Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Sikap Dingin Devan
Pagi itu, penthouse Devan terasa sunyi. Aira berdiri di depan cermin kamar mandi sambil memperhatikan pipi kirinya yang masih menyisakan lebam samar akibat tamparan Siska kemarin. Ia mengusapnya perlahan sebelum membasuh wajah dan bersiap memulai aktivitasnya.
Setelah mengenakan kemeja terusan longgar, Aira berjalan menuju dapur. Sejak tinggal di penthouse itu, ia harus mengurus sebagian pekerjaan rumah sendiri. Devan tidak mengizinkan pelayan menginap di sana karena ingin menjaga privasinya.
Aira tidak keberatan. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa dikerjakannya daripada terus memikirkan ibunya yang masih dirawat di rumah sakit dan adik-adiknya yang berada jauh di Bantul.
Saat sedang memotong buah di dapur, suara lift pribadi terdengar. Dua perempuan berseragam abu-abu masuk sambil membawa beberapa keranjang pakaian bersih.
Mereka adalah petugas kebersihan yang dikirim Arga sebulan sekali untuk membersihkan penthouse.
Aira tersenyum ketika melihat keduanya.
"Selamat pagi, Mbak."
Kedua perempuan itu saling berpandangan sebelum membalas sapaannya.
"Selamat pagi, Nyonya," jawab salah seorang dari mereka singkat.
Aira sempat ingin menawarkan teh hangat, tetapi mengurungkan niatnya ketika melihat sikap keduanya yang terkesan menjaga jarak. Ia tidak ingin membuat mereka merasa tidak nyaman.
Aira kembali menata buah di meja makan. Setelah selesai, ia berjalan menuju ruang cuci di belakang dapur untuk mengambil kain lap.
Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan kedua perempuan itu dari dekat dispenser air.
"Lihat, pipi kirinya masih memar begitu," bisik perempuan yang lebih muda.
"Iya. Katanya, kemarin Nyonya Siska datang dan menamparnya," sahut temannya. "Sampai terdengar ke pos keamanan di bawah."
"Kasihan juga, sih. Tapi, mau bagaimana lagi? Siapa suruh menikah dengan Tuan Devan? Dasar perempuan murahan!"
Perempuan yang lebih tua terkekeh pelan.
"Memangnya kamu percaya Tuan Devan benar-benar menginginkannya? Dulu, waktu masih bersama Nona Clara, perlakuannya berbeda sekali. Nona Clara selalu diperlakukan dengan baik."
"Benar. Kalau yang sekarang, entah dianggap apa. Jangan-jangan, cuma pembantu yang diberi tempat tinggal."
Keduanya tertawa kecil.
Aira terdiam di balik dinding lorong. Tangannya yang memegang kain lap mengepal. Ia tidak menyangka kedua perempuan itu akan membicarakannya seperti itu, apalagi ketika mereka bahkan belum mengenalnya.
Ia memang berasal dari desa dan keluarganya sedang mengalami kesulitan. Namun, bukan berarti mereka berhak merendahkannya.
Aira menarik napas, berusaha menenangkan diri. Ia tidak ingin menangis hanya karena ucapan orang lain.
"Siapa yang mengizinkan kalian bergosip di rumahku?"
Suara Devan tiba-tiba terdengar dari ruang tengah.
Aira menoleh. Devan berdiri tidak jauh dari kedua perempuan itu dengan setelan jas hitamnya. Wajahnya tampak dingin, membuat keduanya langsung terdiam.
Keranjang pakaian yang mereka bawa hampir terlepas dari tangan.
"Tuan Devan! Maafkan kami. Kami tidak bermaksud—"
"Arga!"
Arga yang baru saja keluar dari lift segera menghampiri.
"Ya, Tuan?"
"Pecat mereka berdua. Batalkan kontrak vendor mereka dan pastikan kejadian seperti ini tidak terulang di perusahaan kita."
Kedua perempuan itu langsung panik.
"Tolong, Tuan! Kami minta maaf. Kami tidak akan mengulanginya lagi!"
Devan tidak menghiraukan permohonan mereka.
"Bawa mereka keluar."
"Baik, Tuan."
Arga memberi isyarat kepada dua petugas keamanan yang menunggu di dekat lift. Kedua perempuan itu akhirnya dibawa keluar dari penthouse meskipun terus memohon agar Devan mengubah keputusannya.
Setelah pintu lift tertutup, suasana kembali sunyi.
Aira keluar dari lorong dan berjalan menuju meja makan. Ia melihat Devan sedang merapikan jam tangan di pergelangan tangannya.
Untuk sesaat, Aira merasa lega. Ia sempat mengira Devan tidak menyukai cara kedua perempuan itu memperlakukannya. Meskipun pria itu tidak pernah bersikap baik kepadanya, setidaknya ia tidak membiarkan orang lain menghina istrinya di rumah sendiri.
Namun, dugaan itu segera terbantahkan ketika Devan menoleh kepadanya.
"Jangan salah paham. Aku tidak memecat mereka untuk membelamu."
Aira menghentikan langkahnya.
"Maksud Mas Devan?"
"Aku tidak suka orang bergosip di rumahku, apalagi membicarakan urusan keluarga Mahendra." Devan menatapnya dingin. "Jadi, jangan berpikir aku peduli dengan apa yang mereka katakan tentangmu."
Aira terdiam.
Devan melangkah mendekat.
"Apa yang mereka katakan tadi juga tidak sepenuhnya salah. Di rumah ini, statusmu hanya sebatas istri di atas kertas."
Aira menunduk sesaat. Ia sempat berharap Devan akan bersikap sedikit berbeda, tetapi ternyata ia kembali mengingatkan bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan.
Meski kecewa, Aira tidak ingin terus diam ketika direndahkan.
"Saya mengerti, Mas Devan. Saya memang hanya menjalani kesepakatan yang sudah kita buat." Ia mengangkat wajahnya. "Tapi, bukan berarti saya pantas dihina hanya karena berasal dari keluarga sederhana."
Devan menatapnya tanpa menjawab.
"Saya tidak pernah meminta mereka mengakui saya sebagai bagian dari keluarga Mahendra. Saya juga tidak meminta mereka menyukai saya. Saya hanya ingin diperlakukan dengan baik, sama seperti orang lain."
"Sudah selesai?" tanya Devan datar.
Aira mengangguk kecil.
"Kalau begitu, berhenti membicarakan hal yang tidak penting."
Devan mengambil tas kerjanya dari meja, lalu menatap Aira sekali lagi.
"Persiapkan dirimu. Seminggu lagi ada jamuan makan malam resmi Mahendra Group. Kau harus hadir sebagai istriku."
Aira sedikit terkejut.
"Jamuan makan malam?"
"Ya. Aku tidak ingin kau mempermalukan keluarga Mahendra di depan para tamu."
Devan tidak menunggu jawaban. Ia langsung berjalan menuju pintu dan meninggalkan penthouse.
Aira masih berdiri di dekat meja makan. Ia melirik buah yang tadi dipotongnya, lalu menarik kursi dan duduk.
Ucapan kedua pelayan itu masih terngiang di telinganya. Ditambah lagi, Devan kembali memperlakukannya seolah-olah dirinya tidak lebih dari bagian dari sebuah kesepakatan.
Aira menghela napas panjang.
Ia tahu pernikahan ini tidak didasari cinta. Ia juga tidak berharap Devan akan tiba-tiba menerimanya sebagai istri.
Namun, satu hal yang tidak akan ia biarkan berubah adalah cara ia memandang dirinya sendiri.
Aira boleh saja diremehkan oleh orang lain, tetapi ia tidak akan membiarkan hinaan mereka membuatnya kehilangan harga dirinya.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,