hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 33
Sementara itu, di halaman belakang mansion, Sonya sedang sibuk membersihkan taman.
Padahal, kemarin Emma sudah mengatakan bahwa mulai sekarang Sonya akan menjadi pelayan pribadi yang bertugas mendampinginya. Namun, gadis itu tidak bisa hanya duduk santai sementara para pelayan lain sibuk bekerja.
Lagi pula, Sonya masih belum terbiasa dengan posisinya yang baru.
"Daripada aku bengong di kamar, lebih baik membantu mereka," gumamnya sambil mengumpulkan ranting-ranting kecil yang berserakan di halaman.
Sonya membungkuk untuk mengambil sebuah ranting yang terselip di antara tanaman hias. Namun, tanpa sengaja, kakinya tergores ujung ranting tajam lainnya.
"Aduh!" pekiknya sambil spontan menarik kakinya.
Sonya meringis kesakitan. Ia meletakkan keranjang yang dibawanya, lalu memeriksa kakinya yang mulai terasa perih.
"Ya ampun, kenapa harus sekarang, sih?" gerutunya pelan.
Belum sempat ia berdiri tegak, sebuah suara laki-laki terdengar dari belakangnya.
"Nona?"
Sonya langsung menoleh.
Vandes berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah datar. Pria itu tampak heran melihat Sonya yang sedang jongkok di dekat tanaman.
"Mengapa kau berada di sini?" tanyanya sambil mendekat.
Sonya buru-buru mencoba berdiri, tetapi rasa sakit di kakinya membuatnya kembali meringis.
"Kaki saya sakit, Tuan," jawabnya sambil menunjuk bagian kakinya yang terluka.
Vandes menunduk, hendak memeriksa luka tersebut. Namun, begitu menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya, Sonya mendadak teringat sesuatu.
Pria ini adalah salah satu penghuni mansion yang bukan manusia biasa.
Sonya menatap Vandes dengan mata membulat. Ia kemudian melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di dekat mereka.
"T-tuan..." panggilnya gugup.
Vandes mengangkat wajah. "Apa?"
Sonya menelan ludah sebelum bertanya dengan suara bergetar, "Ah, Tuan... apakah Anda vampir?"
Vandes terdiam sesaat.
Ia menatap gadis itu dengan ekspresi datar, seolah sedang mempertimbangkan apakah pertanyaan tersebut perlu dijawab.
Sonya justru semakin panik melihat keheningannya.
"Astaga, benar, kan?!" serunya sambil mundur sedikit.
"Nona, tenanglah."
"Saya mohon, Tuan, jangan hisap darah saya!" pinta Sonya dengan wajah pucat. "Darah saya tidak enak, Tuan! Saya bahkan jarang makan daging!"
Vandes memejamkan mata sesaat.
Apa-apaan yang sedang dibicarakan gadis ini?
"Saya tidak berniat menghisap darah Anda," jawabnya tenang.
Sonya menatapnya curiga. "Benarkah?"
"Ya."
"Janji?"
Vandes membuka matanya dan menatap Sonya tanpa ekspresi.
"Nona, saya tidak punya kebiasaan menghisap darah setiap manusia yang saya temui."
Sonya terdiam, kemudian mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..." gumamnya sambil menepuk dadanya. "Saya kira hidup saya akan berakhir di taman ini."
Vandes menghela napas pelan. Ia kembali melirik kaki Sonya yang terluka.
"Sudah, duduklah. Lukamu harus dibersihkan."
Sonya menurut dan duduk di bangku taman terdekat. Namun, saat Vandes berjongkok untuk memeriksa lukanya, gadis itu kembali menegang.
"T-tuan, Anda mau apa?"
"Memeriksa kakimu."
"Oh..." Sonya mengangguk kecil, lalu buru-buru menambahkan, "Tapi, kalau melihat darah membuat Anda lapar, tolong bilang dulu, ya, Tuan. Saya akan lari."
Vandes mengangkat wajahnya perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
"Nona," katanya dengan suara datar, "kalau Anda terus berbicara seperti itu, saya akan meninggalkan Anda di sini."
Sonya langsung menutup mulutnya rapat-rapat Beberapa detik kemudian, ia mengangkat satu jari.
Vandes menatapnya tajam. "Apa lagi?"
Sonya menelan ludah.
"Kalau saya diam, Tuan tidak akan memakan saya, kan?"
Vandes terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas Pagi-pagi begini, ia sudah dibuat pusing oleh seorang gadis manusia yang bahkan lebih takut kepadanya daripada kepada luka di kakinya sendiri.
“Sonya! Sonya!!” teriak Emma ketika melihat mereka dari kejauhan.“Aww, astaga! Vandes, Damian sudah menunggu kamu. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Emma sambil berkacak pinggang.
Di belakang Emma, Sonia berdiri sambil memperhatikan Vandes dan Sonya secara bergantian.
“Ah, astaga! Aku sampai lupa!” Vandes menepuk dahinya pelan. Ia lalu menoleh ke arah Sonya yang masih duduk sambil memegangi kakinya.
“Nona kecil, obati luka kamu sendiri, ya. Aku pergi dulu.” Vandes berdiri, lalu berjalan melewati Emma seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Emma terdiam sesaat.
Tunggu dulu.
Pria yang biasanya dingin, cuek, dan bahkan jarang tersenyum itu barusan berbicara dengan begitu manis kepada Sonya?
Emma langsung menyipitkan matanya, memperhatikan punggung Vandes yang semakin menjauh.
“Ck, ck, ck. Menarik sekali,” gumam Emma sambil melirik Sonya yang masih duduk di bangku taman.
Sonya mengangkat wajahnya dengan bingung. “Maksud Nyonya apa?”
Emma menyeringai tipis. “Tidak ada. Aku cuma baru tahu kalau ternyata Tuan Vandes bisa bersikap semanis itu kepada seorang perempuan.”
“Ti-tidak, Nyonya! Tuan Vandes hanya membantu saya mengobati luka!”
“Lho, memang aku bilang apa?” Emma mengangkat kedua alisnya, pura-pura polos.
Sonya langsung terdiam. Wajahnya mulai memerah karena merasa salah tingkah Sementara itu, Sonia yang berdiri di samping Emma hanya bisa menahan senyum melihat tingkah mereka.
“Sudahlah, ayo berdiri. Kita obati dulu kakimu,” kata Emma sambil mengulurkan tangan kepada Sonya.
Sonya menerima uluran tangan itu dengan hati-hati. Namun, sebelum mereka pergi, Emma kembali melirik ke arah Vandes menghilang.
Dalam hati, Emma mulai menyusun rencana kecil.
Sepertinya mansion ini bakal semakin ramai kalau dua orang itu benar-benar saling menyukai.
Dan tentu saja, Emma tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggoda mereka!
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭