"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reyhan
"Abang Reyhan mau diantar tidak untuk pergi ke sekolahnya sama Tante? Nanti biar Tante bangunkan Papamu untuk antar kaya kemarin," tanya Aluna setelah dia menyelesaikan sarapannya bersama Reyhan.
"Nggak usah, Tante. Biar Reyhan diantar Mang Jono aja," ucap Reyhan menolak usulan dari Aluna. Dia tak mau mengganggu tidur nyenyak dari Papa dan adiknya.
"Kalau begitu, ayo Tante antar ke depan."
Sebenarnya Reyhan sangat canggung dengan perlakuan lembut dari Aluna. Selama hidupnya, dia hanya diperlakukan lembut oleh Mama Mila saja. Sedangkan untuk Ibu kandungnya, dia sudah lupa karena sudah lama. Sewaktu Ibunya meninggal pun, Reyhan masih kecil. Jadi dia tak teringat mengenai kasih sayang dan perhatian dari Ibunya itu. Sekarang ada Aluna yang memberikan perhatian, hatinya sedikit bergetar. Bahkan matanya sempat berkaca-kaca.
"Iya, Tante." Pikirannya ingin menolak, tapi bibirnya malah berkata lain. Reyhan pun berdiri kemudian berjalan di belakang Aluna. Tampaknya Reyhan ingin mengawasi dan menjaga Aluna agar tidak terjatuh.
"Mang Jono..." seru Aluna memanggil seorang sopir yang biasanya juga membantu membersihkan halaman rumah.
"Iya, Bu Aluna. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mang Jono dengan cepat mendekati Aluna.
"Tolong antarkan Abang Reyhan ke sekolah ya," suruh Aluna dengan lembut.
"Baik, Bu Aluna. Mang Jono siap mengantar Nak Reyhan," ucap Mang Jono yang kemudian berlari mengambil motornya.
"Abang Reyhan, hati-hati ya berangkat sekolahnya. Sekolah yang rajin, buat bangga keluarga terutama Papa, Mama, Tante, dan Lova. Tidak masalah kalau kamu tidak juara, yang penting rajin. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi Papa atau orang rumah." ucap Aluna sambil menepuk bahu Reyhan.
"Terimakasih," ucap Reyhan dengan pelan kemudian pergi setelah Mang Jono siap dengan motornya.
Hati-hati bawa motornya ya, Mang Jono. Ada anakku yang lagi dibawa,
Deg...
Siap, Bu Aluna.
Jantung Reyhan berdetak sangat kencang saat mendengar ucapan dari Aluna. Ada seseorang yang baru dikenalnya mengaku dia sebagai orangtuanya. Bukan perasaan tidak suka dengan pengakuan itu, hanya saja dia merasa hatinya sangat aneh. Ada rasa hangat yang tiba-tiba merasuk dalam hatinya. Motor pun segera melaju pergi dari hadapan Aluna. Sudah tak mendengar suara dari motor milik Mang Jono, Aluna segera masuk ke dalam rumah.
Tante Aluna... Kok Lopa ditinggal sih?
Tante... Wel tewel you?
"Tante di sini, lobak. Mana pula itu kamu bilang wel tewel you? Harusnya where are you," seru Aluna saat mendengar suara Elova.
"Namanya juga belum benal bicalanya, ndak usah plotes Tante Aluna ini." Elova langsung menyalahkan Aluna yang protes kepadanya.
"Kamu dimana, lobak?" tanya Aluna sambil mencoba mencari keberadaan Elova.
"Lopa yang gembul ini ada di sini, Tante."
Elova langsung memegang tangan Aluna yang bebas dari tongkat kayunya untuk memberitahu keberadaan dia. Elova pun menggandeng Aluna untuk kembali ke kamar. Dia ingin meminta Aluna untuk memandikannya. Dia sangat ketagihan melakukan aktifitas bersama Aluna. Padahal saat pertama kali ingin dimandikan oleh Aluna, Elova sangat ketakutan. Namun sekarang malah ketagihan ingin dimandikan lagi oleh Aluna.
"Tadi Tante antar Abang Reyhan ke depan. Kamu dan Papa masih tidur," ucap Aluna memberitahu.
"Astaga... Lopa lupa kalau setiap pagi sapa Abang leyhan yang mau belangkat sekolah," ucap Elova sambil menepuk dahinya dengan pelan.
"Ya udah ndak papa, bisa nanti pulang saja sapa Abangnya." Aluna sampai menahan tawanya melihat tingkah Elova. Padahal tadi sepertinya Elova menyesal karena tidak menyapa dan mengantar Reyhan saat berangkat sekolah. Namun sekarang malah dia biasa saja.
"Lova mandi sendiri aja ya? Tante mau siapkan susu untuk kamu," ucap Aluna saat sudah sampai di kamar milik Elova. Aluna sedikit takut jika nanti tiba-tiba terpeleset karena kali ini tidak diawasi oleh Bian.
"Wah... Kok gitu sih? Ndak ikhlas ya Tante buat mandikan Lopa," gerutu Elova dengan tatapan menyelidiknya.
"Tante takut kalau nanti malah terpeleset. Kan licin kalau habis digunakan untuk mandi. Atau nggak, coba kamu panggil Bibi Tari ke sini. Minta buat awas8 kamu dan Tante," ucap Aluna memberikan pilihan.
"Panggil Bibi Tali aja ya, Tante."
Bibi Tali kalet, sepatu, kucilan,...
Astaga...
***
Sedangkan di sisi lain, Reyhan sudah sampai di salah satu sekolah dasar favorit di kotanya. Reyhan menghela nafasnya pelan saat melihat teman-temannya diantar oleh Ibunya. Kemarin saat Aluna dan Bian mengantarnya, dia merasakan hal yang berbeda. Bahkan dia merasa harinya di sekolah terasa begitu menyenangkan. Padahal hanya persoalan siapa yang mengantar ke sekolah saja, tapi berhasil membuat moodnya menjadi baik.
"Reyhan..." panggil seorang bocah laki-laki seusianya, Tama. Dia langsung merangkul bahu Reyhan sambil mendekatkan bibirnya ke arah telinga temannya itu.
"Ayo bolos ke warung samping. Hari ini jadwalnya Pak Dayat, matematika bikin pusing." ucap Tama dengan pelan.
"Ayo, Tam. Lagian mau masuk atau enggak kok kayanya sama aja. Nggak masuk di dalam otak ini," ucap Reyhan sambil tertawa.
"Aldo dan Rizky juga udah ada di sana. Kita lewat pintu samping aja," ucap Tama yang langsung menarik tangan Reyhan agar cepat pergi ke pintu samping.
Pasalnya sudah banyak guru yang datang. Khawatirnya nanti pergerakan mereka yang menuju pintu samping itu dicurigai oleh guru. Apalagi mereka adalah langganan membolos kelas. Sudah pasti akan dipantau lebih detail. Namun entah bagaimana caranya, mereka bisa lolos walaupun sudah diawasi. Beberapa kali juga mereka diberikan peringatan tentang membolos ini tapi tidak pernah kapok. Bahkan guru BK juga sempat memanggil orangtua murid yang bersangkutan, tapi mereka tak hadir. Saat sudah sampai di depan pintu samping, tiba-tiba saja Reyhan mematung di tempatnya.
"Belajar yang rajin biar bisa buat bangga Papa, Mama, Tante, dan Lova. Tidak jadi juara tidak apa, yang penting rajin sekolah."
Tiba-tiba saja kalimat dari Ibu tirinya yang tadi mengantarnya sampai depan rumah, terngiang dalam pikirannya. Reyhan yang ingin mengikuti Tama keluar dari area sekolah, akhirnya membalikkan badannya dan pergi dari sana. Tama yang merasa bahwa Reyhan tak ada di belakangnya pun segera mencarinya. Dia melihat Reyhan masuk kembali ke area sekolah, bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
"Reyhan... Kok malah balik lagi sih? Apa ada barang yang ketinggalan?" teriak Tama agar Reyhan mendengarnya.
"Aku mau masuk pelajarannya Pak Dayat, Tam. Kamu kalau mau bolos, nggak papa. Lanjut aja," seru Reyhan membuat Tama melongo tak percaya.
"Kenapa itu si Reyhan? Nggak biasanya begini," gumam Tama sambil menggelengkan kepalanya.
Terus aku harus gimana ini? Ikut Reyhan atau bolos aja?
Udah lah, bolos aja. Percuma masuk sekarang, udah telat.
bagus bagus, biar mereka malu tuh🤣
apalagi captionnya menyebutkan makanan basi, pasti mereka bakalan dihujat itu🤣🤣