NovelToon NovelToon
Happy Ending ?

Happy Ending ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Ar's

"Briar" seorang wanita muda berusia 20an yang menata kembali kehidupannya setelah mengalami serangkaian kejadian buruk semasa kecilnya, melawan dunia sendirian setelah kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya.

Sifatnya yang polos dan parasnya yang cantik serta kesederhanaannya, mempertemukanya dengan Adrian si tetangga barunya yang tampan sekaligus pemilik sebuah perusahaan.

Adrian yang mendekati Briar tanpa ragu, dan
dalam waktu singkat hubungan itu berubah menjadi sebuah kehidupan pernikahan. Memberikan kebahagiaan yang tak pernah Briar dapatkan sebelumnya.

Akan tetapi..
Apakah yang membuat pria sesempurna Adrian menikahi Briar dengan sangat terburu-buru..?

Akankah kebahagiaan itu berlangsung selamanya..?

Rahasia apa yang sebenarnya Adrian simpan..?

Akankah cinta mereka menang melawan permainan takdir..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ar's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpaksa pulang

“Jadi, selama ini kamu tinggal di sini?” ucap Mas Adrian saat kami masih berada di dalam mobil, tepat di depan rumah kontrakan Ervina.

​“Iya... dan sekarang aku bingung. Ervina pasti marah besar karena kejadian tadi. Pasti Doni sudah memprovokasinya,” balasku risau.

​“Hmm... Sudahlah, sekarang sebaiknya kamu ikut Mas, kita pulang.”

​“Pulang? Pulang ke mana, Mas? Rumahmu bukan rumahku lagi. Aku sudah memutuskan untuk bercerai darimu!” tegas ku ketus.

​“Bercerai? Nggak. Mas nggak akan pernah mau!” tolaknya cepat.

​“Mas! Ini bukan cuma tentang kamu! Ini tentang aku! Bahkan sampai detik ini kamu masih belum sadar betapa jahatnya kamu sama aku. Kamu membohongiku, berpura-pura seolah-olah hubungan kita baik-baik saja... dan kamu nggak pernah jujur kalau laki-laki yang dulu melecehkanku itu kamu!” Dengan emosi yang membuncah, aku meluapkan segala kemarahanku padanya.

​“Nanti kita bicara lagi. Sekarang sebaiknya kita ke penginapan dan kamu ganti pakaianmu. Lagipula kamu mau ke mana lagi malam-malam begini?” potong Mas Adrian tenang.

​“Baiklah,” jawabku pelan. Sepertinya memang lebih baik aku menenangkan diri di penginapan malam ini, dan baru menemui Ervina besok pagi.

​Aku melangkah di samping Mas Adrian menelusuri lorong hotel menuju kamar yang sudah ia pesan. Di dalam hati, aku sangat berharap kami tidak akan menginap di kamar yang sama.

​“Ayo, masuk...” ajak Mas Adrian saat membukakan pintu.

​“Kita... satu kamar?” tanyaku dengan alis terangkat.

​“Iya, memangnya kenapa? Kita ini masih sah suami istri,” jawabnya datar alasan yang sulit untuk aku bantah.

​“Kamu mandi dulu, Mas mau keluar sebentar.”

​“Hmm...” jawabku singkat.

​Aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat guyuran air menyapu tubuhku, ingatan tentang kejadian di dalam mobil tadi kembali membayang. Tentang bagaimana aku dan Mas Adrian kembali melakukannya. Perasaanku berantakan; ada benih rasa senang yang tak bisa kupungkiri, namun di sisi lain aku begitu membencinya.

​“Ini pakaian untukmu. Baju yang tadi sudah basah, jadi jangan dipakai lagi,” ujar Mas Adrian setibanya ia kembali, menyerahkan sebuah bungkusan pakaian baru.

​“Terima kasih. Nanti uangnya aku ganti,” ucapku dingin.

​“Apa harus sampai seperti itu?” tanyanya menatapku lekat.

​“Tentu saja. Ini barang pribadiku, sudah kewajibanku untuk membayarnya.”

​Sebelum aku sempat berbalik, Mas Adrian mendadak mendorongku ke dinding dan mencengkeram kedua pergelangan tanganku erat-erat.

​“Tolong... berhenti menyiksaku,” bisiknya menahan sesak.

​“Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, Mas...” balasku tegas.

​“Oh ya?” Mas Adrian mendorongku hingga terhempas ke atas tempat tidur.

​“Kamu mau ngapain?!” seruku panik sambil berusaha mendorong dada Mas Adrian yang kini mengungkungku di atas.

​“Katakan kalau kamu sudah tidak lagi mencintaiku!” tuntutnya dengan nada menekan.

​“.....” Bibirku terkunci. Aku tak sanggup menjawabnya.

​“Katakan... katakan kalau kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku!” serunya lagi semakin mendesak.

​“Aku sudah..........” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Mas Adrian sudah membungkam bibirku dengan ciumannya.

​“Berhenti... Mas!!”

​“Berhenti!” Dengan sisa tenagaku, aku mendorongnya sekuat tenaga hingga ia terpental dan jatuh ke lantai.

​Tanpa mengucap sepatah kata pun, Mas Adrian bangkit, bergegas keluar kamar, dan membanting pintu dengan keras.

​Aku termenung sendirian sambil menangis. Rasanya lelah sekali. Aku merasa sangat bodoh dan tidak tegas, tidak seharusnya aku menuruti ajakannya kemari. Seharusnya aku terus berlari tadi, walau tanpa tujuan pasti. Ada juga rasa bersalah saat melihatnya terpental tadi, tapi aku tak punya pilihan lain; aku tak bisa membiarkannya menyentuhku lagi di tengah kekacauan ini.

​Cukup lama aku merenung hingga akhirnya rasa lelah membawaku tertidur.

-

​“Sudah bangun?” suara Mas Adrian menyambutku.

Ia duduk di sofa kamar, berpenampilan rapi seolah semalam tidak pernah tidur di sampingku.

​“Aku akan pergi setelah bersiap-siap. Kamu juga boleh pergi. Uang untuk baju semalam sudah aku taruh di dekat tasmu,” ucapku mencoba mempertahankan sisa harga diriku.

​“Ayo biar Mas antar. Sekalian Mas juga mau pulang,” tawarnya.

​“Baiklah, terima kasih. Aku mau menyelesaikan masalahku dengan Ervina dulu.”

​Di perjalanan, bayangan rumah Ervina mulai mendekat. Namun mobil terus melaju tanpa memperlambat kecepatan.

​“Mas... kenapa nggak berhenti? Itu rumah Ervina sudah terlewat!” tanyaku bingung.

​“......” Mas Adrian hanya diam memandang lurus ke depan.

​“Mas! Aku bilang berhenti!” tegasku mulai kesal.

​“Mas!” Aku mencoba menarik gagang pintu mobil, tetapi semuanya sudah terkunci otomatis.

​“Diam! Atau mobil ini sekalian aku tabrakkan!” ancam Mas Adrian dengan nada dingin yang menakutkan.

​“Kamu gila ya, Mas?! Aku bilang berhenti!” pekikku penuh amarah.

​Namun, ia tak acuh. Tatapannya lurus dan rapat mengabaikan kemarahanku. Seiring berjalannya waktu, aku sadar jalanan yang kami lalui adalah jalur menuju rumah kami di pusat kota. Aku akhirnya hanya bisa pasrah dan terdiam. Nanti setelah sampai, aku akan memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini, batinku.

-

​“Sudah sampai. Lebih baik kamu masuk dulu, nanti kita bicara di dalam,” ujar Mas Adrian saat menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah.

​Aku terpaksa menurutinya karena beberapa tetangga mulai menengok ke arah kami. Mereka tentu tahu aku sudah lama tidak kelihatan di rumah ini. Mungkin Mas Adrian benar, kami harus membedah kekacauan ini di dalam, bukan di hadapan tetangga.

​Begitu pintu rumah tertutup rapat, Mas Adrian berbalik dan menatapku tajam..

​“Mulai sekarang, kamu harus tetap tinggal bersamaku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!