Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Pernikahan Di Bawah Pohon Revan
Tiga bulan setelah lamaran di bawah Pohon Revan Baru itu, tanggal 10 Januari 2032, Langgur bikin pesta paling besar sepanjang sejarah Langgur, lebih besar dari pesta peresmian 12 rumah baru 7 tahun lalu.
Hari pernikahan Ara dan Firman!
Ara sekarang sudah 27 tahun, Firman 29 tahun. Mereka sepakat nikah di Langgur, bukan di Ambon, bukan di Tual, tapi di bawah Pohon Revan Baru 10 meter yang sekarang tingginya sudah 11 meter karena sudah 8 bulan sejak lamaran.
Seluruh Langgur yang sekarang 45 rumah batu bata dan 200 warga, semua gotong-royong bikin pelaminan dari bambu dan kain putih di bawah Pohon Revan Baru, tepat di antara Tugu Revan batu hitam dan museum peti emas yang setengah terkubur itu.
Pelaminan itu dihias 200 buah mangga Revan yang matang kuning, digantung-gantung jadi lampu alami, wangi manis.
Ara pakai kebaya putih sederhana, tidak pakai kebaya mewah, karena dia mau sederhana seperti Langgur. Di lehernya tetap ada kalung batu R dan A yang utuh yang dikembalikan Revan 7 tahun lalu, tidak dilepas, karena itu bukan kalung jimat lagi, tapi kalung kenangan. Di jarinya ada cincin perak lamaran dari Firman. Dan di tangannya, dia pegang jaket hitam Revan yang robek yang sudah dicuci bersih dan dilipat rapi, jaket itu dibawa ke pelaminan sebagai saksi.
Firman pakai batik coklat, rapi, gagah, senyum terus karena bahagia nikah sama Kepala Desa Langgur yang cantik.
Penghulunya didatangkan dari Tual, naik perahu besar baru Langgur yang dibeli pakai sisa uang warisan 500 juta 7 tahun lalu.
Akad nikah dilakukan jam 9 pagi, di bawah Pohon Revan Baru 11 meter, disaksikan Tugu Revan dan museum peti dan 200 warga dan 200 buah mangga yang bergoyang pelan ditiup angin laut.
"Ijab kabul" berjalan lancar, Firman bilang dengan suara keras dan tegas, "Saya terima nikahnya Ara binti Pak RT Unus dengan mas kawin cincin perak dan 100 buah Mangga Revan dibayar tunai!"
Warga yang dengar mas kawin 100 buah Mangga Revan langsung tertawa bahagia, karena itu mas kawin paling Langgur sekali, bukan emas, bukan uang, tapi mangga!
Ara menjawab, "Saya terima."
SAH! Semua warga bersorak, "SAH! SAH! HIDUP PENGANTIN BARU!"
Setelah sah, ada kejadian aneh yang indah lagi!
Dari atas Pohon Revan Baru 11 meter itu, tiba-tiba gugur bunga-bunga mangga putih kecil! Banyak! Seperti hujan bunga! Padahal musim buah, bukan musim bunga! Tapi hari itu, pohon itu berbunga lagi, 100 bunga putih kecil gugur seperti hujan, jatuh di atas pelaminan, di atas kepala Ara dan Firman, di atas jaket hitam Revan yang dilipat di tangan Ara!
Itu hujan bunga mangga kedua setelah 8 tahun lalu hujan bunga mangga untuk Ara waktu Revan masih jadi hantu!
Warga yang lihat hujan bunga itu langsung teriak, "HUJAN BUNGA! REVAN KASIH HUJAN BUNGA UNTUK PENGANTIN!"
Revani yang sekarang umur 3 tahun, sudah bisa lari dan sudah tidak bisa lihat Revan lagi, tiba-tiba menunjuk ke arah Tugu Revan dan berteriak lagi setelah 7 bulan tidak pernah lihat, "Van! Van! Paman Van tabur bunga!"
Semua warga merinding lagi! Revan datang lagi di hari pernikahan Ara!
Dion yang jadi saksi nikah, menangis bahagia sambil gendong Revani, "Paman Revan datang kasih hadiah nikah, Ra!"
Ara yang kepalanya penuh bunga mangga putih kecil, memeluk jaket hitam Revan yang juga penuh bunga putih, dan berbisik, "Terima kasih ya, Van, sudah datang di hari nikahku. Aku bahagia, Van."
Firman yang melihat jaket hitam itu penuh bunga putih, mengerti, dia tidak cemburu, dia malah ambil jaket hitam itu dan kalungkan di bahu Ara seperti selendang.
"Biar Revan ikut jadi saksi nikah kita, Ra. Dia penjaga Langgur, dia harus ada di pelaminan kita."
Pesta pernikahan lanjut sampai malam, ada 200 warga makan papeda besar, ada 200 buah mangga dimakan bersama, ada musik gitar dan gendang dari Tual, ada tarian Cakalele dari pemuda Langgur.
Genset PLTS 24 jam menyala terang, 45 rumah Langgur menyala semua, dari laut Langgur terlihat seperti bintang kecil yang pesta.
Malam jam 11, setelah pesta selesai, Ara dan Firman duduk berdua di bawah Pohon Revan Baru 11 meter, di depan Tugu Revan dan museum peti, dengan taburan bunga mangga putih kecil masih di tanah.
Ara bersandar di bahu Firman dan memegang kalung R dan A.
"Firman, kamu tidak marah aku masih simpan jaket hitam Revan dan kalung R dan A ini?"
Firman menggeleng dan memegang tangan Ara yang ada cincin perak.
"Tidak, Ra. Aku guru sejarah, aku tahu sejarah tidak boleh dilupakan. Revan adalah sejarah Langgur, dia yang jaga Langgur 80 tahun. Kalau kamu lupakan dia, kamu lupakan Langgur. Aku mau kita jaga Langgur sama-sama, dengan Revan sebagai kenangan, bukan sebagai saingan."
Ara tersenyum dan mencium kening Firman.
"Terima kasih, Mas."
Di atas mereka, Pohon Revan Baru 11 meter bergoyang pelan, dan satu buah mangga besar terakhir yang masih di pohon, jatuh pelan di depan kaki mereka berdua, seperti hadiah terakhir malam pengantin.
Firman mengambil mangga itu dan belah dua, separuh untuk Ara, separuh untuk Firman, mereka makan bersama, manis sekali.
Di langit malam Langgur, bintang paling terang Revan yang sudah hilang seminggu setelah peti dikubur jadi museum, malam itu muncul lagi, sebentar, hanya 5 menit, berkedip di atas Tugu Revan, seperti lampu disco kecil yang ikut pesta nikah, lalu hilang lagi.
Ara yang melihat bintang itu muncul lagi 5 menit, tahu itu ucapan selamat terakhir dari Revan untuk pernikahannya.
Langgur malam itu tidak hanya merayakan pernikahan Kepala Desa, tapi juga merayakan restu dari penjaga yang sudah tenang.
Dan di buku harian Kepala Desa yang sekarang jadi buku harian pengantin baru, Ara menulis,
"Hari ini aku menikah, 10 Januari 2032, di bawah Pohon Revan Baru. Mas kawin 100 buah Mangga Revan. Saksi, Tugu Revan, museum peti emas, jaket hitam Revan, dan 200 warga. Revan kasih hujan bunga 100 bunga putih. Revani bisa lihat Revan lagi setelah 7 bulan tidak bisa lihat. Aku bahagia. Langgur bahagia. Pohon Revan Baru bahagia."
Di bawah tulisan itu, Firman tambahkan tulisan,
"Dan aku, Firman, janji jaga Ara dan Langgur seperti Revan jaga Langgur dulu."
Pernikahan di bawah pohon mangga, mungkin cuma ada di Langgur.