Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pukul enam pagi.
Cahaya matahari mulai menyusup melalui celah tirai kamar Satoshi Katagiri. Setelah melewati malam tanpa tidur, pria itu akhirnya bangkit dari ranjang dengan wajah kusut dan lingkaran gelap di bawah matanya.
Ia memasuki kamar mandi, membiarkan air membasahi wajah dan tubuhnya selama beberapa menit. Setelah selesai, ia mengenakan kaus biasa berwarna hitam dan celana pendek selutut. Tidak ada setelan mahal, dasi, atau sepatu mengilap seperti yang biasa dikenakannya ketika pergi ke kantor.
Hari ini, ia memutuskan untuk tidak bekerja.
Pikirannya terlalu kacau untuk memusatkan perhatian pada urusan perusahaan. Sejak semalam, bayangan Lili terus memenuhi benaknya, disertai ketakutan bahwa perempuan itu akan benar-benar meninggalkannya.
Begitu keluar dari kamar, Satoshi langsung menuruni tangga. Ia berniat menemui Lili sebelum perempuan itu terbangun dan bersiap pergi ke pengadilan.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melewati dapur.
Di sana, Lili sedang berdiri di depan kompor.
Perempuan itu mengenakan gaun merah muda berlengan pendek yang jatuh sederhana hingga menutupi lututnya. Rambut hitam panjangnya diikat rapi, memperlihatkan wajahnya yang tampak segar meskipun ia juga baru melewati malam yang panjang.
Di hadapannya terdapat beberapa wadah makanan. Ia sedang memasukkan nasi ke dalam sebuah kotak bekal, kemudian menata lauk dengan hati-hati.
Satoshi mengerutkan kening.
Bekal.
Selama tiga tahun, ia telah menyaksikan Lili membuat bekal hampir setiap hari. Dahulu, ia tidak pernah memedulikannya. Bahkan, ia sengaja memberikan makanan tersebut kepada para pekerja bangunan agar tidak perlu menyentuh hasil masakan istrinya.
Namun, sekarang, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Ia melangkah memasuki dapur.
“Untuk siapa makanan itu?”
Lili terkejut mendengar suaranya. Ia menoleh sebentar, lalu kembali merapikan bekal tanpa menunjukkan banyak reaksi.
“Untuk seseorang, Tuan.”
Jawaban singkat itu membuat rahang Satoshi mengeras.
“Seseorang siapa?”
Lili meletakkan sendok di atas meja.
“Tyson.”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Wajah Satoshi seketika berubah.
“Jadi, kau memasak sejak pagi untuk pria itu?”
Lili mengangkat pandangannya. “Saya hanya ingin mengantarkan bekal sebelum mengurus keperluan saya.”
“Keperluan apa?”
Lili terdiam.
Ia tidak berniat membicarakan perceraian sebelum meninggalkan rumah. Ia ingin semuanya selesai tanpa pertengkaran. Setelah mengantarkan bekal kepada Tyson, ia berencana pergi ke pengadilan untuk menanyakan proses pengajuan surat perceraian yang telah disiapkannya.
Namun, melihat tatapan Satoshi, ia mulai menyadari bahwa rencananya mungkin tidak akan berjalan semudah yang diharapkan.
“Saya ada urusan di luar rumah.”
“Dengan Tyson?”
“Tidak, Tuan.”
“Jangan berbohong kepadaku, Lili.”
“Saya tidak berbohong.”
Satoshi melangkah mendekat. Matanya tertuju pada kotak bekal yang telah ditutup rapi.
“Apakah kau membuatkan makanan seperti ini untukku selama tiga tahun?”
Lili terdiam sejenak.
“Ya.”
“Lalu, sekarang kau memberikannya kepada pria lain?”
Lili menarik napas perlahan.
“Selama ini, Tuan tidak pernah menginginkan makanan yang saya buat. Tuan selalu memberikannya kepada orang lain. Saya tidak memahami mengapa sekarang Tuan mempermasalahkannya.”
Jawaban itu membuat Satoshi kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Ia tahu Lili benar.
Akan tetapi, mengakui kebenaran terasa jauh lebih sulit daripada melampiaskan kemarahan.
“Matikan kompornya,” perintahnya.
Lili menoleh ke arah panci yang masih berada di atas api.
“Sebentar lagi selesai, Tuan.”
“Sekarang!”
Lili tersentak. Ia segera mematikan kompor, kemudian hendak mengangkat wadah bekal dari meja.
Namun, Satoshi lebih dahulu meraih pergelangan tangannya.
“Tuan, lepaskan saya.”
Alih-alih menjawab, Satoshi menariknya meninggalkan dapur.
“Saya belum selesai membereskan makanan itu!”
“Aku tidak peduli!”
Lili berusaha melepaskan tangannya, tetapi genggaman Satoshi begitu kuat. Kotak bekal yang baru saja disiapkannya tertinggal di atas meja.
Ia mengikuti langkah pria itu dengan jantung berdebar kencang, tidak mengetahui apa yang akan dilakukan suaminya.
“Tuan, apa yang ingin Tuan lakukan?”
Satoshi tidak menjawab.
Ia membawa Lili menuju kamar perempuan itu digudang, membuka pintunya, lalu menariknya masuk. Setelah menutup pintu, ia berdiri di hadapan Lili dengan napas memburu dan wajah yang dipenuhi kecemburuan.
“Jadi, sekarang kau begitu peduli kepada Tyson sampai bersedia bangun pagi-pagi untuk memasak baginya?”
Lili mundur selangkah.
“Dia tidak pernah memperlakukan saya dengan buruk.”
Kalimat itu justru membuat Satoshi semakin marah.
“Dan kau merasa dia lebih baik daripada aku?”
Lili menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Saya tidak sedang membandingkan siapa pun. Saya hanya ingin menjalani hidup saya sendiri.”
“Dengan meninggalkanku?”
“Saya sudah mengatakan bahwa saya ingin bercerai.”
Kata itu kembali menghantam Satoshi.
Bercerai.
Ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Lili telah memikirkan kepergiannya dengan begitu matang. Perempuan itu tidak lagi memohon agar dicintai. Ia bahkan telah menyiapkan langkah untuk membangun kehidupan baru tanpa dirinya.
Satoshi merasa seolah-olah semua yang selama ini dianggapnya pasti kini terlepas dari genggamannya.
“Tidak,” katanya dingin. “Kau tidak akan pergi ke mana-mana hari ini.”
Lili menatapnya tidak percaya.
“Tuan tidak berhak melarang saya.”
“Aku suamimu!”
“Selama tiga tahun, Tuan selalu mengatakan bahwa saya tidak berarti apa-apa bagi Tuan!”
Satoshi terdiam sesaat.
Lili melanjutkan dengan suara bergetar, “Sekarang, ketika saya ingin pergi, Tuan tiba-tiba mengingat bahwa kita menikah. Mengapa, Tuan? Mengapa baru sekarang?”
Pertanyaan itu membuat Satoshi semakin kehilangan kendali atas emosinya.
Ia mendekat, lalu mencengkeram kedua bahu Lili.
“Karena aku tidak mengizinkanmu pergi!”
“Tuan, sakit!”
Namun, Satoshi tidak segera melepaskannya.
Dalam kemarahannya, ia menarik kain gaun Lili dengan kasar hingga jahitannya robek. Lili menjerit terkejut dan spontan menutupi tubuhnya ketika pakaiannya tidak lagi mampu melindunginya.
Ia mundur dengan wajah pucat, kedua tangan gemetar, dan air mata mulai mengalir di pipinya.
“Tuan, jangan!”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Lili tidak pernah membayangkan bahwa Satoshi akan melakukan hal seperti itu kepadanya. Ia tahu suaminya kejam. Ia telah merasakan penghinaan dan kekerasannya selama tiga tahun. Namun, pagi itu, ia tetap tidak siap menghadapi tindakan yang membuatnya merasa begitu tidak berdaya.
Ia segera meraih selimut di tepi ranjang dan membungkuskan kain itu ke tubuhnya.
Satoshi berdiri di hadapannya dengan napas berat.
Untuk sesaat, ia melihat ketakutan yang begitu jelas di wajah Lili.
Bukan kecemburuan yang ia harapkan. Bukan pula tanda bahwa perempuan itu masih memiliki perasaan terhadapnya.
Hanya ketakutan.
Lili memeluk selimut erat-erat, seolah-olah kain itu merupakan satu-satunya pelindung yang tersisa baginya.
“Tuan...” Air matanya jatuh semakin deras. “Mengapa Tuan terus menyakiti saya?”
Pertanyaan itu membuat Satoshi terdiam.
Lili menunduk, berusaha menahan tangis, tetapi bahunya terus bergetar.
“Saya tidak pernah meminta apa pun lagi dari Tuan. Saya hanya ingin pergi dengan tenang. Saya hanya ingin hidup tanpa rasa takut.”
Satoshi mengepalkan tangan.
Sebagian dirinya masih ingin menyalahkan Tyson. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini terjadi karena Lili mulai memberikan perhatian kepada pria lain.
Namun, tatapan perempuan di hadapannya membuat alasan itu terdengar begitu hina.
Tyson tidak berada di kamar tersebut.
Tyson tidak merobek pakaiannya.
Tyson tidak menghalanginya pergi.
Semua itu dilakukan oleh Satoshi sendiri.
Ia melangkah maju, tetapi Lili segera mundur dengan panik.
“Jangan mendekat!”
Satoshi membeku.
Selama tiga tahun, ia selalu menganggap ketakutan Lili sebagai sesuatu yang dapat diabaikan. Kini, ia melihat perempuan itu gemetar hanya karena dirinya bergerak satu langkah.
Ia akhirnya berhenti.
“Aku hanya ingin kau tetap di sini,” katanya dengan suara lebih rendah.
Lili menggeleng sambil menangis.
“Kalau Tuan ingin saya tetap tinggal, mengapa Tuan terus membuat saya takut?”
Tidak ada jawaban.
Satoshi menoleh ke arah pintu, kemudian kembali memandang Lili. Ia masih belum sanggup menerima kepergiannya, tetapi ia juga tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa tindakan barusan telah membuat istrinya semakin terluka.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke pengadilan hari ini,” ujarnya akhirnya. “Kau akan tetap berada di rumah.”
Lili menatapnya dengan wajah pucat.
“Tuan akan mengurung saya?”
Satoshi tidak menjawab.
Keheningan itu sudah cukup untuk membuat Lili memahami maksudnya.
Ia kembali memeluk tubuhnya di balik selimut. Pagi yang seharusnya menjadi awal langkahnya menuju kebebasan justru berubah menjadi mimpi buruk.
Bekal untuk Tyson masih tertinggal di dapur.
Surat perceraian yang telah disiapkannya masih berada di tempat penyimpanan dokumen.
Dan rumah kecil di desa Jepang yang selama ini menjadi harapan masa depannya terasa begitu jauh.
Lili memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Ia tidak lagi memikirkan apakah Satoshi akan mencintainya.
Ia tidak lagi berharap pria itu berubah hanya karena melihat air matanya.
Pagi itu, Lili hanya memikirkan satu hal: bagaimana caranya keluar dari rumah tersebut dengan selamat.
Sementara itu, Satoshi berdiri di dekat pintu, menyadari bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dapat dimaafkan oleh istrinya.
Ia ingin mempertahankan Lili.
Namun, sekali lagi, ia memilih cara yang justru membuat perempuan itu semakin ingin melarikan diri.
Dan kali ini, ketakutan Lili bukan sekadar kenangan dari masa lalu.
Ketakutan itu tercipta kembali di hadapannya, oleh tangan yang seharusnya tidak pernah menyakitinya.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁