Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI DANAU JENEWA
Udara malam di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya, seolah awan mendung yang menggantung di atas kota ikut memikul beban keputusan yang baru saja diambil oleh Maximilian Alfarezel. Di dalam kamar utama kediaman mereka yang dijaga ketat, keheningan hanya dipecahkan oleh suara napas teratur dari boks bayi di sudut ruangan. Maximilian berdiri di ambang jendela, menatap kosong ke arah kerlip lampu kota yang tak terhitung jumlahnya. Pakaiannya masih berbau asap sisa baku tembak di Menara Alfarezel. Bahunya yang tergores peluru telah dibalut perban rapi oleh dokter pribadi mereka, namun rasa perih yang sesungguhnya bukan berasal dari luka fisik itu. Luka terdalamnya adalah kesadaran bahwa selama sang Matriark, Elena Von Zurich, masih bernapas bebas di Eropa, kedamaian keluarganya hanyalah sebuah ilusi yang sewaktu-waktu bisa hancur berkeping-keping.
Vivien Aksara melangkah tanpa suara dari kamar mandi, mengenakan sweter tebal yang menutupi lehernya. Ia berjalan menghampiri boks bayi, menunduk, dan membelai pipi Alaric yang montok dan kemerahan. Ada getaran hebat di bibir Vivien saat ia menahan tangis. Meninggalkan putranya untuk kedua kalinya demi terjun ke medan perang bukanlah naluri seorang ibu, melainkan pengorbanan mutlak demi memastikan anak itu memiliki masa depan.
"Kau tahu apa yang paling menakutkan dari semua ini, Max?" bisik Vivien tanpa mengalihkan pandangannya dari Alaric. Suaranya serak, memendam kepedihan yang sangat dalam. "Yang paling menakutkan adalah aku mulai terbiasa dengan kekerasan ini. Saat pria itu menodongkan senjatanya kepadaku di ruang peladen tadi, aku tidak menjerit. Aku hanya berpikir sudut mana yang paling tepat untuk membalas tembakannya agar ia mati seketika. Phoenix telah merenggut kemanusiaanku sedikit demi sedikit."
Maximilian berbalik, melangkah mendekati istrinya, dan merangkul pinggang Vivien dengan lembut. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Vivien, menghirup aroma sampo lavender yang entah mengapa terasa seperti sebuah kemewahan di tengah kekacauan ini. "Mereka tidak merenggut kemanusiaanmu, Viv. Mereka hanya membangunkan insting bertahan hidup yang tertidur di dalam dirimu. Ayahmu, Aksara, melakukan kompromi seumur hidupnya untuk melindungimu. Ayahku, Arthur, mengorbankan nyawanya di bunker Alpen itu untuk memutus rantainya. Kita tidak menjadi monster; kita sedang menjadi tameng. Dan kadang, sebuah tameng harus terbuat dari besi yang dingin dan keras."
Vivien membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Maximilian yang gelap dan tak berdasar. "Jika kita pergi ke Jenewa... jika kita mendatangi vila Elena saat dia sedang berstatus tahanan rumah dengan penjagaan aparat Swiss dan tentara bayaran pribadinya... itu bukan lagi tindakan membela diri, Max. Itu adalah pembunuhan berencana. Kita akan melewati batas yang tidak bisa kita tarik kembali. Apakah kau siap untuk menanggung dosa itu? Menjadi eksekutor?"
"Hukum telah gagal, Vivien," jawab Maximilian dengan nada yang datar namun menyimpan magma kemarahan yang mendidih. "Elena menggunakan kekayaannya yang tersisa untuk memanipulasi pengadilan Swiss. Alasan kesehatan? Itu hanyalah kedok untuk memindahkan pusat komando Phoenix dari ruang isolasi penjara ke ruang tamu vilanya yang mewah. Dan Julian Vane? 'Serangan jantung' di sel tahanan Jakarta itu adalah operasi ekstraksi yang diatur dengan sangat rapi. Gideon telah melacak rute penerbangan jet medis swasta yang membawa Julian malam itu. Jet itu mendarat di pangkalan udara militer tertutup di pinggiran Prancis, hanya dua jam berkendara dari Danau Jenewa. Julian ada di sana, bersama Elena. Mereka sedang menyusun ulang bidak catur mereka sementara kita sibuk menghitung angka di lembar audit."
Vivien menarik napas panjang, matanya memancarkan tekad yang perlahan mengeras menjadi batu. "Kalau begitu, kita tidak punya pilihan. Kita cabut nyawa ular itu langsung dari kepalanya."
Dua jam kemudian, ruang bawah tanah kediaman Alfarezel telah diubah menjadi ruang operasi militer darurat. Gideon duduk di depan deretan layar monitor besar yang memancarkan pendar cahaya biru ke wajahnya yang pucat karena kelelahan. Di sebelahnya, Bara sedang memeriksa dan merakit senapan laras panjang yang telah dimodifikasi secara khusus agar tidak terdeteksi oleh pemindai logam standar di bandara-bandara Eropa.
"Ini adalah misi bunuh diri secara yurisdiksi," buka Gideon saat Maximilian dan Vivien duduk di meja logam di tengah ruangan. Gideon mengetuk keyboard-nya, memunculkan proyeksi holografik tiga dimensi dari sebuah vila megah bergaya abad ke-19 yang terletak persis di tepi Danau Jenewa, Swiss. "Vila ini, Château de Cendres atau Kastil Abu, adalah properti pribadi keluarga Von Zurich yang sudah ada sejak Perang Dunia Pertama. Menurut dokumen pengadilan Swiss, Elena diizinkan menjalani tahanan rumah di sini dengan pengawasan gelang kaki elektronik dan enam petugas kepolisian federal yang berjaga di perimeter luar."
"Enam polisi federal tidak akan berani menghalangi kita," potong Bara sambil menguji mekanisme slide senjatanya dengan bunyi klik yang tajam. "Tapi itu bukan masalah utamanya, kan, Gideon?"
Gideon mengangguk muram. "Tepat sekali. Kepolisian federal hanyalah etalase untuk memuaskan publik dan media massa. Penjagaan sesungguhnya berada di dalam perimeter dinding batu setinggi empat meter itu. Melalui retasan satelit cuaca yang berhasil kusadap, aku menemukan setidaknya ada tiga regu kontraktor militer swasta—kemungkinan besar mantan pasukan khusus Spetsnaz atau Legiun Asing Prancis—yang berpatroli secara bergilir. Mereka dilengkapi dengan sensor termal, anjing pelacak, dan drone mikro yang mendeteksi anomali suhu tubuh di radius satu kilometer. Jika kita menggunakan helikopter atau menyerang dari jalur darat utama, kita akan ditembak jatuh sebelum mencapai gerbang."
Maximilian menatap proyeksi vila tersebut, matanya menyusuri setiap detail arsitektur, mencari titik buta yang selalu ada dalam setiap sistem pertahanan, secanggih apa pun sistem itu dirancang. "Bagaimana dengan jalur air? Danau Jenewa terhubung langsung dengan bagian belakang vila ini. Ayahku pernah bercerita bahwa Elena memiliki terowongan air rahasia di bawah vilanya untuk melarikan diri jika terjadi Perang Dunia Ketiga."
"Terowongan itu memang ada," Gideon memperbesar proyeksi di bagian belakang vila yang berbatasan langsung dengan perairan gelap danau. "Tapi itu dipasangi sonar bawah air. Jika ada perahu bermotor atau kapal selam mini yang mendekat, alarm akan memicu peledak kedalaman yang dipasang di dasar danau."
"Kita tidak akan menggunakan perahu bermotor," ucap Vivien tiba-tiba, suaranya tenang dan penuh perhitungan. Semua mata kini tertuju padanya. "Kita akan menggunakan Drysuit taktis tanpa gelembung oksigen. Kita menggunakan rebreather sirkuit tertutup seperti yang digunakan pasukan katak Angkatan Laut. Kita berenang di bawah sonar, menyusuri dasar danau yang berlumpur, dan memanjat langsung melalui celah pembuangan terowongan air tersebut."
Bara menatap Vivien dengan pandangan tidak percaya, namun penuh rasa hormat. "Nyonya, suhu air Danau Jenewa di musim ini nyaris mencapai titik beku. Berenang sejauh dua kilometer dari titik penurunan aman ke vila itu akan memakan waktu setidaknya empat puluh lima menit. Bahkan dengan pakaian termal terbaik, risiko hipotermia sangat tinggi. Otot-otot Anda bisa kram, dan jika itu terjadi di bawah air..."
"Aku pernah hampir membeku di perairan Zurich, Bara," potong Vivien tegas. "Dan aku selamat karena aku memiliki alasan untuk hidup. Sekarang, aku memiliki alasan yang jauh lebih besar. Kita lakukan melalui jalur air. Gideon, persiapkan peralatannya. Kita berangkat malam ini menggunakan pesawat kargo barang yang tidak terdaftar."
Perjalanan dari Jakarta menuju Eropa dilakukan dalam kerahasiaan absolut. Mereka tidak bisa menggunakan jet pribadi Alfarezel karena setiap pergerakannya kini dipantau secara langsung oleh kurator negara dan media internasional. Sebagai gantinya, mereka menumpang di perut pesawat kargo tua milik sebuah perusahaan logistik bayangan yang masih berhutang budi pada jaringan mendiang Aksara. Di dalam lambung pesawat yang dingin, berisik, dan berbau avtur yang menyengat, Maximilian dan Vivien duduk bersisian di atas peti kayu kemas.
Pesawat terguncang hebat saat melewati turbulensi di atas Samudra Hindia. Maximilian meraih tangan Vivien, menggenggamnya erat-erat. Di tengah kebisingan mesin baling-baling raksasa itu, mereka tidak perlu banyak bicara. Pikiran Maximilian melayang kembali pada pesan terakhir ayahnya. Arthur Alfarezel telah menghabiskan separuh hidupnya menjadi pelayan bagi kegelapan, hanya untuk menyadari bahwa cahaya tidak bisa dibeli; cahaya harus direbut. Dan kini, putranya sedang melintasi benua untuk merebut sisa cahaya itu.
Tiga belas jam kemudian, di bawah pekatnya malam benua Eropa, pesawat kargo itu mendarat di sebuah landasan pacu pribadi yang terbengkalai di wilayah pegunungan Jura, tepat di perbatasan antara Prancis dan Swiss. Udara musim dingin yang menusuk tulang langsung menyambut mereka begitu pintu kargo terbuka. Sebuah van hitam tanpa pelat nomor sudah menunggu, disiapkan oleh kontak gelap Gideon di Eropa.
Perjalanan darat menuju Danau Jenewa memakan waktu dua jam. Sepanjang jalan, tidak ada yang bersuara. Bara duduk di kursi kemudi, matanya terus menyapu kegelapan jalanan berliku, memastikan tidak ada ekor yang mengikuti mereka. Di kursi belakang, Maximilian dan Vivien mulai mengenakan perlengkapan taktis mereka. Mereka memasang pelindung lutut, rompi antipeluru ringan berbahan kevlar komposit, dan memeriksa setiap magasin peluru dengan ketelitian yang hampir obsesif.
Mobil berhenti di sebuah rumah perahu kayu yang sepi dan terkunci rapat di sisi utara Danau Jenewa. Di kejauhan, melintasi hamparan air hitam yang luas dan tenang bak cermin raksasa, Château de Cendres milik Elena Von Zurich berdiri angkuh. Lampu-lampu kuning keemasan menerangi dinding batu kastil tersebut, memberikan ilusi kehangatan yang menipu.
"Sonar mereka aktif pada radius lima ratus meter dari dinding belakang vila," ucap Gideon melalui earpiece rahasia yang terpasang di telinga Maximilian, dipancarkan langsung dari Jakarta. "Kalian memiliki waktu jeda sekitar enam puluh detik setiap kali kapal patroli penjaga pantai Swiss melewati area tersebut. Gelombang dari kapal patroli akan mengacaukan sonar mereka sementara. Itu adalah satu-satunya jendela waktu kalian untuk menembus perimeter bawah air tanpa terdeteksi."
Maximilian, Vivien, dan Bara berdiri di tepi dermaga kayu yang berderit pelan. Mereka telah mengenakan drysuit hitam pekat yang menutup seluruh tubuh hingga ke kepala, lengkap dengan tabung rebreather di dada yang tidak akan mengeluarkan gelembung udara ke permukaan. Air danau yang terlihat hitam pekat itu tampak seperti jurang yang siap menelan mereka bulat-bulat.
"Hanya kita bertiga," ucap Maximilian, menatap Bara dan Vivien secara bergantian. "Jika ada yang terluka parah di dalam sana, kalian harus meninggalkannya. Misi utama adalah Elena Von Zurich dan Julian Vane. Jika kita gagal malam ini, kita tidak akan pernah memiliki kesempatan kedua. Mereka akan tahu kita memburu mereka, dan mereka akan menghilang ke tempat yang tidak akan pernah bisa kita temukan."
"Kita tidak akan gagal, Max," jawab Vivien, menarik masker selamnya menutupi wajah. Matanya, yang merupakan warisan dari Aksara yang cerdas dan penuh perhitungan, menatap lurus ke arah kastil di seberang sana.
Satu per satu, mereka meluncur masuk ke dalam air yang sedingin es. Sensasi pertama yang dirasakan Maximilian adalah tekanan yang seolah meremukkan tulang rusuknya, namun pakaian termalnya dengan cepat bekerja menahan panas tubuhnya agar tidak bocor keluar. Dunia di bawah permukaan Danau Jenewa benar-benar sunyi dan gelap gulita. Mereka hanya mengandalkan kompas bercahaya tritium di pergelangan tangan dan tali penghubung tipis agar tidak terpisah dalam kegelapan.
Mereka berenang menyusuri dasar danau yang dipenuhi ganggang dan sisa-sisa kayu busuk. Setiap ayunan kaki terasa berat melawan arus bawah yang tak terlihat. Waktu terasa melambat. Dua puluh menit berlalu, hawa dingin mulai merambat melewati lapisan pakaian, membuat jari-jari tangan Maximilian terasa kaku. Di depannya, Vivien terus bergerak dengan ritme yang stabil, sebuah pemandangan yang memberikan Maximilian kekuatan tambahan untuk menahan rasa sakit di otot-ototnya.
Tiba-tiba, suara gemuruh mesin kapal terdengar samar dari permukaan air, semakin lama semakin keras. Itu adalah kapal patroli penjaga pantai Swiss yang sedang melintas.
"Sekarang, Max! Sonar mereka buta selama enam puluh detik!" Suara Gideon berderak di dalam earpiece tahan air mereka.
Mereka memacu kecepatan, menendang air sekuat tenaga, berenang ke arah dinding batu fondasi kastil yang menancap jauh ke dasar danau. Di sana, tertutup oleh jeruji besi tua yang berkarat, terdapat lorong pembuangan air raksasa. Bara tiba lebih dulu. Ia mengeluarkan sebuah alat pemotong laser portabel dari sabuknya dan mulai memotong engsel jeruji tersebut. Gelembung-gelembung panas dari laser pemotong itu mendidihkan air di sekitarnya.
Waktu terus berdetak. Empat puluh detik. Lima puluh detik.
Klik. Jeruji itu terlepas tepat saat suara mesin kapal patroli mulai menjauh di permukaan. Mereka bertiga menyelinap masuk ke dalam lorong batu yang gelap dan sempit itu detik-detik sebelum sonar kembali aktif. Maximilian bisa merasakan getaran gelombang sonar yang menyapu air tepat di belakang kakinya. Mereka lolos dari lubang jarum.
Mereka merangkak naik melalui pipa beton yang licin oleh lumut, meninggalkan air danau yang membeku. Mereka muncul di sebuah ruang bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai gudang anggur pada abad ke-19. Rak-rak kayu ek yang lapuk berjejer memenuhi ruangan, memberikan aroma apek yang pekat. Mereka melepaskan peralatan selam yang berat, menyisakan pakaian taktis hitam yang kering di dalamnya. Maximilian mencabut pistol berperedam suaranya, memberi isyarat tangan kepada Bara untuk mengamankan pintu kayu tebal di ujung ruangan.
Melalui celah kunci, Bara mengintip ke luar. Ia memberikan isyarat tangan: Dua penjaga. Bersenjata lengkap. Bergerak ke arah kita.
Maximilian dan Vivien mengambil posisi di kedua sisi pintu. Saat suara langkah sepatu bot militer itu terdengar tepat di depan pintu, Bara mendobrak pintu itu dengan tendangan keras yang mematikan. Pintu kayu ek itu menghantam wajah penjaga pertama, mematahkan hidungnya seketika. Sebelum penjaga kedua sempat mengangkat senapan serbunya, Maximilian melesat maju, meraih laras senapan musuh dengan tangan kirinya, memelintirnya ke atas, dan melepaskan dua tembakan pelan—pfft, pfft—tepat ke dada penjaga tersebut. Penjaga pertama yang terhuyung-huyung segera diselesaikan oleh Vivien dengan pukulan telak gagang pistol ke pelipisnya.
Keduanya ambruk ke lantai marmer koridor tanpa mengeluarkan suara teriakan sedikit pun. Bara segera menyeret tubuh mereka kembali ke dalam gudang anggur.
"Bersih," bisik Bara, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Kita berada di sayap barat," ucap Maximilian sambil mengingat denah proyeksi dari Gideon. "Kamar utama Elena ada di lantai tiga, menghadap langsung ke danau. Tapi ruang kendali keamanan utama mereka ada di lantai dasar. Kita harus melumpuhkan sistem komunikasinya dulu sebelum kita naik, atau mereka akan memanggil seluruh batalion kontraktor swasta itu ke dalam rumah."
Mereka bergerak menyusuri koridor-koridor panjang yang dipenuhi dengan lukisan mahakarya seniman Eropa klasik dan patung-patung marmer yang tak ternilai harganya. Ironi yang menyakitkan; keindahan seni yang dibeli dengan darah dan penderitaan orang-orang yang bahkan tidak pernah tahu di mana letak negara Swiss.
Saat mereka mendekati ruang kendali keamanan, terdengar sayup-sayup suara percakapan dari arah ruang keluarga utama. Suara yang sangat familier. Maximilian menghentikan langkahnya, menahan napas. Ia mengintip melalui pantulan cermin antik besar yang ada di lorong.
Di dalam ruangan megah yang dihangatkan oleh perapian batu raksasa, duduk Julian Vane. Pria yang seharusnya membusuk di sel tahanan Jakarta itu kini sedang menuangkan anggur merah ke dalam gelas kristal. Ia tampak sehat, mengenakan setelan kasual yang mahal. Dan di seberangnya, duduk di atas kursi roda bermesin dengan tabung oksigen kecil di sampingnya, adalah Elena Von Zurich. Wanita tua itu tampak lebih rapuh secara fisik dibandingkan pertemuan terakhir mereka di Zurich, namun matanya tetap memancarkan kelicikan iblis yang sama.
"Kau terlalu gegabah di Jakarta, Julian," suara Elena terdengar serak, menggema pelan di ruangan yang luas itu. "Membiarkan Maximilian dan Vivien hidup setelah mereka mengambil data dari 'The Nest' adalah kesalahan terbesarmu. Sekarang, kurator negara sedang mengobrak-abrik struktur perbankan kita. Kau membuatku harus memanggilmu kemari dan mengorbankan bidak-bidak berhargaku di pemerintahan Indonesia hanya untuk memalsukan kematian medis sementaramu."
Julian meneguk anggurnya dengan kasar. "Max bukan lagi anak kecil yang bisa dikendalikan dengan ancaman, Elena. Dia dan jalang kecil Aksara itu sudah menjadi monster yang sama dengan kita. Tapi jangan khawatir, aku sudah memerintahkan sel tidur kita di Singapura untuk menyebarkan dokumen palsu yang akan mengaitkan Maximilian dengan pendanaan kelompok teroris. Dalam dua hari, Interpol akan mencabut status justice collaborator-nya. Dia akan menjadi buronan internasional, dan kita akan mengambil kembali Alfarezel Group melalui pihak ketiga."
Elena tersenyum sinis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan menakutkan. "Bagus. Karena aku tidak akan mati dengan tenang sebelum aku melihat kepala Maximilian Alfarezel disajikan kepadaku di atas nampan perak. Dia menghancurkan tiga puluh tahun karya hidupku."
Di balik dinding koridor, cengkeraman Maximilian pada gagang pistolnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia coba kendalikan kini membakar setiap sel di tubuhnya. Ia menoleh ke arah Vivien, yang wajahnya sama tegarnya, memancarkan aura pembunuh yang dingin dan tak kenal ampun.
"Rencana berubah," bisik Maximilian, suaranya sedingin es di luar sana. "Bara, kau lumpuhkan ruang keamanan. Jangan biarkan satu pun sinyal keluar dari kastil ini. Vivien dan aku akan mengurus tamu-tamu kehormatan di ruang keluarga itu. Malam ini, Phoenix tidak akan bangkit dari abu. Malam ini, kita akan memastikan abu mereka bertebaran tertiup angin."
Dengan anggukan diam, Bara memisahkan diri, menghilang ke dalam bayang-bayang lorong menuju ruang server. Maximilian dan Vivien berdiri berdampingan, dua pewaris dari dinasti yang dihancurkan, bersiap untuk mengakhiri tirani yang telah mengendalikan nasib mereka sejak sebelum mereka dilahirkan. Dengan satu tendangan kuat, Maximilian mendobrak pintu kayu ganda ruang keluarga tersebut, melangkah masuk ke dalam sarang sang Matriark, membawa perhitungan terakhir yang tidak bisa lagi ditunda oleh hukum, negosiasi, atau bahkan kematian itu sendiri.