Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Untuk Semua
Bagas meluncurkan proyek "The Power Peoples "Namun, langkahnya ini membuat seluruh raksasa energi dunia baik kawan maupun lawan bersatu untuk menghentikan Bagas karena ia dianggap menghancurkan sistem kapitalisme energi global.
Ini adalah fase di mana Bagas tidak lagi bermain dalam aturan sistem, melainkan menghancurkan papan permainannya Dini hari itu, Bagas duduk di depan komputer utama Badan Energi Nasional. Di sampingnya, Bapak memperhatikan dengan tatapan cemas namun bangga. Keputusan Bagas sudah bulat: ia akan mengunggah seluruh cetak biru, algoritma magnetik, dan daftar material Corel ess Electromagnetic Generator ke jaringan publik global. Sebuah tindakan yang dalam dunia korporat dianggap sebagai "bunuh diri finansial".
"Gas, kalau kamu tekan tombol Upload ini, kamu tidak akan pernah bisa jadi orang kaya dari mesin ini. Perusahaan-perusahaan besar akan membencimu karena kamu mematikan bisnis mereka," ujar Bapak pelan.
Bagas tersenyum, jemarinya menari di atas papan ketik. "Pak, kita sudah cukup kaya dengan melihat Ibu bisa masak tenang tanpa takut listrik mati. Jika teknologi ini tetap dipatenkan, ia hanya akan jadi rebutan para naga. Tapi kalau ia jadi milik umum, tidak ada yang bisa mencurinya."
Tepat pukul 06.00 WIB, proyek "The Peoples Power" diluncurkan. Jutaan data terkirim ke ribuan server cermin di seluruh dunia. Dalam hitungan menit, situs tersebut viral. Insinyur di India, petani di Afrika, hingga mahasiswa di Brasil mulai mengunduh desain karya tukang las dari Jakarta tersebut.
Reaksi dunia sangat cepat dan beringas. Indeks saham perusahaan energi raksasa di Wall Street jatuh bebas. Bagas baru saja menghancurkan monopoli energi yang telah bertahan selama satu abad.
Pukul 09.00, ponsel Bagas tidak berhenti bergetar. Bukan ucapan selamat, melainkan ancaman dari berbagai lembaga internasional. Mereka menuduh Bagas melakukan "Terorisme Ekonomi". Dewan Keamanan bahkan menjadwalkan sidang darurat karena tindakan Bagas dianggap merusak stabilitas pasar komoditas global.
"Mr. Pratama, Anda telah membuat dunia dalam kekacauan!" teriak seorang perwakilan dari organisasi perdagangan dunia melalui panggilan video. "Energi gratis akan membuat sistem perbankan kami runtuh!"
Bagas menatap layar dengan tenang. "Sistem kalian runtuh karena kalian membangunnya di atas kegelapan rakyat kecil. Saya hanya menyalakan sakelar lampunya. Jika kemajuan manusia dianggap terorisme bagi kalian, maka silakan sebut saya teroris."
Namun, tekanan tidak hanya datang dari luar. Di dalam negeri, para taipan yang tadinya berharap bisa "menumpang" pada proyek nasional ini mulai menarik dukungan mereka. Dana yayasan Bagas dibekukan. Kantor-kantor cabangnya di Dubai diperas oleh regulasi baru yang mendadak muncul. Bagas terancam bangkrut secara pribadi.
"Bagas, semua rekeningmu disita untuk investigasi 'gangguan ekonomi'," lapor Tiara dengan wajah khawatir. "Kamu sekarang tidak punya apa-apa lagi, Gas. Kamu kembali jadi anak SMK tanpa uang di saku."
Bagas melihat ke arah dompetnya yang kosong di atas meja. Ia tertawa kecil, tawa yang lepas dan tulus. "Lucu ya, Tiara. Setelah berkeliling dunia dan memegang miliaran Rupiah, aku kembali ke titik nol. Tapi bedanya, kali ini aku tidak sendirian."
Bagas berjalan keluar kantor. Di depan gedung, ribuan orang sudah berkumpul. Mereka bukan demonstran bayaran, melainkan rakyat biasa yang membawa cetakan biru mesin Bagas di tangan mereka. Ada montir motor, tukang las, guru honorer, hingga ibu rumah tangga.
"Mas Bagas! Jangan takut miskin! Kami sudah mulai rakit mesinnya di kampung kami!" teriak seorang pemuda dari kerumunan.
Bagas menyadari sebuah kekuatan baru Kekuatan Komunitas Meskipun ia secara finansial dihancurkan oleh sistem global, teknologinya kini hidup di jutaan tangan manusia. Nexus Group atau pemerintah mana pun tidak bisa menangkap jutaan orang yang kini memiliki "matahari kecil" di rumah mereka masing-masing.
Malam itu, Bagas pulang ke rumah gangnya. Ia tidak lagi naik mobil mewah, melainkan naik ojek. Sampai di rumah, ia melihat Ibu sedang menggoreng tempe dengan lampu yang menyala terang dari generator buatan tangan Bapak.
"Gas, ada surat dari Dubai," ujar Ibu.
Bagas membuka surat itu. Bukan dari bank atau pengadilan, melainkan dari para buruh pelabuhan Jebel Ali. Mereka mengumpulkan uang recehan mereka untuk dikirimkan kepada Bagas sebagai tanda terima kasih. Jumlahnya tidak seberapa dibanding kekayaannya dulu, tapi nilainya jauh lebih besar di mata Bagas.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah berita muncul di televisi "Beberapa negara besar mulai menyiapkan sanksi militer dan blokade siber terhadap Indonesia jika pemerintah tidak segera menghapus data 'The People’s Power' dari internet."
Indonesia kini di ambang perang karena tindakan satu anak SMK. Bagas menyadari bahwa ia harus melakukan satu perjalanan terakhir untuk bernegosiasi langsung di markas besar PBB, bukan sebagai pengusaha, tapi sebagai perwakilan dari umat manusia yang ingin merdeka.