NovelToon NovelToon
Kultivator Sistem

Kultivator Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Fantasi Timur / Transmigrasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.

Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.

Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.

Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.

Ci Lung hanya ingin hidup normal.

Masalahnya…

Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan Yang Mengancam

Tidak ada kilat.

Tidak ada suara ledakan.

Langit berubah dengan cara yang terlalu halus untuk disebut kejadian.

Awan di atas lembah itu berhenti bergerak.

Bukan karena angin mati, melainkan karena sesuatu menahannya.

Di tengah lembah, Ci Lung berdiri dengan napas yang belum sepenuhnya kembali stabil. Tubuhnya masih terasa panas dari dalam, bukan panas qi yang liar, melainkan panas yang menetap, seperti mesin yang akhirnya dipaksa bekerja sesuai kapasitas aslinya.

Ia tidak melakukan apa pun selama itu.

Ia hanya berdiri.

Namun sesuatu dari dalam dirinya…

terlepas.

NAIK KE LANGIT

Tekanan itu tidak menyebar ke tanah.

Ia naik.

Qi yang selama ini tertahan di dalam tubuh Ci Lung tidak meledak ke sekeliling, melainkan terdorong ke atas, menembus kabut lembah, menembus awan, menembus batas atmosfer qi yang melapisi dunia.

Bagi Ci Lung, itu hanya sensasi aneh, seperti ketika seseorang menarik napas terlalu dalam dan lupa menghembuskannya kembali.

Baginya, itu tidak dramatis.

Bagi dunia?

Itu alarm tanpa suara.

Di benua Tianlong, para kultivator yang sedang bermeditasi membuka mata hampir bersamaan.

Beberapa tersedak qi sendiri.

Beberapa darahnya berbalik arah dan mengalami penyimpangan qi.

Beberapa jatuh berlutut tanpa tahu alasannya.

Di puncak gunung es, seorang leluhur sekte tua membuka mata untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun. Alisnya berkerut, tangannya merasa gemetar di atas lutut batu.

“Tekanan…apa ini?” gumamnya.

“Dari mana…tekanan sebesar ini berasal?”

Di wilayah iblis, makhluk-makhluk tua berhenti berburu. Insting mereka menjerit bukan untuk menyerang, melainkan menjauh.

Di kota-kota besar, langit terlihat sama seperti biasa, namun udara terasa berat, seolah dunia baru saja diingatkan bahwa ia bukan satu satunya penguasa dirinya sendiri.

Tidak ada arah yang jelas.

Tidak ada pusat yang bisa ditunjuk.

Hanya satu kesimpulan yang muncul di mana-mana, hampir bersamaan:

Ada sesuatu yang baru saja menembus batas atas dunia.

Dalam hitungan hari, rumor menyebar lebih cepat daripada kabar perang antar sekte.

Bukan rumor detail.

Bukan nama.

Melainkan perasaan.

“Langit terasa seperti lebih dekat.”

“Qi jadi tidak mau patuh seperti biasanya.”

“Ada tekanan yang tidak punya bentuk.”

Para tetua sekte mencoba menenangkan murid muridnya. Para ahli ramal membuka gulungan kuno, menghitung ulang siklus, membandingkan catatan lama.

Semua hasilnya sama.

Tidak cocok dengan apa pun yang pernah tercatat.

Dan setiap kali seseorang mencoba menelusuri sumber tekanan itu, satu lokasi selalu muncul sebagai anomali sunyi:

Lembah terlarang.

Tempat yang sebelumnya hanya dikenal sebagai wilayah abu-abu…

kini terasa seperti lubang hitam dalam peta dunia.

Malam itu, seluruh sekte aliansi murim mengadakan pertemuan, bukan pertemuan besar.

Mereka membuat keputusan bahwa lembah terlarang menjadi wilayah yang berbahaya, Keputusan itu lahir secara alami, hampir naluriah.

Peta-peta diperbarui.

Wilayah lembah itu tidak lagi ditandai merah.

Tidak lagi abu-abu.

Ia dihitamkan sepenuhnya.

Di sampingnya, satu catatan singkat ditulis dengan tinta dingin:

ZONA HITAM

Status: Belum Diselidiki

Risiko: Tidak Terukur

Larangan: Pendekatan tanpa izin leluhur

Para leluhur yang sudah keluar dari pengasingan mereka…tidak ada satu pun dari mereka berani mengusulkan penyelidikan langsung.

Bukan karena tidak bisa.

Melainkan karena tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang salah menafsirkan tekanan itu.

Di sebuah ruang meditasi tersembunyi, beberapa sosok tua duduk dalam diam.

“Kalau itu terobosan,” kata salah satu dari mereka pelan,

“itu bukan terobosan yang normal.”

“Dan kalau itu bukan,” sahut yang lain,

“maka kita tidak tahu apa yang kita hadapi.”

Tidak ada yang menyebut Penunggu Lembah.

Bukan karena lupa.

Karena menyebut nama julukan itu terasa seperti menarik perhatian.

Sementara itu, Ci Lung duduk kembali di batu lamanya.

Ia menatap langit, agak bingung melihat awan yang berhenti terlalu lama tepat di atas lembah.

“…kenapa keliatan mendung terus jir,” gumamnya.

Ia tidak tahu.

Tidak ada notifikasi sistem.

Tidak ada peringatan.

Hanya satu sensasi aneh:

seperti dunia di luar sana kini lebih jauh darinya.

Ci Lung menggaruk kepala.

“Semoga ga ada yang ribut ribut” katanya santai.

Angin berhembus sangat pelan.

Dan jauh di luar lembah, seluruh benua Tianlong secara tidak sadar sudah sepakat pada satu hal:

Tempat itu bukan untuk dimasuki.

Bukan sekarang.

Mungkin… tidak pernah.

Ci Lung baru saja hendak menutup mata ketika sesuatu bergetar pelan di dalam kesadarannya.

Bukan suara keras.

Bukan notifikasi menyebalkan.

Lebih seperti…

sesuatu yang akhirnya memutuskan untuk bicara.

[SISTEM TERDETEKSI]

Status Tubuh: Sinkronisasi Parsial Berhasil

Tekanan Dunia: Tidak Stabil

Ci Lung mengernyit.

“Telat amat datengnya ah,” gumamnya.

[HADIAH TEROBOSAN DIBERIKAN]

Tingkat Kultivasi +0,01

Tidak ada ledakan qi.

Tidak ada lonjakan tenaga.

Namun Ci Lung langsung merasakan perbedaannya.

Tubuhnya terasa… lebih berat.

Seolah dunia tiba-tiba menambah gravitasi khusus hanya untuknya.

[PERINGATAN]

Tingkat Kesulitan Level Selanjutnya: MENINGKAT

Alasan: Kualitas Fondasi Melebihi Standar Dunia

Ci Lung terdiam cukup lama.

“…jadi aku dihukum karena terlalu op kah? atau malah aku diberi hadiah” tanyanya dengan sedikit senyum menyeringai.

Sistem tidak menjawab. Karena belum selesai.

[QUEST AKTIF]

Nama: Resonansi Dunia

Deskripsi:Untuk melangkah ke tingkat kultivasi berikutnya, host harus mengumpulkan Poin Pengakuan Dunia.

Ci Lung mengangkat alis.

“Pengakuan dunia, apaan tuh? jadi yang terkuat gitu? jadi raja iblis maksudmu?”

[MEKANIK QUEST]

• Poin diperoleh dari pujian, pengakuan, atau rasa takut yang diinterpretasikan sebagai pengakuan

• Pujian tidak harus langsung

• Satu pengakuan bernilai 0,05 poin

Ci Lung menghitung cepat di kepala.

“…aku butuh berapa buat naik ke layer selanjutnya?”

[SYARAT NAIK LEVEL]

Total Poin Dibutuhkan: 50

Sunyi.

Angin lembah berhembus pelan, seolah ikut bingung.

Ci Lung menatap kosong ke depan.

“…jadi aku harus bikin orang ngomongin aku gitu?”

Ia bersandar ke batu.

“aku ngumpet bertahun-tahun biar hidup tenang jir,” katanya pelan.

“Sekarang malah disuruh naik level lewat… pujian, yang bener aje kocak?”

Ia tertawa kecil, tanpa suara.

“Dunia ini emang hobi banget ngelawak.”

Yang tidak Ci Lung sadari adalah, Di luar lembah, rumor sudah berputar liar.

“Zona hitam dilembah itu dijaga sesuatu.”

“Tekanannya bukan alami.”

“Kalau masih hidup di sana, itu pasti eksistensi di atas leluhur, mungkin seorang dewa?atau immortal.”

Setiap kalimat itu…

masuk.

Setiap bisikan takut…

dihitung.

Dan tanpa Ci Lung melakukan apa pun.

[Poin Pengakuan Dunia +0,05]

[Poin Pengakuan Dunia +0,05]

Angka itu bertambah perlahan.

Sangat pelan.

Namun konsisten.

Ci Lung menatap langit lagi.

Ia tidak tahu bahwa dunia sedang membicarakannya.

Ia tidak tahu bahwa ketakutan orang lain adalah mata uangnya sekarang.

Yang ia tahu cuma satu:

“…kayaknya buat hidup tenang sekarang makin mahal ya anjir.”

Sistem diam.

Karena quest ini tidak butuh persetujuannya.

1
Arifinnur12
Udah aku kasih kopi tor updet yang banyak dong😄
Tio Da Vinci: Wah makasih yaaa😄
total 1 replies
Arifinnur12
Thor author up thorr up up upp tanggung banget ah, aku kasih kopi nanti biar semangat🤣👍💪
Tio Da Vinci: sabar sabar saya juga manusia😭
total 1 replies
Shelia_:3
Sumpah si ini bagus menurut aku, novelnya murim tentang ritme, tentang ketenangan yang lebih nakutin daripada perang, kebanyakan salah paham juga😭, terus buat kalian yang baca tapi kesannya monoton, tunggu sampe kalian masuk ke bab 20 an seru banget disitu Ci lung jadi op anjay😭
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠
Tio Da Vinci: Makasih yahh😊🕊
total 1 replies
Arifinnur12
Mungkin authornya lagi pusing🤣, saya udah baca yang bab 13 atau berapa tadi yan yu udah naik kultivasinya ke layer 3, terus pas baca bab 15 ini tetep di layer ke 2 atau keberapa gitu, semangat thor ceritanya bagus😄👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!