NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jarak Baru dan Prasangka

Pagi itu, suasana koridor lantai dua SMA Nusantara Jaya masih cenderung sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berdiri bersandar di pembatas koridor sambil menikmati hembusan angin pagi. Namun bagi Alee, langkah kakinya menyusuri lorong kelas 10 MIPA 1 terasa sedikit berbeda dari biasanya. Bayangan Rama yang berdiri di atas panggung Nusantara Purna Ekspresi semalam memegang gitar akustik dan membawakan lagu "Everything You Are" milik Hindia masih terngiang sangat jelas di ingatan.

Alee sadar sepenuhnya pada satu hal yang tak bisa ia bantah lagi: ia telah jatuh hati. Sebuah perasaan yang muncul secara jujur, mendadak, dan sangat intens, perasaan yang belum pernah ia rasakan pada laki-laki mana pun sebelumnya.

Namun, bukan Alee namanya kalau mendadak berubah menjadi cewek pemalu yang gemetaran, canggung, atau kaku. Alee tetaplah Alee gadis yang percaya diri, aktif, dan selalu melangkah dengan gaya petantang-petenteng khasnya. Ia sama sekali tidak merasa takut atau minder berhadapan dengan siapa pun di sekolah ini.

Hanya saja, ada satu masalah besar dalam diri Alee, mulutnya sama sekali tidak punya filter.

Alee sadar betul betapa bahayanya sifat ceplas-ceplosnya itu. Jika ia tetap nekat duduk bersebelahan dengan Rama di barisan kedua, dalam hitungan menit ocehannya yang melantur bisa saja berujung pada kalimat sembrono tanpa kontrol. Ia membayangkan skenario terburuk di mana mulutnya reflek berucap, "Ram, semalam suara lu keren banget, gue jadi suka sama lu nih." Membayangkan kalimat itu meluncur begitu saja secara impulsif di depan wajah Rama membuat Alee memutar otak untuk mencari aman.

Alee menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kelas. Di barisan kedua, Rama sudah duduk rapi di tempatnya. Cowok itu sedang menunduk khusyuk, fokus mempelajari buku panduan Olimpiade Fisika tebal dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger manis di hidungnya. Seragam putihnya tampak rapi tanpa kerutan sedikit pun. Rama terlihat sangat cerdas, tenang, dan terpelajar.

Duh, nih anak pinter banget lagi. Kalau gue terus-terusan di sebelah dia, bisa-bisa mulut gue nggak kekontrol dan langsung nembak dia di tempat, batin Alee sambil mendecak pelan dan menggelengkan kepala.

Tanpa ragu sedikit pun, Alee langsung berbalik arah. Dengan gaya santainya yang seperti biasa, ia melangkah lebar menyusuri lorong tengah kelas menuju barisan paling belakang. Ia mengambil satu bangku kosong yang terletak di pojok kanan dekat jendela.

Brak!

Alee melempar tas punggung hitamnya ke atas meja belakang itu, menarik kursi, lalu duduk bersandar sambil meluruskan kedua kakinya ke bawah meja. Berpindah tempat duduk adalah langkah taktis paling cerdas yang bisa ia pikirkan saat ini. Ia tidak membenci Rama, ia hanya perlu memberi jarak aman agar lidahnya yang terlalu jujur itu tidak merusak segalanya.

Rama yang sempat mendengar suara benturan tas di meja belakang melirik pelan. Dari tempat duduknya, ia memperhatikan Alee yang tampak tenang-tenang saja, menyandarkan punggung sambil mengamati papan tulis tanpa ada niat sedikit pun melirik ke arah barisan depan.

---

"Lee? Kenapa lu mendadak pindah duduk ke belakang?"

Suara nyaring itu mengejutkan Alee. Nara, sahabat dekat Alee yang terkenal paling jeli, baru saja melangkah masuk ke dalam kelas membawa botol minum. Nara meletakkan tasnya di meja sebelah, lalu menghampiri bangku baru Alee dengan dahi berkerut heran.

"Meja lu kan di barisan kedua bareng Rama. Kok malah di pojok belakang gini?" tanya Nara penasaran.

"Gue lagi mau cari posisi strategis aja," sahut Alee santai dengan nada bicara meledak-ledak seperti biasa. "Di belakang lebih leluasa melek. Di depan ketutupan badan anak-anak yang tinggi, nggak enak nengok papan tulis."

Nara menyipitkan mata, mengamati ekspresi wajah Alee yang menurutnya terlalu dibuat-buat santai. Sebagai teman dekat, Nara tahu Alee adalah tipe orang yang paling suka duduk di barisan depan agar bisa mendengarkan penjelasan guru secara jelas. Sifat Alee yang mendadak memilih pojok belakang terasa sangat janggal.

"Seriusan cuma gara-gara ketutupan?" cecar Nara tak percaya. "Bukannya lu dari hari pertama seneng banget duduk di depan biar gampang nanya-nanya ke Pak Hartono?"

"Ya sekarang lagi bosan aja. Mau cari suasana baru di dekat jendela," jawab Alee ceplas-ceplos sambil memutar-mutar pulpen di antara jari-jarinya, berpura-pura sibuk dan enggan membahas lebih jauh.

Nara menatap sahabatnya itu dengan pandangan curiga. Namun karena Alee sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bercerita lebih banyak, Nara akhirnya hanya bisa mendesah pasrah. Bagi Nara, keputusan Alee pindah duduk ini tetap menjadi sebuah teka-teki besar yang belum terpecahkan.

Sementara itu di meja depan, Rama sempat menoleh sebentar ke arah sudut belakang kelas sebelum membetulkan posisi kacamatanya. Perpindahan tempat duduk Alee memang terasa mendadak, tetapi Rama sama sekali tidak berpikir jauh, apalagi merasa geer.

Bagi Rama, sikap Alee yang suka bertindak sesuka hati sudah menjadi hal biasa sejak hari pertama sekolah. Rama hanya menduga Alee mungkin masih kesal padanya karena masalah pemilihan ketua kelas kemarin, atau memang dasar Alee yang merasa tidak betah jika harus terus-terusan berada di dekat orang yang pendiam seperti dirinya. Rama menarik napas pelan lalu kembali memfokuskan pikirannya pada lembaran buku panduan Fisika di hadapannya tanpa mau ambil pusing.

---

Jam pelajaran pertama dimulai ketika bel sekolah berbunyi nyaring. Pak Hartono melangkah masuk ke dalam kelas membawa spidol dan buku paket tebal, mulai membawakan materi Fisika tentang vektor. Seperti biasa, penjelasan di papan tulis bergerak cepat dan dipenuhi rumus-rumus kompleks yang membuat separuh isi kelas mengantuk.

Dari bangku belakang, Alee berusaha menyimak dengan seksama. Namun, pandangannya kerap teralih ke punggung tegap Rama yang duduk dua baris di depannya. Rama tampak sangat fokus mencatat setiap poin penting yang dijelaskan guru tanpa cela sedikit pun.

"Baik, ada yang bisa menyelesaikan soal konversi komponen vektor di papan tulis ini?" tanya Pak Hartono seraya meletakkan spidolnya dan memandang ke arah murid-murid.

Kondisi kelas mendadak hening seketika. Sebagian besar murid memilih menundukkan kepala, pura-pura sibuk menulis agar tidak ditunjuk. Alee sendiri masih mencoba memproses rumusan tersebut di kepalanya, tetapi tingkat kesulitannya lumayan tinggi.

Tanpa keraguan, Rama secara perlahan mengangkat tangan kanannya. Tanpa kesan ingin memamerkan diri, ia maju ke depan atas instruksi Pak Hartono. Rama mengambil spidol hitam dan menuliskan langkah-langkah penyelesaian soal tersebut di papan tulis dengan sangat runtut, rapi, dan sistematis dalam waktu kurang dari dua menit.

"Sangat bagus dan runtut, Rama. Jawaban yang presisi. Terima kasih," puji Pak Hartono sambil tersenyum puas.

Rama mengangguk sopan. "Terima kasih kembali, Pak."

Rama berjalan kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Alee yang menyaksikan hal itu dari pojok belakang hanya bisa menyunggingkan senyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kepintaran Rama yang natural dan tidak dibuat-buat itu makin menambah rasa kagum di benaknya.

"Dasar pinter", bisik Alee dalam hati. "Untung banget gue pindah ke belakang hari ini. Kalau gue masih duduk di sebelahnya, pasti reflex mulut gue udah ceplos-ceplosan muji dia terang-terangan di depan Pak Hartono."

Sebelum jam pelajaran berakhir, Pak Hartono memberi pengumuman tambahan. "Untuk memperdalam materi vektor ini, Bapa mau kalian mengerjakan tugas latihan secara berpasangan dengan teman sebangku masing-masing."

Seketika riuh kecil terdengar di kelas. Alee mendadak teringat bahwa bangku di sebelahnya saat ini kosong.

Nara yang duduk di barisan samping langsung melongok ke arah Alee. "Lee, lu kan nggak ada temannya di situ. Lu mau ngerjain sama siapa?"

Sebelum Alee sempat menjawab, Rama berdiri dari tempat duduknya di depan. Sebagai Ketua Kelas yang bertanggung jawab, Rama menoleh ke arah Alee dan Nara.

"Nara, kalau mau gabung bertiga sama saya dan teman sebelah saya juga boleh, biar Alee nggak ngerjain sendirian," tawar Rama dengan suara pelan namun terdengar jelas dan tenang.

Mendengar Rama berbicara langsung ke arahnya, Alee seketika merapatkan bibirnya rapat-rapat. Ia mengacungkan jempolnya cepat sebagai tanda setuju, menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.

Rama yang melihat respons acungan jempol dari Alee hanya mengangguk pelan lalu kembali duduk.

Alee menghembuskan napas lega yang panjang di sudut belakang kelas. Ia tahu, menyukai seorang Ramaditya butuh strategi penahanan diri yang ekstra ketat. Dan keputusan duduk di pojok belakang kelas 10 MIPA 1 adalah langkah pertamanya agar rahasia hatinya tidak terbongkar oleh kecerobohan mulutnya sendiri.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!