“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Pak Surya sudah siap menyalakan mesin mobil hitam di pelataran. Nakula berdiri di samping pintu belakang dengan tas sekolah lusuhnya yang tergantung rapi di bahu kecilnya.
Arunika berjalan mendekat dengan senyuman paling hangat yang ia miliki. "Nakula," panggilnya lembut.
Bocah itu mendongak pelan, menatap ibu sambungnya dengan waspada. "Mama boleh mengantarmu ke sekolah hari ini?" tanya Arunika penuh harap.
Nakula terdiam cukup lama. Lalu, ia menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
"Kenapa, Sayang?"
"Aku sudah biasa pergi sendiri," jawab Nakula datar.
Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat dada Arunika terasa sesak seketika. Anak seusia enam tahun seharusnya masih merengek manja minta diantar orang tuanya ke sekolah, bukan malah terbiasa mandiri karena kesepian.
Arunika tersenyum, meski ada rasa nyeri di hatinya. "Baiklah. Mama tidak akan memaksamu kalau kamu belum siap." Ia berjongkok hingga sejajar dengan tinggi Nakula. "Tapi tetap hati-hati di jalan, ya."
Nakula hanya mengangguk pelan. Arunika refleks membuka kedua tangannya lebar-lebar.
"Mama boleh peluk sebentar sebelum berangkat?"
Nakula tampak gugup luar biasa. Refleks, tubuh kecilnya mundur satu langkah ke belakang, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan menyusup masuk ke dalam kabin tanpa berkata sepatah kata pun.
Brak!
Pintu mobil tertutup rapat.
Arunika berdiri kembali, hanya bisa tersenyum kecil menahan rasa gemas bercampur pilu. "Masih butuh waktu rupanya untuk mencairkan hatinya." Ia mengetuk pelan kaca mobil. Pak Surya langsung menurunkan kaca jendela. "Pak Surya."
"Iya, Nyonya?"
"Tolong jaga Nakula baik-baik. Kalau terjadi apa pun di sekolahnya sekecil apa pun, segera hubungi aku."
Pak Surya mengangguk mantap penuh tanggung jawab. "Siap, laksanakan, Nyonya!"
Mobil hitam itu perlahan meluncur meninggalkan halaman rumah.
Di tengah perjalanan, Nakula duduk diam menatap kosong ke luar jendela. Tak lama kemudian, mobil berhenti di lampu merah persimpangan jalan raya. Di sebelah kanan mereka, sebuah sepeda motor ojek online ikut berhenti berdampingan.
Nakula menoleh sekilas ke samping. Matanya langsung membelalak kaget.
Damar.
Bocah arogan itu duduk di boncengan ojek dengan wajah kusut. Seragam sekolah mahalnya mulai kusam terkena debu jalanan.
Damar yang menyadari keberadaan mobil mewah keluarga langsung melotot. "Pak Surya! Buka kaca mobilnya sekarang!" teriaknya histeris kepada sopirnya.
Pak Surya melirik Nakula lewat spion tengah, lalu menekan tombol power window. Kaca perlahan turun.
Damar langsung menyeringai sinis selebar-lebarnya.
"Puas kau sekarang, anak pembawa sial?!" teriaknya mengejek.
Nakula hanya menatap datar tanpa berniat menjawab sepatah kata pun.
"Awas saja nanti begitu kita sampai di gerbang sekolah! Habis kau!" Damar tertawa nyaring. "Kau pikir ada pahlawan kesiangan yang akan menyelamatkanmu di sana, hah?!"
Nakula menundukkan kepala dalam-dalam. Tangannya mengepal kuat di atas paha. Ancaman busuk seperti itu sudah terlalu sering ia dengar setiap hari.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju kencang meninggalkan motor ojek yang mulai tertinggal di belakang.
"Heh, Pak Ojek! Bawa motornya jangan ngebut-ngebut!" teriak Damar kesal pada abang ojek.
Belum ada lima menit perjalanan, Damar mulai menggaruk-garuk lehernya heboh.
"Aduh! Gatal banget!" Debu jalanan ibu kota membuat kulitnya yang sensitif mendadak merah-merah meradang. "Pak, putar balik saja! Jangan lewat jalan sini, banyak debu!"
Abang ojek itu tertawa kecil di balik helmnya. "Namanya juga naik motor di jalan raya, Dek."
Damar semakin merajuk kesal. "Aku tidak terima! Pokoknya tidak terima!"
*
*
*
Sementara itu, di kediaman utama, Arunika sedang duduk santai di sofa ruang tengah. Di pangkuannya terbuka sebuah majalah interior rumah modern, sementara sebelah tangannya asyik menggigit apel merah segar yang berair. Suasana rumah terasa begitu tenang dan damai.
Hingga tiba-tiba sebuah ember plastik besar penuh berisi air sabun kotor dan alat pel dibanting kasar tepat di depan kaki Arunika.
Arunika mendongak santai. Di hadapannya, Wina berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang, menatapnya penuh kebencian.
Arunika melirik ember itu, lalu tersenyum geli. "Wah, Kakak Ipar rajin sekali pagi-pagi. Mau mengepel lantai ruang tamu, ya?"
Wina mendengus jijik luar biasa. "Aku mengepel lantai? Ih, najis! Itu bukan level seorang bangsawan sepertiku." Ia menunjuk ember kotor itu dengan dagunya. "Kau yang harus melakukannya! Babi gendut sepertimu paling cocok jadi pesuruh rendahan di rumah ini. Cepat pel seluruh lantai marmer ini sampai mengkilap!"
Arunika kembali menggigit apel merahnya dengan santai. Lalu ia melanjutkan membaca halaman majalahnya. "Aku bukan pelayan rumah tangga," jawabnya santai tanpa beban, seolah makian Wina hanya angin lalu.
Wina semakin naik pitam melihat ketenangan iparnya. "Kau sudah tuli, hah?!"
"Tidak."
"Lalu kenapa pantatmu tidak segera bergeser dan mulai bekerja?!"
"Karena aku sedang sibuk menikmati apel merahku," jawab Arunika tanpa menoleh sedikit pun.
Urat di pelipis Wina berdenyut hebat menahan amarah yang meledak-ledak. Tanpa pikir panjang lagi, ia menyambar gagang ember berisi air kotor tersebut.
"Mau melawan ya? Kalau begitu rasakan ini!"
Byurrr!
Satu ember penuh air dingin bercampur deterjen dan kotoran disiramkan langsung ke tubuh Arunika.
Gaun rumah yang dikenakannya seketika basah kuyup. Rambut panjangnya menempel basah di wajah. Buah apel di tangannya terlepas dan menggelinding jatuh ke lantai.
Ruangan mendadak sunyi mencekam. Para pelayan yang kebetulan menyaksikan kejadian itu langsung menahan napas ketakutan. Tak seorang pun berani bergerak sejengkal pun.
Wina tersenyum puas penuh kemenangan. "Nah! Sekarang karena sudah terlanjur basah, sekalian saja bersihkan seluruh lantai ini!"
Arunika tetap duduk di sofa. Perlahan, ia mengangkat tangannya menyeka air sabun yang menetes di wajahnya.
Lalu, ia berdiri. Senyum tipis misterius terukir di bibirnya, senyuman yang justru membuat bulu kuduk Wina meremang seketika.
"Apa kau sudah selesai main-mainnya?" tanya Arunika dengan suara yang teramat tenang.
Wina mengangkat dagunya angkuh, menutupi rasa gugupnya. "Memangnya kalau belum, apa urusanmu?"
Arunika melangkah maju mendekati iparnya hingga kini jarak di antara mereka hanya terpaut beberapa sentimeter saja. Sorot mata Arunika berubah tajam menghujam.
"Bagus kalau sudah selesai. Karena sekarang, giliranku yang bermain, Kakak Ipar," ucap Arunika sembari menghampiri Wina.