Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 6
Angin malam berhembus kencang di balkon kecil itu, mengibarkan ujung kemeja usang Theodore. Jemarinya dengan lincah menekan layar ponsel hitam yang sama sekali tak memancarkan cahaya silau. Ia mengetikkan deretan angka acak yang berfungsi sebagai nomor panggil darurat ke salah satu pilar keuangan Aegis Corporation di Asia.
Nada sambung hanya terdengar satu kali sebelum panggilan itu langsung diangkat.
"Protokol identifikasi," ucap sebuah suara pria paruh baya dari seberang telepon, terdengar kaku dan sangat berhati-hati.
"Naga hitam bangkit dari timur," Theodore menjawab pelan.
Terdengar suara kursi yang jatuh berdebum di seberang sana, disusul napas yang tersengal kaget.
"Tuan... Tuan Besar? Anda... Anda masih hidup?!" seru pria itu dengan suara bergetar hebat.
"Simpan basa-basimu, Bram. Aku butuh kau bekerja malam ini," balas Theodore dengan nada datar namun penuh otoritas.
Bramantyo, atau biasa dikenal sebagai Bram si Lintah Darat di dunia bawah, adalah salah satu bankir rahasia paling berkuasa yang mengendalikan triliunan uang gelap para mafia. Namun di hadapan Theodore, ia tak lebih dari seorang pesuruh yang penurut.
"Perintah Anda adalah nyawa saya, Tuan! Apa yang harus saya hancurkan malam ini?" sahut Bram antusias, suaranya dipenuhi pemujaan buta.
"Aku tidak butuh kau menghancurkan apa pun malam ini. Aku mau kau menyuntikkan dana ke sebuah perusahaan bernama PT Bina Karya, anak perusahaan Keluarga Mahendra yang dipimpin oleh Yevone. Masukkan lima puluh miliar rupiah ke rekening utama mereka sebelum matahari terbit. Gunakan jalur anonim. Jangan sampai ada yang bisa melacak asal usul uang itu, termasuk Yevone sendiri," perintah Theodore panjang lebar.
"Hanya... lima puluh miliar, Tuan? Apakah tidak kurang? Saya bisa mengirim lima ratus miliar detik ini juga jika Anda mau," tawar Bram terdengar bingung. Baginya, lima puluh miliar hanyalah uang receh untuk jajan.
"Lakukan saja sesuai perintahku. Dan satu lagi, tekan semua pemasok bahan baku yang kemarin sore memutus kontrak dengan Yevone. Buat mereka merangkak kembali padanya pagi ini. Paham?" pungkas Theodore dingin.
"Sangat paham, Tuan! Akan saya pastikan semuanya beres dalam sepuluh menit!" jawab Bram tegas.
Theodore memutus panggilan itu sepihak. Ia menatap ke arah langit malam yang gelap gulita, menyeringai tipis. Roda pembalasan telah ia putar.
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa lebih tegang dari biasanya. Yevone duduk mengaduk teh hangatnya tanpa selera. Matanya masih sembab, meski ia sudah berusaha keras menutupinya dengan riasan tebal. Hari ini ia bersiap untuk menghadapi skenario terburuk: pabrik berhenti beroperasi dan karyawan berunjuk rasa menuntut gaji yang tertunda.
Theodore meletakkan sepiring roti bakar di depan Yevone.
"Makanlah sedikit. Kamu butuh tenaga buat hari ini," ucap Theodore lembut.
"Makasih, Theo. Tapi aku benar-benar nggak nafsu," Yevone tersenyum getir menatap roti itu. Ia meraih tas kerjanya dan berdiri dengan langkah gontai. "Aku berangkat dulu. Kalau Kakek atau Kevin mencari gara-gara lagi hari ini, kamu diam saja ya. Nggak usah ditanggapi. Biar aku yang urus nanti."
"Hati-hati di jalan," Theodore mengangguk pelan, membiarkan istrinya pergi dengan wajah muram.
Setengah jam kemudian, Yevone tiba di kantor anak perusahaannya yang terletak di kawasan industri pinggiran kota. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu kaca lobi, bersiap menghadapi tatapan marah dan kecewa dari para stafnya.
Namun, suasana kantor justru terasa sangat sibuk dan ceria. Tidak ada tanda-tanda karyawan mogok kerja. Semua orang mondar-mandir membawa berkas dengan wajah cerah dan penuh semangat.
"Bu Yevone! Ibu sudah datang!" teriak Siska, manajer keuangannya, yang berlari tergopoh-gopoh dari arah ruangan akuntansi sambil mendekap sebuah tablet.
"Ada apa, Sis? Berapa banyak karyawan yang sudah kumpul demo di depan pabrik?" Yevone bertanya was-was, tangannya meremas tali tasnya kuat-kuat.
"Demo? Pabrik? Nggak ada yang demo, Bu! Ibu harus lihat ini sekarang juga!" Siska menyodorkan layar tabletnya tepat ke depan wajah Yevone, napasnya ngos-ngosan karena terlalu bersemangat.
Yevone menyipitkan mata, membaca deretan angka di layar aplikasi perbankan milik perusahaan mereka. Matanya terbelalak lebar, mengira ia salah menghitung jumlah angka nol di sana.
"Lima... lima puluh miliar?!" Yevone memekik tertahan. Tangannya gemetar mengambil alih tablet itu dari Siska. "Sis, ini uang dari mana? Kita salah terima transferan orang? Cepat hubungi pihak bank, ini bisa jadi masalah hukum kalau kita pakai!"
"Bukan salah transfer, Bu! Tadi pagi-pagi sekali kepala cabang bank pusat langsung menelepon saya. Mereka bilang ada konsorsium investasi luar negeri yang menyuntikkan dana hibah tanpa syarat ke perusahaan kita! Semuanya pakai jalur anonim. Uang ini sah dan bersih, Bu! Kita selamat!" Siska melompat kegirangan sambil bertepuk tangan.
Yevone masih mematung, otaknya mendadak buntu dan tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Dana hibah anonim? Siapa orang gila yang memberikan uang tunai lima puluh miliar secara cuma-cuma pada perusahaan kecil yang sedang di ambang kebangkrutan?
Belum sempat Yevone mencerna kejutan itu, ponsel di saku blazernya berdering nyaring. Ia melihat nama kontak yang tertera: *Pak Haris - Supplier Utama*.
Dengan ragu dan hati berdebar, Yevone mengangkat panggilan itu. "Halo, Pak Haris?"
"Mbak Yevone! Aduh, selamat pagi, Mbak! Mohon ampun yang sebesar-besarnya soal telepon saya semalam, Mbak. Saya khilaf, saya benar-benar minta maaf, Mbak Yevone!" Suara Haris di seberang sana terdengar sangat panik, napasnya terputus-putus seolah sedang dikejar hantu.
"Eh... iya, Pak. Ada apa ya?" Yevone mengerutkan kening kebingungan.
"Gini, Mbak. Tiga puluh truk bahan baku yang Mbak pesan bulan lalu, pagi ini sudah jalan semua ke pabrik Mbak. Semuanya sudah kami bayar lunas ongkos kirimnya! Dan untuk bulan depan, kami kasih diskon khusus lima puluh persen buat Mbak Yevone. Tolong banget, Mbak, jangan putus kerja sama dengan pabrik saya ya, Mbak. Bisa mati berdiri keluarga saya kalau sampai Mbak Yevone *blacklist* perusahaan saya!" rengek Haris memohon-mohon, terdengar sangat menyedihkan.
Yevone terdiam seribu bahasa. Semalam pria bangka ini memutus telepon secara sepihak dengan nada tinggi dan angkuh, menolak mengirim barang karena ditekan oleh Kakek Surya. Kenapa pagi ini dia malah mengemis seperti sedang diancam akan dibunuh?
"Y-ya sudah, Pak Haris. Terima kasih barangnya sudah dikirim pagi ini," Yevone membalas kaku lalu segera memutus sambungan.
Ia menatap Siska yang masih tersenyum lebar menunggunya di lobi. Semua masalah yang membuatnya menangis sampai nyaris gila semalaman, tiba-tiba lenyap tak berbekas hanya dalam hitungan menit. Seolah ada tangan raksasa tak kasat mata yang turun dari langit untuk meratakan jalan perusahaannya hari ini.
"Malaikat mana yang turun buat nyelametin kita, Sis?" gumam Yevone pelan, menatap kosong ke arah jalanan lewat pintu kaca lobi, masih tak percaya dengan keajaiban yang baru saja menimpanya.
Di saat yang bersamaan, di rumah Keluarga Mahendra, Theodore sedang santai menyapu daun kering di halaman depan sambil bersiul pelan. Ia berhenti sejenak, bertumpu pada gagang sapunya sambil menatap ke arah matahari pagi yang mulai bersinar terik.
"Itu baru permulaan kecil, Sayang," gumam Theodore sambil tersenyum tipis.