balutan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan dada rendah yang provokatif.
"Arga! Nabila! Selamat datang," seru Pak Roy sambil berdiri. "Siska, lihat, mereka pasangan yang sangat serasi, bukan?"
Siska tersenyum, jenis senyum yang hanya sampai di bibir namun matanya tetap sedingin es. "Sangat serasi, Sayang. Mari, silakan duduk. Aku sudah menyiapkan menu khusus malam ini."
Suasana makan malam itu dimulai dengan ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh tiga orang di sana, sementara Pak Roy tetap asyik bercerita tentang masa muda dan bisnisnya. Hidangan pembuka disajikan - Seared Scallops dengan saus lemon.
Siska menyesap anggur merahnya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari piring Arga.
"Oh, aku harap kau menyukainya, Arga. Aku ingat seseorang pernah bilang padaku kalau dia sangat menyukai makanan laut yang dimasak dengan sedikit mentega putih, tapi sangat benci jika ada aroma bawang putih yang terlalu kuat. Bukankah begitu?" tanya Siska dengan nada ringan, seolah-olah itu adalah pengetahuan umum.
Arga tertegun. Itu adalah preferensi makannya yang sangat spesifik, sesuatu yang hanya diketahui oleh orang yang pernah hidup sangat dekat dengannya.
Nabila tetap tenang, ia memotong kerangnya dengan rapi. "Wah, kebetulan sekali, Bu Siska. Mas Arga memang memiliki selera yang unik. Tapi aneh ya, informasi sedetail itu biasanya hanya diketahui oleh istri atau... orang yang sangat terobsesi pada detail karyawan," balas Nabila dengan sindiran halus.
Siska tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding ruangan. "Mungkin insting wanita saja, Nabila. Aku memang suka mempelajari orang-orang di sekitarku. Seperti hobi Arga yang suka menggambar sketsa bangunan di kertas tisu saat sedang menunggu makanan datang. Apakah dia masih melakukan itu?"
Pak Roy tertawa. "Benarkah, Arga? Aku baru tahu kau punya kebiasaan seromantis itu."
Wajah Arga memucat. Itu adalah kenangan sepuluh tahun lalu saat mereka masih kuliah dan sering makan di warung pinggir jalan. Siska sengaja membongkar memori-memori itu untuk menunjukkan pada Nabila bahwa ia memiliki sejarah yang lebih dalam dengan Arga.
"Itu kebiasaan lama yang sudah saya tinggalkan sejak saya mengenal Nabila, Pak Roy," jawab Arga tegas. "Sejak menikah, saya lebih suka fokus pada apa yang ada di depan mata saya, bukan pada coretan di kertas tisu."
Hidangan utama keluar - Steak Wagyu dengan tingkat kematangan medium rare. Siska terus melancarkan serangannya. Kali ini ia mengincar Nabila secara langsung.
"Nabila, Arga sering bercerita tentang betapa hebatnya kau sebagai pengacara. Tapi aku penasaran, apakah kau tidak merasa kesulitan mendampingi pria seambisius Arga? Pria seperti dia butuh wanita yang bisa mengimbangi langkahnya di dunia bisnis, bukan hanya wanita yang sibuk dengan urusan hukum orang lain."
Nabila meletakkan pisau dan garpunya, menatap Siska tepat di matanya. "Bagi saya, Bu Siska, pernikahan bukan soal adu langkah atau ambisi. Ini soal menjadi rumah. Arga mungkin ambisius di kantor, tapi saat pulang, dia butuh ketenangan, kejujuran, dan kesetiaan. Dan saya rasa, itu jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi rekan bisnis."
"Kesetiaan..." Siska menggumamkan kata itu seolah-olah itu adalah bahasa asing yang menggelikan. "Kadang orang bertahan karena setia, tapi kadang mereka bertahan karena tidak tahu bahwa pasangan mereka menyimpan rahasia besar. Bukankah begitu, Sayang?" Siska mengalihkan pandangan pada Pak Roy sambil mengelus lengan suaminya itu.
Pak Roy mengangguk tanpa sadar. "Rahasia selalu ada dalam bisnis, tapi dalam pernikahan... yah, semoga tidak ada."
Siska kembali menatap Arga. "Ngomong-ngomong soal rahasia, Arga, aku baru ingat. Aku menemukan sebuah buku tua di perpustakaan kantorku. Buku tentang teknik sipil tahun 2015. Di dalamnya ada foto wisuda seorang pria yang sangat mirip denganmu, tapi fotonya sudah agak rusak di bagian sisinya. Apa kau pernah kehilangan barang di kantor lama?"
Ini adalah ancaman terbuka. Siska sedang memberi tahu Arga bahwa ia menyimpan benda-benda dari masa lalu mereka.
Arga merasa dadanya sesak. Ia merasa seperti tikus yang sedang dipermainkan oleh kucing sebelum dibunuh. "Saya tidak ingat, Bu Siska. Barang yang sudah hilang biasanya memang sudah tidak berharga bagi saya."
Suasana semakin memanas saat Siska sengaja menjatuhkan serbetnya ke lantai, tepat di dekat kaki Arga. Saat ia merunduk untuk mengambilnya, ia sengaja menyentuhkan tangannya ke betis Arga di bawah meja, sebuah tindakan gila yang dilakukan tepat di depan suami dan istri sah mereka.
Arga tersentak kaget, hampir menjatuhkan gelas anggurnya.
"Mas? Kau baik-baik saja?" tanya Nabila. Ia melihat kegelisahan di wajah Arga dan ia tahu Siska baru saja melakukan sesuatu di bawah meja.
"Aku... aku hanya sedikit pusing," jawab Arga.
Siska kembali duduk dengan wajah tanpa dosa, memegang serbetnya. "Oh, maaf Arga. Aku tadi tidak sengaja menyenggolmu. Lantai ini memang agak licin."
Nabila menyadari permainan ini sudah terlalu jauh. Ia tidak bisa lagi hanya diam dan bersikap elegan. Ia harus memberikan serangan balik yang membuat Siska tahu bahwa ia tidak bisa diremehkan.
"Bu Siska," ucap Nabila dengan nada yang sangat serius, membuat Pak Roy pun berhenti mengunyah. "Bicara soal masa lalu dan barang-barang yang hilang... saya juga baru saja mempelajari sebuah kasus di firma hukum saya. Tentang seorang wanita yang mencoba menghancurkan hidup orang lain karena dia tidak bisa merelakan kegagalannya di masa lalu. Wanita itu sangat terobsesi sampai dia lupa bahwa dia bisa kehilangan segalanya jika rahasianya sendiri terbongkar."
Siska mengangkat alisnya, wajahnya menegang. "Oh ya? Rahasia apa?"
"Rahasia tentang bagaimana dia mendapatkan posisinya sekarang. Tentang manipulasi aset, dan mungkin... tentang prosedur ilegal yang pernah dia lakukan sepuluh tahun lalu yang bisa membatalkan seluruh reputasinya jika dilaporkan ke pihak berwajib," Nabila tersenyum sangat tipis, sebuah senyum yang mengandung ancaman hukum yang nyata.
Keheningan seketika menyelimuti meja makan. Pak Roy tampak bingung dengan arah pembicaraan ini. "Nabila, itu terdengar seperti plot film detektif."
"Dunia hukum memang kadang lebih gila dari film, Pak Roy," jawab Nabila tenang.
Siska mencengkeram gelas anggurnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Nabila tidak sedang menggertak. Nabila sedang memberitahunya bahwa dia sudah mulai menggali tanah di bawah kakinya.
Makan malam pun berakhir dengan atmosfer yang sangat berat. Saat mereka berpamitan di depan pintu, Siska sempat menarik Nabila sedikit menjauh sementara Pak Roy sedang berbicara dengan Arga di dekat mobil.
"Kau pikir kau sangat pintar dengan gertakan hukummu itu, Nabila?" desis Siska.
Nabila menatap Siska dengan wajah tanpa ekspresi. "Ini bukan gertakan, Siska. Ini adalah peringatan. Kau boleh menyentuh jas suamiku, kau boleh mengirim bunga ke rumahku, tapi jika kau mencoba merusak martabatnya, aku akan memastikan kau berakhir di tempat yang lebih buruk daripada lubang depresi yang pernah dialami Arga."
Siska tertawa sinis. "Kita lihat saja siapa yang akan bertahan lebih lama. Arga adalah milikku, dulu, sekarang, dan selamanya. Kau hanya pengganti sementara."
Nabila tidak membalas. Ia berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Arga hanya bisa tertunduk. "Maafkan aku, Nabila. Malam ini sangat mengerikan."
Nabila meraih tangan Arga, menggenggamnya erat. "Jangan minta maaf, Mas. Malam ini membuktikan satu hal, dia ketakutan. Dia menggunakan masa lalu karena dia tidak punya kekuatan di masa sekarang. Kita akan melawan dia dengan cara yang benar, Arga. Bukan dengan cara kotor sepertinya."
Namun, di balik kegelapan jendela mobil, Nabila meneteskan satu butir air mata yang segera ia hapus. Ia tahu, perang ini baru saja memasuki fase paling berdarah. Siska baru saja dipermalukan di meja makannya sendiri, dan seorang wanita seperti Siska akan membalas dengan sesuatu yang jauh lebih kejam daripada sekadar sindiran.
Siska berdiri di depan pintunya, menatap mobil Arga yang menjauh. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Lakukan sekarang," perintahnya singkat. "Buat seolah-olah Arga terlibat dalam penggelapan dana proyek Sudirman. Aku ingin Nabila sendiri yang harus membela suaminya di pengadilan saat suaminya terbukti 'mengkhianatinya' secara finansial."
Kini senyum kemenangan gila Siska terpantul di kaca pintu rumahnya dengan jelas, sementara hujan badai mulai melanda Jakarta.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰