NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teori Sepuluh Ranah dan Jebakan Lorong Belakang

​Pagi itu, lonceng Sekte Pedang Awan berbunyi tiga kali berturut-turut.

​Lu Mingseng berjalan menuju lapangan latihan dengan langkah yang masih agak pincang. Bahu dan rusuknya masih menyisakan nyeri akibat duel melawan Lin Hao kemarin. Namun, ia tak mengeluh. Sebelum meninggalkan asrama tadi, ia bahkan menyempatkan diri mengayunkan pedang kayunya sebanyak seratus kali.

​Bukan demi menjadi hebat dalam semalam.

​Melainkan agar hari ini ia sedikit lebih baik dari dirinya yang kemarin.

​"Hei, Wajah Buruk! Syukurlah kau masih bisa bernapas dan berjalan rupanya!"

​Suara ejekan yang sangat familier terdengar dari belakang. Lu Mingseng tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu—Fang Rui.

​Pemuda itu berjalan tegap dikawal tiga orang pengikutnya. Wajahnya dihiasi senyum congkak, seolah-olah seluruh kompleks sekte adalah milik pribadi keluarganya.

​"Kupuji ketebalan kulitmu," lanjut Fang Rui dengan nada meremehkan. "Kalau orang lain di posisimu, malu dan hinaan kemarin mungkin sudah membuat mereka menggali lubang untuk menyembunyikan wajah."

​Salah satu pengikutnya terkekeh. "Benar! Wajah seperti itu memang paling pantas disembunyikan di dalam tanah!"

​Lu Mingseng menghentikan langkahnya sebentar. Ia menoleh, memandang Fang Rui datar tanpa setitik pun rasa gentar di matanya.

​"Apakah kalian sudah selesai?"

​Senyum congkak di wajah Fang Rui mendadak membeku. "Apa?"

​"Jika sudah selesai mengoceh, aku ingin lewat. Aku tidak punya waktu meladeni orang yang kurang kerjaan."

​Wajah Fang Rui seketika memerah padam. Sejak kapan seekor sampah rendahan berani meresponsnya dengan nada sedingin itu?

​"Kau pikir kau bicara dengan siapa, hah?!"

​"Seorang calon murid luar yang harus segera mengikuti latihan," jawab Mingseng tenang, lalu ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

​Fang Rui mengepalkan tinjunya erat-erat. Pengikutnya hendak mengejar dan memberi pelajaran, namun Fang Rui mengangkat tangan menahannya.

​"Biarkan dia pergi," desis Fang Rui, matanya menatap tajam punggung Mingseng yang menjauh. "Orang seperti itu harus diberi pelajaran dengan cara yang pas. Kalau kita langsung menghajarnya di sini, Instruktur Ma pasti akan ikut campur lagi."

​Ia membisikkan sebuah rencana licik ke telinga para pengikutnya, yang langsung disambut dengan tawa-tawa kecil penuh niat buruk.

​Mereka tak tahu, di balik punggung mereka, pendengaran Lu Mingseng yang telah diperkuat oleh kebangkitan Meridian Pertama menangkap sebagian besar rencana busuk itu.

​Mingseng tak gentar. Ia tahu mereka belum jera. Namun, selama ia bermain cerdas dan tak terpancing emosi, ia akan menunggu saat yang tepat untuk membalas setimpal.

​Kelas Teori Dunia Kultivasi

​Ketika Lu Mingseng tiba di lapangan utama, para calon murid telah duduk berbaris rapi.

​Namun hari ini, alih-alih membawa pedang kayu, Instruktur Ma Zhen berdiri di depan sebuah meja batu besar. Di atas meja tersebut tertata beberapa buku tebal, sebuah kristal transparan, dan sebuah peta kuno penuh simbol rumit.

​"Mulai hari ini," suara Ma Zhen bergemerincing tegas, "kalian tak hanya digembleng fisik dan pedang. Kalian juga wajib memahami dasar-dasar ilmu dunia kultivasi!"

​Sebagian murid tampak antusias menyambut pelajaran teori, sementara beberapa lainnya menguap bosan. Ma Zhen menatap mereka dengan tatapan dingin menyayat.

​"Jangan pernah meremehkan pengetahuan! Banyak kultivator bodoh tewas di tangan lawan yang lebih lemah, bukan karena kurang tenaga, tapi karena mereka buta mengenali siapa yang sedang mereka hadapi."

​Tatapannya mendarat tajam sejenak pada Lu Mingseng. "Terutama kalian yang fisiknya masih lemah, kalian wajib belajar menggunakan kepala sebelum menggunakan otot."

​Ma Zhen mengangkat sebuah buku tebal. "Hari ini, kita akan membahas Sepuluh Ranah Utama Kultivasi yang diakui di dunia kita. Hafalkan ini di luar kepala!"

​Ia menuliskan sepuluh jenjang tingkatan di atas papan batu:

​Penempaan Tubuh

​Pengumpulan Qi

​Pembukaan Meridian

​Fondasi Spiritual

​Istana Qi

​Inti Emas

​Jiwa Nascent

​Transformasi Roh

​Raja Surgawi

​Kaisar Abadi

​"Ranah pertama adalah Penempaan Tubuh," jelas Ma Zhen mengetuk papan batu. "Kalian melatih otot, tulang, dan organ internal lewat latihan fisik agar wadah tubuh kalian sanggup menampung energi alam."

​Mingseng meraba kedua tangannya sendiri. Selama ini tubuhnya kekurangan gizi dan sering kelaparan. Perjalanan fisiknya masih sangat panjang untuk mencapai standar ideal sebuah wadah spiritual.

​"Ranah kedua, Pengumpulan Qi," lanjut Ma Zhen. "Kalian mulai menyedot dan memusatkan energi langit ke dalam tubuh untuk memperkuat serangan fisik maupun jurus dasar. Lalu ranah ketiga, Pembukaan Meridian, di mana jalur-jalur energi di dalam tubuh kalian dibersihkan agar aliran Qi kian lancar."

​Mendengar kata Meridian, Mingseng merasakan sensasi hangat yang sangat tipis berdenyut di dalam dadanya. Ia segera menenangkan batinnya agar tak mencolok.

​"Berikutnya, Fondasi Spiritual, Istana Qi, hingga Inti Emas!" Ma Zhen memaparkan dengan penuh wibawa. "Masing-masing ranah terbagi menjadi empat tahap: Awal, Menengah, Akhir, dan Puncak! Jangan pernah melompati tahapan dengan gegabah jika tak ingin jalur nadimu meledak."

​Penjelasan berlanjut hingga ke jenjang-jenjang tinggi seperti Jiwa Nascent, Transformasi Roh, hingga puncak kekuatan fana yaitu Raja Surgawi.

​Hingga akhirnya, Ma Zhen menyebutkan nama terakhir dengan suara yang sedikit melambat:

​"...Dan ranah kesepuluh, Kaisar Abadi."

​Angin gunung berembus pelan melintasi lapangan.

​"Keberadaan mereka hanya tinggal legenda dan warisan masa lalu," ucap Ma Zhen. "Mereka dipandang sebagai puncak mutlak sistem kultivasi dunia. Konon, satu titah mereka cukup untuk meruntuhkan kerajaan atau mengubah peta bumi."

​Jantung Mingseng berdegup kencang mendengar gelar itu. Di dalam kesadarannya, ia menyimpan sisa jiwa dari sosok yang menyandang gelar Kaisar Abadi itu sendiri. Namun, ia tetap memasang wajah polos dan menyimak dalam diam.

​Sore Hari — Jebakan Baru

​Pelajaran berakhir menjelang sore.

​Saat para murid membubarkan diri menuju asrama, seseorang dengan sengaja menabrak bahu Mingseng dari samping hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.

​Fang Rui berdiri di sisinya dengan senyum sinis. "Bagaimana materinya, Wajah Buruk? Apakah kepalamu yang kosong itu paham seberapa jauh jarak jurang antara kita?"

​"Pelajaran tadi cukup membuka mataku," jawab Mingseng datar, menstabilkan pijakannya.

​"Baguslah kalau sadar diri." Fang Rui menepuk-nepuk pundak Mingseng pelan. "Orang lemah harus tahu di mana tempatnya."

​Mingseng tak meladeni provokasi itu dan memilih berjalan pergi.

​Namun, ketika ia melewati sebuah lorong batu sempit di dekat gudang belakang, ia mendengar derap langkah tiga orang mengikutinya dari belakang dengan jarak konstan.

​Mingseng mempercepat langkahnya. Ketiga orang itu ikut mempercepat langkah.

​Jebakan lagi, batin Mingseng dingin.

​Ia sengaja membelok ke sebuah halaman kecil yang buntu di antara dua bangunan asrama. Ia lalu berbalik dan menghadapi mereka bertiga. Salah satu dari mereka adalah pengikut Fang Rui yang kemarin pagi.

​"Mau apa kalian?" tanya Mingseng tanpa gentar.

​"Fang Rui hanya ingin memberimu sedikit pelajaran agar mulutmu tak lancang," seringai pengikut itu. Ia lalu melempar sebuah kantong kain kecil berisi barang curian ke dekat kaki Mingseng. "Barang bukti milik murid lain sudah kami letakkan di sini. Kalau kau sentuh, kau akan dituduh mencuri. Kalau kau menolak, kami tinggal teriak bahwa kau menyerang kami!"

​Mingseng melirik kantong kain itu. Cara murahan.

​"Kalian merencanakan semua ini hanya untuk menjebakku?"

​"Jaga mulutmu!" salah satu dari mereka maju dan mendorong dada Mingseng kasar.

​Mingseng mundur selangkah. Jika mereka bertiga menyerang serentak, ia memang belum punya kekuatan untuk menang mentah-mentah. Namun, ia tahu persis cara menghadapi tipu muslihat semacam ini.

​"Aku tidak menyentuh barang itu. Silakan laporkan pada Instruktur Ma sekarang juga. Kita hadap-hadapan di hadapannya," tantang Mingseng tenang.

​Ketiga murid itu terkesiap, tak menyangka Mingseng justru meminta memanggil instruktur.

​Sebelum mereka sempat merespons, sebuah suara dingin membekukan udara di lorong itu.

​"Ada apa ini?!"

​Instruktur Ma Zhen melangkah keluar dari tikungan, matanya tajam menatap kantong di tanah dan ketiga murid yang wajahnya mendadak sepucat kertas.

​"Instruktur... kami hanya..."

​"Bawa barang itu!" maki Ma Zhen geram. "Kalian bertiga, jalankan hukuman latihan fisik tambahan selama tujuh hari penuh! Berani bermain kotor di dalam sekte, kuusir kalian keluar!"

​Ketiga murid itu buru-buru memungut kantong tersebut dan kabur terbirit-birit karena takut.

​Ma Zhen melirik Mingseng sekilas. "Kau tidak apa-apa?"

​"Saya baik-baik saja, Instruktur. Terima kasih."

​"Jangan mengandalkan keberuntungan terus-menerus," pesan Ma Zhen singkat sebelum pergi meninggalkan halaman.

​Mingseng menarik napas panjang. Walau lolos, ia sadar Fang Rui tak akan berhenti sampai di situ. Ia harus segera memperkuat dirinya.

​Malam Hari — Rahasia yang Tak Terbaca

​Malam tiba. Di kamar asrama yang mulai sunyi, Mingseng bersila di atas ranjangnya, menutup mata, dan memusatkan batin untuk menyerap energi spiritual.

​Meridian Pertama berdenyut hangat, memandu sirkulasi tipis ke dalam tubuhnya.

​'Guru,' bisik Mingseng dalam batinnya. 'Aku ingin memeriksa jalur energiku malam ini.'

​'Silakan,' jawab roh Kaisar Keabadian di dalam kesadaran.

​Sang Kaisar Keabadian mengulurkan kesadarannya untuk memindai struktur jalur energi Mingseng. Awalnya, alur di sekitar Meridian Pertama terlihat jelas dan stabil. Namun, begitu kesadaran sang Kaisar mencoba menelusuri jaringan di sekitarnya, kejanggalan aneh kembali terjadi.

​Bukan karena ada kerusakan. Bukan pula karena kosong.

​Melainkan karena struktur jalur itu berubah-ubah, seolah diselimuti kabut tebal yang menolak untuk dibaca!

​Zzztt...

​Pindaian itu mental kembali.

​Sang Kaisar Keabadian mencoba untuk kedua kalinya, namun hasilnya tetap sama. Ia hanya bisa mendeteksi satu meridian yang terbuka, sementara selebihnya tertutup tabir misterius.

​"Mustahil..." gumam sang Kaisar di dalam benak.

​Mingseng membuka matanya. "Ada apa, Guru?"

​"Struktur energimu... semakin aneh," jawab Kaisar Keabadian dengan nada kaget yang tak bisa disembunyikan. "Aku hanya bisa membaca satu meridian yang terbuka. Selebihnya... tertutup tabir yang bahkan tak mampu kutembus."

​Mingseng terdiam. "Apakah itu berbahaya?"

​"Aku sendiri tak tahu..."

​Tiba-tiba, dari kedalaman warisan, suara lembut wanita misterius itu kembali menggema ringan:

​"Lagi-lagi kau mencoba membaca sesuatu yang belum siap memperlihatkan dirinya..."

​Roh Kaisar Keabadian menyentak kesadarannya. "Siapa kau sebenarnya?! Mengapa kau terus bersembunyi di dalam warisanku?!"

​Wanita berjubah putih itu muncul sebagai bayangan samar di sudut kesadaran Mingseng, tersenyum sendu. "Jangan memaksanya... Ketika waktunya tiba, segalanya akan terkuak sendiri. Jangan anggap semua yang tersembunyi harus dibuka paksa."

​Bayangan itu pun memudar, meninggalkan keheningan pekat di dalam jiwa Mingseng dan Kaisar Keabadian.

​Mingseng menatap kedua telapak tangannya di tengah temaram malam. Orang-orang di sekte menganggapnya sampah tak berbakat, dan bahkan gurunya yang merupakan seorang Kaisar Abadi tak mampu membaca rahasia tubuhnya secara utuh.

​Namun, ia tak merasa kecil hati. Misteri ini justru membuktikan bahwa dirinya diciptakan bukan sebagai orang biasa.

​Ia memejamkan mata kembali, melanjutkan latihannya dengan tekad membara. Suatu hari nanti, dengan kekuatannya sendiri, ia akan membuka seluruh rahasia itu di bawah langit yang luas!

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!