NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Kecil

Setelah malam yang panjang, Arga membuka mata. Sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar mereka. Ia bangun, duduk di atas ranjang, lalu meregangkan tubuhnya. Kegiatan mereka semalam cukup menguras energinya.

Arga menoleh ke sisi lain ranjang. Nadira masih terlelap di sana. Ia tidak berniat membangunkan perempuan itu dan memilih turun dari ranjang untuk membersihkan diri.

Setelah mandi, Arga mengenakan pakaian kerjanya. Ia melirik jam tangan, lalu mengambil ponsel untuk memesan sarapan melalui aplikasi makanan online. Waktunya terlalu sempit jika ia harus menyiapkan makanan sendiri.

Beberapa saat kemudian, pesanan tiba. Arga meletakkan dua porsi sarapan di meja makan, kemudian duduk sambil memeriksa jadwal pekerjaannya melalui ponsel.

Saat Nadira akhirnya bangun, Arga sudah siap berangkat. Perempuan itu menghampiri meja makan dengan rambut yang masih sedikit berantakan.

“Kenapa gak bangunin aku buat siapin sarapan? Apa kamu sudah mau berangkat?” tanyanya sambil menarik kursi.

“Aku lihat kamu sangat kelelahan.” Arga tersenyum saat melihat pipi Nadira merona. “Sebentar lagi, aku mau arapan sama kamu.“ Arga kembali memeriksa ponselnya lalu menatap laptop yang sedang menyala di atas meja makan.

Nadira duduk di hadapannya. Ia mulai membuka kotak makanan, lalu sesekali melirik Arga yang masih memeriksa beberapa pesan pekerjaan.

“Kamu sibuk sekali hari ini?” tanyanya.

“Ada beberapa pertemuan dengan klien. Setelah itu, masih ada dokumen yang harus aku selesaikan.”

Nadira mengangguk. Ia memahami kesibukan Arga, tetapi tetap berharap laki-laki itu bisa meluangkan waktu untuknya.

Setelah selesai sarapan, Arga mengambil tas kerjanya. Nadira mengantarnya sampai ke pintu apartemen.

“Mas, nanti malam pulang ke sini lagi, kan?” tanyanya sebelum Arga pergi.

“Aku belum tahu. Nanti aku kabari kalau pekerjaanku sudah selesai.”

Nadira mengangguk pelan. “Baiklah. Aku tunggu kabarnya.”

Arga mengusap kepala Nadira sebelum berpamitan. Setelah itu, ia berangkat menuju perusahaan.

⸻

Di perusahaan, Arga bekerja seperti biasa. Sejumlah klien penting sudah menunggunya sesuai jadwal yang ditetapkan. Ia menghadiri pertemuan, membahas beberapa kerja sama, dan memastikan setiap kesepakatan berjalan sesuai rencana.

Setelah menyelesaikan pertemuan pertama, ia kembali ke ruangannya. Beberapa dokumen penting sudah menumpuk di atas meja. Arga memeriksa setiap berkas sebelum menandatangani dokumen yang telah disetujui.

Menjelang siang, pekerjaannya belum juga selesai. Sekretarisnya beberapa kali masuk untuk menyerahkan laporan dan meminta persetujuan atas sejumlah keputusan perusahaan.

Arga baru benar-benar memiliki waktu luang ketika jam istirahat tiba. Ia menyandarkan tubuh di kursi, kemudian mengambil ponsel untuk memeriksa pesan. Tanpa sadar, ia membuka percakapannya dengan Alya.

Tidak ada pesan baru dari istri keduanya itu. Tidak ada pula panggilan tak terjawab. Arga menatap layar sebentar sebelum meletakkan ponselnya. Ia kemudian membuka aplikasi perbankan dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Alya.

Ia tidak mengetahui secara pasti apa saja kebutuhan istrinya selama ini. Namun, setidaknya ia bisa memastikan Alya memiliki uang untuk keperluan sehari-hari tanpa harus merasa sungkan meminta kepadanya.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi.

Arga segera mengambilnya.

Buat apa, Mas?

Arga mengernyit kecil. Ia membaca kembali pesannya, lalu mengetik jawaban.

Kalau ada kebutuhan sehari-hari atau barang yang mau kamu beli, bilang saja. Nggak perlu sungkan.

Pesan balasan masih belum masuk, hingga Arga meletakkan ponselnya dan mulai membuka kotak makan siang yang sudah disiapkan stafnya.

Belum selesai ia makan, pemberitahuan baru muncul di layar.

Baik, Mas. Aku terima ya. Terima kasih.

Arga tersenyum membaca pesan tersebut. Ingin sekali ia mengirim oesan, menanyakan apa yang sedang dilakukan gadis itu. Namun, Arga tidak memiliki banyak keberanian. Apalagi saat melihat respon Alya yang terkesan dingin.

⸻

Menjelang sore, Arga akhirnya menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya. Ia memeriksa jadwal untuk keesokan hari sebelum menghubungi Nadira.

“Ga, bagaimana? Jadi ke sini malam ini, kan?” tanya Nadira begitu panggilan tersambung.

“Aku masih menyelesaikan beberapa hal. Nanti aku kabari kalau sudah selesai.”

Nadira menghela napas pelan. “Baiklah. Jangan lupa kabari aku, ya.”

Setelah panggilan berakhir, Arga kembali ke ruangannya. Ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum bisa meninggalkan perusahaan.

Ketika membuka ponsel untuk memeriksa waktu, pandangannya kembali tertuju pada nama Alya di daftar percakapan. Arga terdiam sebentar, lalu mengetik sebuah pesan.

Malam ini kamu sibuk?

Ia mengirim pesan itu, kemudian meletakkan ponselnya di meja.

Tak lama kemudian, balasan Alya masuk.

Nggak, Mas. Memangnya kenapa?

Arga membaca pesan tersebut. Kali ini ia tidak ingin menjawab bahwa dirinya hanya bertanya tanpa alasan. Ia mengetik balasan setelah berpikir sejenak.

Kalau begitu, nanti malam aku mau mampir. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.

Ia menekan tombol kirim, kemudian kembali menatap layar ponselnya. Beberapa menit kemudian, Alya membalas.

Baik, Mas.

Arga meletakkan ponselnya. Ia belum tahu bagaimana percakapan mereka nanti akan berlangsung, tetap ia ingin pulang dan bertemu Alya. Ia ingin melihat gadis itu.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!