NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

"ARIS... APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!"

Teriakan Hendra menggelegar menghantam dinding-dinding kayu mahoni di ruang kerja utama Fahreza Tower. Suara itu bukan sekadar bentakan biasa; ada kemarahan pekat, otoritas mutlak, dan insting protektif seorang pria matang yang melihat hak miliknya diganggu.

Aris seketika mematung. Cengkeraman tangannya pada kedua pergelangan tangan Aura terlepas begitu saja seolah-olah kulit Aura mendadak berubah menjadi besi panas yang membakar telapak tangannya. Pria muda itu melangkah mundur dua langkah dengan tubuh gemetar hebat, wajahnya yang tadi dipenuhi amarah kini berganti menjadi pucat pasi tanpa sisa darah.

Aura tidak menjerit.

Ia tidak menunjukkan tangisan ketakutan yang murahan. Dengan sangat tenang dan anggun, Aura melangkah mendekati Hendra yang berdiri tegap di ambang pintu bersama dua pengawal pribadinya. Aura memegang lengan jas suaminya, mengusap kain mahal itu dengan gerakan lembut yang seketika mencuri pusat perhatian Hendra.

"Mas Hendra..." panggil Aura dengan suara halus yang bergetar tipis, memainkan perannya sebagai istri yang terancam namun tetap menjaga harga diri.

"Aku tidak apa-apa. Tolong tenang dulu."

Hendra menatap Aura dari atas ke bawah. Mata cokelat gelap milik sang taipan memeriksa setiap inci tubuh istrinya untuk memastikan tidak ada lebam atau cedera. Ketika matanya menangkap bekas kemerahan tipis di pergelangan tangan mulus Aura akibat cengkeraman kasar Aris tadi, kilatan murka di mata Hendra makin membara.

Hendra memberi isyarat tangan yang sangat dingin kepada dua pengawal pribadinya.

"Kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan siapapun mendekati ruangan ini sampai saya keluar,"

perintah Hendra dengan suara rendah yang amat berbahaya.

Dua pengawal itu menunduk dalam-dalam, lalu melangkah mundur dan menutup pintu ganda kayu jati tersebut dari luar. Suara kunci elektronik yang terpasang otomatis bergema nyaring di dalam ruangan yang mendadak hening dan mencekik.

Hendra melangkah maju, melepaskan jas kerjanya lalu melipatnya rapi di atas sandaran sofa kulit. Ia melonggarkan ikatan dasinya sedikit, menggulung lengan kemeja putih mewahnya hingga batas siku. Setiap gerakannya begitu tenang, teratur, namun memancarkan aura ancaman predator yang siap menerkam.

Aris menelan ludahnya yang terasa kering bagaikan pasir. Matanya tak berani menatap langsung ke manik mata ayahnya.

"Pa... Papa..." bisik Aris dengan suara parau yang amat ketakutan.

"Aris bisa jelaskan, Pa... Ini nggak seperti yang Papa lihat... Aris cuma..."

PLAK!

Sebuah tamparan keras dan mantap mendarat tepat di pipi kiri Aris.

Dampak hantaman tangan kokoh Hendra membuat kepala Aris terlempar ke samping. Pria muda itu tersungkur ke atas karpet tebal, memegang pipinya yang seketika panas membara dan memerah. Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa hancur dan malunya yang luar biasa. Seumur hidupnya,

Hendra belum pernah memukul Aris. Pria matang itu selalu mendidik Aris dengan kata-kata dingin dan perintah mutlak. Namun sore ini, untuk pertama kalinya, sang ayah melayangkan tangannya sendiri demi membela wanita di sampingnya.

"Pria macam apa kamu, Aris?!" bentak Hendra, suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan.

"Kamu berani menggunakan kekerasan fisik pada seorang wanita?! Dan wanita itu adalah Nyonya rumah ini! Calon ibumu! Komisaris utama perusahaanmu sendiri!"

Aris berlutut di atas karpet, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Air mata kefrustrasian dan rasa malu menetes ke atas karpet mahal.

"Dia bukan ibu Aris, Pa!" jerit Aris penuh penyesalan dan keputusasaan yang meluap-luap.

"Papa nggak tahu siapa dia sebenarnya! Dia ini wanita ular, Pa! Dia mendekati Papa cuma buat hancurin Aris!"

Hendra menatap putranya dengan pandangan jijik dan penuh kekecewaan. Ia melangkah mendekati Aris, berdiri menjulang di atas tubuh anak tunggalnya yang berlutut tak berdaya.

"Masih berani kamu menyalahkan Aura atas kelakuan bejatmu sendiri?" tanya Hendra dingin.

"Aura baru saja menyelamatkan mukamu di ruang rapat tadi siang! Dia menahan kasus penggelembungan anggaran lima belas persen yang kamu lakukan agar nama baikmu tidak hancur di depan para direksi! Dan begini caramu membalas kebaikannya? Dengan menyergapnya di ruang kerja Papa dan memaksanya menggunakan fisik?!"

Aris mendongak, matanya yang memerah menatap ayahnya lalu beralih menatap Aura yang berdiri anggun di belakang Hendra.

Aura berdiri tegak, menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja mahoni. Ia menatap Aris yang berlutut di tanah dengan pandangan yang sangat dingin, tak tersentuh, dan penuh kemenangan.

Tidak ada rasa iba sedikit pun di dalam hatinya. Pria yang dulu membuangnya dan menghina latar belakangnya sebagai 'cewek biasa yang tidak selevel' kini merangkak di bawah kakinya, dibenci dan dimurkai oleh ayahnya sendiri.

"Papa dibodohi sama dia, Pa..." bisik Aris parau, suaranya pecah menahan tangis.

"Dia itu mantan pacar Aris, Pa! Kami pacaran tiga tahun!"

Pengakuan gila itu akhirnya terucap meluncur bebas dari bibir Aris.

Hening seketika menyelimuti ruang kerja yang luas tersebut.

Aris menahan napasnya, berharap akuan itu akan membuat ayahnya terkejut, merasa tertipu, dan menceraikan Aura seketika. Namun, rekayasa harapan Aris hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Hendra tidak menunjukkan ekspresi terkejut yang emosional. Sebagai seorang pengusaha tingkat atas yang telah melewati ratusan intrik politik dan bisnis berdarah dingin,

raut wajah Hendra justru makin memadat, berubah menjadi begitu datar dan pekat.

Hendra melirik Aura sekilas. Aura membalas tatapan suaminya dengan tenang, tidak ada kepanikan atau kebohongan yang terpancar dari matanya.

Hendra kembali menatap Aris yang berlutut di atas karpet.

"Mantan pacar?" panggil Hendra dengan nada suara yang begitu rendah, sinis, dan sarat akan penghinaan.

"Tiga tahun kamu berhubungan dengan wanita seanggun, secerdas, dan seberkelas Aura... lalu apa yang kamu lakukan padanya selama tiga tahun itu, Aris?"

Aris membeku. Jawaban ayahnya sama sekali di luar prediksinya.

"Kamu menyembunyikannya dari dunia, bukan?" cercah Hendra dengan analisisnya yang sangat tajam dan tepat sasaran.

"Kamu menyembunyikannya karena kamu terlalu pengecut untuk membawanya ke depan Papa! Kamu terlalu takut kehilangan fasilitas dan uang jajan dari Papa kalau Papa tidak menyetujuinya! Lalu kamu membuangnya begitu saja demi Siska—anak pemilik hotel yang kamu pikir bisa mendongkrak gengsimu yang dangkal itu!"

Kata-kata Hendra bagaikan anak panah beracun yang menghujam tepat ke pusat kesadaran Aris. Setiap kalimat yang keluar dari bibir sang ayah menguliti kebusukan dan kecacatannya sebagai pria.

"Papa... Papa sudah tahu?" tanya Aris gemetar tak percaya.

"Papa tidak peduli dengan masa lalu kalian yang picik itu, Aris!" tegas Hendra dengan kejam.

"Yang Papa tahu, saat ini Aura adalah istri sah Papa. Dia memilih berdiri di samping Papa sebagai wanita dewasa yang bermartabat. Dia memberikan ketenangan, kehormatan, dan kontribusi nyata untuk Fahreza Group. Sedangkan kamu? Kamu tetap menjadi anak manja yang egois, kekanak-kanakan, dan tidak berguna!"

Hendra berbalik melangkah mendekati Aura. Pria matang itu meraih pergelangan tangan Aura yang memerah akibat cengkeraman Aris tadi, lalu mengecup kulit halus itu dengan penuh kelembutan dan rasa hormat di depan mata Aris.

Aura tersenyum tipis, merapatkan jemarinya di sela-sela jemari kokoh Hendra. Rasa kagum dan terpesona di dalam dada Aura pada sosok suaminya kian bertambah tajam. Hendra bukan sekadar pria kaya; dia adalah seorang pria sejati yang berdiri tegak membentengi istrinya dari gertakan apapun, bahkan dari anaknya sendiri.

"Mas Hendra..." kata Aura lembut, menatap mata cokelat gelap suaminya.

"Jangan biarkan emosi merusak kesehatanmu. Aris hanya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang pernah ia sia-siakan kini berada di posisi yang tak akan pernah bisa ia jangkau lagi."

Hendra mengangguk pelan, mengecup pelipis Aura seraya merangkul pinggang istrinya dengan sangat protektif.

"Kamu benar, Sayang," ujar Hendra dengan suara berat yang menenangkan. Pria itu kemudian kembali menoleh menatap Aris yang masih bersimpuh di atas lantai bagaikan bangkai tanpa jiwa.

"Dengar keputusan Papa baik-baik, Aris," ucap Hendra dengan suara dingin yang tak bisa diganggu gugat.

"Mulai detik ini, seluruh posisi kepemimpinanmu di kantor cabang dibekukan. Kamu dibebastugaskan dari seluruh proyek Fahreza Group sampai batas waktu yang tidak ditentukan."

"Pa! Nggak, Pa! Please jangan lakukan ini sama Aris!" jerit Aris histeris, mencoba merangkak mendekati kaki ayahnya. "Aris mohon, Pa! Itu proyek masa depan Aris!"

"Posisimu akan diambil alih langsung oleh Nyonya Aura sebagai komisaris utama," potong Hendra tanpa rasa iba sedikit pun.

"Fasilitas kartu kredit eksekutif, mobil dinas, dan penthouse atas nama perusahaan akan ditarik esok pagi. Kalau kamu masih ingin punya tempat tinggal, kembalilah ke rumah utama dan belajarlah menjadi anak yang memiliki tata krama di bawah pengawasan ibumu."

"Papa..." Aris menangis parau, memukulkan kedua tangannya ke atas karpet.

Hendra tidak mengindahkan ratapan putranya lagi. Ia berjalan menuju meja kerja, menekan tombol interkom untuk menghubungkan panggilannya ke pos pengawal di luar ruangan.

"Panggil pengawal. Seret Aris keluar dari ruangan saya dan pastikan dia tidak mengganggu Nyonya Aura lagi," perintah Hendra singkat.

Beberapa detik kemudian, pintu ganda terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap melangkah masuk, memegang kedua lengan Aris dan memaksa pria muda itu berdiri. Aris tidak lagi memiliki kekuatan untuk melontarkan perlawanan. Tubuhnya terkulai lemas saat diseret keluar dari ruang kerja utama.

Saat melewati posisi berdiri Aura, Aris mendongak sedikit dengan mata yang sembab dan penuh air mata penyesalan.

Aura menatap Aris lurus-lurus dari balik pelukan hangat lengan Hendra. Bibir merah Aura mengukir sebuah senyuman paling manis, anggun, namun mematikan—sebuah simbol kemenangan mutlak atas dendam masa lalunya.

Pintu ruang kerja kembali ditutup rapat, menyisakan keheningan yang tenang di antara Hendra dan Aura.

Hendra memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Pria matang berusia 38 tahun itu memandangi wajah cantik istrinya dengan tatapan yang begitu pekat, sarat akan rasa bersalah sekaligus kasih sayang yang mendalam.

"Maafkan saya, Aura..." bisik Hendra dengan suara beratnya yang seksi.

"Saya tidak berada di sini tepat waktu untuk melindungimu dari anak kurang ajar itu."

Aura menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap suaminya. Jemari lentiknya merayap naik, mengusap rahang tegas Hendra yang terasa hangat.

"Kamu tidak perlu minta maaf, Mas Hendra," sahut Aura tulus. "Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa sore ini. Kamu berdiri membela kehormatanku di depan semua orang."

Hendra tersenyum menawan—sebuah senyuman tipis yang memancarkan karisma dominan seorang penguasa sejati. Pria itu menundukkan kepalanya, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga bibir mereka saling menyapa dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan janji perlindungan abadi.

Aura memejamkan matanya, menikmati kehangatan dan rasa aman yang diberikan suaminya. Di dalam pelukan Hendra Fahreza, rencana balas dendam yang awalnya ia susun dengan dingin kini telah menjelma menjadi sebuah takdir baru yang memberikannya kekuasaan mutlak, kehormatan tertinggi, dan seorang pria sejati yang mencintainya tanpa syarat.

Tiga minggu berlalu.

Kehidupan di kediaman utama Fahreza telah berubah sepenuhnya. Perubahan struktur kekuasaan di dalam rumah maupun di kantor pusat berjalan dengan sangat mulus di bawah kendali Aura.

Sebagai komisaris baru yang memegang sepuluh persen saham pribadi Hendra, Aura berhasil merapikan berbagai kebocoran anggaran di perusahaan, mengeksekusi proyek-proyek strategis yang tersendat, dan memenangkan hati seluruh jajaran direksi senior melalui kecerdasan serta ketajaman intuisinya. Di mata publik dan media bisnis, Aura dikenal sebagai

"Nyonya Muda Fahreza" yang anggun, berpendidikan, serta menjadi faktor penyeimbang sempurna bagi kejayaan Hendra Fahreza.

Sementara itu, Aris hidup dalam kehancuran ego yang luar biasa. Seluruh fasilitas mewahnya ditarik. Ia tidak lagi memiliki jabatan di kantor, tidak lagi memegang kartu kredit tanpa batas, dan terpaksa tinggal di salah satu kamar sayap barat kediaman utama di bawah pengawasan ketat.

Setiap hari, Aris harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya memanjakan Aura dengan kemewahan yang tak terbatas.

Ia harus melihat Aura duduk di kepala meja makan sebagai Nyonya rumah, dan ia harus menyapa mantan kekasih yang pernah dibuangnya itu dengan panggilan penuh penghormatan di hadapan para staf.

Sore itu, suasana di kediaman utama terasa cukup sejuk. Angin sepoi-sepoi membawa aroma air hujan yang baru saja mereda di atas rerumputan taman.

Aura sedang duduk santai di gazebo putih di tepi kolam renang utama, menyesap cangkir teh chamomile hangatnya. Ia mengenakan gaun terusan kasual berwarna putih gading dari bahan sutra yang melambai lembut diterpa angin. Di atas meja ukir di sampingnya, tergeletak beberapa draf laporan keuangan proyek baru yang baru saja ia tinjau.

Langkah kaki yang pelan dan ragu-ragu terdengar mendekati gazebo.

Aura tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia tetap menyesap tehnya dengan sangat tenang.

Aris berdiri di luar gazebo dengan pakaian yang sangat sederhana—hanya kemeja polos tanpa logo desainer dan celana kain biasa. Wajah pria muda yang dulu sangat sombong itu kini tampak jauh lebih kurus, matanya layu, dan keangkuhannya telah menguap tanpa sisa.

"Boleh... boleh aku bicara sebentar, Aura?" panggil Aris dengan suara sangat pelan dan ragu-ragu, tidak ada lagi nada membentak atau emosi kasar di suaranya.

Aura meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan dencing halus, lalu memalingkan wajahnya menatap Aris secara datar.

"Gunakan panggilan yang sopan kalau kamu berada di rumah ini, Aris," tegur Aura dengan nada dingin yang terlatih.

Aris menelan ludahnya yang terasa pahit, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum mengangguk pasrah.

"Boleh saya bicara sebentar... Ibu?" bisik Aris parau, menyebut kata yang terasa memotong lidahnya sendiri.

Aura menyandarkan punggungnya pada kursi gazebo, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun. "Katakan. Saya tidak punya banyak waktu sebelum Mas Hendra pulang dari kantor."

Aris melangkah masuk ke dalam gazebo, berdiri dua meter di depan meja Aura tanpa berani duduk sebelum dipersilakan.

"Siska... Siska sudah minta putus minggu lalu," buka Aris dengan suara hampa. "Saat dia tahu seluruh fasilitas aku ditarik dan posisi aku di kantor dibekukan Papa, dia langsung pergi ninggalin aku begitu saja. Dia bahkan nggak mau angkat telepon dari aku lagi."

Aura mengukir senyuman tipis yang sangat dingin di bibirnya. "Bukankah itu bagus? Sekarang kamu tahu persis mana wanita yang benar-benar melihat dirimu, dan mana wanita yang cuma menempel pada harta serta nama besar Ayahmu."

Kata-kata Aura menghantam dada Aris dengan telak. Senjata yang dulu ia pakai untuk membuang Aura—bahwa Siska adalah wanita selevel dari keluarga pengusaha hotel—kini justru menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri. Siska meninggalkannya begitu hartanya hilang, sedangkan Aura adalah wanita yang dulu bersedia mendampinginya dari bawah saat Aris belum memiliki apa-apa.

"Aku penyesal setengah mati, Ra..." bisik Aris, air mata kefrustrasian kembali genang di sudut matanya. "Setiap hari di rumah ini terasa seperti neraka buat aku. Melihat kamu jalan sama Papa, melihat Papa melingkarkan tangannya di pinggang kamu... aku rasanya mau gila. Aku sadar betapa bodohnya aku tiga tahun lalu."

Aura memandangi Aris tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di matanya. Rasa sakit hati dan penderitaan yang pernah ia rasakan sebulan lalu saat dicampakkan di kafe kini telah sepenuhnya mengkristal menjadi kejayaan.

"Penyesalan selalu datang paling akhir, Aris," sahut Aura datar. "Dan penyesalanmu tidak akan pernah bisa memutar balikkan waktu. Belajarlah menerima kenyataan bahwa tempatmu saat ini adalah di bawah kepemimpinan suamiku dan pengawasanku."

Sebelum Aris sempat membalas, suara raungan mesin halus dari sedan Rolls-Royce Phantom milik Hendra terdengar berbelok memasuki area drop-off depan rumah utama.

Aura berdiri dari kursinya, merapikan gaun sutra putihnya tanpa memedulikan keberadaan Aris lagi. Ia melangkah anggun meninggalkan gazebo, berjalan menuju selasar utama untuk menyambut kedatangan suaminya.

Hendra baru saja turun dari mobil saat melihat Aura berjalan menghampirinya. Pria matang berjas hitam itu seketika tersenyum hangat, merentangkan tangannya untuk menyambut sang istri ke dalam dekapannya.

Aura merapatkan tubuhnya, membiarkan Hendra mengecup pelipisnya dengan mesra sebelum mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah bergandengan tangan.

Malam harinya di dalam kamar utama.

Suasana kamar terasa begitu hangat dan romantis. Pendar lampu dinding bernuansa emas kuning memantulkan cahaya lembut di atas lantai kayu jati.

Hujan deras mulai mengguyur luar jendela, menciptakan simfoni alami yang menenangkan malam.

Hendra duduk di tepi ranjang king-size, hanya mengenakan piyama hitam dengan bagian dada yang agak terbuka. Pria itu baru saja selesai memeriksa draf investasi di tablet mewahnya saat melihat Aura melangkah keluar dari ruang rias.

Aura mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna merah marun yang jatuh memikat membingkai lekuk tubuhnya. Rambut hitam mewahnya terurai bebas, memancarkan aroma wangi bunga melati yang sangat menyegarkan.

Hendra meletakkan tabletnya ke atas meja samping ranjang, menatap istrinya dengan binar ketertarikan dan rasa cinta yang tak tertahankan.

"Kemari, Sayang," panggil Hendra dengan suara beratnya yang dalam dan seksi.

Aura tersenyum anggun, melangkah mendekati ranjang dan mengambil posisi duduk di pangkuan kokoh suaminya. Hendra seketika melingkarkan kedua tangannya yang tegap di pinggang Aura, menyandarkan dagunya di bahu mulus sang istri seraya menghirup aroma harum dari leher Aura.

"Hari ini kamu terlihat sangat lelah," bisik Hendra lembut, mengusap punggung Aura di balik kain sutra halus. "Proyek di Bali menyita banyak pikiranmu?"

"Sedikit, Mas Hendra," sahut Aura pelan, jemari lentiknya membelai rambut hitam suaminya yang sedikit keperakan di bagian pelipis. "Tapi semuanya sudah terkendali. Laporan audit dari tim independen sudah selesai sore tadi."

Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa yang menggetarkan dada bidangnya di punggung Aura. "Kamu memang istri yang luar biasa. Saya tidak pernah menyesal satu detik pun telah memilihmu menjadi pendamping hidup saya."

Aura memutar tubuhnya sedikit di pangkuan Hendra, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik pria terkuat yang kini menjadi pelindung hidupnya.

"Aku juga tidak pernah menyesal, Mas Hendra," bisik Aura tulus.

Hendra menatap bibir merah Aura yang merekah di bawah pendar lampu temaram. Pria matang itu mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga napas hangat mereka beradu. Hendra mendaratkan ciuman yang dalam, intim, dan penuh kehangatan yang seketika membakar ketegangan malam.

Aura memejamkan matanya, merengkuh leher kokoh Hendra dan membalas ciuman suaminya dengan gairah yang murni. Di dalam dekap dominan Hendra Fahreza, ia tidak lagi memerlukan intrik atau perisai balas dendam. Ia telah menemukan tempatnya yang sejati—sebagai Ratu tak tertandingi di puncak kediaman Fahreza.

Di saat kehangatan malam pertama mereka di minggu ketiga itu makin pekat dan mesra, tiba-tiba terdengar suara dorongan keras pada gagang pintu kamar utama dari arah luar koridor.

BLEK! BLEK!

Gagang pintu kuningan kamar utama terkunci rapat dari dalam, namun seseorang di luar sana terus memutarnya secara paksa dan berulang-ulang dengan gerakan yang sangat panik dan histeris.

Hendra seketika menghentikan ciumannya. Dahi tegas sang taipan berkerut dalam, mata cokelat gelapnya berkilat marah akibat intrik intim bersama istrinya terganggu secara mendadak.

Aura ikut menghentikan gerakannya, menatap ke arah pintu kamar yang terus diguncang dari luar.

Dari balik pintu jati tebal yang terkunci itu, suara jeritan parau Aris terdengar bergema panik di tengah deru hujan malam.

"Papa! Papa buka pintunya, Pa! Tolong Aris, Pa! Ada polisi di bawah... Mereka mau tangkap Aris sekarang, Pa!"

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!