NovelToon NovelToon
Tubuhku Milik Sang Mafia

Tubuhku Milik Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / One Night Stand / Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Dokter / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.

Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.

Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.

Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.

Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.

Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. Sebuah Janji

Peni merasa jengkel melihat Nael ragu-ragu, padahal ia menginginkan jawaban dan sumpah dari mulut pria itu. Setelah beberapa detik hening, dengan geram ia berkata.

"Sialan, Nael, jawab aku. Aku mau kau bersumpah."

Nael memasang wajah masam, lalu berkata dengan nada tak yakin.

"Kau ini lebih terlihat seperti temannya ketimbang temanku. Coba katakan, kenapa kau begitu peduli padanya? Peni, kau baru saja mengenalnya. Mestinya kau ada di pihakku."

Peni berbalik dengan kesal, dan setiba di pintu ia berkata.

"Kau tak perlu menjawab. Dengan begitu saja aku sudah dapat jawabanku. Aku akan mendukungnya dalam segala hal. Aku tak akan membiarkanmu menakut-nakuti atau menyakitinya lebih dari yang sudah ia derita."

Nael bergegas menyusulnya, mencengkeram lengan Peni, lalu berkata dengan suara tegang.

"Peni, bantu aku memperbaiki keadaan dengannya, dan aku janji akan melakukan apa pun yang kau perintahkan. Aku ingin dia di sisiku, aku ingin keluarga ini, ingin membahagiakannya, membahagiakan kedua anakku. Kau harus ingat, aku tak tahu soal hal-hal semacam ini. Aku tak pernah punya ibu atau ayah, apalagi tahu cara memperlakukan perempuan seperti dia. Kau tahu sendiri, aku dulu cukup memberi sepotong perhiasan, sedikit uang, dan perempuan yang kuinginkan langsung jadi milikku—sampai-sampai mereka semua, cukup kupinta sekali saja, sudah rela datang ke rumahku dan jadi nyonya. Pada Saras sudah kutawarkan itu, tapi dia menolak. Bahkan aku berniat menikahinya, dan aku yakin dia akan menolaknya juga. Kumohon, bantu aku. Aku sungguh-sungguh ingin jadi lelaki yang baik untuknya dan untuk anak-anakku. Aku berniat meninggalkan hidup yang seperti ini, demi dia."

Peni menoleh ke arahnya dan berkata dengan senyum lebar.

"Nael, bersumpahlah demi anak-anakmu. Hanya dengan begitu aku bisa membantumu."

Nael, di tengah segala keraguannya, punya satu hal yang ia yakini sepenuhnya: ia tak ingin kehilangan Saras dan tak ingin merampas dari anak-anaknya keluarga yang begitu mereka dambakan. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara gelisah.

"Peni, aku bersumpah. Tapi bantu aku. Aku ingin jadi lelaki yang baik untuk anak-anakku, tapi terlebih lagi untuk dia."

Peni berjanji akan membantunya, lalu keduanya keluar dari apartemen dan mulai menuruni tangga. Ketika mereka keluar dari gedung, mereka melihat Saras bersandar di dinding, menunggu mereka. Saras tak berkata apa-apa, hanya mengikuti Nael dan menunggu ia menunjuk ke mana harus naik. Keduanya masuk ke bagian belakang mobil van tertutup. Saras memeluk putranya yang sudah lebih dulu menunggu di sana, sementara putri kecilnya duduk di pangkuan Nael.

Nael memberi perintah agar langsung menuju hotel. Sepanjang jalan mereka membisu. Nael tak henti memandangi Saras, memperhatikan setiap gerak-geriknya, cara ia menjaga anak-anaknya, dan saat itu ia melihat Saras tertidur. Ia hanya ingin mendekat, membiarkan Saras menyandarkan kepala di bahunya untuk tidur, tapi putranya tak henti mengawasinya, dan ia tahu begitu ia mendekat, anak itu akan berteriak-teriak.

Ketika mereka tiba di hotel, ia ingin menggendong Saras dan membawanya ke kamar, tapi ada lukanya yang tak mengizinkan itu. Selain kendala kecil itu, ada kendala yang lebih besar: putranya, yang pasti tak akan membiarkan siapa pun mendekati sang ibu. Namun sebelum Nael sempat berkata apa-apa, Lian sudah lebih dulu membangunkan mamanya, tepat saat mereka tiba.

Keempatnya turun dari van. Nael memerintahkan Peni untuk mengurus pakaian bagi anak-anak dan Saras, lalu mereka berempat langsung menuju kamar Nael. Begitu masuk, Lia mulai menjelajahi kamar yang sangat luas itu. Ada dapur kecil dengan meja berkursi empat, ruang duduk yang menghadap jendela besar dengan pemandangan paling indah, dan di sudut sebuah mini bar. Di sisi kanan ada sebuah pintu, dan begitu dibuka, terdapat lorong dengan tiga pintu—satu di sisi kanan, satu di sisi kiri, dan yang ketiga di depan.

Pintu di sisi kiri dan kanan adalah dua kamar tidur luas, masing-masing dengan tempat tidur besar, kamar mandi besar, dan lemari pakaian, sedangkan pintu di depan adalah toilet kecil. Gadis kecil itu antusias. Tempat itu begitu luas, dan ia tak henti mengoceh tentang segala yang dilihatnya.

Lian tak mau lepas dari mamanya, menatap adiknya dengan pandangan tak suka. Ia tak paham mengapa adiknya begitu leluasa dan mengapa mamanya membiarkannya, padahal ia selalu mendengar bahwa mereka tak boleh menyentuh apa pun sembarangan dan harus menghormati tempat milik orang lain. Namun di tengah kepala Lian yang dipenuhi berbagai pertanyaan, ia mendengar mamanya meminta mereka duduk karena ingin bicara.

Lia duduk di samping Nael, sedangkan Lian duduk di sisi mamanya. Ketiganya menatap Saras, menunggu ia mulai bicara. Saat itu Saras merasa sedikit canggung dan ragu, lalu mulai berkata.

"Anak-anakku, kalian ingin tahu tentang ayah kalian, dan Mama sering bilang kita akan membicarakannya nanti kalau kalian sudah besar. Tapi sepertinya obrolan itu harus terjadi sekarang. Anak-anakku, pertama-tama Mama ingin minta maaf pada kalian. Mama tahu saat ini akan sangat sulit bagi kalian untuk memahami Mama. Mama tahu Mama telah salah, dan mungkin ini akan mengubah pandangan kalian tentang Mama, karena Mama selalu bilang bahwa kita tak boleh berbohong.

Lian, Lia, anak-anakku, Mama tak pernah ingin berbohong pada kalian, apalagi menyembunyikan kalian dari ayah kalian. Hanya saja, terkadang orang dewasa melakukan hal-hal yang tak seharusnya, sambil mengira itu benar. Nak, Mama tak pernah ingin menyembunyikan kalian dari ayah kalian. Mama hanya tak tahu bagaimana melakukan segalanya dengan benar. Perasaan Mama mengalahkan akal sehat, dan Mama keliru."

Nael bisa melihat kesedihan Saras. Ia tahu betapa berat bagi Saras mengatakan semua ini kepada anak-anaknya—hal yang bisa membuat mereka memandang buruk sang ibu, dan itu juga tak akan ia biarkan terjadi, karena Saras-lah yang paling berhak mendapat cinta dari anak-anaknya. Saat itu ia menyela.

"Anak-anak, yang ingin mama kalian katakan adalah bahwa dia menyayangi kalian, bahwa semua yang dia lakukan adalah demi kebaikan kalian, dan kalau dia tak pernah bercerita tentang papa kalian, itu karena rasa takut. Lian dan Lia, kalian berdua adalah anak-anakku. Akulah papa kalian.

Anak-anakku tak boleh berpikir buruk tentang mama kalian, karena dia memang benar untuk merasa takut. Kami dulu tak saling mengenal dengan baik, dan dia menganggapku lelaki jahat yang bisa memisahkan kalian darinya. Tapi aku tak akan pernah melakukan itu. Kami hanya melakukan kesalahan-kesalahan yang akhirnya harus kalian tanggung, terutama aku, yang tak mampu menunjukkan pada Saras siapa diriku sebenarnya, sehingga dia tak cukup percaya untuk bercerita tentang kalian. Dan kalau di antara kami berdua ada yang lebih bersalah, itu adalah aku. Aku telah menyakiti mama kalian, tapi terlebih lagi, aku menyakiti kalian."

Lia adalah gadis kecil yang belum mampu memahami banyak hal. Ia hanya merasa girang mendengar bahwa Nael adalah ayahnya—bukan sekadar papa pinjaman, melainkan papa yang sesungguhnya. Dengan gembira ia memeluk papanya, berseru penuh bahagia betapa ia menyayanginya dan betapa senang ia karena Nael ada di sini bersamanya.

Lian pun bahagia mengetahui tentang papanya. Meski ingin berlari memeluk pria itu, ia tak tahu caranya, jadi ia hanya berkata dengan malu-malu bahwa ia senang papanya ada di sini bersamanya. Namun Nael tak berniat membiarkannya begitu saja. Ia menariknya mendekat lalu memeluknya. Ia merasa bahagia ketika kedua anaknya mengecup pipinya.

Saras terperangah, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia tak menyangka Nael akan membelanya seperti itu, berbicara begitu baik tentangnya, mengambil semua kesalahan pada dirinya sendiri—padahal Saras-lah yang menyembunyikan anak-anak itu, yang tak pernah bercerita kepada mereka tentang ayah mereka. Saat itu ia ingin memeluk Nael, berterima kasih karena tak membiarkan anak-anaknya berpikir buruk tentang dirinya. Ia tak memahaminya, tapi saat itu ia ingin menangis karena bahagia. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia menjadi sosok yang tak pernah Saras duga sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!